
Meskipun badannya lelah, entah kenapa Valerie tidak bisa tidur, hatinya terus gelisah. Sesekali didengarnya tawa-tawa ramai di ruang tamu. Dilihatnya jam di dinding sudah larut malam, tapi teman-teman Earlangga belum juga pulang.
Terdengar lagi suara ramai-ramai di bawah, membuat Valerie ingin tahu apa saja yang dilakukan mereka diruang tamu sampai tidak pulang-pulang. Diapun keluar dari kamarnya, menuruni tangga dengan perlahan jangan sampai ada yang mendengar langkahnya.
Valerie kembali mendekati ruang tamu dan mengintip dibalik jendela. Dilihatnya mereka masih duduk- duduk bersantai sambil makan-makan cemilan yang ada dimeja. Dilihatnya suaminya itu duduk diantara temannya, menurunkan sedikit tubuhnya, bersandar ke sandaran sofa, sesekali tertawa mendengar celoteh temannya.
Valerie menunduk melihat perutnya. Rasanya seperti mimpi kalau pria itu adalah yang telah menanam benih di perutnya, dan enth bagaimana itu sampai terjadi, karena dia merasa hatinya tidak sedekat itu dengan Earlangga.
Kalau saja dia sadar, rasa-rasanya dia tidak mungkin sampai bisa hamil oleh pria seperti Earlangga. Pria itu tidak mungkin mau menyentuhnya jika tidak mabuk. Hatinya kembali merasa lesu.
Valeriepun pergi ke dapur untuk mengambil minum. Ternyata dia sampai lupa minum susu hamilnya.
Diambilnya gelas dan dibuatnya susunya. Tiba-tiba terdengar suara langkah mendekati ruang makan itu.
“Kau sedang apa?” ternyata Earlangga yang datang, membuat Valerie terkejut.
Earlangga menghampiri karena dia melihat sekilas bayangan Valerie kearah dapur.
“Aku lupa belum minum susu,” jawab Valerie.
Earlangga menatapnya sebentar lalu meninggalkan ruang makan itu. Melihat sikapnya Earlangga membuat Valerie sedih. Biasanya suaminya yang membuatkan susu untuknya, sekarang dia lupa dan begitu saja kembali menemui teman-temannya.
Valerie menyelesaikan membuat susunya, dia kembali ke kamarnya, dilihatnya suaminya itu bergabung lagi dengan teman-temannya. Ingin menangis rasanya, melihat Earlangga begitu bahagia bersama teman-temannya, sedangkan dia sendirian kembali ke kamarnya.
Didalam kamar Valerie duduk dipinggir tempat tidur sambil meminum susunya sedikit-sedikit. Airmatanya langsung menetes satu persatu ke pipinya.
Terdengar dari luar suara mobil-mobil dinyalakan. Apakah teman-teman Earlangga pulang? Sepertinya iya. Kemudian Valerie mendengar suar-suara itu menjauh satu persatu.
Susu dalam gelas Valerie habis sedikit demi sedikit, airmatanya terus saja tumpah membasahi pipinya, bayangan Earlangga senangnya berkumpul dengan teman-temannya, rasanya dia seperti orang asing dalam kehidupan Earlangga.
Terdengar suara langkah mendekati kamarnya, dia pun kembali meminum susunya. Terdengar lagi suara pintu kamar ada yang membuka.
Valerie buru-buru menghapus airmatanya, dan kembali meminum susunya.
“Kau belum tidur?” tanya Earlangga, saat melihat istrinya duduk dipinggir tempat tidur membelakangi.
Valerie tidak menjawab. Earlangga kembali menutup pintunya, membuka arlojinya lalu di simpannya diatas meja.
Diapun segera merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. Melihat pria itu cuek saja padanya, membuat Valerie semakin merasa sedih. Diapun menunduk, lama semakin lama airmata itu semakin banyak yang tumpah, ditahan-tahannya untuk tidak menangis, tapi malah tangis itu menjadi kencang.
