Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-81 Kembali pulang


__ADS_3

Valerie duduk dikamar itu dengan bosan. Ingin sekali dia keluar. Diluar kamar itu sangat sepi, tidak ada suara apa-apa. Dia benar-bena ditinggal sendirian di rumah itu. Lama-lama dia bisa gila dikurung seperti ini.


Tiba-tiba terdengar suara mobil memasuki halaman rumah itu, lalu berhenti kemudian menyusul suara satu mobil lagi dan juga berhenti. Valerie meruncingkan pendengarannya. Ada dua mobil memasuki halaman rumah itu, tapi sayang dia tidak bisa melihat siapa mereka yang datang. Hatinya mendadak gelisah karena takut orang jahat yang datang ke rumah itu. Kalau Darren yang datang, kenapa ada dua mobil yang terdengar berhenti diluar?


Valerie melihat kesekeliling, apakah ada alat yang bisa digunakan untuk memukul orang yang datang? Atau Darren? Apakah dia harus memukul Darren supaya dia bisa kabur. Tapi ternyata tidak ada yang bisa digunakan untuk memukul.


Kamar itu seperti kamar hotel yang tidak berpenghuni. Hanya ada tempat tidur lemari dan dan satu set meja kursi.


Valerie mengeluh, tidak ada yang bisa dilakukannya selain diam menunggu Darren datang.


Terdengar suara seseorang membuka kunci pintu kamar itu, Valerie menoleh kearah pintu. Gagang pintu itu terihat bergerak, seseorang membuka pintunya.


“Dareen!” panggil Valerie, berdiri menatap kearah pintu. Rasanya dia mau gila seharian disekap didalam kamar ini.


“Darren, kau kemana saja? Aku mau pulang!” ucap Valerie pada sosok yang membuka pintu. Bibirnya langsung terkunci saat melihat siapa yang membuka pintu.


Sehari semalam disekap dalam kamar ini ternyata sudah membuatnya gila, dia melihat Earlangga yang berdiri dipintu.


“Darren ternyata aku sudah gila!” ucapnya dengan bingung.


Earlangga menatap wanita yang sedang berdiri dekat tempat tidur dan menatapnya dengan bingung. Wanita itu terlihat tidak terurus, rambut yang kusut dan pakaian yang dipaksakan untuk dipakainya.


“Apa kau baik-baik saja?” tanya Earlangga, hatinya merasa lega bisa melihat istrinya lagi.


Valerie belum menjawab rasanya dia tidak percaya melihat ada Earlangga didepannya.


“Pak, Earl, itu kau?” tanyanya.


“Iya, aku kan berjanji akan membebaskanmu,” jawab Earlangga.


Valerie masih tidak percaya dengan penglihatannya. Dari belakang Earlangga muncul Darren, barulah dia sadar yang didepannya itu benar-benar Earlangga. Langsung saja matanya berkaca-kaca, dia fikir dia sudah gila melihat Earlangga datang menjemputnya.


“Aku menjemputmu, ayo kita pulang,” ajak Earlangga sambil berjalan mendekat. Hatinya terharu bisa melihat Valerie lagi. Sehari semalam kehilangan istrinya itu rasanya seperti bertahun-tahun berpisah, dia khawatir setengah mati.


Tidak ada kata yang bisa diucapkan Valerie, dia hanya mengangguk. Ditatapnya pria yang berjalan mendekatinya itu.


“Ayo kita pulang,” ulang Earlangga, tangannya mengulur kearah Valerie. Beberapa tetes airmata menetes dipipinya.


“Aku fikir aku sudah gila melihatmu menjemputku,” ucapnya.


“Tidak, aku datang,” ucap Earlangga sambil langsung memeluk Valerie. Diciumnya kening istrinya.


“Bayi kita baik-baik saja?” tanyanya, sembil mengusap perut Valerie.


“Iya,” jawab Valerie, mengangkat wajahnya menatap pria itu. Earlangga tersneyum padanya. Senyum yang dirasa Valerie senyum termanis dari Earlangga buatnya, karena ini adalah senyum pertama setelah dia tahu kalau pria yang bersamanya di malam itu adalah Earlangga. Melihat senyum itu membuat hatinya terasa sejuk


Earlangga menoleh kearah pintu. Disana ada Darren juga Ny.Grace.


Valerie langsung murung lagi saat melihat Ny.Grace yang menatapnya dengan gayanya yang sinis. Dia bingung bagaimana Earlangga bisa menemukannya.


Darren melihat Earlangga yang perhatian pada Valerie, memeluk dan mencium keningnya, entah kenapa dalam hatinya ada rasa lain saat melihatnya. Kenapa dia tidak suka pria itu memperlakukan Valerie dengan manis?


