
Seminggu kemudian…
Pagi itu Lorena sedang berada dikamar bayinya. Sebuah kamar yang bersebrangan dengan kamar dirinya dan Sean, supaya memudahkannya melihat kondisi bayinya nanti. Kamar itu dicat dengan warna natural karena dia belum tahu nanti bayinya lahir laki-laki atau perempuan, karena hasil USG juga terkadang tidak sesuai saat bayi dilahirkan.
Lorena duduk dipinggir tempat tidur yang berukuran kecil, dengan beberapa perlengkapan bayi ada diatasnya. Dia menyusun beberapa baju yang baru dibelinya. Selain tempat tidur itu ada juga ranjang bayi yang ditutup kelambu.
Sean mencari-cari istrinya karena dia mau berangkat bekerja. Sudah dicarinya di halaman ternyata tidak ada, biasanya istrinya sedang jalan jalan di depan rumahnya. Akhirnya dia kembali kamarnya. Saat melewati kamar bayinya yang terbuka, Sean menghentikan langkahnya, melongokkan kepalanya kedalam kamar bayi itu. Ternyata istrinya ada disana sedang membereskan perlengkapan bayi.
“Sayang, aku mencari-carimu, aku mau berangkat,” kata Sean, sambil masuk ke dalam kamar bayi itu. Dia berdiri melihat ke sekeliling kamar itu.
“Mudah mudahan bayi kita senang dengan kamarnya,” kata Sean, lalu menoleh pada istrinya yang menatapnya sambil tersenyum.
“Dia pasti senang,” jawab Lorena.
Sean mengela nafas panjang.
“Kenapa menunggu lahirnyaa rasanya begitu lama?” keluhnya, membuat Lorena tertawa.
“Terasa lama karena kau terus menanyakan kapan lahir,” ucap Lorena disela tawanya.
“Iya aku sangat tidak sabar menunggu bayi kita lahir,” kata Sean, lalu berjalan mendekati Lorena, duduk disampingnya dan memeluknya dari belakang. Memeluk istrinya juga bayinya yang masih dalam kandungan.
“Aku memeluk dua orang sekaligus,” ucapnya, membuat istrinya tertawa lagi. Lorena menyandarkan punggungnya ke dada suaminya.
“Aku merasa bahagia selalu bersamamu,” ucap Sean, sembil mencium pipi istrinya.
“Bukankah kau mau berangkat?” tanya Lorena.
“Kau benar, kalau sudah memelukmu aku malas untuk pergi,” jawab Sean, membuat sebuah cubitan mendarat di pipinya.
“Kalau ada apa-apa kabari aku,” kata Sean, sambil melepas pelukannya dan berdiri.
“Iya, kau tenang saja, kau selalu mengatakan itu,” ucap Lorena.
“Aku merasa deg degan saja semakin mendekati hari melahirkan,” kata Sean, berlajan mendekat lagi.
“Baiklah aku berangkat, tidak usah mengantarku,” lanjut Sean, sambil menunduk mencium bibir istrinya lalu pada bayinya yang masih dalam perut.
__ADS_1
“Aku menyayangi kalian berdua,” ucapnya.
“Kami juga,” jawab Lorena.
“Aku berangkat sayang,” ucap Sean, yang diangguki Lorena. Akhirinya Lorena hanya menatap kepergian suaminya yang keluar dari kamar bayi itu, diapun kembali melipat baju-baju bayi itu.
“Apa ruangannya sudah cukup nyaman?” tengar suara Ny.Grace muncul dipintu kamar bayi itu.
Lorena menoleh pada mertuanya.
“Sudah Bu,” jawab Lorena.
“Semua kebutuhan bayi sudah kau beli?” tanya Ny.Grace.
“Sudah Bu,” jawab Lorena.
“Baguslah,” Ny.Grace tersenyum senang. Dia melangkah masuk ke kamar itu, lalu duduk di sebrangnya Lorena diatas tempat tidur, tangan kanannya terulur menyentuh perutnya Lorena.
“Aku tidak sabar ingin meliaht dia lahir. Bayi ini akan menjadi bayi yang memberi banyak keberuntungan buat Sean,” ucap Ny.Grace. Lorena terdiam mendengarnya.
“Kapan perkiraan lahirnya?” tanya Ny.Grace.
“Kau harus bersiaga. Kadang melahirkan itu bisa lebih dari HPL atau bisa juga kurang,” kata Ny.Grace.
“Iya,” jawab Lorena.
“Beberapa bulan setelah bayi itu lahir, semua warisan akan turun pada Sean. Bayi ini lahir dengan banyak harta yang berlimpah, dia sangat beruntung,” ucap Ny.Grace.
