Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-81 Calon istri buat Sean


__ADS_3

Sudah seminggu Lorena tidak ada kabar, seminggu itu pula Sean menjadi murung. Dia sudah tidak tau lagi kemana harus mencari Lorena. Sekarang Sean sudah tinggal dirumahnya lagi, sesekali ke kontrakannya disaat dia rindu dengan Lorena.


“Nanti malam kita makan malam diluar,” ucap Ny.Grace, saat Sean baru pulang kerja bersama Sam.


Sean tidak menjawab, dia melewati ibunya begitu saja.


“Jangan telat, jam 7 kita berangkat,” seru Ny.Grace.


Sean masih tidak menghiraukan perkataan ibunya, dia langsung masuk ke kamarnya diikuti Sam.


“Berhari-hari Lorena tidak ada kabar, rasanya aku mau gila, aku sangat rindu padanya,” kata Sean, menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur.


“Mungkin ada hal yang terlewati olehmu, kira-kira siapa yang bisa kau mintai keterangan Lorena tinggal di Londonnya dimana? Kalau Pak Firman meskipun tahu tapi dia pasti takut kalau sampai dia kehilangan pekerjaannya karena tidak menjaga rahasia majikannya,” kata Sam.


Sean terus berfikir kira-kira dia bisa mendapat keterangan dari siapa? Diapun memejamkan matanya.


Sam hanya berdiri bersandar di pintu menatap Sean dengan sedih. Kalau saja dia bisa bertemu dengan Lorena, ingin sekali dia mengatakan pada Lorena kalau temannya itu benar-benar mencintainya, Sean benar-benar kehilangannya.


Baru juga Sam akan keluar dari kamar itu, tiba-tiba Sean berseru.


“Aku tahu!” serunya, sambil bangun.


“Tahu apa?” tanya Sam membalikkan badannya menatap Sean.


“Sepupunya Lorena! Dia punya sepupu!” seru Sean.


“Sepupu?” tanya Sam, agak bingung.


“Iya,pokoknya saudaranya, siapa itu namanya? Laura! Ada sepupunya bernama Laura!” seru Sean.


“Kau tahu dimana Laura tinggal?” tanya Sam.


“Tidak, aku tidak tahu, tapi kau bisa membantuku kan, mencarikan karyawan yang bernama Laura di kota itu? Nanti aku buatkan sketsa wajahnya!” seru Sean, sambil turun dari tempat tidurnya, keluar dari kamarnya.


“Ayo ke ruang kerjaku!” ajak Sean, Sam langsung mengikutinya.


Sesampainya di ruang kerja, Sean mengambil sebuah kertas dan mulai menggambar. Sam menunggunya duduk disebrangnya.


Tidak terasa hari sudah malam, Sean menggambar agak lama karena dia mengingat-ingat wajahnya Laura. Kalau wajahnya Lorena dia hafal, tapi wajahnya Laura yang bertemu juga sebentar-sebentar, dia harus mengingat-ingatnya dengan extra.


Akhirnya gambar itu selesai juga.


“Ini gambarnya Laura, wajahnya ya mirip mirip seperti itulah, aku juga tidak terlalu ingat, kau bisa kirim ke perusahaan-perushanana disana untuk dicocokkan dengan karyawan yang ada nama Lauranya,” kata Sean.


Sam mengambil gambar itu lalu melihatnya.


“Baiklah, akan segera aku kerjakan,” kata Sam, diapun bangkit dari kursinya.


 Saat sampai pintu hampir saja dia bertabrakan dengan Ny,Grace yang sudah berganti pakiaan, berdandan dengan cantiknya.


“Kenapa kalian masih ada disini?” tanya Ny.Grace menatap Sam.


“Ada sedikit pekerjaan Ny,” jawab Sam lalu buru-buru menurunkan gambar ditangannya, sambil keluar dari ruangan itu.


Ny,Grace menatap Sean.

__ADS_1


“Kenapa kau belum mandi juga, cepat bersiap-siap, aku tunggu dibawah,” kata Ny.Grace, dia kesal karena Sean masih menggunakan pakaian kerjanya yang tadi.


“Memangnya ada yang penting?” tanya Sean, menatap ibunya.


“Sudah, ikut saja,” jawab Ny.Grace.


Akhirnya Sean bangun dari kursi kerjanya, diapun keluar diir ruang kerjanya diperhatikan oleh Ny.Grace, tapi ibunya itu tidak bicara apa-apa lagi, dia segera turun menunggu Sean bersiap-siap.


Sekitar satu jam kemudian, Ny. Grace dan Sean sudah berada di restaurant tempat Ny.Grace janjian dengan tamunya. Mereka memasuki restaurant itu yang tampak sudah penuh oleh pengunjung karena mereka memang telat datangnya sudah melewati jam makan malam.


Sean tidak bicara apa-apa, dia mengikuti ibunya menuju sebuah meja makan yang disana sudah duduk tiga orang, yang dua orang diantaranya Sean mengenalinya.


Dia heran kenapa ibunya mendeketi mejanya keluarga Pak Tedi.


Mereka langsng berdiri saat Ny.Grace suduh dekat.


“Maaf aku terlambat,” kata Ny.Grace.


“Tidak apa-apa, Nyonya,” ucap Pak Tedi, sambil mengulurkan tangannya bersalaman juga wanita yang disebelahnya sepertinya istrinya,dan satu lagi yang muda siapa lagi kalau bukan Nisa.


Sean langsung saja memasang wajah cemberut saat bersalaman dengan Nisa yang tersenyum manis padanya.