“Aku akan melaporkanmu ke polisi atas tuduhan penculikan dan penyekapan,” kata Earlangga pada Darren.


“Silahan saja kalau kau mau lapor, Nenekmu juga pasti akan masuk penjara bersamaku,” ucap Darren.


“Tidak sayang, jangan lakukan itu!” kata Ny.Grace pada Earlangga.

__ADS_1


Earlanggapun jadi diam, Darren benar, yang menyuruh Darren melakukan ini semua karena disuruh neneknya. Diapun menatap Neneknya.


“Kalau kau bukan Nenekku aku tidak akan memaafkanmu,” ucap Earlangga dengan ketus, lalu menoleh lagi pada Valerie.


“Apa pria itu berbuat kurang ajar?” tanya Earlagga.


“Tidak,” jawab Valerie.


“Baguslah, ayo kita pulang,” ajak Earlangga sambil memeluk bahunya Valerie mengajaknya keluar dari kamar itu, melrwati tempat berdirinya Darren dan Ny.Grace.


Darren hanya menatap Earlangga dan Valerie melewatinya, kenapa dia semakin tidak suka wanita itu pergi dibawa suaminya? Kenapa dia merasa tidak rela perawat itu pergi? Kenapa dia tidak membawanya langsung pergi jauh, malah mencari Ny.Grace dan akibatnya dia kehilangan Valerie?


Dilihatnya Earlangga menghilang bersama Valerie dibalik pintu.


“Kau menyukainya?” terdengar suara Ny.Grace mengagetkannya.


“Apa?” Darren terkejut mendengar pertanyaan Ny.Grace. Dalam hatinya dia bertanya-tanya apakah dia menyukai Valerie? Ah tidak mungkin, dia sudah mengenal Valerie sudah lama dan tidak pernah merasakan apa-apa, tunggu… itu dulu tapi tidak sekarang, dia tidak suka Valerie pergi bersama Earlangga.


Ny.Grace mendekati Darren.


“Aku hanya peduli pada bayi itu. Kau masih ada waktu untuk mendapatkan ibunya,” ucap Ny.Grace.


“Apa maksudmu bicara begitu?” tanya Darren.


“Kau mengerti apa maksudku. Kau lihat cucuku? Dia sangat tampan dan berkharisma. Tidak ada wanita yang tidak menyukainya. Sedangkan kau? Lihat dirimu! Kau berantakan! Kau preman!” jawab Ny.Grace.


Darren terdiam Ny.Grace bicara begitu, wanita itu membandingkannya dengan Earlangga.


“Aku tahu kau putranya Pak Brian, dia  pengusaha kaya, dia juga rekan bisnisku. Seharusnya kau duduk diperusahaannya, maka tidak ada ada wanita yang akan menolakmu, termasuk perawat itu!” kata Ny.Grace, lalu beranjak meninggalkan Darren.


Dilihatnya tubuhnya yang berbalut jaket kulit hitam, lalu kearah pintu luar disana Earlangga sudah tidak terlihat. Benar kata Ny.Grace, Earlangga sangat terlihat bekharisma dan terawat, makanya Valerie menyukainya meskipun pria itu sudah menodainya dan membuatnya hamil. Sepertinya dia memang harus menemui ayahnya, dan menutut apa yang sudah menjadi haknya dan merubah hidupnya menjadi pria-pria kaya seperti Earlangga.


Darren melihat kearah kursi yang  ada di atas sofa itu masih ada kantong -kantong bajunya yang dia beli untuk Valerie. Semuanya utuh tersimpan rapih, itu artinya Valerie sama sekali tidak melihat isinya. Perawat itu tidak peduli dengan perhatiannya. Benar kata Ny.Grace, wanita seperti Valerie tidak akan menyukai peeman seperti dirinya.


Darren berjalan menuju kursi itu dan mengambil kantong-kantong itu. Diapun keluar dari kamar itu dan menutup pintunya. Saat dia keluar rumah mobilnya Earlangga dan Ny.Grace sudah tidak ada di halaman. Dia harus pergi dari sini sebelum ada yang melaporkannya ke polisi.


 


********


Sesampainya di rumah, Lorena terkejut melihat kedatangannya Earlangga dan Valerie, apalagi melihat Valerie dengan memakai gaun yang dipaksakann masuk kedalam tubuhnya yang sedang hamil.


“Sayang! Kau sudah ditemukan!” serunya langsung menghampiri Valerie.


“Apa kau baik-baik saja? Kenapa kau memakai baju seperti ini?” tanyanya, mengusap tangannya Valerie, melihat menantunya itu dar atas sampai bawah.


