
Halaman parkir sebuah gedung olahraga terbesar di kota ini tampak ramai. Bukan ramai oleh yang mau menonton pertandingan bola, tapi ramai oleh para peserta kontes menjadi istri Presdir. Hari ini mereka lomba mencuci pakaian dengan berbagai jenis pakaian yang biasa digunakan oleh Presdir. Lengkap dari Jas, kemeja, celana panjang, singlet, celana dalam sampai ke dasi dan kaos kaki.
Semua peserta masih berbaris berdiri di lapak mereka masing masing. Panitia sudah menyiapkan tiap peserta dengan area mencucinya, lengkap dengan alat-alat mencuci juga pakaian yang kotor yang entah pakaiannya siapa.
Lorena menatap deretan-deterjen yang juga sudah disiapkan oleh panitia. Sengaja disimpan beraneka macam untuk membuat peserta memilih jenis deterjen yang cocok untuk tiap pakaian, termasuk detergen cair juga ada, lengkap dengan berbagi jenis pewangi.
Lorena masih bingung, karena akibat detergen itu tangannya menjadi merah-merah dan terasa panas. Dia terus berfikir bagaimana caranya supaya dia bisa mencuci tanpa menyentuh detergen.
“Hei, kita ketemu lagi, kau sudah siap?” tanya seorang wanita, beberapa langkah dari lapaknya Lorena. Lorena menoleh pada suara itu ternyata Indri.
“Kau disitu?” tanya Lorena.
“Iya,” jawab Indri.
“Semangat ya!” seru Lorena.
“Iya semangat semangat!” balas Indri.
Lorena kembali menatap bahan-bahan cucian itu. Tidak sesuai dengan ucapannya pada Indri, dia merasa pesimis, dia tidak mungkin menang, dia sangat tidak bersemangat. sudah dipastikan dia akan gagal. Kemudian matanya melirik lirik mencari-cari barangkali Sean terlihat memantau acara ini.
Dari kejauhan tampak Sean ada bersama Sam dan juga panitia, mereka ada ditenda panitia. Pria itu sepertinya baru datang. Lorena berfikir sebentar, kemudian dia meninggalkan tempat cucian itu.
“Bagaimana persiapan lomba hari ini? Semuanya sudah beres?” tanya Sam pada panitia.
“Sudah Pak, sudah beres,” jawab panitia. Sam manggut manggut senang. Sean hanya berdiri disampingnya mendengarkan saja. Tiba-tiba tangannya ada yang menarik, menyeret keluar dari tenda.
“Hei, kau siapa?” tanya Sean terkejut, pada orang yang menarik tangannya. Saat dilihatnya ternyata wanita itu wajahnya langsung muram.
“Ada apa? Bukannya kau siap-siap di lapakmu,” kata Sean, kenapa melihat wanita itu bawaannya ingin bertengkar saja.
“Kau masih ingat janjimu kan? Kau akan membantuku di lomba ini?” tanya Lorena berbisik jangan sampai terdengar oleh orang lain, makanya dia menyeret Sean ke sebuah pohon yang agak jauh dari tenda.
“Kau benar-benar takut kalah ya,” ucap Sean.
“Aku pasti kalah, tanganku alergi detergen,” keluh Lorena. Sean terdiam.
“Kau jangan lupa meloloskanku, aku kan sudah membantumu lepas dari wanita-wanita itu. Kau juga kan sangat dekat dengan Pak Sam, kau akrab dengannya, sedikit mencomblangi ga ada salahnya,” kata Lorena.
“Mencomblangi? Mencomblangi apa?” gerutu Sean, tidak suka dengan kata itu.
“Ya maksudku supaya Pak Sam memperhatikanku juga,” ucap Lorena.
“Ah tidak tidak, tidak ada perjanjian mencomblangi segala. Lomba ya lomba,” Sean masih menggerutu, lagian Lorena ada-ada saja, memintanya mencomblangi Sam segala, yang mencari istri kan dia bukan Sam.
“Ya sudah kalau tidak mau. Aku heran katanya kau dan Pak Sam sudah seperti saudara, kau saja tidak memanggilnya Pak di luar kantor, kau juga bisa menyuruh nyuruhnya diluar kantor saking dekatnya,itu kan yang kau katakan di resepesi itu,” kata Lorena.
“Iya aku memang dekat dengannya, aku tidak bohong,” kata Sean.
“Iya aku percaya, tapi kenapa kau sirik terus padanya?” keluh Lorena.
“Aku tidak sirik, buat apa aku sirik?” tanya Sean dengan kesal. Lama-lama tidak dia bantuin nih cewek, bikin kesel melulu, batinnya.
