
Ny.Grace duduk kembali di sebrangnya Valerie.
“Amplop itu amplop kartu ATM yang baru, aku membuatkannya untukmu, ada sejumlah uang yang akan kau dapat tiap bulannya, kau bisa membeli apapun yang aku mau, aku tidak mau kau stress. Aku tidak mau kau lelah dan membahayakan bayi itu, kau bisa menggunakannya semaumu. Samua keperluanmu, Susu ibu hamil, makanan yang bergizi dan pakaian ibu hamil dan keperluan lainnya akan disiapkan oleh Pak Sobri. Aku tidak mau ada masalah dengan bayi itu, kau mengerti?” tanya Ny. Grace.
Valerie tertegun mendengarnya, dia menerima amlop itu dengan bingung. Dia tidak menyangka kalau Nyonya Grace akan melakukan ini.
“Aku juga sudah menyiapkan kendaraan dan juga supir pribadi untukmu. Kalau keluar kau tidak perlu bekerja lagi. Uang yang kuberi sudah lebih dair cukup untuk membiayai keperluanmu,” kata Ny. Grace.
Valerie menatap lagi amplop yang ada di tangannya.
“Tapi ingat, berikan bayi itu setelah lahir, aku tidak masalah meskipun hasil tes DNA nya bukan anak Earlangga, sekali lagi karena terlanjut bayi itu menggunakan nama Joris, jadi aku harus merawatany sebagai keluarg Joris, kau mengerti kan?” kata Ny, Grace.
Valerie bingung harus bicara apa. Sebenarya tawaran dari Nyonya Grace itu sangat baik, jadi dia tidak akan dipertanyakan oleh bayinya ayahnya siapa. Bayinya juga nanti akan terjamin hidupnya kalau bersama keluarga Joris. Bayi itu tidak akan menjadi beban baginya, bayi itu akan aman bersama keluarga Joris.
“Bagaimana kalau Earlangga tidak mau menerima bayi itu?” tanya Valerie.
“Tidak masalah, biar aku yang mengurus bayi itu, biarkan Earlangga menjalani hidupnya sendiri,” kata Ny. Grace lagi.
Valerie terdiam lagi.
“Baiklah kurasa sudah ckup, kau bisa berangkat bekerja. Sudah ada mobil dan supir baru didepan. Ingat jaga baik-baik kehamilanmu,” kata Ny. Grace.
“Baik Nyonya,” jawab Valerie, diapun bangun dan membawa amplop yang ada di tangannya
Benar saja, keluar dari rumah itu, sudah ada mobil bagus terparkir digarasi.
“Pagi Nyonya, saya supir baru Nyonya,” kata seorang pria yang tidak terlalu tua dengan seragam supirnya, langsung menghampiri Valerie.
Valerie menatap pria itu.
“Nama saya Agus Nyonya,” jawab Pak supir itu.
“Pak Agus, jangan panggil saya Nyonya, panggil ibu saja,” kata Valerie.
“Baiklah,” jawab Pak Agus, mengangguk.
“Kita akan berangkat sekarang?” tanya Pak Agus.
“Iya, saya sudah telat,” jawab Valerie.
Pak Agus berlari membukakan pintu mobil. Valerie menatap mobil baru itu, rasanya tidak percaya dengan semua ini. Bayinya beruntung berada didalam keluarga Joris, batinnya. Tentunya bayinya tidak akan kekurangan satu apapun. Bayinya pasti akan terjamin masa depannya kalau bersama Ny.Grace.
Valerie masuk ke dalam mobil itu, tidak berapa lama mobil yang dibawa Pak Agus itu keluar dari halaman rumah.
*************
Hari tidak terasa sudah mulai siang. Earlangga pergi ke rumah sakit yang disebutkan Jeni itu untuk mencari yang bernama Dokter Dandy.
Saat menanyakannya pada receptionis, dengan cepat receptionis menjawab jadwal praktek Dokter Dandy.
“Aku bukan mau berobat, aku ada perlu,” kata Earlangga.
“Kalau begitu Bapak bisa langsung ke tempat prakteknya saja Pak, tempatnya bersebelahan dengan rumahnya Dokter Dandy,” jawab receptionis itu.
“Saya minta alamatnya,” kata Earlangga.
“Baiklah, ini alamat kliniknya,” ujar receptionis itu, menuliskan sebuah alamat tempat praktek Dokter Dandy pada Earlangga.
