Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-56 Adik Tercinta


__ADS_3

Sean masih menatap lukisan itu, Lorena benar-benar mengingat detil pria bertopeng itu. Meskipun Sean tahu kalau pria bertopeng itu dirinya, dia tetap merasa terkalahkan oleh pria bertopeng itu.


Kalau Lorena menyukainya dia akan melukis wajahnya bukan wajah pria bertopeng itu. Itu artinya pria bertopeng itu melekat dalam fikirannya Lorena, bukan dirinya.


Bagaimana kalau Lorena tahu kalau pria bertopeng itu adalah dirinya? Apakah Lorena juga akan melukis pria bertopeng?


“Ayo,” ajak Sam, karena Sean masih menatap lukisan itu sedangkan Juri sudah berpindah tempat.


“Kenapa kau masih menatap lukisan itu?” tanya Sam.


“Aku cemburu pada pria bertopeng itu,” jawab Sean, membuat Sam mengerutkan keningnya.


“Kau mengenal pria beropeng yang Lorena lukis?” tanya Sam.


“Pria bertopeng itu, aku,” jawab Sean,  Sam terkejut mendengarnya tapi kemudian dia tertawa.


“Jadi pria beropeng itu kau yang datang ke pesta topeng lalu menolong Lorena dari pria yang mengganggunya?” tanya Sam. Sean mengangguk.


 “Dan kau tidak suka pada pria beropeng itu?” tanya Sam terbengong.


Sean mengangguk lagi, diapun berjalan meninggalkan tempat lukisan Lorena itu.


“Bukankah itu bagus, itu artinya Lorena menyukaimu, kau harus senang, kau tidak akan patah hati,” kata Sam, menjajari langkahnya Sean.


“Tapi bagaimana kalau Lorena tahu pria bertopeng itu aku? Dia belum tentu mau melukisnya,” jawab Sean.


“Kau sangat ribet, Sean, bikin aku pusing saja,” keluh Sam.


“Pak Deni sudah menelponku terus, aku akan ke kantor. Pastikan Lorena lulus. Aku masih butuh waktu untuk membuatnya jatuh cinta padaku,” kata Sean dengan lesu, diapun meninggalkan Sam.


Sam menatap kepergian temannya itu, dia bingung, masa Sean cemburu pada dirinya sendiri? Benar-benar membingungkan.


Indri dan Lorena berada di area parkir, mereka sudah membeli minuman, saat Sean lewat menuju halaman parkir.


Lorena menatap Sean yang berjalan kearahnya dengan wajah yang lesu. Pria itu menghentikan langkahnya dan menatapnya. Tidak seperti saat dia datang tadi yang menyambutnya dengan senyum lebar, sekarang pria itu terlihat muram.


Indri melihat Sean datang langsung saja menghampiri.


“Pak Asisten Sean, apa kabarmu?” tanya Indri. Lorena melirik sebal pada Indri.


“Baik,” jawab Sean, pendek. Matanya menoleh pada Lorena yang masih berdiri menatapnya dengan memegang botoh minuman.


Sean mengampiri Lorena, dibiarkannya Indri cemberut merasa diabaikannya.


Lorena menatap pria itu, dia menelisik mata itu, ya mata itu adalah mata pria bertopeng itu. Dia akan tersenyum tapi sepertinya raut muka Sean sedang tidak bagus, jadi dia terdiam.


“Aku akan ke kantor, kopermu masih ada padaku, tidak apa-apa? Aku pulang sore,” kata Sean, menatap gadis yang dicintainya itu.


“Ternyata kau masih belum mencintaiku,” batin Sean.


“Iya tidak apa-apa, aku masih menunggu hasil pengumanan itu,” jawab Lorena.


Saan hanya mengangguk, dia menatap botol minuman yang ada ditangan Lorena. Tangannya langsung mengambil botol itu dan meminumnya, lalu diberikan lagi pada Lorena, kemudian beranjak meninggalkannya.


Lorena menatap botol minumnya.


“Ada apa dengan dia?” gumamnya keheranan, lalu menoleh kearah Sean.


“Tunggu!” panggil Lorena.


Sean menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Lorena.


“Bagaimana lukisanku? Apa menurutmu lukisanku akan lolos?” tanya Lorena.


“Lukisanmu bagus, kau akan lolos,” jawab Sean, lalu membalikkan badannya lagi, berlalu begitu saja.


Lorena yang tadi bertanya dengan sumringah jadi berubah lesu melihat sikap Sean itu.


“Ada apa dengan dia? Apa dia tida suka aku melukisnya?” gumamnya, lalu cemberut.


“Lorena!” panggil Indiri.


Lorena menoleh pada Indri.


“Kenapa kau tidak bilang kalau kau tinggal dengan asisten Sean? Kenapa kau tidak bilang kalau kau saudaranya?” tanya Indri.


“Apa? saudara?” Lorena terkejut, ternyata indri mengira dia bersaudara dengan Sean, pasti karena mendengar Sean bicara soal koper tadi.


