Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-15 Perawat pribadi Earlangga


__ADS_3

Valerie mengikuti langkahnya Bu Asni memasuki rumah megah itu dari pintu belakang. Rumah yang sangat besar tapi begitu sepi. Merekapun memasuki ruangan dapur. Bu Asni segera menyiapkan bahan-bahan untuk membuat sup.


“Ada yang bisa aku bantu?” tanya Valerie.


“Tidak, kau tunggu saja, paling nanti kau bantu aku membawakan supnya buat Pak Earlangga,” kata Bu Asni.


“Baiklah,” jawab Valerie, diapun duduk di salah satu kursi menunggu Bu Asni memasak.


“Ibu memasak apa? Pak Earlangga mengalami alergi pada kulitnya,” kata Valerie.


“Kau lihatlah kemari, apa menu-menu ini ada yang tidak boleh diberikan?” tanya Bu Asni.


Valeriepun mendekati meja yang sudah tersedia berbagai jenis makanan yang akan dibuatkan sup.


“Tidak, ini sangat bagus untuk membantu daya tahan tubuhnya,” jawab Valerie.


Terdengar suara seseorang memasuki ruangan itu, ternyata Pak Sobri, dia agak terkejut saat melihat Bu Asni dan Valerie. Apalagi melihat Valerie, perawat itu ternyata sudah bersama Bu Asni.


“Apa yang sedang kalian lakukan? Kenapa kau ada disini?” tanya Pak Sobri pada Bu Asni dan menoleh pada Valerie.


“Aku sedang membuatkan sup buat Pak Earlangga, dan ini Valerie keponakanku, dia bekerja menjadi perawat di klinik Dokter Egi,” jawab Bu Asni.


Pak Sobri menoleh pada Valerie.


“Iya saya tahu tadi kesini dengan Dokter Egi, aku tidak tahu kalau kau keponakannay Bu Asni. Kenapa tidak bilang dari tadi? Aku tidak pernah melihatmu,” tanya Pak Sobri.


“Maaf, kebetulan aku memang jarang di rumah, aku kuliah juga,” kata Valerie.


“Ya ya,” Pak Sobri menganguk-angguk.


“Bukankah itu bagus jadi kau bisa lebih intens merawat Pak Earlangga, apalagi orang tuanya sedang berada di Luar Negeri,” lanjut Pak Sobri.


Valerie mengangguk.


Tidak membutuhkan waktu lama Bu Asni menyiapkan sup buat Earlangga. Bau sup itu begitu harum dan menggugah selera.


“Supnya sudah selesai,” kata Bu Asni.


Valerie mengambil nampan yang berisi sup itu lalu membawanya ke dalam rumah.


Valerie menatap tangga itu, ke kamarnya Earlangga harus melewati tangga itu, apakah Earlangga sudah tidur? Kata Pak Sobri tadi saat memberikan obat Earlangga sedang istirahat dan tidak mau diganggu.


“Apa perlu saya yang memberikannya?” tanya Pak Sobri.


“Biar aku saja Pak,” jawab Valerie.

__ADS_1


Pak Sobri mengangguk, Valeriepun akhirnya berjalan menuju kamarnya Earlangga. Kamar itu tertutup rapat, dari dalam tidak terdengar apa-apa. Valerie mengetuk pintu itu berkali-kali. Tidak ada jawaban. Di ketuknya lagi pintu itu.


“Masuk!” terdengar jawaban dari dalam.


Satu tangan Valerie membuka pintu itu perlahan. Dilihatnya pria itu sedang berbaring membelakangi dan berselimut. Valerie terus menghentikan langkahnya, kenapa setiap melihat bagian belakang pria itu selalu mengingatkannya pada sosok pria yang menelungkup ditempat tidur malam itu.  Earlangga memiliki rambut dan tengkuk yang hampir sama dengan pria itu. Apa mungin pria itu adalah Earlangga? Ah rasanya sesuatu yang sangat tidak mungkin, sesuatu yang sangat kebetulan yang tidak mungkin. Karena banyak yang memiliki perawakan yang sama di dunia ini.


Valerie menyimpan sup diatas meja lalu berjalan mendekati tempat tidur.


“Ada apa kau menggangguku?” tanya Earlangga tanpa membalikan badannya.


“Apa kau lebih baik?” tanya Valerie sambil menoleh pada meja itu yang ternyata bungkusan obat itu masih utuh ada disana.


“Kau belum meminum obatnya?” tanya Valerie.


Earlangga terkejut saat mendengar suara wanita ada di dalam kamarnya, diapun membalikkan badannya dan tambah terkejut lagi melihat Valerie berdiri menatapnya.


“Kau sedang apa disini? Kau kan sudah memberikan obat itu, ada apa lagi?” tanya Earlangga, dia langsung bangun dan menatap Valerie.


“Aku membawakan sup,” jawab Valerie lalu mendekat. Tangannya mengulur akan menyentuh keningnya Earlangga, tapi pria itu menjauh kan kepalanya.


“Kau mau apa?” tanya Earlangga.


“Aku hanya memeriksa keningmu, apa panasnya sudah turun?” tanya  Valerie, dia kasal melihat tatapan Earlangga yang seperti mencurigainya.