Lorena tidak bicara lagi. Ny.Grace lupa kasih sayang yang berlimpah itu lebih berharga dari banyaknya harta yang akan bayi ini terima nanti.
Ny.Grace berdiri dan menatap Lorena.
“Kau juga jaga dirimu baik-baik supaya bisa melahirkan dengan mudah,” ucapnya.
“Iya Bu, terimakasih,” jawab Lorena. Tanpa bicara apa-apa lagi, Ny.Grace keluar dari kamar bayi itu.
Tangan Lorena mengusap perutnya yang sangat besar, menopang bayi dalam perutnya selama sembilan bulan membuatnya merasa lelah, kakinya juga terlihat agak bengkak.
__ADS_1
“Sayang, semoga kau lahir dengan selamat,” gumamnya sambil tersenyum.
Setelah membereskan semua barang-barang yang ada di tempat tidur, Lorena pergi ke kamar mandi, dia agak terkejut saat melihat ada flek didalam ****** ********.
“Apakah aku akan melahiran?” gumamnya. Tapi Dia befikir masa melahirkannya masih seminggu lagi, dia juga tidak merasakan pegal pegal seperti yang sering dikatakan orang hamil kalau mau melahirkan, merasa pegal dan panas di pinggang. Tapi untuk lebih jelasnya sepertinya dia lebih baik periksa ke Dokter saja meskipun hari ini bukan jadwal kontrolnya.
Akhirnya Lorena mencari supirnya, memintanya mengantarnya ke Dokter kandungan tempat biasa dia control tiap bulan. Saat mobilnya keluar dari rumahnya Sean, sebuah mobil hitam langsung mengikutinya.
“Kita ke Dokter kandungan ya pak,” ucap Lorena.
“Baik Bu,” jawab Pak Supir.
Mobilpun melaju menuju rumah sakit tempat Dokter kandungan itu praktek. Mobil terus melaju dijalanan yang ramai hingga melewati jalan yang sepi, tiba-tiba sebuah mobil hitam menyalipnya dan berhenti di depan mobil yang Lorena tumpangi, hingga membuat supir terkejut dan menghentikan mobilnya dengan mengerem mendadak.
Ciiit! Suara mobil itu memekakkan telinga.
“Ada apa Pak?” tanya Lorena terkejut, dia juga hampir saja jatuh menabrak kursi didepannya.
“Ada mobil yang menghalangi mobil kita!” jawab Pak Supir, dengan kebingungan. Tiba-tiba dari mobil hitam itu keluar dua orang dengan memakai penutup kepala berwarna hitam, hanya matanya saja yang terlihat, membuat Lorena dan Pak Supir terkejut bahkan salah satunya membawa senjata api yang langsung ditodongkan ke kaca Pak Supir.
“Buka!” teriak yang bersenjata itu.
Karena takut pistol itu menembaknya, Pak Supir membuka pintu mobil yang otomatis membuka semua kunci pintu mobil. Seorang lagi membuka pintu belakang, Lorena shock melihat kejadian yang serba cepat itu. Apalagi tiba-tiba Pak Supir di pukul kepalanya sampai pingsan. Dia akan berteriak tapi orang yang membuka pintu itu langsung menariknya keluar dan membekap mulutnya sampai tidak sadarkan diri.
“Cepat bantu aku!” teriak pria yang memegang tubuh Lorena.
Orang yang sudah memukul supir itu segera memasukkan senjata apinya kesaku jaketnya lalu berlari menuju temannya membantunya mengeluarkan Lorena dari dalam mobil itu.
“Ayo cepat bawa masuk!” kata temannya itu. Merekapun segera menggotong tubuh Lorena masuk kedalam mobil mereka, disusul merekapun segera masuk dan menancap gas mobilnya meninggalkan tempat itu.
Cukup lama mobil yang dikendarai Lorena itu teronggok begitu saja dengan pintu yang terbuka, membuat sebuah mobil patroli berhenti dibelakangnya. Polisi itu merasa heran karena pintu mobilnya terbuka ke tengah jalan. Diapun turun dari mobil patrolinya, berjalan mendekati mobilnya yang ditumpangi Lorena itu.
Saat menghampiri supir, Polisi itu terkejut melihat sang supir yang pingsan dibalik kemudinya.
“Pak! Bangun! Bangun!” Pak Polisi itu mencoba membangunkan Pak Supir yang tidak sadarkan diri.
“Pak! Bangun! Bangun!” teriak Pak Polisi itu berulang-ulang sambil menepuk-nepuk pipinya Pak Supir. Tapi Pak Supir itu masih belum sadar juga.
__ADS_1
**************