Kontes Menjadi Istri Presdir

Kontes Menjadi Istri Presdir
CH-23 Aku bukan pacarnya


__ADS_3

Sean menarik tangannya Sam, matanya tidak lepas pada Lorena yang sedang tampil dengan biolanya. Seperti biasa dia menghipnotis para tamu yang hadir malam itu. Selain piawai bermain biola, gadis itu memang cantik dan sedap dipandang mata, membuat orang tertarik melihatnya apalagi dengan senyumnya yang ramah.


“Kenapa wanita itu ada disini? Pantas dia tidak ada di rumah tadi,” kata Sean. Kemudian dia teringat pada tangan Lorena yang sedang sakit akibat detergen, dia heran, kenapa Lorena bisa main biola? Jangan-jangan wanita itu mengerjainya? Hiii dasar wanita itu tidak henti-hentinya mengerjainya. Sean terus menggerutu dalam hati.


“Sam, Sam, kenapa kau diam saja?” tanya Sean, sambil mencolek tangan seseorang yang di depannya berkali-kali, tapi kenapa tangan Sam terasa begitu empuk? Diapun menoleh ke arah Sam yang tadi berjalan di depannya. Dia sangat terkejut saat sebuah senyum manis tersungging dari bibir merah seorang wanita bertubuh gemuk di depannya.


“Hai tampan,” sapa ibu yang bertubuh besar itu. Mengerjapkan matanya dengan genit. Dia sangat bahagia seorang pria muda tampan mecolek-coleknya dari tadi. Entah mimpi apa dia semalam di colek-colek pria muda setampan itu. Untung saja dia datang ke resepsi ini tanpa suaminya, jadi dia bisa berdekat-dekatan dengan pria tampan ini.


Sean terbelalak kaget.


“Ma maaf,” kata Sean, tangannya segera mengangkat ke atas.


“Ah tidak apa-apa, aku sendiri ko,” kata ibu itu, yang mengantri akan bersalaman dengan pengantin.


“Maaf, maaf,” ucap sean. Si ibu itu malah tambah genit, melingkarkan tangannya ke tangan Sean.


“Tidak usah malu, banyak pria muda yang menyukai wanita yang lebih tua, kau tenang saja,” kata ibu itu. Wajah Sean semakin pucat.


“Sam! Sam!” panggilnya, matanya mencari-cari Sam, tangannya menepis-nepis pegangan si ibu itu supaya lepas, tapi pegangan itu sangat kuat, dan dia tidak mungkin bersikap kasar pada yang lebih tua. Dicarinya Sam ke sekeliling, ternyata dia berjalan ke area kursi-kursi, dia menghapiri Lorena yang baru turun dari pentas. Langsung saja hatinya merasa tidak suka. Buat apa Sam mendekati wanita itu?


Tangan ibu itu masih menggandeng tangan Sean, dalam hatinya sebenarnya dia ingin menepis keras tangan itu tapi dia tidak enak karena dia lebih tua darinya.


Tiba-tiba seseorang menepiskan tangan ibu itu dari tangan Sean.


Sean merasa lega tangannya lepas, tapi saat dia melihat siapa yang menepis tangan ibu itu, hatinya langsung tidak senang, ternyata dia adalah Yuniar. Itu sama saja dengan keluar dari mulut harimau masuk mulut buaya.


“Aku pacarnya,” kata Yuniar melotot pada ibu itu. Ibu itu langsung memalingkan muka.


“Hem!” kata ibu itu sambil cemberut.


“Hiiih!” umpat Yuniar. Kepala Sean semakin berdenyut-denyut , harus bagaimana lagi caranya menghindari wanita-wanita itu? Dilihatnya Sam sedang bicara dengan Lorena.


“Kau main music disini?” tanya Sam pada Lorena.


“Iya Pak Sam, kau melihat penampilanku tadi?” tanya Lorena sambil tersenyum manis.


“Tentu saja, kau sangat berbakat,” puji Sam. Lorena tersenyum senang.


Melihat Sam bicara dengan Lorena, Sean segera meninggalkan antrian, dibiarkannya Yuniar yang memanggil-manggilnya.


“Apa yang kau lakukan? Bukankah tanganmu sakit?” tanya Sean dengan ketus, menatap Lorena, saat sudah tiba dekat mereka.


“Aku sudah lebih baik,” jawab Lorena, dia langsung bermuka masam, dia tidak suka dengan kedatangan Sean yang pasti akan mengganggunya lagi.


“Jangan-jangan kau mengerjaiku ya?” tuduh Sean.


“Ih tidak ada kerjaan banget mengerjaimu,” jawab Lorena sambil bergidik.


Kepala Sam langsung saja terasa pusing kalau melihat mereka bertemu pasti perang mulut.


Tidak berapa lama beberapa mantannya Sean langsung ikut nimbrung menghampiri mereka.


