Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-31 Hari pernikahan


__ADS_3

Hari ini adalah hari pernikahan Earlangga dan Valerie. Hari pernikahan yang kelabu buat mereka. Valerie yang merasa tidak nyaman pada Earlangga yang terpaksa harus bertanggungjawab padanya. Sedangkan Earlangga yang merasa kesal dan marah harus menikahi gadis yang dihamili orang lain dan kenapa dia yang kena getahnya.


Acara pernikahan itu sebernarnya sangat sederhana, tapi tolok ukur sederhana bagi keluarga Joris berbeda dengan sederhana bagi orang umumnya. Pernikahan itu tetaplah sangat mewah. Digelar disebuah hotel berbintang milik keluarga Joris dengan tamu-tamunya yang sangat special, para pejabat dan pengusaha- pengsuha besar hadir semua di gedung itu. Acara sederhana yang sangat megah. Belum para artis-artis ibukota yang hadir meramaikan acara pernikahan ini.


Tidak ada senyum sedikitpun bagi kedua pengantin, semua membisu, sambil mengutuki dalam hati mereka. Mereka bagaikan patung yang hanya untuk jadi pajangan ditonton orang banyak.


Bu Asni yang menjadi pendamping Valerie merasa ikut sedih dengan tidak adanya kebahagiaan dari pengantin ini.


Lorena dan Sean juga tidak bisa berbuat banyak. Mereka harus menyelamatkan nama baik keluarga Joris, mereka harus menutupi aib yang sebenarnya sangat tidak jelas.


“Sayang, kau lihat putra kita sama sekali tidak terlihat bahagia,” ucap Lorena.


“Mau bagaimana lagi, kita tetap harus menunggu sampai bayi itu lahir,” kata Sean, saat mereka menyapa beberapa teman di ruangan pesta itu.


Dirumahnya Nisa…


Jeni sudah berdandan cantik hari ini, dia sudah berkali-kali malihat jam tangannya.


“Kau mau kemana?” tanya Nisa.


“Nino mengajakku ke resepsi rekan bisnis ayahnya, ayahnya sedang di Luar negeri tidak bisa datang,” jawab Jeni.


“Nino? Siapa lagi itu? Kemarin rasanya nama pacarmu bukan itu?” tanya Nisa, menatap putrinya yang duduk di sebrangnya sembil merapihkan perhiasan yang dipakainya.


“Cowok baru,” jawab Jeni.


“Cowok baru lagi?” Nisa terbelalak kaget.


“Iya, yang kemarin orangtuanya sih kaya tapi dianya ngirit banget, itung-itungan ngeluarin uang, orang tuanya ngejatah keuanganya sedikit, katanya sih buat bekal nanti kalau dia menikah. Males kalau begitu, aku mau pria kaya yang royal. Dan sepertinya Nino ini orangnya gampang-gampang dikadalin,” kata Jeni.


Nisa hanya menghela nafas pendek mendengar jawaban Jeni.


“Makanya cari pacar jangan asal mau saja, selidiki dulu identitasnya, baru jalan. Kalau keseringan gonta ganti pacar, malah nantinya kau tidak laku, kebanyakan mantanmu,” ucap Nisa.


“Ibu cerewet, kalau aku menikah dengan orang kaya juga ibu yang senang,” gerutu Jeni.


Terdengar suara klakson mobil di depan. Jeni langsung bangun .


“Nah itu Nino datang,” ucapnya lalu berlari keluar rumah tanpa bicara apa-apa lagi pada Nisa.

__ADS_1


“Kita berangkat sekarang?” tanya Jeni pada Nino yang membukakan pintu mobil padanya.


“Tentu saja sayang,” jawab Nino tersenyum lebar. Jeni masuk ke mobilnya dan Nino menutupnya lagi. Tidak berapa lama merekapun pergi meninggalkan rumah itu.


“Yang menikah siapa?” tanya Jeni, saat mereka sudah sampai di hotel itu tempat acara pernikahan digelar.


“Putranya rekan bisnis ayahku. Dia pengusaha kaya raya, putranya Pak Sean Joris,” jawab Nino, sambil turun dari mobilnya.


“Sepertinya aku pernah mendengar nama Keluarga Joris,” kata Jeni, menatap hotel yang megah itu.


“Iya, ini hotel milik keluarga Joris,” jawab Nino.


“Pasti pasangan pengantinnya juga dari kalangan elit,” kata Jeni.


“Kau salah, pengantin wanitanya cuma seorang perawat, perawat pribadinya,” ujar Nino.


“Perawat? Hanya perawat? Perawat dinikahi pria sekaya ini? Hebat sekali, jadi ingin tahu secantik apa perawatnya sampai pria itu mau menikahinya,” tanya Jeni, terkejut.


“Benar, perawat ini sedang hamil makanya dinikahi,” jawab Nino.


“Benarkah? Pantas dinikahi, licik sekali perawat itu, tapi memang sih kalau tidak hamil mana mungkin pengusaha kaya mau menikahi gadis yang cuma seorang perawat,” kata Jeni.