“Baiklah,” jawab Earlangga, kembali menegakkan badannya, Valerie kembali mendekatinya dan memegang keningnya. Saat tubuh perawat itu mendekatinya, Earlangga kembali mencium parfum itu, hatinya kembali gelisah karena setiap mencium bau parfum itu kembali mengingatkannya pada gadis itu.


Earlangga memperhatikan sosok perawat itu. Perawat itu mirip dengan gadis grabfood ini hanya gadis ini terlihat lebih pintar saat menggunakn seragam putih- putihnya.


Valerie mengambil sup dimeja itu lalu kembali menghampiri Earlangga dan duduk dipinggir tempat tidur.


“Kau makan dulu supnya setelah itu minum obatnya. Padahal aku sudah memberi pesan pada Pak Sobri untuk langsung minum obatnya, tapi kenapa kau belum meminumnya? Ternyata kau pasien yang bandel,” kata Valerie.


“Apa? Pasien yang bandel? Aku hanya malas meminumnya dan mengatnuk,” keluh Earlangga, dia tidak suka disebut pasien yang bandel.


Valerie mengulurkan sendoknya ke mulutnya Earlangga.


“Apa aku harus disuapi?” tanya Earlangga, menatap sendok itu.


“Kalau kau mau makan sendiri tidak masalah, itu lebih bagus, tapi supnya harus habis karena kau harus minum obat,” jawab Valerie, sambil mengulurkan mangkuk sup.


“Tidak, tidak, kau saja yang menyuapiku, kau kan perawatnya,” kata Earlangga.


Valerie kembali menarik mangkuk supnya dan mengulurkan sendok lagi ke mulutnya Earlangga. Pria itu menatap sendoknya.


“Apa ini?” tanyanya, melihat pada sup itu.

__ADS_1


“Ini sup, bagus untuk kesehatanmu,” kata Valerie, dia mulai jengkel dengan sikap rewelnya Earlangga.


“Enak tidak?” tanya Earlangga.


“Kalau kau hanya menatapnya kau tidak akan tahu rasanya,” jawab Valerie dengan ketus.


Earlangga menatap Valerie.


“Kau itu hanya perawat, seharusnya kau tidak perlu ketus pada pasien,” protes Earlangga.


“Bukan begitu Pak, tapi…” Valerie menghentikan bicaranya karena dia teringat kalau dia membutuhkan pekeejaan ini, resiko bekerja pada  Dokter pribadi ya begitu, pasien lebiih rewal dari pasien umumnya karena pasien membayar jasa mereka secara pribadi.


“Iya Pak, aku minta maaf,” kata Valerie, sambil mendekatkan sendok itu lebih dekat pada Earlangga. Setelah melihat lagi pada sendok itu barulah Earlangga membuka mulutnya, makan sup itu dan ternyata terasa enak di mulutnya.


Valerie mencibir dalam hati saat sendok yang kedua langsung masuk mulut Earlangga dengan mudah, apalagi suapan-suapan berikutnya, dalam sekejap sup itu langsung habis.


Selama makan sup itu, Earlangga menatap wajah yang dengan telaten menyuapinya. Dia masih mencium bau parfum di tubuhnya Valerie. Bagaimana jika gadis itu adalah Valerie? Ditatap lagi wajah itu yang sebenarnya Valerie itu sangat cantik hanya saja gadis itu terlihat sangat pucat, apa gadis itu sakit?


“Berapa kau digaji Dokter itu?” tanya Earlangga.


“Kau sangat tidak sopan bertanya begitu,” jawab Valerie.


“Bagaimana kalau kau menjadi perawat pribadiku saja? Aku akan menggajimu diluar kau bekerja pada Dokter Egi,” ucap Earlangga.


“Apa? Perawat pribadi?” tanya Valerie, sangat terkejut dan menatap Earlangga.


“Iya, sepertinya aku butuh perawat,” jawab Earlangga, sambil mengangguk.


“Hanya selama aku belum terbiasa dengan iklim disini, aku tidak mau alergiku muncul lagi dan disuntik-suntik lagi,” kata Earlangga. Hidungnya masih mencium bau parfumnya Valerie, kenapa lama kelamaan dia menyukai wangi parfum itu?


“Akan aku fikirkan,” kata Valerie.


“Tidak usah difikirkan lagi, perawat pribadi itu bayarannya lebih besar dari bekerja di klinik,” ujar Earlangga.


Valerie masih diam.


“Kau hanya harus lebih intens saja menjaga kesehatanku,” lanjut Earlangga.


“Aku akan bicara dengan Dokter Egi, soalnya aku baru bekerja disana,” kata Valerie


“Baiklah, atau nanti aku saja yang bicara dengan Dokter Egi, supaya kau hanya menjadi perawatku saja, tidak perlu merawat pasien yang lain,” ujar Earlangga.


Valerie menimbang-nimbang apakah itu akan lebih baik? Karena dia memang membutuhkan uang untuk membayar utangnya pada Nella, apalagi saat ini dia belum bisa menjadi karyawan di rumah sakit.


“Baiklah, kau bisa bicara dengan Dokter Egi. Jika Dokter Egi setuju aku juga setuju,” jawab Valerie.

__ADS_1


“Oke,” jawab Earlangga, padahal dalam hati dia hanya merasa lebih dekat saja dengan gadis yang mempunyai bau parfum yang sama dengan gadis itu, dia merasa ada ikatan dengan pemilik bau parfum itu.


**************


__ADS_2