
Sepanjang jalan Valerie melamun saja, melamun hal hal yang tidak jelas. Dia bingung, hidupnya terasa begitu hampa. Yang menodainya kemungkinan bule- bule itu, tentu saja bule-bule itu pasti tinggal di luar negeri dan entah di negara mana. Itu artinya dia tidak akan pernah tahu siapa ayah bayina dan tidak akan pernah ada yang bertanggung jawab atas kehamilannya.
Matanya semakim merah, airmata menggenang dikelopak matanya. Dia benar-benar tidak ada semangat hidup. Entah buat apa dia hidup didunia ini. Hidup sebatangkara dan mendapat penderitaan seperti ini. Rasanya dia ingin mengakhir hidupnya saja.
“Sus, kita sudah sampai,” kata Pak Usman menyadarkannya dari lamunan.
“Iya Pak,” jawab Valerie, cepat cepat menghapus air mata nya dengan tisu. Pak Usman hanya menatapnya tidak mengerti.
Valerie turun dari mobil membawa kantong makanan untuk Earlangga. Pekerjaan yang sudah dijalaninya lebih dari satu bulan, sebagai ahli gizinya Earlangga dan yang menjaga kesehatannya pria itu yang masih alergi iklim yang menyebabakn ruam ruam pada kulitnya.
“Kau terlambat lagi!” hardik Earlangga saat Valerie sudah tiba diruangannya.
“Maaf Pak, tadi saya ada urusan sebentar,” kata Valerie.
Earlangga tidak menjawab lagi, dia masih sibuk menulis sesuatu diatas meja kerjanya.
“Mau makan sekarang Pak?” tanya Valerie.
Earlangga menghentikan menulisnya dan menatap gadis itu. Apa dia tidak salah lihat, dari hari ke hari gadis itu memang salalu pucat, sudah dari awal bertemu pingsan dan sakit- sakitan padahal dia kuliah mengambil jurusan perawat tapi mengurus diri sendiri saja sepertinya tidak bisa.
“Kau sudah baikan sekarang?” tanya Earlangga, bangun dari duduknya, pindah ke sofa.
“Iya Pak, sudah baikan,” jawab Valerie, meskipun sebenarnya dia merasa pusing, lelah dan tubuhnya lemas.
Valerie menyiapkan makanan di meja, bersamaan dengan Bu Riska masuk ke ruangan itu.
“Pak Berkas yang tadi sudah ditandatangan belum? Akan diprose oleh bagian keungan,” tanya Bu Riska.
“Sudah ,ambil saja dimejaku,” kata Earlangga, yang sudah duduk di sofanya menghadap makanan yang disediakan oleh Valerie.
Bu Riska masuk keruangan melewati Valerie yang sudah menyiapkan makanan di atas meja itu dan melipat kantong yang di bawanya. Dia merasa lega ternyata Bu Asni mengganti menunya, tidak ada lagi sup daging atau dia akan muntah nanti.
Tapi saat Bu Riska berjalan melewatinya, Valerie mencium parfum yang dipakai Bu Riska, diapun langsung merasa mual mencium bau itu.
“Uoo,” Valerie menutup mulutnya dengan tangannya, membuat Earlangga dan Bu Riska menoleh kearahnya.
“Ada apa?” tanya Bu Riska malah menghampiri semakin merasakan bau parfum itu.
“U..Uoo,” Valerie sudah tidak bisa tahan lagi, diapun berlari ke wastafel yang ada di ruangan kerjanya Earlangga yang tersekat tembok.
“Uo..Uoo..” Diapun muntah muntah.
“Hei, kau kenapa?” tanya Bu Riska, buru-buru menghampiri, Earlanggapun tidak jadi makannya, dia bangun mengikuti langkah Bu Riska.
“Kau kenapa?” tanya Earlangga dengan bingung.
Saat Bu Riska menghampiri, semakin mempertajam bau parfum itu, Valerie sudah tidak tahan, kepalanya langsung pusing, tangannya mengarah pada Bu Riska supaya jangan mendekat, membuat Bu Riska bingung.
Valerie terus muntah-muntah dan Brugh! GAdis itu jatuh kelantai, membuat Bu Riska menjerit dan panik juga Earlangga. Dia bingung kenapa Valerie suka sekali pingsan?
“Panggil Dokter! Panggil Dokter!” seru Earlangga pada Bu Riska. Dia buru-buru mengakat tubuhnya Valerie dibawa ke sofa yang ada diruangan disana.