“Aku tadi mendengar percakapanmu dengan Asisten Sean, jadi kalian tinggal satu rumah, berarti kalian bersaudara kan? Ternyata kau adiknya Sean, Kebetulan sekali bukan? Kita tidak perlu bersaing dalam kontes ini. Aku tidak akan mengejar Presdir Sam, aku lebih suka kakakmu itu,” kata Indri.


Membuat Lorena mati kutu. Adik dari Hongkong? Dia juga menyukai pria itu.


Tapi juga tidak bisa menyangkal pada Indri, nanti malah jadi masalah karena dia satu rumah dengan Sean. Dibiarkannya Indri mengira dia adiknya Sean.


Di kantornya Sean masih tidak bersemangat, dia masih merasa kecewa ternyata Lorena lebih menyukai pria bertopeng daripada dirinya.

__ADS_1


Hari sudah sore saat Sam datang ke kantornya. Dilihatnya temannya itu sedang sibuk dimejanya.


“Lorena lolos babak berikutnya,” kata Sam. Sean diam saja.


“Kau tidak senang dia lolos?” tanya Sam melihat Sean bersikap diam saja.


“Apa lomba besok?” tanya Sean.


“Kita akan jurit malam dulu,” jawab Sam.


“Jadi Jurit malam?” Sean menatap Sam yang duduk santai di sofa.


“Tentu saja,” jawab Sam.


“Hantunya apa?” tanya Sean.


“Yang jelas hantu local,” jawab Sam.


“Aku mau jadi hantunya,” jawab Sean tiba-tiba ,membuat Sam menoleh dan terkejut.


“Apa? Kau mau jadi hantu apa?” tanya Sam.


“Tapi khusus hantu buat Lorena saja, aku tidak mau dia pingsan melihat hantu panitia,” kata Sean. Sam langsung tertawa.


“Iya sekalian menjaganya kalau dia tiba-tiba pingsan, jangan panitia yang menggendongnya,” kata Sean lagi dengan serius. Sam lagi-lagi tertawa.


“Kau serius mau jadi hantunya?” tanya Sam lagi, menghentikan tawanya, menatap Sean.


“Iya,” jawab Sean serius.


“Ternyata kau benar-benar menjaga Lorena ya,” ucap Sam.


“Memangnya aku main-main?” keluh Sean.


“Ya ya aku percaya kau jatuh cinta padanya, tapi tidak perlu jadi hantu juga kali! Kalau jadi hantu mau panitia mau kau tetap saja akan menakutkan,” kata Sam.


“Ya tidak, aku akan bersembunyi saja dibalik pohon,” jawab Sean.


“Aku cuma akan mengawasinya saja jangan sampai dia ketakutan di pemakanaman,” lanjut Sean.


“Ya sudah, persiapannya besok, acara jurit malamnya kan malamnya,” kata Sam.


“Aku mau pulang dulu, koper Lorena masih dimobilku barangkali dia membutuhkannya,” kata Sean, menyimpan alat tulisnya. Diapun bangun dari duduknya.


“Kenapa kau?” tanya Sean, sambil melangkah meninggalkan mejanya.


“Aku membayangkan hari terakhir hasil kontes kalau Lorena tahu dia akan menikah dengan siapa? Apa yang terjadi nanti?” tanya Sam.


“Makanya aku butuh waktu supaya dia jatuh cinta padaku, supaya dia mau menerimaku apa adanya,” jawab Sean.


“Ya terserah kau saja,” jawab Sam. Dia sudah tidak bisa apa-apa lagi. Semua terserah Sean yang menjalaninya.


Dilihatnya Sean keluar dari ruangan itu.


“Padahal menurutku sih, Lorena juga menyukainya, Seannya saja yang bikin ribet,” gumamnya.


“Kau bicara apa?” tanya Sean yang ternyata masih berdiri didekat pintu diluar. Sam malah tertawa.


“Tidak, aku tidak bicara apa-apa!” jawab Sam.


Kepala Sean melongok dipintu.


“Aku harus menyingkirkan pria bertopeng itu dari fikirannya, supaya dia hanya menyukaiku saja, bukan pria bertopeng,” katanya, lalu menghilang dibalik pintu.


Sam hanya garuk-garuk kepala saja. Dia tidak mengerti dengan pemikiran Sean.


Sore itu Lorena baru selesai memainkan piano diruang khusus les di rumah kontrakan Sean itu. Ruangan les itu sudah selesai direnovasi.


“Ada tamu,” tiba-tiba pak Roby masuk keruangan les, bersitatap dengannya.


“Siapa?” tanya Lorena, diapun bergegas kaluar dari ruang les itu yang pintunya langsung masuk keruang tamu.


Dia terkejut saat melihat seorang gadis duduk di sofa dengan sebuah totebag yang entah isinya apa ada ditas meja didepannya.


“Indri!” panggilnya.


Indri menoleh pada Lorena dan tersenyum.


“Kau buka les Biola dan Piano?” tanya Indri, melihat Lorena keluar dari rungan les.


“Iya,” jawab Lorena.


“Ada apa kau kemari? Kau tahu dari mana rumah ini?” tanya Lorena lagi, sambil duduk di sofa dekat Indri.


