Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-90 Haruskah Meninggalkan Earlangga


__ADS_3

Hari ini Earlangga bangun kesiangan dari tidurnya, karena semalaman menghibur Valerie yang terus meratapi kepergian bayi mereka. Dilihatnya ke sekeliling  ternyata Valerie tidak ada disampingnya.


Kemudian dilihatnya kearah pintu balkon kamarnya, gordennya sudah dibuka tapi Valerie tidak terlihat disana. Earlanggapun bangun mencarinya ke kamar mandi, ternyata tidak ada juga, jadi dia keluar dari kamarnya.


 Earlangga mencarinya sambil memanggil-manggilnya.


“Sayang, kau dimana?” serunya.


Saat melewati  kamar bayi, ternyata pintu kamar itu terbuka, diapun segera meliahatnya kesana, benar saja, Valerie sedang ada dikamar itu menangis sambil memeluk boneka yang telah dibelinya. Melihatnya membuat Earlangga menjadi sedih.


“Sayang,“ panggil Earlangga, dia menjadi sedih melihat istrinya terus meratapi bayi mereka.


Diapun berjongkok didepan kursi rodanya Valerie, menatapnya dengan lembut.


“Aku merasa bersalah,” ucap Valerie, menempelkan pipinya ke boneka itu, matanya sudah bengkak karena terus-terusan menangis.


“Sudahlah sayang, jangan seperti ini, kau sudah menjadi ibu yang baik buat Jordan,” kata Earlangga, hatinya menjadi sedih melihat istrinya seperti ini.


Earlangga mengulurkan tangannya mengusap pipinya Valerie yang basah.


“Kau juga masih lemah, seharusnya kau istirahat,” kata Earlangga.


“Aku sangat merindukannya, aku selalu mendengar suara tangisnya. Aku juga mengandungnya 9 bulan, bagaimana aku bisa melupakannya? Bahkan aku belum sempat melihat matanya, matanya sudah tertutup saat aku memeluknya,” ucap Valerie, airmata itu kembali tumpah.


“Sayang,” Earlangga bangun dari jongkoknya lalu memeluk Valerie.


“Jangan seperti ini sayang, aku sedih melihatnya,” ucap Earlangga. Dia sungguh bingung tidak tahu lagi cara menghibur Valerie.


Tiba-tiba terdengar suara mobil memasuki pekarangan.


“Siapa yang datang? Apa ayah dan Ibu?” gumam Earlangga, lalu melepaskan pelukannya dan menatap Valerie. Dia kembali berjongkok menghapus airmatanya Valerie.


“Sudah jangan menangis, itu sepertinya ayah dan Ibu datang,” kata Earlangga, lalu memutar kursi rodanya Valerie keluar dari kamar itu.


Terdengar suara langkah-langah kaki yang memasuki rumah mereka.


“Earl! Earl!” teriak Lorena, dia bergegas masuk mencari Earlangga.


Dilihatnya Earlangga mendorong kursi roda keluar dari sebuah ruangan.


“Earl!” teriak Lorena, sambil menaiki tangga rumah itu.


“Sayang!” ucapnya saat melihat Valerie yang menatapnya dengan mata yang sembab.


Lorena segera menghampirinya dan langsung memeluk Valerie.


“Sayang, kau yang sabar,” kata Lorena.


“Aku bukan ibu yang baik,” gumam Valerie, airmata kembali menetes di pipinya.


Lorena melepas pelukannya dan menatap menantunya itu.


“Tidak sayang, kau sudah berusaha semaksimal mungkin. Jangan menyalahkan dirimu sendiri, ini hanya sudah takdirnya begini,” kata Lorena.


Tiba-tiba Nyonya Grace menyela.


“Semua karena kalian keras kepala, pengen tinggal di London segala, berpisah dari orangtua, jadinya begini,” keluh Ny.Grace.


“Ibu, jangan begitu!” kata Sean, menatap ibunya dengan kesal.


“Earl, ayah ikut berduka cita, kau yang sabar,” kata Sean pada Earlangga.


“Iya yah,” jawab Earlangga.


“Kau tidak perlu sedih Earl, mungkin ini sudah yang terbaikmu. Lagipula bayi itu belum tentu bayimu, tes DNA juga sudah percuma, bayi itu sudah meninggal,” kata Ny.Grace.


“Nenek, kenapa Nenek harus bicara seperti itu? Mau tes DNA atau tidak, Jordan sudah aku anggap anakku sendiri,” kata Ealrangga.


“Iya makanya ya sudah lupakan saja, tidak perlu berlarut-larut, kau kan masih ada waktu buat punya anak lagi,” kata Ny.Grace.

