Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-96 Ibu hamil yang manja


__ADS_3

Sean dan Lorena menyusuri koridor rumah sakit. Lorena berjalan di depan sedangkan Sean dibelakangnya.


“Sayang kita ke Dokter kandungan, siapa tahu kau sedang hamil, meskipun aku bingung apa hubungan hidung dengan kehamilan?” kata Sean. Lorena tidak menghiraukan perkataannya Sean.


 “Sayang, Dokter kandungan ke sebelah kiri,” kata Sean, saat Loena masih berjalan saja sendiri lurus kedepan, meskipun Sean sudah memberitahu arahnya.


Seanpun mengalah jadi mengikutinya berjalan lurus.


“Sayang!” panggil Sean. Tapi Lorena tidak mendengar, dan malah terlihat terisak, membuat Sean kebingungan.


“Sayang kau kenapa?” tanya Sean, berjalan semakin dekat, tapi Lorena malah mundur dan menutup hidungnya lagi, Seanpun jadi menghentikan langkahnya.


“Ada apa?” tanya Sean kebingungan.


Ditanya begitu bukannya menjawab Lorena malah menangis dengan keras, membuat Sean semakin tidak mengerti saja, apalagi orang-orang yang mendengar tangisan Lorena mulai melirik kearah mereka, bertanya-tanya apa yang terjadi.


“Sayang kau kenapa?” tanya Sean.


“Huaa..huaa..” Tangisan Lorena semakin keras.


“Kau ini kenapa?” tanya Sean lagi semakin bingung, dia juga merasa malu orang-orang semakin banyak memperhatikan mereka.


“Kau tega sekali menyuruh perawat itu menciummu di depanku!” teriak Lorena, membuat orang-orang di sekitar yang mendengar terbelalak kaget.


“Sayang, kau salah faham,” kata Sean, dengan bingung dia juga malu, apalagi cibiran dari ibu-ibu yang mendengar perkataan Lorena.


“Huaa..huaa..” Lorena masih menangis.


“Aku menyuruh perawat itu menciumku, maksudku mencium aku bau atau tidak, begitu,” kata Sean.


Lorena masih saja menangis.


Ada dua orang ibu-ibu yang berjalan melewati mereka.


“Sok ganteng, genit. Percuma ganteng juga kalau kegenitan begitu,” cibir ibu-ibu itu.


Sean mendengarnya menjadi kesal, dia menoleh pada Lorena.


“Sayang, jangan begitu, orang-orang jadi salah faham,” kata Sean, dia tidak suka mendapat cibiran dari yang lewat.


Lorena masih terisak –isak.


“Sayang, sudah menangisnya, kita ke Dokter kandungan sekarang,” ajak Sean, tangannya terulur mengajak Lorena.


“Jangan dekat-dekat!” teriak Lorena.


“Ya aku tidak akan dekat-dekat,” kata Sean, mengalah.


“Ayo kita ke Dokter kandungan, kesebelah sana,” ajak Sean, menujuk belokan yang mereka lewati tadi.


Lorena menghapus airmatanya lalu berjalan duluan menuju belokan tadi. Sean kembali mengikutinya dari belakanag. Dia semakin bingung saja dengan sikap istrinya itu, kepalanya terus berdenyut denyut memikirkannya sepertinya lebih  baik memikirkan pekerjaan daripada memikirkan istrinya yang aneh ini.

__ADS_1


Akhrinya mereka tiba di ruang prakteknya Dokter Tati.


“Ada keluhan apa?” tanya Dokter Tati. Bertanya pada Lorena yang duduk didepannya sedangkan Sean hanya berdiri dikejauhan.


“Silahkan duduk Pak,” kata Dokter Tati, menoleh pada Sean.


“Istriku selalu mengatakan aku bau kalau dekat-dekat dengannya,” jawab Sean.


“Oh begitu,” jawab Dokter Tati.


“Aku belum tau istriku hamil atau tidak, cuma ini dari Dokter THT tadi,” kata Sean sambil memberikan kertas dari Dokter THT lalu berjalan lagi mundur menjauh dari Lorena.


Dokter Tati membaca catatan yang ada disitu.


“Baiklah mari kita periksa,” kata Dokter Tati, mengajak Lorena ke tempat periksa Pasien.


Lorena menuju tempat periksa itu, Sean mengulurkan tangannya akan membantunya, tapi Lorena menepisnya, dia masih kesal soal perawat itu. Seanpun diam. Istrinya benar-benar marah padanya.


Akhirnya Sean hanya menunggu istrinya diperiksa, dia melihat layar USG.


“Istri anda sedang hamil, kandungannya sehat,” kata Dokter Tati, sambil melihat ke layar USG.


Mendengar perkataan  Dokter itu, tidak terbayangkan bagaimana bahagianya Sean. Matanya langsung berkaca kaca. Setelah apa yang terjadi pada pernikahannya, akhirnya istrinya hamil juga.


“Usia kandungannya sudah 8 minggu,” kata Dokter Tati, menyudahi pemeriksaannya, kembali ke meja prakteknya.