Terdengar pengumuman kepada peserta supaya bersiap-siap.
“Pengumuman! Kepada peserta, diharap siap sedia dilokasi masing-masing sesuai dengan urutan nomor peserta!”seru panitia lomba.
Lorena menatap Sean.
“Bagaimana ini? Aku pasti tidak bisa mencuci!” kata Lorena.
Sean berfikir keras apa yang bisa dia lakukan untuk membantu Lorena.
Terdengar lagi pengumuman dari panitia.
Sean menatap Lorena yang masih menatapnya.
“Aku ada ide, ayo ikut ke mobilku!” ajak Sean, sambil tangannya menarik tangan Lorena menuju lahan parkir.
“Kita mau ke mana?” tanya Lorena. Dia masih mengikuti Sean karena tangannya masih dipegang pria itu.
“Ke mobilku!” jawab Sean.
__ADS_1
“Mau apa ke mobilmu?” tanya Lorena.
“Kau cerewat, mau dibatuin tidak?” gerutu Sean.
“Ya ya, ini kan aku mengikutimu,” jawab Lorena.
Merekapun sampai di mobilnya Sean. Pria itu tampak membuka bagasi mobilnya, mengeluarkan sebuah kotak besi yang cukup besar.
“Apa itu?” tanya Lorena.
Sean menyimpan kotak besi itu di tanah. Diapun berjongkok diikuti Lorena.
Dia penasaran apa yang akan dilakukan Sean. Pria itu membuka kotak itu yang ternyata kotak perkakas.
Lorena mengerutkan keningnya, buat apa Sean membuka kotak perkakas segala?
“Kau mencari apa disitu? Masa aku mencuci pakai palu,” kata Lorena.
“Kau sangat cerewet!” gerutu Sean. Tangannya mengeluarkan satu kotak perkakas lagi dari dalam kotak, ternyata dibagian bawahnya masih ada barang barang yang lain.
Lorena saking penasarannya dengan isi kotak perkakas, menundukkan kepalanya mengintip isi kotak itu, bersamaan dengan Sean yang mengangkat kepalanya dan Duk! Keningnya beradu dengan kepala Sean.
“Aduh!” teriak Sean, sambil memegang kepalanya.
Lorena mengusap jidatnya.
“Harusnya aku yang mengaduh, kenapa kau?” semprotnya.
“Lagi pula buat apa kau begitu dekat-dekat dengan perkakasku?” umpat Sean sambil mengusap usap kepalanya yang terasa sakit.
“Aku kan penasaran ingin melihat kau mau mengambil apa,” jawab Lorena, dia pun mengusap-usap jidatnya.
“Engga sabaran banget,” gerutu Sean.
Terdengar suara panita memberitahukan supaya peserta bersiap-siap.
“Kau dengar? Sebentar lagi lomba dimulai, kau lama amat,” keluh Lorena, membuat Sean kesal, dia berniat membantunya malah diomeli terus.
“Apa itu?” tanya Lorena.
Sean memberikannya pada Lorena.
“Sarung tangan karet,” jawab Sean.
“Apa? Sarung tangan karet?” tanya Lorena kebingungan, dia menerima bungkusan itu dan dibolak baliknya.
“Itu sarung tangan selalu ada di kotak perkakas ini, biasanya aku menggunakannya untuk mengganti ban dalam keadaan darurat jika tiba-tiba pecah ban di jalan,” jawab Sean.
Lorena malah tertawa.
“Kau apik amat, memegang perkakas saja pakai sarung tangan segala, takut tanganmu lecet? Hello! Kau laki-laki,” seru Lorena.
“Eh kenapa kau malah mengejekku? Aku membantumu ini. Kau bisa memakainya saat mencuci supaya tanganmu tidak kena detergen,” kata Sean.
Lorena menghentikan tawanya. Benar juga apa yang dikatakan Sean, dia akan mencuci dengan menggunakan sarung tangan karet ini.
“Bagaimana? Sarung tangan itu tidak terlalu besar, sepertinya cukup buat ukuran tanganmu,” kata Sean.
Terdengar lagi pengumuman dari panitia, supaya perserta bersiap-siap karena lomba akan segera dimulai.
Lorena bangun dari jongkoknya begitu juga Sean.
“Lomba akan dimulai!” kata Lorena.
“Ya pergilah! Good Luck!” ucap Sean, memberi semangat.
“Ya terimakasih Brother!” ucap Lorena sambil menepuk-nepuk bahunya Sean. Setelah itu dia berlari meninggalkan Sean.