__ADS_1


Tidak lama kemudian dia melanjutkan bicaranya.


“Dengan wanita yang lain mungkin yang lebih sehat dan bisa menjaga bayinya,” lanjutnya.


“Ibu!” Sean mendelik pada ibunya, dia semakin kesal saja kondisi berkabung begini, ibunya mulai lagi membuat onar.


Tidak berapa lama terdengar suara banyak mobil berdatangan dan berhenti didepan rumah.


“Ada siapa?”tanya Lorena pada Earlangga.


“Mungkin teman-temanku,” kata Earlangga, sambil segera menuruni tangganya, begitu juga dengan Lorena dan Sean.


Ny. Grace menatap Valerie.


“Ada yang ingin aku perlihatkan,” ucap Ny.Grace.


“Soal apa?” tanya Valerie.


Ny.Graca mendorong kursi rodanya Valerie, menyusuri lorong lantai atas itu yang berbentuk memutar mengelilingi ruangan dibawahnya, terus mendorongnya sampai keujung lalu membuka pintu menuju balkon depan.


Valerie tidak mengerti apa maksudnya Ny.Grace membawanya keluar balkon depan rumahnya.


Ny.Grace menghentikan mendorongnya, berhenti dipinggir balkon depan rumah. Dari sana bisa terlihat mobil mobil sport mewah yang berdatangan dan penumpangnya yang turun. Ternyata memang teman-temannya Earlangga datang lagi. Mereka pasti mendengar kalau Jordan meninggal.


“Kau lihat, kau tahu siapa mereka?” tanya Ny.Grace.


“Iya, itu teman-temannya Earlanga,” jawab Valerie.


“Kau benar, itu temannya Earlangga, kau lihat mereka?” tanya Ny.Grace.


Valerie tidak menjawab, dia sudah mengerti kearah mana Ny.Grace akan bicara.


“Kau lihat seperti apa teman-temannya Earlangga. Mereka dari kalangan atas, putra putri pengusaha kaya di London. Sedangkan kau, dengan temannya Earlangga saja kau tidak ada apa-apanya. Seharusnya kau ngaca,kau tidak pantas menjadi istrinya Earlangga. Apa kau tidak malu, berada dilingungan yang bukan kelasmu?” kata Ny.Grace, menusuk jantungnya Valerie.


“Nyonya, Nyonya sudah sering mengatakan itu,” jawab Valerie, menahan rasa perih dihatinya.


“Iya aku sering mengatakannya tapi kau tidak dengar-dengar, kau malah keenakan jadi istrinya Earlangga. Aku hanya ingin menunjukkan supaya matamu terbuka, kau dan Earlangga bagaikan langit dan bumi, aku hanya memperlihatkan sebagian kecil saja,” kata Ny.Grace.


Valeriepun terdiam.


Valerie menatap Nyonya Grace dengan matanya yang sembab.


“Sampai kapanpun aku tidak akan meninggalkan Earlangga Nyonya, dia suamiku,” jawab Valerie.


“Suamimu? Huh. Apa kau tidak sadar juga? Earlangga menikahimu karena kau hamil bayinya. Dia perhatian padamu dulu karena dia tahu kalau wanita di club malam itu kau. Dia perhatian padamu karena dia merasa bersalah, merasa bertanggung jawab atas bayimu yang dikira bayinya. Kalau sekarang bayimu sudah meninggal, apa lagi yang harus dipertahankan?“ kata Ny.Grace dengan kesal.


“Nyonya aku baru saja melahiran, aku kehilangan bayiku, kenapa Nyonya tega mengatakan itu padaku?” tanya Valerie menatap Ny,Grace yang juga menatapnya.


“Karena aku ingin mengakhiri semuanya! Kehadiranmu merusak garis keturunan kaluarga Joris, kau mengerti?” jawab Ny.Grace.


Valeriepun diam, hatinya begitu sakit mendengar setiap kata yang diucapkan Ny. Grace. Begitu hinakah dia sampai dia harus meninggalkan Earlangga?


“Dengar, setelah kau kehilangan bayimu, sudah dipastikan sikap Earlangga akan berubah. Jadi daripada kau semakin sakit hati nantinya, lebih baik kau bersiap-siap untuk meninggalkan Earlangga secepatnya,” kata Ny. Grace.


Valeriepun terdiam.


“Itu juga kalau kau punya harga diri,” lanjut Ny.Grace, lalu beranjak meninggalkan Valerie.


Tidak ada kata yang bisa terucap, airmata kini menetes dipipinya. Selalu dan selalu itu yang diingatkan oleh Ny,Grace, dia dan Earlangga berbeda. Apalagi sudah tidak ada pengikat lagi antara mereka, sudah tidak ada bayi lagi diantara mereka, apa lagi yang akan dipertahankan menjadi istri Earlangga? Harta? Dia sama sekali tidak memikirkannya. Terus apa? Cinta? Apakah Earlangga akan tetap mencintainya setelah bayi mereka tidak ada?