Bu Riska cepat-cepat keluar dari ruangan itu menelpon bagian kesehatan sambil menggerutu.
“Apa gadis itu tidak ada kerjaan, sedikit-sedikit pingsan sedikit-sedkit pingsan!” keluhnya.
“Ada yang pingsan diruangan Pak Earlngga!” kata Bu Riska.
Earlangga kebingungan melihat Valerie yang pingsan itu, dia juga tidak mengerti kenapa perawatnya pingsan melulu, atau sebenarnya dia mempunyai suatu penyakit? Dia menebak-nebak.
Tidak berapa lama datanglah Dokter untuk memeriksa Valerie.
__ADS_1
Earlangga menunggu dengan cemas begitu juga Bu Riska.
“Bu Riska!” terdengar suara seorang wanita menuju mejanya Bu Riska.
“Aku disini!” jawab Bu Riska, sambil keluar dari ruangan Earlangga.
“Ada apa? Siapa yang sakit? Seperti ada Dokter tadi,” kata karyawati itu.
“Ini perawatnya Pak Earlangga muntah muntah terus pingsan,” jawab Bu Riska.
“Oh sakit,” kata karyawati itu.
“Iya, heran, sedikit-sedikit pingsan sedikit-sedikit pingsan,” keluh Bu Riska, sambil memberikan berkas yang diambilnya dari meja Earlangga tadi.
“Sudah ditanda tangani Bu?” tanya karyawati itu.
“Sudah, coba kau periksa dulu ada yang terlewat belum? Belum aku periksa gara-gara perawat itu pingsan,” jawab Bu Riska, sambil kembali masuk keruangannya Earlangga.
Karyawati itu memeriksa berkasnya di mejanya Bu Riska.
“Bagaimana Dok?” tanya Earlangga.
“Pasien sedang hamil dan badannya sangat lemah, seharusnya istirahat saja dirumah, dia kurang makan, tubuhnya sangat kurus,” kata Dokter.
Mendengar jawaban Dokter itu sontak membuat Earlangga dan Bu Riska terkejut, termasuk karyawati yang sedang memeriksa berkasnya diatas meja Bu Riska yang dekat ke ruangannya Earlangga.
“Apa? Hamil? Bukankah perawat ini masih gadis?” tanya Bu Riska keceplosan lalu menutup mulutnya.
“Benar, sedang hamil muda, makanya muntah muntah karena dia sensitive terhadap bau-bauan,” kata Dokter.
Earlangga masih mematung dia tidak menyangka kalau Valerie hamil terus siapa yang menghamili Valerie? Setahu dia Valerie tidak punya pacar, tapi pastilah punya pacar, waktu pingsan dulu itu dia melihat tanda merah di sekitar leher dan dadanya, pasti pergaulan gadis ini sangat berlebihan dengan pacarnya makanya hamil fikir Earlangga.
“Apa Bapak tidak tahu kalau suster ini sedang hamil?” tanya Dokter.
“Tidak, aku tidak tahu,” jawab Earlangga dengan bingung.
Karyawati yang tadi melihat berkas terkejut mendengarnya kalau perawat Earlangga itu sedang hamil.
Terdengar beberapa langkah kaki mendekati meja sekretaris itu.
“Pak Earlangga ada?” tanya dua pria itu.
“Ada di dalam tapi sedang ada yang pingsan di dalam,” jawab karyawati itu sambil beranjak.
“Yang pingsan?” tanya pria itu.
“Iya, perawatnya ternyata sedang hamil,” jawab karyawati itu.
“Perawatnya hamil?” tanya pria itu sambil menoleh pada temannya.
“Tidak bisa ditutupi lagi kalau perawat itu ada hubungan dengan Earlangga makanya dibawa- bawa ke villa juga, kau pura-pura bodoh saja,” kata temannya itu.
Karyawati itu yang akan pergi sempat mendengar percakapan dua pria itu merasa kaget, ternyata perawat itu sering dibawa-bawa oleh Pak Earlangga dan ternyata perawat itu sedang hamil sekarang. Buru-buru dia pergi meninggalkan ruangan itu. Sesampainya di mejanya di bagian keuangan dia memberitahuan berita ini pada teman kerjanya.
“Pak Earlangga menghaili perawatnya,” kata karyawati itu membuat kaget yang lainnya dan seketika mereka berkumpul menanyakan kabar itu.
