
Sean dan Lorena menuju ke lantai tempat studio bioskop itu berada. Ternyata begitu penuh oleh pengunjung bioskop.
“Kau tahu dimana studionya?” tanya Sean pada Lorena.
“Aku juga belum pernah menonton disini,”jawab Lorena.
Tiba-tiba ada seorang pria yang menghampiri.
“Ehm! Sepertinya ada yang kalian mau tanyakan,”kata pria itu.
Lorena menoleh pada pria yang mendekatinya itu. Melihat pria itu muncul didekat Lorena, Sean menarik tangan Lorena dan dia berpindah berdirinya didekat pria itu, tapi kemudian dia sadar pria itu utusannya Pak Deni.
“Apa kau tahu dimana studionya?” tanya Sean.
“Ayo aku antar,” jawab pria itu. Sean menoleh pada Lorena, tangannya langsung memegang tangan Lorena memasuki area deretan studio.
Merekapun melihat didalam sana ada 4 studio, di tiap loket tiket begitu banyak yang mengantri. Hanya ada satu loket yang kosong.
“Terimakasih,” ucap Lorena pada pria itu yang hanya mengangguk lalu pergi.
“Kita mau nonton film apa?” tanya Lorena.
Sean melihat ke tempat studio itu. Dia mencari studio yang memutar film hantu. Hanya satu-satunya studio yang tidak ada yang menonton.
“Nah film itu saja!” Lorena menujuk film romantic. Disana banyak sekali yang antri.
Sean melihat ke studio yang ditunjuk Lorena.
“Jangan, jangan itu, tidak seru!” ucap Sean.
“Kau tahu darimana tidak seru? Itu film baru, diputar perdana makanya banyak yang nonton,” kata Lorena.
“Kita nonton film itu saja!” Sean menunjuk studio 1 film hantu.
“Tidak ah, ngeri, ga seru fim hantu,” kata Lorena.
Sean mengerutkan keningnya kata Bu Devi wanita suka menonton film hantu, makanya dia pesan film hantu.
“Seru ko filmnya, kau jangan takut, ada aku yang menemani,” ucap Sean.
“Apa serunya film hantu? Mending yang romantis saja,” kata Lorena.
“Tapi itu penuh, sangat berisik,” keluh Sean.
Mana bisa dia berdua-dua dengan Lorena kalau penontonnya begitu banyak.
“Kau mau menonton film hantu?” tanya Lorena pada Sean.
“Iya,” jawab Sean.
“Ya sudah kita nonton film hantu saja,” jawab Lorena, menoleh pada Sean dan langsung tersenyum.
Melihat Lorena tersenyum hati Sean jadi senang diapun menarik tangannya Lorena menuju antrian di loket studio 1, bukan antrian karena tidak ada yang mengantri.
Lorena mengerutkan keningnya kenapa tidak ada satupun yang menonton film hantu? Tapi karena Sean mau film itu ya sudah dia ikut saja.
Saat di loket, petugas langsung memberikan ticket.
“Ko kita tidak memilih tempat duduk?” tanya Lorena.
Sean menoleh pada petugas loket.
“Mau memilih tempat duduk,” kata Sean.
“Bisa duduk dimana saja,” ucap petugas loket.
“Duduknya dimana saja,” kata Sean pada Lorena, sambil kembali menarik tangan Lorena meninggalkan loket itu. Lorena semakin bingung saja, mana ada bisa duduk dimana saja, atau mungkin karena sedikit penontonnya.
“Aku akan membeli popcorn dulu. Kau tunggu diisni,” kata Sean.
“Aku mau ke toilet dulu,” ucap Lorena.
“Ya sudah aku tunggi disini,” kata Sean lagi.
__ADS_1
Lorenapun menuju toilet sedangkan Sean membeli popcorn yang sudah di booking Pak Deni.
Sekarang ada dua kotak popcorn ditangannya Sean. Dia masih berdiri menunggu Lorena, tapi gadis itu ternyata belum datang-datang juga.
Datanglah segerombolan gadis-gadis tanggung memasuki area bioskop itu. Mereka saling bercanda cekikikan.
Saat melihat Sean yang berdiri dengan dua popcorn ditangannya. Mereka mulai kasak kusuk.
“Kalian lihat, ada pria tampan sendirian,” kata salah satunya.
“Kau benar, kita godain yuk!” sahut yang lain.