“Valerie!” terdengar suara Lorena memanggil-manggil Valerie.


Dia berpapasan dengan Nyonya Grace yang akan turun tangga.


“Dimana Valerie Bu?” tanya Lorena.


“Disana,” jawab Ny.Grace lalu turun menuruni tangga.


Lorena segera menemui Valerie.

__ADS_1


“Kenapa kau disini? Apa kau mau menemui teman-tamannya Earlangga?” tanya Lorena sambil menghampiri.


“Tidak Bu,” jawab Valerie, menggelengkan kepalanya.


“Kenapa? Mereka datang kesini berduka cita atas meninggalnya Jordan,” kata Lorena.


“Aku tidak mau membuat Earlangga malu Bu,” jawab Valerie.


Lorenapun diam, matanya melihat kearah bawah sudah tidak ada Earlangga dengan teman-temannya, karena mereka sudah berada di ruang tamu sekarang. Diapun kembali menatap Valerie yang pandangannya menghindari menatapnya.


“Ada yang ibu katakan padamu?” tanya Lorena.


“Tidak, tidak ada Bu,” jawab Valerie, berbohong, tapi Lorena sudah menebak pasti ibu mertuanya bicara yang tidak-tidak lagi.


“Aku ada pertanyaan padamu,” ucap Lorena.


“Apa Bu?” tanya Valerie kini mau menatap Lorena.


“Apa kau mencintai Earlangga?” Tanya Lorena.


Valerie terdiam sebentar, lalu mengangguk.


“Itu yang harus kau ingat dan kau perjuangkan,” kata Lorena.


Valeriepun terdiam.


“Ada Dokter yang akan memeriksamu. Ayo, sebenarnya kau seharusnya masih dirumah sakit kan? Kau harus banyak istirahat supaya cepat sembuh,” kata Lorena.


Valerie tidak menjawab, dia sama sekali tidak punya semangat untuk sembuh. Tidak adalagi yang bisa membuatnya semangat untuk hidup. Siapa? Bayinya sudah tidak ada, Earlangga? Bahkan nenek suaminya itu menekannya untuk meninggalkan Earlangga.


Apa dia harus benar-benar meninggalkan Earlangga?


Disebrang rumah itu pria bertopi itu masih mengintai ditempatnya kemarin.


“Kenapa aku seperti tidak waras, tiap hari nongkrong disini,” keluhnya pada diri sendiri.


Saat datang mobil pertama, dia bisa melihat itu mobil keluarga dari penumpangnya yang beberapa orang dibagian belakang mobil, sudah dipastikan itu keluarganya Earlangga.


“Wanita tua menjengkelkan itu ternyata datang juga,” ucapnya.


Tidak berapa lama berdatangan mobil-mobil sport mewah, dia merasa takjub dengan mobil-mobil itu.


“Sepertinya aku harus mencari lagi mobil sport keluaran terbaru,” gumamnya.


Diapun kembali duduk bersandar dijok mobilnya sambil menutupkan sedikit topinya.


Earlangga mencari-cari Valerie yang ternyata sedang bicara dengan ibunya dilantai atas. Dia langsung menghampiri mereka.


“Sayang, kau mau turun?” tanya Earlangga.


“Ah tidak,” jawab Valerie.


Earlangga mendekati istrinya.


“Tapi aku ingin kau turun,” jawab Earlangga.


“Mau apa?” tanya Valerie.


Earlangga tidak menjawab, dia mencondongkan tubuhnya mengulurkan kedua tangannya lalu mengangkat tubuhnya Valerie.


Valerie terkejut Earlangga memangkunya begitu saja, membuatnya malu dilihat ibu mertuanya.


“Earl, kau mau membawaku kemana?” tanyanya.


Earlangga tidak menjawab, dia terus membawa tubuh Valerie meninggalkan lantai atas  menuruni tangga, diikuti Lorena.


“Earl, kau mau membawaku kemana? Aku malu seperti ini,” kata Valerie, karena Earlangga membawanya menuju ruang tamu.


Earlangga tidak menjawab, dia tetap menggendong Valerie menuju ruang tamu tempat tamu-tamu berkumpul. Ada teman-temannya Earlangga juga beberapa relasi dan kenalannya Sean yang berbincang di sofa terpisah diruangan yang luas itu bersama dengan Ny.Grace juga.

__ADS_1


Sekarang semua mata memandang kearah mereka.


***************


__ADS_2