“Pulang dari tempat kontes kemarin aku tidak sengaja searah dengan taximu, jadi aku tahu kau tinggal disini,” kata Indri.

__ADS_1


“Terus itu kau bawa apa?” tanya Lorena.


“Aku memasak special buat kakakmu, supaya bisa dimakan nanti malam,untuk makan malamnya dan tentunya buatmu juga,” jawab Indri, sambil mengeluarkan isi totebagnya. Ada beberapa tempat makan yang dibawanya.


“Kakakku?” tanya Lorena tidak mengerti.


“Iya, Asisten Sean. Aku sekarang tidak lagi peduli lulus atau tidak kontesnya, aku tidak mengejar Presdir Sam, aku lebih menyukai kakakmu. Jadi sainganmu mendapatkan presdir Sam berkurang satu. Kau tenang saja, aku ikut kontes cuma formalitas saja, biar bisa melihat kakakmu yang tampan itu, Asisten Sean,” jawab Indri sambil cengengesan.


Lorena langsung cemberut, jadi Indri benar-benar suka pada Sean? Gimana ini?


“Ngomong-ngomong makanan kesukaan kakakmu apa? Nanti aku akan memasaknya, semoga dia suka. Kau dukung aku ya biar aku jadian dengan kakakmu, jadi kita saudaraan,” kata Indri lagi. Kepala Lorena terasa berdenyut-denyut.


Terdengar suara mobil berhenti didepan teras.


“Nah Asisten Sean sudah datang!” seru Indri.


Lorena melihat pria yang sedang diobrolkan itu masuk ke dalam rumah. Seorang pelayan membawakan kopernya masuk.


“Aku pulang cepat, barangkali kau butuh barang-barangmu dikoper ini,” kata Sean, saat melihat Lorena berdiri didekat kursi-kursi ruang tamu itu. Dan matanya langsung bertemu dengan Indri yang cepat-cepat berdiri dan tersenyum manis.


“Ada apa wanita itu disini?” batinnya.


“Assisten Sean, kau baru pulang?” tanya Indri tersenyum manis.


“Iya,” jawab Sean ketus.


Lorena berjalan mendekati Sean.


“Itu Indri membawakan makanan untuk makan malam,” kata Lorena.


Sean menoleh pada Indri lalu pada kotak kotak makanan di meja itu.


“Iya, ini aku bawakan makanan hasil masakanku sendiri, kau coba ya.  Aku memasak banyak kau bisa makan berdua dengan adikmu,” kata Indri.


“Adik?” tanya Sean agak terkejut saat mendengarnya.


“Iya, buat kau dan adikmu, Lorena,” jawab Indri.


Sean terdiam, jadi Indri mengira Lorena adiknya karena serumah? Diapun menoleh pada Lorena yang melengos, dia juga bingung dengan kesalahfahaman ini.


Sean menatap adik tercintanya itu. Apakah Lorena mengaku-ngaku dia kakaknya?


“Pelayan sudah membawakan kopermu ke kamarmu,” kata Sean.


“Iya terimakasih,” jawab Lorena.


“Iya! Adik,” jawab Sean, dengan pahit mengatakannya, agak sinis. Diapun beranjak. Indri memanggilnya.


“Asisten Sean, jangan lupa dimakan ya,” kata Indri.


“Aku sudah makan diluar,” jawab Sean, tanpa menoleh, dia menaiki tangga rumah itu menuju ke kamarnya dilantai atas.


Indri cemberut melihat sikap Sean itu, diapun menoleh pada Lorena.


“Sepertinya aku harus berjuang keras menaklukkan hatinya,” ucapnya.


Lorena hanya diam saja.


“Aku pulang ya, janagn lupa dimakan masakanku,nanti aku kesini lagi akan memasak menu yang lainnya,” kata Indri.


“Jangan repot-repot, asisten Sean suka makan diluar,” ucap Lorena.


“Benarkah? Kalau begitu bagaimana kalau kalian makan di restaurant milik ibuku? Menunya sangat istimewa, kakakmu pasti suka!” seru Indri. Membuat Lorena terdiam, maksudnya bicara begitu biar Indri tidak perlu mengirim makanan lagi.


Akhirnya diapun diam, dan hanya melihat Indri pulang.


Lorena membuka isi kotak makanan yang bawa Indri itu, sepertinya enak. Tiba-tiba dia mendengar langkah orang menuruni tangga, diapun menoleh dan ternyata Sean yang turun.


“Sudah pulang dia?” tanya Sean.


“Sudah,” jawab Lorena.


Sean menatap Lorena sebentar, tampangnya tampak kusut.


“Kau mau kemana?” tanya Lorena saat melihat Sean mau masuk ke ruangan Les.


“Melihat ruang les adikku,” jawabnya dengan ketus.


Lorena menatapnya keheranan. Ada dengan dia? Batinnya.


*****************


Maaf ya jadwal upnya ga tentu. Kalau tidak up biasanya authornya banyak kerjaan ga sempet nulis, kalau ada waktu luang author pasti nyempetin untuk up.


Jangan lupa like vote dan komen.

__ADS_1


__ADS_2