Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-117 Kabar kedatangan Sean


__ADS_3

Pagi itu Lorena sedang menjemur bayinya lagi. Sekarang dia hanya berdiri didepan rumah Bu Yati. Baby Earl tampak mengerjap-ngerjapkan matanya karena silau, melihatnya membuat Lorena tersenyum, bayinya terihat sangat lucu. Seandainya Sean bisa melihat bayinya, pasti dia akan sangat senang sekali. Setiap mengingat Sean, setiap kali juga matanya berkaca-kaca.


Terdengar suara motor semakin mendekat ke arahnya, ternyata Bidan Eno dan asistennya. Saat mereka turun dari motornya, senyum mengembang di bibirnya Bidan Eno.


“Bagaimana bayinya? Dia tidak rewel kan?” tanya Bidan Eno, sambil menghampiri Lorena.


“Tidak,” jawab Lorena.


“Ada Bu Bidan?” terdengar suara Bu Yati dari dalam rumah. Wanita itu membawa termos-termos.


“Iya,” jawab Bu Bidan.


“Bu Yati berjualan lagi?” tanya Bidan Eno.


“Iya, sambil menunggu masa panen karet,” jawab Bu Yati.


Bu Yati menoleh pada Lorena lalu pada Bidan Eno.


“Silahkan masuk Bu, saya ke warung dulu mengantar termos-termos ini,” kata Bu Yati.


“Iya,” Bidan Eno mengangguk.


Lorena melihat kepergian Bu Yati yang berjalan kaki menuju warung es kelapanya yang berada di seberang jalan raya itu.


“Mari Bu, masuk,” ajak Lorena pada Bidan Eno dan asistennya. Merekapun langsung masuk ke rumah.


“Kita lihat bayinya dulu, baru ibunya,” kata Bidan Eno. Lorena menanggguk.


Dibantu asistennya, Bu Bidan membersihkan dan memeriksa Baby Earl, setelah itu memeriksa kesehatannya Lorena.


“Ada yang ingin saya katakan,” kata Bidan Eno saat memriksa Lorena, sedangkan Baby Earl digendong oleh asistennya diajak berjemur lagi diluar rumah.


“Katakan saja Bu,” ucap Lorena, membalas tatapan Bu Bidan.


“Kemarin ada dua orang pria yang sepertinya mencarimu,” kata Bu Bidan eno.


“Maksud ibu? Dua orang?” tanya Lorena, terkejut, hatinya langsung gelisah saja, jangan-jangan dua orang itu penculik-pecuilik itu mencarinya lagi.

__ADS_1


“Mereka mencari orang asing yang melahirkan di klinikku,” jawab Bu Bidan.


Lorena terdiam mendengarnya.


“Salah satunya mengaku suami orang asing itu,” lanjut Bidan Eno, membuat hati Lorena berdebar-debar. Apa penculik itu mengaku menjadi suaminya? Ternyata penculik itu masih mengejarnya, mungin mereka menyesal karena membiarkannya hidup di kebun karet, fikir Lorena.


“Mereka dua pria yang tampan,” kata Bidan Eno lagi.


“Tampan? Bagaimana ciri-cirinya?” tanya Lorena, mendengar kata tampan membuatnya penasaran, yang dia ingat penculik itu berbdan tinggi besar dan menyeramkan.


Bidan Eno menceritakan ciri-cirinya Sean dan Sam, membuat hati Lorena semakin tidak menentu. Ada rasa rindu pada suaminya, tapi dia merasa trauma dengan kejadian ini, dia takut masih ada yang mengintai keselamatan bayinya.


“Tapi kalau aku melihat sepertinya mereka orang baik, apa lagi penampilan mereka sangat bersih dan sepertinya orang kaya.  Aku tidak tahu apakah salah satu dari mereka itu suamimu? Aku hanya sudah berjanji untuk merahasiakan keberadaanmu, jadi aku tidak mengatakannya,” kata Bidan Eno.


Mata Lorena mulai berkaca-kaca, butiran airmata menetes di pipinya.


“Benar dia suamimu?” tanya Bidan Eno lagi.


Lorena mengangguk sambil menghapus airmatanya.


 “Tidak Bu, tidak apa-apa, sementara waktu aku ingin jauh dari suamiku,” ucap Lorena.


Lorena merasa sedih, dia bukannya tidak rindu pada suaminya, tapi apa yang bisa dilakukannya selain menjauh sementara dari Sean?


“Aku takut orang-orang jahat itu masih mengincar keberadaan putraku,” lanjut Lorena.


Bu Bidan menatapnya tidak mengerti tapi itu haknya Lorena kalau Lorena tidak ingin menjelaskan masalahnya.