“Tapi dia memegang popcorn dua, bias jadi dengan pacarnya,” ucap yang satunya lagi.
“Ah abaikan saja, yang penting dia lagi sendiri,” kata gadis yang paling cantik dan menonjol diantara teman yang lainnya.
Merekapun langsung menghampiri Sean.
“Hai tampan, kau sendirian? Mau nonton film apa?” tanya gadis itu.
Sean yang diserbu gadis gadis tanggung tampak kesal dan tidak suka dengan tingkah mereka.
“Pergi kalian!” usir Sean dengan ketus.
Gadis-gadis itu malah tertawa.
“Kau yakin bisa mengusir kami? Apa salahnya sih kita berkenalan, nonton film bareng yuk!” ajak gadis yang tadi itu.
“Aku sedang bersama pacarku, menyingkir!” usir Sean.
“Wuih, galak amat!” ucap mereka sambil cekikikan. Sean semakin muak saja melihatnya.
Lorena yang sudah dari toilet, melihat Sean dikerubuti gadis-gadis, merasa kesal,diapun meghampiri Sean.
“Hei apa yang kalian lakukan?” tanya Lorena, membuat gadis gadis itu menoleh kearahnya.
“Kau, wanita yang sedang bersama si tampan ini?” tanya gadis yang paling cantik itu.
“Iya, dia pacarku, kalian jangan mengganggunya,” jawab Lorena.
Tapi saat Lorena mendekati Sean, tiba-tiba gadis-gadis itu bejejer menghalanginya.
“Apa yang kalian lakukan?” tanya Lorena. Gadis itu cekikikan lagi.
Tangan salah seorang gadis ada yang akan menyentuh rambuhnya Lorena, tiba-tiba dia menjerit saat sebuah tangan seorang pria menariknya dan memelintirnya.
“Aw sakit!’ teriaknya.
Lorena menatap pria itu, ternyata pria yang tadi menunjukkan lokasi studio. Dia tidak sendiri, ada satu lagi temannya yang sama-sama berbadan tinggi besar.
“Hei kau jangan menyakiti temanku, aku bisa melaporkanmu ka polisi!’ kata gadis yang lainnya.
“Bagus, aku bisa memasukkan kalian kepenjara sekalian!” bentak pria itu, membuat gadis gadis itu ketakutan dan pergi dari ruangan bisokop itu di ikuti gadis yang tadi dipelintir tangannya itu.
“Terimakasih,” ucap Lorena pada dua orang pria itu yang hanya mengangguk saja.
“Ayo sayang!” ajak Sean, masih dengan kedua tangannya memegang popcorn.
Lorena agak terkejut Sean menyebut sayang, apalagi dengan dua popcorn ditangannya, dia terlihat sangat manis.
“Ayo, aku ambil popcornnya satu ya,” kata Lorena sambil mengambil popcorn satu dari tangannyaSean, kemudian dia pindahkan ketangan kiri dan tangan kanannya memeluk tangan Sean. Sean tersenyum, dia senang Lorena mau bermesra-mesra dengannya seperti ini.
“Kenapa selalu ada saja yang mengganggu?” keluh Sean.
“Itu karena kau tampan, jadi banyak gadis-gadis yang suka padamu,” jawab Lorena.
Sean semakin berbunga-bunga saja dipuji begitu. Banyak yang bilang dia tampan tapi saat Lorena yang mengatakannya, rasanya lain.
“Menurutmu aku tampan?” tanyanya.
Lorena tidak menjawab, dia hanya tertawa.
Di pintu masuk sudah ada petugas yang berjaga dua orang perempuan, Sean memberikan tiket dan mereka mempersilahkan masuk.
__ADS_1
Lorena menatap isi gedung itu. Sepi. Tidak ada seorangpun disana.
“Sean, sepertinya cuma kita berdua yang nonton,” kata Lorena.
“Iya, ayo kau mau duduk dimana?” tanya Sean.
Lorena menunjuk tempat duduk ditengah tengah, itu posisi yang tepat ke depan layar.
Merekapun segera duduk berduaan disana.
“Sean, kau belum membeli minum,” kata Lorena.
“Aku lupa,” jawab Sean.
“Aku saja yang membeli minumnya, nanti kau tidak tahu,” kata Lorena.
“Ya sudah aku tunggu disini,” kata Sean.
Lorenapun bangun dari duduknya, dia menuju pintu masuk tadi soalnya pintu keluar belum dibuka.
