
Sepulang dari supermarket wajah Jeni benar-benar ditekuk, dia terus saja cemberut.
“Kau kenapa?” tanya Nisa, sambil menuruni tangga, menghampiri putrinya yang duduk di sofa ruang keluarga.
“Masa aku kalah oleh Valerie, dia bisa mendapatkan pria yang sangat kaya, pria itu juga sangat keren, aku melihatnya saat memakai mobil sport yang kakak bawa,” jawab Jeni.
Nisa tidak bicara lagi, dia duduk disofa dekat putrinya, bersamaan dengan perawat ayahnya membawa apak Tedi yang meggunakan kursi roda.
“Bu, besok saya akan membawa control Pak Tedi,” kata perawat baru itu.
“Ya tinggal bawa saja,” jawab Nisa.
“Biayanya bagaimana Bu? Seharusnya dari minggu kemarin jadwal terapinya,” kata perawat itu.
“Ya sudah nanti saja controlnya,” jawab Nisa.
Perawatnya itu diam, masa sih orang kaya tidak punya uang buat control dan terapi? Sampai tertunda tunda terus. Dia curiga jangan-jangan dia juga digajinya tidak akan benar, batinnya.
Nisa bangun dari duduknya lalu mendekati Pak Tedi dan berjongkok, menatap ayahnya yang lumpuh dan struk itu.
“Ayah, ayah tahu apa yang aku temui tadi?”tanya Nisa.
Pak Tedi diam saja.
“Aku bertemu bayi kaya raya itu, sekarang sudah dewasa, dia sangat mirip ayahnya. Ternyata bayi kaya raya itu sudah menikah dengan Valerie, perawatmu,” kata Nisa.
Pak Tedi berusaha bicara menggerakkan bibirnya tapi tidak ada satupun kata yang keluar.
“Menurut ayah apa yang harus aku lakukan? Gara-gara mereka hidup kita jadi seperti ini,” kata Nisa.
“Memangnya apa yang mereka lakukan?” tanya jeni.
Nisa bangun dari jongkoknya lalu menghampiri putrinya.
“Yang pasti kita tidak berhasil mendapatkan uang dari keluarga Joris,” jawab Nisa.
Nisa kembali menoleh pada ayahnya lagi.
“Mobil Sportnya Dareen ternyata mobil bayi kaya itu, dia juga menggunakan mobil mewah lainnya ke supermarket tadi, benar-benar menjengkelkan, kita tidak mendapatkan sepeserpun kekayaannya,” kata Nisa.
“Maksud ibu apa sih?” tanya Jeni, tidak mengerti perataan ibunya.
“Kakekmu dulu pengacara keluarga Joris, dia yang mengurus warisan untuk bayi kaya itu,” jawab Nisa.
“Bayi kaya itu Earlangga maksud ibu?” tanya Jeni memastikan.
“Iya, lihat saja mobil-mobil mewahnya, dia sangat kaya raya, harusnya kita mendapatkan bagian dari warisan itu, malah kakekmu masuk penjara dan jadi seperti ini,” keluh Nisa.
“Jadi begitu rupaya, jangan katakan ibu merayu-rayu Pak Sean dan tidak berhasil?” tebak Jeni.
Nisa langsung memasang wajah cemberut putrinya itu langsung tertawa. Nisapun menoleh pada perawat itu.
“Kenapa kau diam disitu? Pergi sana!” maki Nisa.
Perawat itu tidak bicara lagi, diapun pergi membawa Pak Tedi meninggalkan ruangan itu.
“Sepertinya aku butuh biaya untuk tampil lebih cantik Bu,” kata Jeni, tiba-tiba
“Maksudmu apa?” tanya Nisa.
__ADS_1
“Aku harus mendapatkan pria kaya Bu, aku harus terlihat lebih berkelas, harusnya ibu memberiku lebih banyak uang,” jawab Jeni.
“Kau tahu ayahmu hanya mengirimi ibu uang sedikit tiap bulannya,” keluh Nisa.
“Kenapa tidak terfikirkan menemui ayah saja?” tanya Jeni.
“Buat apa mencari ayahmu? Dia tidak peduli pada kalian,” jawab Nisa.
“Aku mau minta fasilitas juga uang,”ujar Jeni.
“Ayahmu itu sudah menikah lagi berkali-kali, dia tidak peduli pada kita,” kata Nisa.
“Aku tidak peduli, daripada hidup seperti ini, tambah miskin, lebih baik mencari ayah. Untuk mendapatkan pria kaya aku juga harus tampil lebih keren Bu, aku butuh modal,” ucap Jeni.
“Terserahlah,” kata Nisa.
“Aku minta alamat dimana ayah tinggal,” pintaJeni.
“Ya nanti ibu berikan, itu alamat baru kemarin ibu dapat setelah lama mencarinya, tapi kalau kau tidak diakui kau jangan sakit hati,” kata Nisa.
“Kenapa harus tidak diakui? Aku anaknya kan? Bukan anak selingkuhan ibu?” tuduh Jeni.
“Tentu saja kau anak ayahmu, kau sembarangan bicara! Hanya ayahmu itu pria brengsek, suka main perempuan dari awal menikah, mengandung Darren sampai punya kau, sudah tidak jelas juntrungannya. Kau cari di alamat itu, itu alamat terbaru yang ibu tahu,” kata Nisa.
**********
Keesokan harinya Jeni mencari alamat yang Nisa berikan. Dia terkejut saat melihat rumah mewah ayahnya. Rumah itu lebih mewah dari yang ditempatinya bersama ibunya.