Sean mengulurkan tangannya akan membantu Lorena bangun, tapi lagi-lagi istrinya itu menepisnya, tidak mau dibantu. Diapun membiarkan istrinya bangun sendiri. Sean segera duduk di kursi depan Dokter itu.


“Jadi sebenarnya istriku tidak ada masalah dengan hidungnya?” tanya Sean.


“Tapi kenapa hanya aku saja yang disebut bau?” tanya Sean, dengan raut wajah yang kecewa.


“Mungkin karena bawaan bayi saja, Pak, itu normal,” kata Dokter Tati.


“Bawaan bayi?” Sean tampak kebingungan. Ini pengalaman pertama istrinya hamil, semua sangat membingungkan.


“Jadi aku harus bagaimana?” tanya Sean.


“Untuk kehamilan pertama biasanya ibu akan sangat sensitif, jadi selain kesehatannya juga perasaannya harus dijaga,” jawab Dokter Tati.


Sean tersenyum bahagia mendengarnya, dia menoleh pada istrinya tapi ternyata istrinya malah cemberut saja tidak ada roman-roman bahagia, membuatnya bingung saja.


Setelah menebus obat, mereka bejalan lagi menyusuri koridor rumah sakit itu. Sebenarnya Sean ingin memeluk dan menciun istrinya, tapi merlihat Lorena yang tidak mau didekati,membuatnya menjaga jarak daripada nanti istrinya itu menangis lagi. Diapun dengan sabar berjalan dibelakang istrinya.


“Sayang, aku senang kau hamil sekarang,” kata Sean.


Lorena tidak menjawab, dia berjalan saja didepan suaminya.


“Kau diam saja dari tadi, apa kau tidak bahagia?” tanya Sean lagi.


Lorena masih tidak menjawab.

__ADS_1


“Sayang, bolehkah aku memelukmu? Aku juga mau menyentuh bayi kita,” kata Sean.


Lorena masih tidak menjawab, membuat Sean pusing saja.


“Sayang, kau masih marah?” tanyanya.


Masih tidak ada jawaban. Akhirnya Sean tidak bicara lagi, dia menyerah di acuhkan oleh Lorena, yang penting dia bahagia istrinya hamil sekarang.


Tiba-tiba Lorena menghentikan langkahnya.


“Sayang ada apa?” tanya Sean, keheranan.


“Aku lelah, aku mau kau gendong ke mobil,” jawab Lorena, membuat Sean terkejut.


“Sayang, kau mau ku gendong?” tanya Sean kebingungan, disini banyak sekali orang, apa dia benar-benar harus menggendong Lorena?


“Iya,” ajwab Lorena.


“Ya sudah, ayo ku gendong,” jawab Sean.  Tangannya mengulur akan memeluk Lorena tapi istrinya itu malah menyuruhnya yang lain.


“Jongkok!” kata Lorena.


“Apa? Jongkok?” tanya Sean.


“Iya jongkok,” jawab Lorena.


Meskipun malu dilihat orang, demi istri tercintanya yang sedang hamil itu, Sean mengalah saja, diapun berjongkok. Melihat suaminya sudah berjongkok barulah Lorena tersenyum, dia langsung duduk dipunggung suaminya.


Mata-mata memperhatikan mereka dan senyum-senyum. Sean merasakan malu bukan main, tapi mau bagaimana lagi? Daripada istrinya ngambek. Dirasakannya istrinya memeluk lehernya, dengan menahan rasa malu Sean menggendong istrinya. Terlihat orang-orang ada yang tertawa, tersenyum, cekikikan, eh ada yang memfoto juga.


Sean heran kenapa kalau digendong istrinya tidak bilang bau? Apa wanita hamil sebegini merepotkannya?


“Katanya aku bau, kenapa aku menggendongmu kau tidak bilang bau?” tanya Sean, penasaran.


Istrinya malah tertawa dan menempelkan pipinya.


“Aku baru tahu kalau kau merajuk itu minta digendong,” ucap Sean, merasakan pipi Lorena yang dingin menempel dipipinya.


“Aku capek dari tadi bolak balik jalan terus,” kata Lorena.


“Iya tidak apa-apa, aku akan menggendongmu, tapi janji ya jangan marah lagi,” ucap Sean, melirik dengan ujung matanya.


“Tidak janji, kalau kau tidak menjaga sikapmu aku akan marah,” kata Lorena.


“Iya aku janji,” jawab Sean, sambil kedua tangannya menahan tubuh istrinya yang berat itu diatas punggungnya, bukan istrinya saja yang digendong, ada bayinya juga disana.


Kemudian dirasanya bibir Lorena menempel dipipinya, membuatnya bahagia istrinya menciumnya, kebahagiaan mengalahkan beratnya menggendong istrinya.


Sean terus berjalan menuju mobilnya yang terparkir dihalaman rumah sakit itu.


“Apakah perlu bantuan Pak? Istrinya sakit apa?” tanya petugas parkir langsung menghampiri.

__ADS_1


“Istriku baik-baik saja, dia hanya sedang manja saja ingin digendong,” jawab Sean, membuat petugas parkir bengong melihatnya dan membiarkan Sean lewat tanpa berkata apa-apa lagi.


***************


__ADS_2