Jeni tersenyum dia tidak terbayangkan berapa banyak uang yang dimilki keluarga Joris ini. Hotelnya saja sangat besar, menjulang tinggi ke angkasa, juga terkenal kemana-mana, pilihan pertama turis-turis jika berkunjung ke negeri ini.


“Ayo sayang,” ajak Nino.


Merekapun masuk ke dalam gedung, benar saja didalam sangat mewah, yang menarik perhatian Jeni adalah para tamunya yang keren-keren, banyak para pejabat yang dia lihat malang melintang di televisi juga ada, bahkan pria-pria muda tampan berseliweran diruangan itu, mereka sangat mengagumkan, tidak terasa dia melapas tangannya Nino.


“Acara yang sangat menarik,” batinnya. Seharusnya dia datang bukan dengan Nino, sendiri saja supaya bisa berkenalan dengan pria-pria kaya yang tampan itu, yang pastinya lebih keren dari Nino. Sebenarnya Nino kaya, tapi tampang Nino kurang keren, batin jeni.


“Sayang, ayo kita menyapa mempelai,” ajak Nino, sambil meraih tangan Jeni, yang sepertinya mau kabur darinya saja, matanya jelalatan kemana-mana.


“Oh iya, ayo,” ajak Jeni. Merekapun mengantri untuk bersalaman. Karena benyaknya tamu yang datang, kesal juga Jeni mengantri.


“Banyak sekali tamunya,” keluhnya.


“Sebentar lagi gilran kita,” jawab Nino.


Saat mereka akan berada di urutan beberapa anrian menuju mempelai, Jeni terkejut saat melihat pria yang menjadi pangantin itu. Dia mengerutkan keningnya perasaan dia pernah melihatnya, tapi dimana?

__ADS_1


Di ingat-ingatnya lagi, matanya langsung terbelalak, iya dia ingat kalau pria itu yang membawa mobil sport mewah itu. Hatinya langsung lesu, cowok tajir itu menikah, bibirnya langsung cemberut, dan saat melihat pada mempelai wanitanya dia tambah terkejut lagi, meskipun pengantinnya didandani begitu cantik, sangat cantik, dia bisa tahu kalau itu adalah perawat ayahnya, Valerie.


“Gila! Perawat itu mendapatkan cowok super tajir? Yang benar saja?” umpatnya dalam hati.


“Kau kenapa sayang?” tanya Nino karena Jeni hanya diam saja.


“Ayo jalan,” kata Nino. Dengan malas Jeni berjalan mengikuti Nino.


“Siapa nama pengantin pria itu?” bisik Jeni pada Nino.


“Earlangga,” jawab Nino.


Jeni tersenyum mendengarnya, nama yang sangat gagah, pria itu sangat tampan, lebih dari tampan karena dia pria kaya raya. Senyumnya hilang saat melihat Valerie, dia merasa kesal kalah oleh Valerie yang bersuamikan pria kaya malah lebih kaya dari pacar-pacarnya yang dikencainya.


Saat bersalaman dengan Earlangga Jeni tersenyum senang, dia bisa melihat wajah Earlangga dari dekat, wajah yang sama saat dia melihatnya pria itu keluar dari mobil sportnya.


“Selamat,” ucapnya, sambil bersalaman.


“Terimakasih,” jawab Earlangga pendak, karena dia juga memang tidak mengenal Jeni.


“Sst! Sst!” Nino memeberi tanda, Jenipun menoleh, ternyata dia malah mematung saja didepan Earlangga, dengan malas dia berjalan kedepannya Valerie, merekapun saling bertatapan.


Valerie terkejut saat melihat siapa yang datang.


“Kau?” tanya Valerie.


“Selamat ya,” jawan Jeni dengan ketus, bersalaman sebentar lalu buru-buru mendorong tubuhnya Nino cepat-cepat pergi dari tempat itu.


Valerie hanya menatapnya tidak mengerti. Ada Jeni datang dan memberi selamat dengan ketus. Tapi dia tidak memperdulikannya lagi karena sudah banyak tamu yang berdatangan didepannya.


Jeni terus saja cemberut sepanjang acara menemani Nino. Bahkan saat Nino menggandeng tangannya dia menepisnya.


“Kau kenapa sih? Sejak datang ke pesta ini kau sangat aneh,” tanya Nino.


“Biasa saja,” jawab Jeni dengan ketus. Diliriknya Nino lalu dia melihat kearah pengantin. Dia tambah kesal saja, kenapa yang ada disampingnya tidak setampan Earlangga?


Nino melihat Jeni seperti itu menjadi kesal juga. Jeni sedikit-sedikit melirik pada pengantin pria itu, tapi mendapatkan gadis secantik Jeni sangat sulit didapatkan, diapun hanya diam saja bersabar dengan sikapnya Jeni.


************************

__ADS_1


__ADS_2