Earlangga yang baru saja akan memejamkan matanya terkejut dan menoleh kearah yang sedang menangis.
“Kau kenapa?” tanyanya.
Yang ditanya bukannya menjawab malah tambah menangis sesenggukan, membuat Earlangga bingung.
“Valerie, kau kenapa?” tanyanya lagi.
“Ng ng ng..” tangisnya malah semakin kencang, membuat Earlangga semakin bingung.
Diapun buru-buru bangun dan beringsut mendekati Valerie.
“Kau kenapa?” tanya Earlangga.
__ADS_1
Yang ditanya masih saja terus menangis.
“Hei, kenapa kau menangis?” tanyanya.
Valerie menggelengkan kepalanya dan tangisnya kembali tumpah.
Earlangga beringsut mendekati Valerie.
“Kau kenapa?” Tanya Earlangga lagi, tangannya menyentuh bahunya Valerie. Istrinya itu malah semakin sesenggukan.
Earlangga melihat gelas susu yang ada ditangannya Valerie.
“Ada apa? Susunya habis? Aku membawa susu yang biasa kau minum,itu kan susunya?” tanya Earlangga.
Valerie menggeleng lalu terisak lagi, semakin membuat Earlangga merasa bingung.
Diapun diam karena memang tidak tahu harus bagaimana lagi.
Valerie kecewa Earlangga benar-benar tidak sadar kalau dia telah tidak memperhatikannya, atau memang sebenarnya dia tidak peduli? Valerie terus sesenggukan lagi.
“Sebenarnya ada apa? cerita padaku,” kata Earlangga. Tangannya menyibakkan rambut Valerie kebelakang bahunya, supaya dia bisa melihat wajahnya. Diapun turun dari tempat tidur, berdiri menatap Valerie.
“Apa aku sudah melakukan kesalahan?” tanya Earlangga.
Valerie menghapus airmatanya, sepertinya Earlangga sudah mulai menyadari kesalahannya, dia mulai menghentikan tangisnya.
“Tapi sepertinya aku tidak melakukan kesalahan” ucap Earlangga, mendengarnya membuat Valerie terisak lagi, kenapa pria itu tidak mengerti dirinya? Benar-benar tidak perhatian padanya, sungguh sangat membuatnya sedih.
“Kau mau tidur berisik oleh teman-temanku? Aku sudah menyuruh mereka pulang tadi, padahal biasanya kami sampai pagi ngobrol,” ucap Earlangga,
“Apa? Sampai pagi? Mengobrol dengan wanita sampai pagi?” tanyanya dengan nada tinggi, menatap pria itu dengan mata yang masih basah airmata.
Earlangga terkejut dengan cara bicara Valerie, tidak biasanya wanita itu bicara tinggi padanya.
“I iya, kenapa?” tanya Earlangga, menatap wanita itu kenapa jadi galak sekali? Apa dia sedang marah? Ternyata kalau marah sangat menakutkan.
“Memanganya kenapa?Kami berkumpul biasa sampai pagi!” kata Earlangga.
“Kau ini sekarang sudah punya istri! Bukan bujangan lagi! Kau akan punya bayi!” teriak Valerie, membuat Earlangga semakin shock saja dengan sikapnya, apa wanita ini kesambet rumah baru?
“Iya aku punya istri, aku mau punya bayi, apa hubungannya?” tanyanya bingung.
Valerie langsung menangis lagi mendengar jawaban Earlangga itu, diapun kembali menunduk dan terus menangis.
Earlangga pun terdiam melihat wanita itu menangis begitu lama. Dia tidak mengerti apa hubungannya istri dengan berkumpul dengan temannya? Dia tidak mengerti sama sekali, salahnya dimana?
“Sebenarnya kau ini mau bicara apa? Kau yang menyuruhku tidak pergi keluar, aku sudah tidak pergi keluar,kenapa sekarang kau begini?” kata Earlangga.
“Aku memintamu tidak pergi karena untuk menemaniku, tapi kau malah senang berkumpul dengan teman-temanmu yang cantik-cantik itu,” ucap Valerie.