“Ada apa ini?” tanya Lorena kebingungan melihat banyak wanita-wanita mengikuti Sean.


“Sean, bagaimana kalau kita makan di sebelah sana? “ ajak Adinda, dia langsung menggandeng tangan sean, dengan halus Sean melepaskan tangannya, tentu saja hal itu membuat wanita yang lain merasa punya kesempatan mendekati Sean lagi.


“Bagaimana kalau denganku saja?” tanya Emily.


“Denganku saja Sean,” kata Sisil, sambil menarik tangan Sean.

__ADS_1


“Denganku,” kata Dewi, juga menarik tangan Sean.


Melihat mereka yang berebut duduk bersamanya, membuat Sean pusing.


“Diam!” teriaknya membuat orang-orang di ruangan itu terkejut dan melihat kearahnya. Wajahnya langsung memerah karena malu dan marah bercampur aduk. Tapi kemudian suasana kembali lagi normal, karena music masih terus berjalan.


“Aku sudah punya pacar, ini pacarku!” kata Sean, sambil menarik tangan Lorena  supaya dekat dengannya. Tentu saja Lorena terkejut.


“Apa?” Wanita-wanita yang mengejar Sean tampak terkejut dan menatap Lorena, menatap dari atas sampai bawah menilainya, seperti apakah wanita yang menjadi pacar Sean sekarang?


“Ini pacarku, jadi kalian jangan menggangguku lagi,” kata Sean, merangkul bahu Lorena. Seketika Lorena teringat kejadian tentang Vanessa itu, gara-gara dia mengaku jadi pacarnya Sean, Vanessa laporan pada ibunya Sean. Dia takut itu terjadi lagi.


“Bukan! Aku bukan pacarnya!” teriak Lorena sambil menepis tangan Sean yang ada di bahunya. Spontan wajah Sean semakin memerah karena marah kenapa Lorena tidak mau pura-pura jadi pacarnya. Disaat wanita-wanita itu mengejarnya, dia malah menolaknya, benar-benar keterlaluan Lorena.


“Sayang kenapa kau bicara begitu?” tanya Sean, menatap Lorena memberi kode.


“Bohong, aku bukan pacarnya, silahkan saja kalau kalian mau mengejarnya!” kata Lorena, membuat Sean kesal. Orang dia butuh pertolongan untuk menghindari wanita-wanita itu, Lorena malah menyuruh wanita itu mengejarnya, benar-benar tidak bisa diandalkan.


“Sayang, kenapa kau bicara begitu?” tanya Sean , sambil matanya terus memberi kode. Lorena bukan tidak mengerti tapi dia memang tidak mau pura-pura jadi pacarnya Sean, dia trauma.


“Tidak, tidak, bukan, aku bukan pacarnya!” kata Lorena lagi sambil beranjak meninggalkan ruangan itu. Melihat Lorena pergi, wanita-wanita itu langsung mengerubungi Sean lagi.


“Sam!” panggil Sean, minta pertolongan Sam. Sam langsung menghalangi wanita-wanita itu lagi seperti yang dilakukannya saat mau masuk tadi.


“Pergi! Pergi! Dia sudah punya pacar!” kata Sam.


“Ah katanya tidak,” ucap Emily.


“Itu karena pacarnya marah melihat kalian mengganggu Sean,” kata Sam, tangannya merentang menghalangi mereka mendekati Sean.


Melihat Sam sibuk dengan wanita-wanita itu, Sean merasa punya kesempatan kabur. Diapun buru-buru pergi keluar menyusul Lorena.


Setelah diluar gedung barulah Lorena menghentikan langkahnya, dia menatap Sean.


“Ada apa?” tanya Lorena pda Sean.


“Kau tega ya tidak membantuku menghindari wanita-wanita itu!” kata Sean dengan ketus.


“Maksudmu apa? Pura-pura jadi pacarmu begitu? Tentu saja aku tidak mau!” ujar Lorena.


“Kau keterlaluan, apa salahnya bilang iya pada mereka,” kata Sean, masih ketus.


“Dengar, karena gara-gara aku pura pura jadi pacarmu saja Vanessa melaporkannya pada ibumu. Aku tidak mau itu terluang lagi, bagaimana mana kalau mereka laporan lagi pada ibumu? Aku tidak mau dipaksa menikah denganmu,” kata Lorena, membuat Sean semakin kesal.


Tega sekali Lorena padanya. Dia memasang wajah cemberut.


“Kau tau, kau tidak akan lulus di lomba mencuci besok, dan kau akan benar-benar gugur, aku tidak akan membantumu,” kata Sean, dengan serius.


“Oh kau begitu ya mengancam ngancamku?” tanya Lorena.


“Kenyataannya memang begitu! Kau tidak bisa mencuci dan aku pastikan kau akan gugur. Kau pulang kampung saja sana, tidak usah menumpang di rumahku lagi,” kata Sean, menggerutu.