Saat memasuki ruangan itu Jeni melihat kesekeliling isi rumah itu, rasanya tidak percaya ini rumah ayahnya, tapi kenapa kehidupannya malah semakin terpuruk?
“Kau mencari suamiku?” terdengar suara seorang wanita menuruni tangga rumah itu.
“Aku mencari ayahku,” jawab Jeni.
“Ayahmu?” tanya wanita itu, menatap Jeni dari atas sampai bawah.
“Iya,” jawab Jeni dengan ketus.
“Mau apa?” tanya wanita itu, terlihat sekali tidak senang dengan kedatangan Jeni.
“Tentu saja aku mau minta uang. Tapi setelah aku fikir- fikir, sepertinya aku betah tinggal disini, aku akan tinggal disini saja dengan ayahku,” kata Jeni, sambil tersenyum.
“Eh enak saja tinggal disini. Dari dulu ibumu sudah di buang oleh ayahmu, buat apa kau kesini?” maki wanita itu.
“Ibuku yang dibuang, aku tetap anaknya, aku berhak tinggal disini,” kata Jeni.
“Sayang, ada siapa?” tanya seorang pria yang juga menuruni tangga.
Pria itu tampak terkejut melihat seorang gadis yang berdiri menatapnya.
“Kau?” pria itu mengingat-ingat.
“Aku Jeni, ayah,” jawab Jeni.
Pria itu yang tiada lain Brian, ayahnya Jeni tampak mengingat-ingat, dia meninggalkan Nisa dan anak -anaknya sudah lama, jadi lupa kalau Jeni sudah gadis sekarang.
“Kau mau apa kemari?” tanya Brian, tidak ada tanda-tanda rindu pada putrinya, dia acuh saja.
“Aku mau tinggal disini,” jawab Jeni.
__ADS_1
“Apa? Buat apa?” tanya Brian.
“Aku ini anakmu, aku berhak tinggal disini. Aku tidak tahu kalau ayahku kaya raya,” jawb Jeni, sambil berjalan ke depan ayahnya.
“Aku harus mendapatkan pria kaya jadi aku butuh modal,” ucap Jeni.
Brian tertawa mendengar perkataan putrinya itu.
“Ternyata kau sama dengan ibumu,” kata Brian.
“Ayah salah, aku lebih baik dari ibuku,” jawab Jeni.
“Aku tidak akan hidup miskin seperti ini sementara suami ibu kaya,” lajut Jeni.
Seorang pelayan melintas ke ruangan itu akan pergi ke ruangan lain. Jeni langsung memanggil pelayan itu.
“Eh pelayan! Antar aku berkeliling rumah dan siapkan kamarku yang bagus,” perintah Jeni semaunya.
Pelayan itu menghentikan langkahnya, menatap Jeni dengan bingung.
“Heii, temani aku berkeliling rumah, kau juga siapkan kamar buatku,” ulang Jeni, tangannya melambai-lambai pada pelayan itu.
“ Hei apa yang kau lakukan? Kau tidak boleh tinggal disini!” kata istri mudanya Brian.
Jeni langsung membalikkan tubuhnya menghadap wanita itu.
“Ingat aku juga berhak tinggal disini,”kata Jeni, menatap tajam wanita itu.
“Tidak boleh!” larang wanita itu.
Terdengar suara langkah beberapa orang ke pintu.
“Kalian sudah datang, mari-mari masuk!” seru Brian saat dipintu sudah datang beberapa orang pria.
“Baru selesai meetingnya? Kalian terlambat kemari,” tanya Brian.
“Iya, tadi kami menunggu persetujuan Ny. Grace, beliau sedang ada di Paris sekarang,” jawab salahsatu tamunya Brian.
“Oh Begitu? Kan bisa lewat Pak Sean,” kata Brian.
“Pak Sean juga sedang keluar negeri, ada putranya yang dari London menggantikan, Pak Earlangga namanya. Tapi Pak Earlangga belum memegang semua kebijakan, ada beberapa yang butuh persetujuan Ny.Grace atau Pak Sean,” jawab tamunya Brian.
“Oh iya yang menikah kemarin ya? Waduh aku tidak bisa hadir ke resepsinya, mungkin sebagai gantinya aku akan menemuinya langsung memberi selamat,” kata Brian.
“Begitu rupanya, ayo masuklah, masuk,” kata Brian, tidak menghiraukan istri dan anaknya mereka langsung pergi keruangan lain.
Jenie tertegun saat mendengarnya, ternyata ini adalah kabar yang sangat baik ternyata ayahnya mengenal keluarga Joris, dan ayahnya mau menemui Earlangga. Kenapa tidak dari kemarin-kemarin dia mencari ayahnya?
“Hei, kenapa kau diam saja? Pulang sana!” usir istrinya Brian.
“Kau mengusikku, aku yang akan membuatmu keluar dari rumah ini!” kata Jeni.
“Coba saja kalau kau bisa,” kata istrinya Brian, tidak mau kalah dengan anak tirinya itu.
“Ingat, ayahku punya banyak pacar, kau bisa setiap saat dikeluarkan dari rumah ini, kau tahu?” ancam Jeni.
Tanpa bicara apa-apa lagi, Jeni langsung memanggil pelayan tadi memintanya untuk menemani berkeliling rumah dan menyiapkan kamar untuknya. Istrinya Brian hanya bisa menggerutu melihat kelakuan anak tirinya.
************
__ADS_1