Terdengar dua petugas itu sedang mengobrol sambil membelakangi ruangan bioskop itu.
“Pintunya kita tutup saja? Orang yang bookingnya kan sudah datang,” kata salah satu petugas itu.
“Cuma berdua ya?” tanya temannya.
“Iya, aku dengar sih yang bookingnya pengusaha kaya, untuk kencan dengan pacarnya,” kata petugas yang tadi.
“Ah yang benar? Mau nonton bioskop saja sampai booking satu studio?” Temannya tampak kaget.
“Kudengar begitu, sampai kursi-kursi juga harus steril, diganti semua.”
“Berapa uang yang dia keluarkan hanya untuk sekali kencan? Gadis itu sangat beruntung,” ucap yang satu lagi.
Lorena menghentikan langkahnya. Apakah yang sedang dibicarakan orang-orang itu adalah Sean? Jadi untuk acara kencan mereka, Sean sampai membooking satu studio dan mengganti semua kursinya? Rasanya tidak percaya pria itu bisa melakukan itu hanya untuk berkencan dengannya.
Ada rasa haru dihatinya, apakah Sean benar-benar mencintainya?
Dan satu lagi, petugas loket itu menyebut yang booking adalah pengusaha kaya. Siapa pengusaha kaya? Apa benar yang dimaksud adalah Sean? Lorena tahu Sean anak orang kaya tapi dia mengatakan dia hanya bekerja sebagai asistennya Sam, bukan pengusaha.
“Ehem!” Lorena berdehem. Membuat dua petugas itu kaget dan membalikkan badannya. Mereka sangat terkejut melihat Lorena ada didekat mereka.
“Aku akan membeli minum,” kata Lorena.
“Iya silahkan,” ucap mereka bersamaan dengan wajah pucat takut obrolan mereka terdengar oleh Lorena.
Lorenapun keluar dari gedung itu, menuju ke lokasi pembelian tiket lagi. Sampai disana dia melihat dua pria yang membantu mereka mengatasi gadis-gadis itu sedang membeli minum sambil mengobrol, membelakanginya.
“Kita disini sampai kapan?” tanya pria yang berkepala plontos itu.
“Tentu saja sampai Pak Sean selesai kencan dan pulang kerumah dengan selamat,” kata temannya.
“Baru sekarang kita mendapat pekerjaan seperti ini, menjaga yang sedang berkencan,” ucap pria berkepala plontos.
“Iya, sejak Pak Sean jatuh cinta pada gadis itu, seluruh karyawan dibuat repot!” kata temannya itu.
“Maksudmu apa?” tanya pria yang berkepala plontos itu.
“Kudengar Pak Sean sampai membawa karyawan-karyawan pentingnya untuk mengikuti Pak Sean yang mengantar gadis itu pulang kampung,” jawab temannya.
“Itu saking cintanya Pak Sean pada gadis itu, membuat semua orang kalang kabut,” ucap pria plontos itu lagi.
Pesanan minuman mereka selesai dibuatkan, merekapun meninggalkan meja itu. Lorena tertegun mendengar cerita pria-pria itu.
Dia merasa bingung dengan apa yang dia dengar, jadi mereka adalah Bodyguardnya Sean? Apa maksudnya dengan karyawan-karyawan Sean? Apakah selama ini Sean berbohong, sebenarnya dia bukan asisten, tapi dia adalah seorang Presdir?
Tidak mungkin seorang asisten membawa-bawa karyawannya mengikutinya ke keluar kota, kecuali dia seorang CEO, Direktur, atau Presdir? Lorena merasa curiga ada yang disembunyikan Sean. Dia harus mencari tahu, ada apa sebenarnya ini?
Dia tahu Sean anak orangkaya tapi Sean mengatakan kalau dia bekerja sebagai asisten Sam, apa selama ini Sean berbohong? Sangat aneh seorang putra dari pengusaha kaya bekerja sebagai asisten.
“Mau memesan apa?“ tanya pelayan itu.
Lorena memilih dua macam minuman. Setelah membayarnya diapun kembali ke dalam studio. Dipintu masuk dia menghentikan langkahnya, menatap pria yang sedang duduk membelakanginya, menghadap layar putih itu. Sekarang dia adalah pacarnya Sean, dia harus mencari tahu siapa sebenarnya pria yang dipacarinya ini?
__ADS_1
******