Sean menepis nepis bekas tepukan tangan Lorena.
“Brother, brother, aku tidak suka disebut brother,” gerutunya.
__ADS_1
Sean berjongkok memasukkan kembali perkakas-perkakas itu. Tiba-tiba dia teringat sesuatu. Dia kan yang menyelenggakaran kontes, mencari calon istri lewat kontes ini, kenapa dia membantu peserta kontes supaya lolos lomba? Ah kenapa jadi begini?
Buru-buru dirapihkannya perkakas itu , dan kembali disimpannya di bagasi. Setelah itu dia kembali ke tenda panitia.
“Kau sudah darimana?” tanya Sam.
“Ada urusan sedikit,” jawab Sean, tidak memberitahu soal Lorena.
Lombapun segera dimulai. Lorena cepat-cepat lari menuju lapaknya.
“Lomba akan dimulai,” seru Indri saat Lorena melewatinya.
“Iya,” jawab Lorena dan buru-buru berdiri dilapaknya.
Panita mulai turun ke lapangan. Peserta sangat tegang.
“Lomba dimulai, dengarkan baik-baik aturannya!” terdengar panitia memberi pengumuman.
“Panita peringatkan lagi, ini sistem gugur, jadi jika lomba ini gagal, maka tidak akan bisa melanjutkan ke lomba berikutnya!” kata MC itu.
Lorena kembali menatap cucian cucian itu, lalu pada sarung tangan yang masih terbungkus rapih itu. Sepertinya dia memang harus menggunakannya supaya mencegah tangannya terkena detergen. Sean benar-benar teman yang bisa diandalkan, batinnya lalu tersenyum. Tapi eits! Sejak kapan berteman dengan Sean? Tidak, dia tidak mau berteman dengan pria sirikan itu, Sean membantunya karena sudah dibantu di resepsi, jadi tidak ada teman, yang ada adalah saling menguntungkan, hubungan simbiosis mutualisme atau apalah istilahnya.
“Dengarkan perintahnya!” terdengar suara panitia menggema diseluruh area, dengan pengeras suaranya.
“Silahkan kalian mencuci sebersih bersihnya sesuai dengan pakaian yang sudah disediakan dikeranjang, waktu mencucinya 1 jam,” seru panitia.
Semua peserta mendengarkan pengumuman itu dengan seksama.
“Setelah selesai, semua pakaian digantung di tiang jemuran yang sudah panitia sediakan dibelakang kalian!” kata panitia itu lagi.
Semua peserta melihat ke belakang mereka masing-masing, disana ada dua buah tiang jemuran lengkap dengan jepitan jemurannya.
“Ada yang ditanyakan?” tanya Panitia.
“Tidaaak!” jawab peserta serempak.
“Baiklah, lomba kita mulai dari sekarang! Go!” teriak panitia.
Peserta langsung serentak duduk di kursi jongkok, mereka mulai mencuci.
Lorena pun sama dia duduk di kursi pendeknya menghadap cucian, hanya dia masih bingung dengan cuciannya. Dia sudah hafal dengan cara-cara mencuci manual yang dia baca di internet termasuk melihat youtubenya sampai hafal diluar kepala. Yang jadi masalah hanya alergi detergennya saja.
Diliriknya sarungtangan itu, akhirnya di ambilnya dan dibuka isinya, diapun memakainya. Meskipun agak besar tapi cukuplah untuk menutupi seluruh tangannya bahkan sampai melebihi pergelangan tangannya,. Diapun mulai mencuci.
Tiba-tiba terdengar ada suara seorang peserta.
“Panitia! Panitia!” teriaknya.
Panitia yang sedang berjalan berkeliling menoleh pada peserta itu termasuk Lorena karena peserta itu tidak jauh lapaknya dari tempat Lorena.
“Ada apa?“ tanya panitia di kejauhan.
“Ada yang curang!” teriak peserta itu.
“Apa?” semua yang mendengarnya melihat kearah peserta itu, suasana langsung hening. Mereka penasaran apa yang telah terjadi.
Panitia segera menghampiri peserta itu.
“Ada yang curang pak!” jawab peserta itu.
“Siapa?” tanya panitia.
“Dia pak! Dia mencuci pakai sarung tangan!” jawab peserta itu sambil menunjuk pada Lorena.
Yang ditunjuk sangat terkejut, Lorena tidak menyangka akan ada peserta yang menuduhnya curang.
Panitia dan semua peserta yang berada dilapak sekitar Lorena menatapnya dan melihat pada sarung tangan yang digunakannya.
***************
Jangan lupa like vote dan komen
__ADS_1