“Silahkan, silahkan duduk, saya sudah pesan makanan tadi,” kata Bu Tedi, sambil tangannya melambai memanggil pelayan restaurant itu.


Ny.Grace dan Sean duduk berdampingan. Pak Tedi langsung mengeluarkan sebuah amplop pada Ny. Grace yang segera menerimanya.


“Itu hasil tes kesuburan putriku, sangat bagus, putriku bisa langsung memberikan keturunan, jadi Nyonya tidak perlu khawatir,” kata Pak Tedi.


Mendengar perkataan Pak Tedi, Seen sangat terkejut.


“Apa maksudnya ini?” tanya Sean pada ibunya.


“Bagus,” ucapnya.


“Bu, katakan padaku, apa maksudnya ini?” tanya Sean, dengan suara agak keras.


“Rendahkan suaramu Sean, jangan membuat keributan,” kata Ny.Grace.


“Baiklah, apa maksudnya ini?” tanya Sean.


“Melihat hasil tes ini, ibu setuju menikahkan kau dengan Nisa,” jawab Ny.Grace, membaut Sean terkejut bukan main. Diantara banyak gadis kenapa harus Nisa?


“Apa? Menikah? Dengan Nisa?’ Aku tidak mencintainya!” tolak Sean wajahnya langsung memerah karena kesal.


Ny.Grace menoleh pada Sean mereka saling bertatapan.


“Kau harus menikah dengan yang bisa memberimu keturunan, tidak ada waktu lagi, tidak ada seleksi sana sini lagi, Nisa juga cantik, tidak ada masalah, yang penting kau cepat mempunyai keturunan,” kata Ny. Grace.


“Tapi Bu, aku tidak mencintai Nisa,” tolak  Sean.


Tiba-tiba Nisa memotong pembicaraan.


“Aku tidak masalah, aku yakin nanti kau lama lama akan menyukaiku, apalagi kalau kita sudah mempunyai anak,” kata NIsa.


“Diam kau!” bentak Sean pada Nisa, membuat Nisa terkejut tidak menyangka Sean akan membentaknya seperti itu sampai orangtuanya juga terkejut, tapi ibunya langsung mengusap punggung Nisa, merekapun diam.

__ADS_1


“Kau tidak bisa membantah lagi,” kata Ny.Grace.


“Aku hanya ingin menikah dengan Lorena,” ucap Sean.


Ny.Grace tidak menjawab lagi karena pelayan sudah datang membawakan makanan  untuk mereka.


“Sudahlah, kita kesini akan membahas kapan kalian akan menikah, yang pasti secepatnya,” ucap Ny.Grace.


Sean menatap ibunya, lalu pada Pak Tedi yang yang menatapnya.


“Pak Sean, saya harap permasalahan kita tidak perlu diperpanjang lagi. Aku tidak sakit hati kau mengeluarkanku dari tim pengacara keluarga Bapak Joris. Ini semua hanya salah faham, tapi aku bisa mengerti,” kata Pak Tedi, pura-pura bijak.


Tidak ada lagi yang bisa Sean katakan, dia langsung berdiri dan meninggalkan meja itu.


“Sean! Sean! Kembali!” panggil ibunya. Tapi Sean sama sekali tidak menoleh, dia terus keluar dari restaurant itu dengan kesal. Dia tidak bisa menikah dengan Nisa, dia hanya mencintai Lorena bagaimanapun keadaannya.


Dengan hati yang kecewa, Sean meminta supirnya untuk mengantarnya kembali pulang kerumah dengan lesu.


“Kau kenapa?” tanya Sam yang berada diruang keluarga sedang menonton tv sendirian.


“Ibuku, benar-benar keterlaluan!” seru Sean.


“Memangnya kenapa?” tanya Sam, dia langsung mengecilkan suara televisi.


“Kau tau siapa yang ditemui kami di restaurant?” tanya Sean.


“Tidak, siapa?” tanya Sam.


“Pak Tedi dengan istri dan anaknya yang bernama Nisa itu!” jawab Sean, dia langsung duduk di sofa dengan kesal.


“Nisa? Yang ikut kontes itu?” tanya Sam.


“Iya,” jawab Sean.


“Buat apa mereka bertemu ibumu?” tanya Sam.


“Ibuku akan menikahkanku dengan Nisa karena Nisa sudah tes kesuburan dan kesehatannya bagus untuk bisa memberikan keturunan,” jawab Sean.


Sam terkejut bukan main.


“Kalau begitu ayo kita menemui Laura!” ajak Sam.


Sean langsung menoleh pada temannya itu.


“Laura? Kau menemukan data Laura secepat itu?” tanya Sean.


“Sekarang serba menggunakan digital Sean, data karyawan tidak lagi harus membuka-buka berkas, tiap perusahaan sudah memiliki apalikasi data karyawan, jadi gampang dicarinya,“ jawab Sam.


Sean langsung tersenyum lebar, diapun langsung bangun.


“Ayo kita berangkat sekarang!” Ajak sean.


“Apa? Sekarang?” tanya Sam.


“Iya, kita temui Laura, aku ingin segera bertemu dengan Lorena, aku sangat merindukannya!” jawab Sean, sambil menepuk bahunya Sam, diapun berlari menaiki tangga rumahnya menuju kamarnya.

__ADS_1


Sam menatapnya sebentar, lalu diapun melakukan hal yang sama berlari ke kamarnya, akan mempersiapkan beberapa bajunya untuk pergi keluar kota bersama Sean malam itu juga.


************


__ADS_2