“Kau sangat kotor,” ucapnya lagi.


“Tapi tidak apa-apa yang penting kau dan bayimu baik-biak saja,” ucap Lorena, menatap Valerie dengan rasa khawatir, lalu menoleh pada Earlangga.


“Bagaimana kau bisa menemukannya?” tanya Lorena.


“Itu karena ponselku ketinggalan, kalau tidak, aku tidak akan melihat Nenek janjian dengan pria penculik itu,” ucap Earlangga.


“Apa? Nenek? Jadi benar yang melakukan semua ini Nenekmu?” tanya Lorena, terkejut.


“Benar Bu,” jawab Earlangga.

__ADS_1


Terdengar suara mobil yang berhenti diteras. Ny.Grace langsung kelua dari mobilnya lalu masuk kerumah, dilihatnya Earlangga dan Valerie juga Lorena ada di ruang tamu.


Lorena langsung menghampiri ibu mertuanya.


“Ibu, jadi benar ibu yang menyuruh orang untuk menculik Valerie? Kenapa Ibu begitu tega pada putraku?” tanya Lorena dengan nada tinggi.


“Karena aku memang tidak menyukai wanita itu!” kata Ny.Grace.


“Tapi tidak seharusnya ibu begitu. Itu sudah criminal Bu,” kata Lorena.


“Kenapa? Kau ingin melaporkan Ibu ke polisi? Laporkan saja,” ucap Ny.Grace malah berbalik marah, membuat Lorena diam.


“Itu karena anakmu itu yang tidak tahu aturan! Tidak seharusnya dia menikah dengan perawat itu! Masa kau tidak mengerti juga,” keluh Ny.Grace, membuat hati Valerie tersayat-sayat mendengarnya.


Valerie tidak tahu mau sampai kapan Nenek suaminya itu membencinya hanya karena statutnya yang berbeda? Dia tidak meminta dilahirkan jadi orang miskin.


Earlangga menatap Neneknya.


“Kalau begitu aku akan  ke London sekarang juga,” ucap Earlanga  yang langsung membuat Ny.Grace terperangah.


“Sayang, kau tidak boleh ke London!” cegahnya.


“Tentu saja bisa Nek! Kemarin Nenek sudah berjanji kan  tidak akan ikut campur lagi masalah Valerie? Tapi ternyata Nenek tidak berubah, Nenek masih berencana busuk dengan Darren. Aku tidak mau Istriku dan bayiku terancam oleh kelakuan Nenek!” kata Earlangga.


“Aku menghormati Nenek jadi tidak melaporkan Nenek ke polisi!” lanjut Earlangga dengan kesal.


“Sayang, kau harus mengerti apa alasannya! Lagi pula Nenek tidak menyuruh Darren menyakiti Valerie, apalagi sampai terjadi apa-apa pada bayinya,” kata Ny.Grace.


“Nenek yang harus mengerti, Valerie sedang mengandung bayiku, Nek!” kata Earlangga.


“Tidak, sebelum tes DNA, aku tidak akan mengakui bayi itu keturunan keluarga Joris,” ucap Ny.Grace.


“Nenek, aku yang sudah menodainya di club, bayi itu bayiku!” kata Earlangga.


“Kau percaya saja apa yang dikatakannya? Bisa saja memang kau yang menodainya tapi bukan berarti bayi itu bayimu, bisa saja dia juga berhubungan dengan pria lain setelah kejadian itu atau memang dia sudah hamil duluan sebelum bertemu denganmu, aku tidak akan gampang pecaya begitu saja, jaman sekarang banyak yang pura-pura baik tapi berniat busuk,” ucap Ny.Grace, mencari-cari alasan.


Earlangga terdiam mendengarnya, dia sudah tidak tahu lagi bagaimana cara menghadapi neneknya itu.


Diliriknya Valerie yang berdiri didekatnya. Wajah wanita itu sudah bersemu merah seperti akan menangis, Earlangga merasa kasihan melihatnya.


Tangannya langsung memeuk bahunya Valerie.


“Jangan dengarkan apa kata Nenekku, Aku percaya bayi itu bayiku, kau jangan menangis,” ucap Earlangga, tangannya menyentuh tetes airmata yang jatuh kepipinya Valerie.


“Drama lagi, drama lagi, bosan melihatnya!” gerutu Ny. Grace.


Earlangga menatap Neneknya yang sedang mencibir sinis.


“Baiklah Nek, aku akan berangkat ke London sekarang juga, jadi Nenek tidak akan melihat Valerie lagi,” ucap Earlangga.


Mendengar perkataan Earlangga, Ny.Grace dan Lorena terkejut.


***********


*****


**

__ADS_1


__ADS_2