Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-16 Gadis grabfood dan perawat


__ADS_3

Valerie meraih kantong obat diatas meja, benar saja obat itu tidak ada satupun yang diminum Earlangga.


“Ternyata benar, kau belum meminum obatnya,” ucap Valerie, sambil membuka  beberapa obat dan diberikan pada Earlangga.


Pria itu tidak bicara apa-apa, hanya mengambil obat-obat itu dan meminumnya.


Setelah memberi minum obat Earlangga, Valerie bangun dan menatap pria itu.


“Kau harus beristirahat yang cukup,” kata Valerie, sambil merapihkan tempat tidurnya. Earlangga hanya memperhatikan gadis itu. Pergerakan gadis itu disekitarnya meninggalkan bau parfum disekitarnya juga.


Earlangga tidak bicara apa-apa, dia hanya duduk menatapnya.


“Aku permisi dulu, semoga kau cepat sembuh,” kata Valerie sambil mengambil mangkuk sup yang kosong itu.


“Ada apa?” tanya Valerie, karena Earlangga hanya menatapnya.


“Tidak apa-apa. Besok pagi kau datang lagi kan?” tanya Earlangga.


“Aku harus bicara dulu dengan Dokter Egi,” jawab Valerie.


“Tentu saja dia akan setuju,” jawab Earlangga sok tahu.


“Baiklah, aku pulang, jangan lupa istirahat yang cukup,” ucap Valerie, sambil membuka pintu lalu menutup pintu itu.


Earlangga hanya menatap kepergiannya, lalu diapun berbaring dan mencoba tidur. Dia masih memikirkan parfum yang dipakai Valerie, kenapa ingatannya begitu minim soal gadis itu? Earlangga kembali mengingat-ingat barangkali ada hal yang dia ingat saat bersama gadis itu selain parfumnya. Tapi ternyata tidak banyak yang diingatnya. Karena obat yang diberikan Valerie itu sudah beraksi akhirnya dia mengantuk dan tidur.


************


Keesokan harinya benar saja Earlangga bangun merasakan kepalanya lebih ringan, rasa demamnya juga sudah berkurang. Dia menyibakkan selimutnya dan berjalan menuju jendela lalu dibukanya. Matahari langsung menyorot panas kedalam kamarnya.  Sambil berjalan keluar pintu yang menuju balkon, dia mengedarkan pandangannya ke seluruh area yang terlihat dari balkon atas itu.


Tiba-tiba matanya tertuju pada komplek perumahan yang ditempati oleh pekerja-pekerja di rumah ini. Yang membuatnya tertarik adalah sesosok yang sedang menjemur pakaian.


Dia seperti mengenal sosok yang menjemur itu. Yang membuatnya terkejut adalah dia mengenali pakaian yang dijemurkan oleh sosok itu. Sosok itu sedang menjemur pakaiannya. Padahal baju itu adalah baju yang ada pada gadis grabfood itu.


Earlangga segera masuk lagi kedalam kamarnya, dibukanya laci yang ada di lemari itu dan mengeluarkan sesuatu berwarna hitam yang sekarang di ditangannya, sebuah teropong. Diapun kembali menuju balkon dan menggunakan teropongnya untuk melihat jemuran itu. Ternyata benar, itu adalah baju-bajunya.


Kenapa baju-bajunya ada di jemuran komplek perumahan pekerja di rumah ini? Apakah gadis grabfood itu tinggal di komplek ini? Earlangga menebak-nebak dalam hati. Teropong itu diputarnya mencari-cari sosok yang tadi menjemur pakaian itu. Langkahnya terhenti saat mendengar ketukan dipintu.


“Ada apa?” teriaknya ke arah pintu.


“Saya Pak, Sobri!” jawab Pak Sobri.


“Masuk,” kata Earlangga.


Pak Sobri masuk dan menatapnya.


“Bagaimana keadaan Bapak, apa hair ini akan ke kantor dan menyiapkan kendaraan?” tanya Pak Sobri.


“Aku ke kantor siangan. Aku sudah lebih baik sekarang,” jawab Earlangga.


“Baiklah, sayaakan menyiapkan supir,” jawab Pak Sobri, Earlangga mengangguk.

__ADS_1


Earlangga kembali melihat ke balkon, menggunakan teropongnya ternyata tidak ada siapa-siapa di tempat jemuran itu. Dia penasaran apa gadis grabfood itu tinggal di komplek rumah pekerja rumahnya?


Earlanggapun menyimpan teropongnya di meja lalu keluar dari kamarnya.


Para pekerja yang sedang bekerja dibagian belakang rumahnya terkejut melihat majikannya itu menuju pintu kecil yang terhubung dengan komplek. Apalagi saat Earlangga muncul dipintu itu, orang-orang komplek tampak terkejut dan memperhatikannya.


“Pak, kenapa Bapak kesini? Ada yang dicari?” tanya seseorang yang sedang memangkas tanaman hias.


“Kau bekerja saja,” kata Earlangga, sambil lalu, berjalan menuju rumahnya Bu Asni.


Orang-orang yang melihatnya keheranan, ada apa majikan mereka masuk ke komplek rumah itu. Yang tidak mengenal Earlangga tentu saja bertanya-tanya, terutama keluarga pekerja yang tidak semuanya bekerja di rumahnya Earlangga, jarang sekali mereka melihat majikannya. Termasuk Valerie meskipun berhari-hari tinggal bersama Bu Asni tidak tahu kalau Earlangga itu majikan Bu Asni.