Earlangga tertegun mendengarnya, ternyata Valerie ingin ditemani, apakah istrinya itu sedang cemburu?
“Itu teman-temanku, Prili ,Jessica, elen, ada siapa lagi tadi…” kata Earlangga, tidak melanjutkan bicaranya melihat Valerie hanya terisak-isak saja.
__ADS_1
Valerie kembali terisak, mengingat wanita-wanita itu sangat cantik dan Earlangga sangat betah berlama-lama dengan mereka apalagi bergadang sampai pagi.
“Kau ingin aku temani?” tanyanya. Valerie tidak menjawab. Earlanggapun mulai faham apa yang terjadi.
“Kau cemburu pada teman –temanku itu?” tanyanya.
Valerie tidak menjawab.
“Mereka memang cantik-cantik,” ucap Earlangga, membuat hati Valerie merasa hancur mendengarnya karena Earlangga memuji mereka.
“Tadi kau sudah melihatnya, semua temanku cantik-cantik tapi biasa saja buatku, banyak lagi yang lebih cantik,” kata Earlangga.
Valerie mulai reda tangisnya. Apa? Mereka begitu cantik dan Earlangga mengatakan biasa aja? Bagaimana dengan dirinya? Lebih tidak menarik buat Earlangga.
“Disinikan warganya berkulit putih, sudah umum biasa aku lihat, jadi biasa saja,” kata Earlangga. Valerie bisa menarik nafas lega.
Earlangga duduk disamping Valerie.
“Aku minta maaf, aku tidak menemanimu, aku menyuruhmu tidur duluan supaya kau tidak capek,” kata Earlangga.
“Kalau susu itu, maaf aku lupa membuatkannya, aku janji tidak akan lupa lagi,” kata Earlangga.
Valerie tidak menangis lagi sekarang, hanya sesenggukannya masih ada. Earlangga melihat gelas yang dipegang Valerie itu, lalu diambilnya dan disimpan di atas meja.
“Mau aku buatkan lagi susunya?” tanya Earlangga.
Valerie menggeleng.
Earlangga mendekati wanita yang sedang menunduk itu.
“Baiklah sekarang aku akan menemanimu, ayo kita tidur,” kata Earlangga.
Diapun naik lagi ketempat tidur merapihkan bantal-bantalnya Valerie.
“Ayo tidurlah,” ucapnya.
Valerie menurut, diapun menaikkan kakinya dan mulai berbaring. Earlangga menarik selimut dan menyelimutinya.
Earlangga menatapnya sebentar lalu turun dari tempat tidur, pergi ke toilet.
Valeri melirik kearah pria itu pergi, kenapa dia harus menangis dulu baru mengerti, kalau dia itu sudah mengabaikannya? Batinnya.
Valerie memiringkan tubuhnya supaya tidurnya tidak pengap, diapun mencoba untuk tidur. Bisa dibayangkan bagaimana sepinya tinggal dirumah besar ini tanpa ada Earlangga. Fikirannya sedang kemana-mana, dirasanya Earlangga sudah naik ketempat tidur, diapun mulai memejamkan matanya, tapi tiba-tiba matanya terbuka lagi karena kaget.
Punggungnya terasa hangat menempel ke tubuh pria di belakangnya. Earlangga memeluk perutnya, kemudian terdengar dia berbisik.
“Aku akan menemanimu sampai pagi, tidurlah,” ucapnya, sambil mencium rambutnya Valerie. Hatinya juga merasa lega Valerie sudah tidak menangis lagi, ternyata istrinya sedang ingin diperhatikan, kenapa dia sampai lupa kalau dia punya istri yang sedang hamil sekarang.
Valerie merasakan hangatnya pelukan Earlangga, hatinya merasa bahagia, semoga saja memang Earlangga akan memeluknya terus seperti ini meskipun dia sudah melahirkan nanti.
************
Yang slow dulu ya…jangan lupa like di tiap bab.
__ADS_1
*************