__ADS_1
Setelah mendapatkan alamat dari receptionis, Earlangga pergi kealamat itu. Dia benar-benar ingin tahu apa Dokter Dandy itu punya hubungan dengan Valerie? Jangan-jangan Valerie tidak mau mengatakan yang sebenarnya soal pria itu karen pria itu memang tidak mau bertanggung jawab.
Earlangga sampai juga di tempat praktek Dokter Dandy. Dilihatnya tidak ada pasaien di kursi tunggu itu. Dilihatnya plang yang ada dipinggir jalan itu, memang jam prakteknya jam 6 sore.
Tempat praktek itu bersebelahan dengan rumahnya Dokter Dandy. Mungkin tadinya itu memang sebuah pavilion. Earlangga memilih menuju pintu rumahnya saja. Ditekannya bel beberapa kali.
Cukup lama dia menunggu, akhirnya pintupun ada yang membuka.
“Mau bertemu siapa?” tanya seorang wanita yang membukakan pintu itu.
“Dokter Dandy ada?” tanya Earlangga.
“Praktek Dokter Dandy nanti jam 6 sore. Tempat prakteknya disebelah kiri,” jawab wanita itu menjelaskan.
“Maaf saya bukan mau berobat, saya ingin bertamu,” kata Earlangga.
“Baiklah, nama Bapak siapa? Nanti saya sampaikan,” kata wanita itu.
“Earlangga,” jawab Earlangga.
“Baik, ditunggu ya Pak,” ujar wanita itu lalu akan kembali menutup pintu dan masuk ke rumah, ada suara yang memanggilnya.
“Ada siapa Bi?” terdengar suara seorang wanita.
Earlangga menoleh pada arah suara, seorang wanita cantik menghampirinya.
“Mau bertemu siapa?” tanya wanita itu.
“Dokter Dandy,” jawab Earlangga.
“Kenapa? Mau berobat? Berobat ruangannya dsebelah,” kata wanita itu tersenyum ramah.
Earlangga menatap wanita itu, sepertinya dia itu istrinya Dokter Dandy. Jadi pasti Dokter Dandy tidak mau bertanggung jawab karena sudah punya istri.
Wanita itu menatapnya, rasanya suaminya tidak punya teman pria asing, fikirnya.
“Bi, tolong ambilkan minum. Biar saya yang memberitahu Bapak,” kata wanita itu.
“Silahkan duduk,” kata wanita itu pada Earlangga,lalu masuk kedalam rumah.
Earlangga akhirnya masuk keruang tamu yang luas itu, melihat seisi rumah yang terlihat rapih dan bersih, diapun duduk di sofa. Tidak berapa lama keluarlah seorang pria muda yang tidak beda jauh dengan usianya.
“Siapa ya?” tanya Dokter Dandy belum apa-apa sudah bertanya-tanya karena memang tidak mengenal Earlangga.
“Saya Earlangga,” jawab Earlangga sambil mengulurkan tangannya pada Dokter Dandy.
“Silahkan duduk,” kata Dokter Dandy, diapun duduk disebrangnya Earlangga.
“Ada perlu apa?” tanya Dokter Dandy.
“Saya suaminya Valerie, suster Valerie,” jawab Earlangga.
Dokter Dandy tampak terkejut lalu tersenyum.
“Suaminya suster Valerie? Maaf, saya tidak tahu. Suster VAlerie tidak mengabari kalau dia menikah,” kata Dokter Dandy.
“Dokter tidak tahu kalau Valerie menikah?” tanya Earlangga.
“Tidak, sepertinya orang-orang rumah sakit juga tidak ada yang tahu, karena tidak ada undangan pernikahan ke rumahsakit,” jawab Dokter Dandy.
__ADS_1
Earlangga menatap pria itu, kalau dari reaksinya dia tidak seperti kekasihnya Valerie, dia biasa saja saat mengetahui kabar Valerie menikah.
“Bagaimana kabarnya? Sudah lama sekali tidak melihat Valerie? Dia sudah lulus kan sekarang? Kerja dimana dia?” tanya Dokter Dandy dengan wajahnya yang sumringah.
Earlangga menatapnya lekat-lekat membuat Dokter Dandy menatapnya keheranan.
“Ada apa ya?” tanya Dokter Dandy.
“Kapan Dokter terakhir bertemu Valerie?” tanya Ealangga
“Ada mungkin 6 bulanan lebih, sudah lama, waktu Valerie masih magang saja,” kata Dokter Dandy.
Earlanggapun terdiam , kalau sudah lama tidak bertemu dengan Valerie, itu artinya Dokter Dandy bukan ayah bayi itu. Bayi itu baru berumur 6 7 minggu.