Bu Riska keluar dari ruangan itu menatap dua pria itu.
“Pak Billiy, Pak Edwin, ditunggu sebentar ya Pak, Pak Earlangga sedang ada urusan dulu sebentar,” kata Bu Riska.
“Ya kami tunggu disini,” ucap Billy sambil duduk di sofa yang ada didekat mejanya Bu Riska diikuti Edwin.
__ADS_1
Earlangga menatap Dokter lalu pada Valerie.
“Ini resepnya Pak!” kata Dokter.
“Terimakasih,” jawab Earlangga sambil menerima resap itu, Dokter itupun keluar dari ruanganitu.
Valerie bangun dengan kebingungan, kepalanya terasa sangat pusing. Dia duduk sambil memegang kepalanya. Earlangga masih berdiri menatapnya.
“Kau diantar supir kan?” tanya Earlangga.
“Iya Pak, maaf saya pingsan lagi,” jawab Valerie.
Earlangga menghela nafas panjang, bingung dengan keadaan Valerie.
“Pak, ada Pak Billy dan Pak Edwin,” terdengar suara Bu Riska dipintu, sekretarisnya itu melirik pada Valerie.
“Bu Riska, bantu Valerie kemobilnya,” kata Earlangga.
“Tidak usah Pak,” kata Valerie.
“Kau sedang hamil dan pingsan tadi, bagaimana kalau kau jatuh dijalan?” tanya Earlangga.
Valerie menatap Earlangga dengan terkejut, darimana dia tahu kalau dia sedang hamil?
Mata Valerie tertuju pada kertas yang dipegang oleh Earlangga, kertas resep obat, sepertinya tadi ada Dokter yang memeriksanya, bagaimana ini? Sekarang orang-orang tahu kalau dia sedang hamil.
“Ayo aku antar,” kata Bu Riska, tapi Valerie langsung mengulurkan tangannya meminta Bu Riska menjauh, karena parfum Bu Riska membuatnya merasa mual. Diapun menutup mulutnya lagi.
Earlangga menatap Valerie.
“Ayo aku antar ke mobil, tapi kau pulang dengan supir, aku sedang ada tamu,” kata Earlangga.
“Tapi Pak,” Valerie menolak.
Earlangga langsung meraih tangannya mengajak berdiri. Bu Riska tersenyum sinis, gadis ini benar-benar modus, fikirnya.
Terpaksa Valerie menerima uluran tangannya Earlangga, keluar dari ruangan itu dibantu oleh Earlangga.
Saat keluar
ruangan beberapa karyawan yang lewat memperhatikannya.
“Kalian tunggu sebentar,” kata Earlangga pada Billy dan Edwin yang juga meperhatikan pria itu membantu Valerie berjalan meninggalkan ruangan itu.
“Ini sih sudah tidak bisa ditutupi lagi, kalau mereka memang ada hubungan,” gumam Billy, yang merasa kecewa karena dia tidak bisa mengajak Valerie berkencan saat di Villa.
Bu Riska yang mendengarnya tampak terkejut, ternyata rekan bisnis bosnya sudah tahu kalau Valerie ada hubungan dengan bosnya.
“Huhu wanita murahan pura-pura menjadi perawatnya, padahal asalnya grabfood ternyata cuma modus untuk menggoda pria kaya,” batinnya sambil mencibir lalu pergi ke mejanya.
“Pak Usman antar Valerie pulang, tapi sebelum pulang, mampir ka apotik tebus obat ini,” kata Earlangga saat sudah sampai dimobilnya yang ada di parkiran.
Valerie menatap Earlangga, dia merasa tidak nyaman kehamilannya diketahui orang. Earlangga seakan tidak mau melihat matanya dia membukakan pintu.
“Masuklah, kau istirahat saja dirumah,” kata Earlangga.
Valerie hanya menganggguk, diapun masuk kedalam mobil. Dia hanya bisa melihat punggung pria itu kembali masuk ke gedung. Dia merasa malu bukan main, kenapa kehamilannya sampai diketahui orang banyak, terutama Earlangga, dia merasa malu, sangat malu.
Dalam sekejap kabar kehamilan perawatnya Earlangga menjadi topic diantara para karyawaan. Semua terkejut dengan kabar ini, berbagai komentar miring terus bermunculan dan menyebar kemana-mana.
*************
__ADS_1