Earlangga berhenti di jemuran yang ada di belakang rumahnya Bu Asni. Dilihatnya bajunya yang tergantung di jemuran, benar itu adalah bajunya.


Bu Asni yang keluar dari rumahnya akan pergi ke rumah majikannya, merasa terkejut saat melihat Earlangga sedang berdiri di dekat jemuran.


“Pak Earlangga?” tanyanya, menatap pria itu.


“Apa yang Bapak lakukan disini?” tanyanya lagi, keheranan. Ada hal penting apa sampai sampai majikannya datang ke komplek rumah pekerja rumahnya.


“Kau tinggal disini dengan siapa?” tanya Earlangga.


Belum juga Bu Asni menjawab, terdengar suara dari dalam rumah.


“Bu! Aku berangkat ya,” kata suara dari depan rumah.


Earlangga langsung berangkat dan berjalan menuju teras, membuat Bu Asni keheranan dan mengikutinya.


“Kau? Kau tinggal disini?” tanya Earlangga.


Valerie terkejut melihat pria itu tiba-tiba ada di teras rumah.


“Pak, sedang apa Bpak disini?” tanya Valerie.


“Kau tinggal disini?” Earlangga balik bertanya.


Bu Asni segera menghampiri dan menjawab, “ Iya Pak, Valerie keponakan saya,” kata Bu Asni.


“Valerie? Namamu sama dengan perawat itu?” tanyanya menatap Valerie.


“Keponakan saya memang perawat Pak, tapi bekerja juga di Resto Samin,” jawab Bu Asni.


Earlangga terdiam, jadi gadis grabfood dan perawatnya itu adalah gadis yang sama? Pantas saja mereka mirip.


Earlangga menoleh pada Bu Asni.


“Kau tidak bilang kalau keponakanmu ada di sini,” kata Earlangga.


“Maaf atas kelancangan saya Pak, saya tidak memberitahukan soal kedatangan keponakan saya. Saya hanya laporan pada Pak Sobri saja,” ujar Bu Asni.


Earlangga menoleh lagi pada Valeire, gadis itu sudah menggunakan seragam grabfoodnya, dia memanggilnya begitu.

__ADS_1


“Jadi kau orang yang sama? Kau perawat itu?” tanya Earlangga memastikan.


“Iya Pak, bajumu baru aku jemur, sekarang aku mau berangkat kerja, nanti siang kalau bajunya sudah kering, aku akan mengantarnya ke kantor,” jawab Valerie.


Lalu menoleh pada Bu Asni.


“Bu, saya berangkat dulu,” jawab Valerie, tanpa bicara apa-apa lagi, dia menuju motor grabfood yang sudah terparkir di halaman rumah Bu Asni.


“Tunggu!” panggil Earlangga sambil berjalan mendekati Valerie yang segera menghentikan motor yang akan dinyalakannya.


“Ada apa?” tanya Valerie.


Earalngga tidak menjawab, dia mendekatkan kepalanya ke lehernya Valerie, membuat gadis itu meringis tidak tahu kenapa pria itu bersikap begitu.


Earlangga mencium bau parfum yang sama yang digunakan perawat itu, ternyata bau parfum yang sama yang digunakan perawat itu. Lalu dia menoleh menatap wajahnya gadis itu, tentu saja Valerie sangat gugup jadinya, wajah pria tampan itu begitu dekat ada di depannya.


“Ada apa?” tanya Valerie, balas menatap mata itu.


“Tidak apa-apa,” jawab Earlangga lalu menjauhkan kepalanya lagi, membuat Valerie kebingungan.


“Ya sudah kau boleh pergi,” kata Earlangga.


“Jangan lupa minum obatnya,” ucap Valerie, lalu menyalakan motornya akan meninggalkan rumah itu.


Earlangga hanya mematung dia tidak percaya kalau gadis itu adalah gadis yang sama dengan perawatnya, apalagi ternyata tinggal bersama dengan pekerja pekerjanya yang lain.


“Hei  hei tunggu!” teriaknya lagi, membuat Valerie kembali menghentikan motornya.


“Ada apa lagi?” tanya Valerie, membuka kaca helmnya.


“Kau kan perawatku, seharusnya kau menyiapkan obat untukku,” jawab Earlangga, berjalan mendekati.


“Pak, aku belum resmi menjadi perawatmu, aku belum bicara dengan Dokter Egi,” kata Valerie.


“Nanti aku yang bicara dengan Dokter Egi,” ucap Earlangga.


“Tapi aku juga masih harus bekerja di Resto,” jawab Valerie.


“Kau berhenti saja, aku tunggu kau di dalam, siapkan sarapan dan obat untukku,” kata Eralangga. Tanpa menunggu jawaban apa-apa,dia beranjak meninggalkan Valerie.


Gadis itu menoleh pada Bu Asni yang juga kebingungan.


Bu Asni menatap majikannya dengan bingung. Earlangga tidak menghiraukannya, dia hanya meninggalkan Bu Asni tanpa bicara apa-apa.


“Pak Tunggu! Apa keponakan saya boleh tinggal disini?” tanya Bu Asni setengah berteriak karena Earlangga berjalan begitu cepat.


“Iya! Katakan padanya untuk menyiapkan sarapan dan obatku!” jawab Earlangga tanpa menghentikan langkahnya.


Bu Asni merasa lega mendengarnya, dia takut sikapnya Earlangga itu karena tidak mau Valerie tinggal di rumah ini. kemudian Bu Asni menoleh kearah Valerie yang juga bingung dengan sikapnya Earlangga, dia harus bekerja malah disuruh merawatnya.


************

__ADS_1


__ADS_2