Melihat Earlangga yang terdiam, Dokter Dandy terlihat bingung.
“Ada apa ya? Maksud kedatanganmu apa? Kenapa tidak bersama Valerie? Ko tahu rumah saya?” tanya Dokter Dandy dengan bingung.
“Maaf sebenarnya begini Dok, saya hanya ingin memastikan apakah Dokter punya hubungan khusus dengan Valerie?” tanya Earlangga membuat Dokter Dandy terkejut.
“Hubungan khusus? Maksudnya apa?” tanyanya dengan bingung.
“Ya maksudnya pacaran semacam itu,” kata Earlangga.
Dokter Dandy langsung tertawa.
“Tidak, saya hanya berteman. Saya sudah menikah dengan istri saya sudah dua tahun, tidak mungkin saya ada hubungan. Kami memang suka ngobrol curhat, tapi hanya sebatas teman kerja saja, lagipula bertemu juga jarang hanya saat dirumah sakit. Saya kan Dokter gigi bukan Dokter umum. Jadi hanya saat jam praktek saja saya ke rumah sakit,” jalas Dokter Dandy.
“Jadi Dokter tidak ada hubungan apa-apa dengan Valerie?” tanya Earlangga, diapun jadi bingung. Kata Jeni pria yang dekat dengan Valerie salah satunya Dokter Dandy, tapi kata Dokter gigi itu jarang bertemu juga. Apa Jeni sedang mengerjainya?
“Apa ada masalah?” tanya Dokter Dandy, mulai serius.
“Apa Dokter tahu siapa saja mantan pacarnya Valerie?” tanya Earlangga.
“Setahuku, waktu itu Valerie tidak punyca aocar, dia focus ingin menyelesaikan kuliahnya. Lagipula dia kan bekerja merawat yang sakit lumpuh dan stroke,” jawab Dokter Dandy.
“Dokter yakin Valerie tidak punya acara?” tanya Earlangga.
“Setahuku tidak. Soalnya kalau kita berbcanda-canda dia mengeluh jomblo karena tidak ada waktu pacaran. Dia bekerja di rumah pasiennya 24 jam. Jadi tidak bisa kemana-mana, hanya mendapatkan ijin untuk jam-jam kuliah saja,” jawab Dokter Dandy.
“Jadi Valeire tidak suka gonta ganti pacar?” tanya Earlangga.
Dokter Dandy malah tertawa.
“Kau dengar darimana? Dia pacar saja tidak punya, seperti yang tadi saya bilang itu,” ucap Dokter Dandy.
“Sebenarnya kaget juga sih tiba-tiba ada suaminya Valerie yang datang. Pasti kalian pacarannya sangat kilat dan langsung menikah. Selamat ya, semoga kalian cepat dapat momongan,” kata Dokter Dandy.
Earlangga tambah bingung saja. Jadi Valerie tidak memiliki pacar sebelum bertemu dengannya, bahkan jomnblo sangat lama. Kalau begitu siapa yang menghamili Valerie? Sungguh membingungkan.
“Jadi benar-benar tidak ada mantannya Valerie?” tanya Earlangga sekali lagi.
“Setahu saya tidak. Kenapa tidak kau tanya langsung saja? Tapi kalau menurutku, Valeri itu gadis yang baik, dia tidak neko neko, anaknya cerdas,” ucap Dokter Dandy.
Earlangga menghela nafas panjang, sepertinya memang Jeni sengaja mengerjainya sengaja ingin berhubungan dengannya jadi menjual nama Valerie. Keterlaluan dia!
Akhirnya Earlangga pulang dari rumahnya Dokter Dandy dengan lega. Kenapa lega? Entah kenapa dia merasa lega saat mendengar kalau Valerie itu tidak punya pacar, tapi..tiba dia menghentikan mobilnyya.
Dia teringat saat Valerie pingsan itu adaa tanda tanda merah di sekitar leher dan dadanya. Itu…pasti itu ulah pacarnya, berarti Valerie punya pacar yang teman-teman dirumah sakitnya tidak tahu. Itu bukti kalau Valerie berhubangan dengan pria.
__ADS_1
Tapi siapa pria itu? Masa dia harus bertanya lagi pada Jeni? Kira-kira siapa teman dekatnya Valerie. Ya pasti Valerie punya teman dekat permpuan. DIa harus bertanya pada teman dekatnya, daripada Jeni, sudah kelihatan dia punya niat yang tidak baik.
**************