“Sebenarnya aku tidak mengerti tapi itu adalah keputusanmu. Aku hanya mendoakan semoga permesalahanmu dengan suamimu segera selesai. Tidak baik bertengkar terlalu lama apalagi kau sudah melahirkan, pasti suamimu ingin melihat bayinya,” ucap Bidan Eno.


Lorena mengganguk, kemudian menatap Bidan Eno.


“Tolong untuk merahasiakan keberadaanku Bu. Siapapun yang mencariku, aku harus melindungi putraku,” pinta Lorena, Bidan Enopun mengangguk.


Setelah kepergian Bidan Eno dan asistennya. Lorena hanya memeluk Baby Earl sambil menangis. Berkali-kali menciumi wajah putranya.


“Maaf sayang, kau belum bisa bertemu dengan ayahmu,” ucapnya dengan hati yang sedih. Sebenarnya dia tidak ingin keadaan seperti ini, tapi inilah jalan yang terbaik buatnya dan bayinya.  Hatinya begitu teriris-iris, dia rindu berkumpul dengan suaminya tapi sekali lagi dia harus menahan rasa rindu itu, dia harus menjalani kehidupan terpisah sementara waktu sampai keadaan memungkinkan untuknya menemui Sean.

__ADS_1


Terdengar suara pintu terbuka, Bu Yati masuk dengan membawa termos-termos. Saat melewati kamarnya Lorena yang terbuka, Bu Yati menghentikan langkahnya.


“Bidan Eno sudah pulang?” tanya Bu Yati.


“Iya Bu,” jawab Lorena, sambil menatap termos-termos yang ada ditangan Bu Yati.


“Apakah ramai jualannya?” tanya Lorena.


“Justru sepi, kami hanya mengandalkan orang yang lewat saja,” jawab Bu Yati, sambil tersenyum.


“Apa ada yang bisa aku lakukan?” tanya Lorena.


“Tidak, kau tinggal saja dirumah bersama si kecil. Tapi kalau kau bosan, tidak apa-apa main di warung, biar tidak jenuh,” jawab Bu Yati.


Lorena mengangguk, dia semakin merasa tidak enak melihat Bi Yati dan Pak Aping berjualan yang mungkin mendapatkan keuntungan tidak seberapa sedangkan dia hanya diam-diam saja. Tapi apa yang bisa dilakukannya?


“Tapi nanti sore ada yang bermain bola, mudah-mudahan saja es kelapanya laku,” kata Bu Yati tetap tersenyum penuh semangat.


Lorena kembali mengangguk.


Tidak terasa hari semakin meninggi dan  sudah menjelang sore.  Lorena mendengar suara ramai ramai dikejauhan, banyak suara laki-laki, dilihatnya ke jendela ternyata sedang ada pertandingan bola dengan penonton yang tidak begitu banyak, mungkin hanya pertandingan antar kampung saja atau Cuma untuk latihan atau pertandingan persahabatan.


Lorena jadi teringat Bu Yati, sepertinya jualan es kelapa akan ramai, barangkali Bu Yati membutuhkan bantuannya. Rasanya tidak enak dia hanya berdiam diri saja meskipun kesehatannya belum pulih benar.


Lorenapun menoleh pada bayinya yang masih tertidur. Bayi itu masih menikmati tidurnya, mungkin masih merasa didalam perut. Diapun tersenyum


“Sepertinya kau akan gemuk, sayang,” ucapnya, sembil menggendong Baby Earl. Dicarinya payung yang biasa Bu Yati gantung didekat pintu dapur. Setelah itu Lorena keluar dari rumah. Dikejauhan dia melihat orang-orang yang sedang bermain bola.


Lorena melangkah menuju warungnya Bu Yati, yang ada disebrang jalan. Ternyata tidak seperti yang dia bayangkan, warung es kelapa itu masih sepi, hanya ada dua orang pria yang duduk sambil menonton pertandingan bola yang lapangannya tidak terlalu jauh dari sana.


Dua pria itu menatap kedatangannya Lorena, wanita cantik yang membawa bayi sambil berpayung itu, mata mereka tidak berkedip menatapnya. Rasanya tidak ada gadis secantik itu dikampung ini.


Kulitnya yang putih, hidungnya yang mancung dan rambutnya yang coklat kemerahan bisa ditebak wanita itu blasteran dengan tubuhnya yang tinggi. Wanita itu terlihat seperti model saja.


Mereka menebak-nebak mau kemana wanita itu? Ternyata wanita itu mendekati tempat mereka duduk. Senyum sudah terpasang dari dua pria itu, siapa yang tidak tertarik menyapa wanita secantik itu meskipun wanita itu hanya memakai baju biasa yang tidak modis.


**************

__ADS_1


__ADS_2