“Ih kau benar-benar itung-itungan!” gerutu Lorena.


“Ingat, aku ini asisten Presdir, walaubagaimanapun suaraku diperhitungkan, kau dengar?” kata Sean.


Kemudian mereka saling diam. Lorena berfikir apa yang dikatakan Sean itu. Pria itu memang benar, hasil mencucinya gagal, kalau besok di lombanya gagal, berarti dia memang benar-benar pulang kampung dan tidak bisa ikut lomba berikutnya. Segala pengorbanannya sia-sia kalau dia gagal kontes. Tidak tidak dia tidak boleh gagal kontes. Lorena menggeleng-gelengkan kepalanya.


Diliriknya Sean yang masih berdiri dengan tampang kusut.

__ADS_1


“Ya ya baiklah, aku akan membantumu, tapi ingat kalau aku gagal besok, kau harus membantuku supaya lolos, oke?” kata Lorena.


“Sepertinya aku berubah fikiran, lebih baik aku tidak usah masuk lagi ke dalam, aku mau pulang saja,” kata Sean, membuat Lorena sebal.


“Kau ini, katamu kau butuh bantuanku, ayolah, tidak apa-apa, aku akan mengusir wanita-wanita itu semua, masa kau sudah datang kesini kau tidak bersalaman dengan pengantin?” ucap Lorena, kini malah berbalik dia yang merayunya.


Sean masih berusaha jual mahal, tapi kemudian dia berfikir apa yang Lorena katakan benar, dia belum bertemu dengan Martin.


“Baiklah, ayo,” kata Sean. Lorena tersenyum.


“Ayo,”  jawabnya sambil menggandeng tangan Sean.


Merekapun masuk lagi ke gedung.


Begitu Sean masuk lagi ke gedung, wanita-wanita itu langsung menyerbunya lagi. Tapi langkah mereka terhenti saat melihat Lorena menggandeng tangan Sean. Lorena menatap mereka satu-satu.


“Kami sudah baikan, jadi kalian jangan mengganggu pacarku lagi, kalian mengerti?” ucap Lorena dengan tegas.


Wanita-wanita itu menatap Lorena lalu pada Sean. Mereka langsung patah hati, apa lagi Sean mengusap-usap tangan Lorena yang memeluk tangannya dengan lembut.


“Ayo sayang,” ajak Lorena, sambil menarik tangan Sean berbaris mengantri di antrian yang akan bersalaman dengan pengantin.


Sam yang melihat Sean datang bersama Lorena apalagi dengan bergandengan seperti itu tampak keheranan. Bagaimana Sean meyakinkan Lorena supaya bisa menghalau wanita-wanita itu?


“Aku baru tahu kalau pacarmu sangat banyak,” ucap Lorena sambil berbaris.


“Itu kan dulu, itu juga karena mereka mengejar-ngejarku,” jawab Sean, sok laku.


“Mengejar-ngejarmu atau mumpung ada kesempatan? Asal ada wanita yang suka padamu langsung saja kau pacari,” tuduh Lorena. Sambil kembali melangkah maju di antrian begitu juga Sean.


“Aku tidak serendah itu!” gerutu Sean. Sebenarnya dia malas bergandeng-gandengan dengan wanita menyebalkan ini.


“Apa kita akan begini terus sampai pulang?”tanya Lorena.


“Ya iyalah,” jawab Sean.


“Ini maksudku, apa aku harus mengantri membawa biola ini?” tanya Lorena mengacungkan biolanya. Sean baru ingat kalau Lorena baru tampil tadi.


Dengan spontan dia memanggil Sam.


“Sam! Sam!” teriaknya. Membuat Lorena terkejut. Kenapa Sean memanggil Sam hanya nama saja, tidak pakai embel embel Pak padahal Sam atasannya?


Sean melambaikan tangannya pada Sam yang segera menghampirinya.


Sean mengambil biola dari tangan Lorena lalu diberikan pada Sam.


“Pegang ini!” kata Sean. Sam menerimanya. Lorena menatap Sam yang mau saja disuruh-suruh lalu pria itu kembali pergi menuju kursi-kursi, sepertinya dia sedang sibuk mengobrol dengan teman-temannya.


Lorena menatap wajah Sean.


“Kau kenapa menatapku?” tanya Sean tanpa menoleh.


“Kau memanggil Sam hanya nama saja, dan kau menitipkan biola padanya? Dia kan atasanmu!” kata Lorena menatap Sean tidak mengerti.


Mendengar pertanyaan Lorena membuat Sean tersadar dan langsung gugup. Dia lupa kalau di depan Lorena dia berpura-pura menjadi asistennya Sam.


**********************


Jangan lupa like vote dan komen

__ADS_1


__ADS_2