
Kristy tersadar dari pingsannya dan mendapati dirinya berada di kamar tempat ia di rawat tadi. Ia mendapat infus kembali.
Wajahnya sedikit bengkak terutama matanya karena sehabis menangis tadi. Ia mendapati Dafa dan Dafi yang tertidur di sofa bersama Desi.
Kemudian ia melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 15.00. Itu berati sejak pingsan tadi ia sudah tidur sekitar 5 jam.Dokter mungkin memberinya obat penenang sehingga ia tertidur cukup lama.
Ia segera bangkit dari tempat tidurnya saat ingat akan Yoga. Ia membawa penyangga infusnya dan melangkah mencari cari Yoga di UGD.
" Pasien bernama Yoga putra Pratama dari UGD di ruang apa ?" tanya Kristy pada perawat jaga di UGD.
" Yang kecelakaan tadi ya ?"
" Iya...Di mana dia sekarang?
" Dia di ruang ICU .. "
" Bagaimana keadaannya?... Dia tidak ..meninggal kan ?" Kristy dengan penuh rasa was\_was dan takut menanyakannya. Semoga bukan kabar buruk yang ia dengar nanti.
" Dia koma "
Kristy langsung lunglai tak kuasa menahan tubuhnya lagi. Yoga koma ?... Air matanya pun mengalir lagi..
" Anda kenapa Nyonya?" perawat itu kemudian membantu Kristy bangun.
" Aku harus ke sana...aku harus melihat keadaan suamiku..." ucap Kristy di sela isak tangisnya.
" Tempatnya jauh Nyonya. Biar saya antar pakai kursi roda ya.. " ucap perawat itu yang tahu kondisi Kristy yang lemah karena juga pasien di sana.
Kristy hanya menurut saja saat perawat itu mengambilkan kursi roda dan mengantarnya ke ruangan Yoga.
.
.
Mereka tiba di depan ruang Yoga yang di jaga ketat pria pria berpakaian jas hitam. Mereka melarang keras Kristy dan perawat itu masuk ke dalam.
" Biarkan aku masuk...Aku mau melihat keadaan suamiku... " Kristy berusaha masuk tapi penjaga itu tetap melarangnya.
Dan saat itu Romi tiba bersama Andi. Sepertinya mereka baru kembali dari ruang apoteker dengan membawa paket obat untuk Yoga.
" Kristy..." Andi menghampiri Kristy.
" Andi aku ingin melihat suamiku.. tolong.. Aku harus melihat keadaannya..." ucap Kristy memelas memohon agar ia bisa menemui Yoga.
Andi tak menjawab. Ia cuma melihat kearah Romi..
Romi menghampiri mereka. Ia memberi isyarat pada anak buahnya agar Kristy bisa lewat. Anak buah Romi pun menurutinya.
" Sebentar saja mumpung Tuan dan Nyonya besar masih konsultasi dengan Dokternya Yoga. "
Kristy turun dari kursi roda dan melangkah memasuki Ruangan Yoga. Setelah mencuci tangan dan melalui proses sterilisasi ia diperbolehkan masuk oleh Dokter jaga yang memantau kondisi Yoga 24 jam.
__ADS_1
" 5 menit " Dokter jaga hanya memberi batas sesingkat itu untuk menjenguk Yoga.
Betapa hancur hati Kristy saat melihat kondisi suaminya yang dirawat dengan banyak peralatan medis di sekelilingnya .
Monitor pantau yang memantau tekanan darah , kadar oksigen dalam darah dan juga detak jantungnya. Semua organ inti terpantau dan diawasi ketat oleh dokter. Ventilator untuk membantunya bernafas dan defi\_brilator membantu pacu jantungnya.
Bahkan beberapa infus juga terpasang di sana . Ada yang bening seperti cairan putih dan juga kantong darah untuk transfusi darah Yoga.
Sepertinya pendarahan Yoga cukup parah sehingga memerlukan transfusi cukup banyak. Beberapa stok kantong darah pun sudah di siapkan di sana. Kepalanya di perban dan di mulutnya terpasang alat bantu pernafasan.
Kristy tak kuasa menahan air matanya melihat kondisi Yoga yang begitu memprihatinkan itu.
" Mas Yoga... maaf...maafkan aku.." ucap Kristy dalam ratap tangisnya sambil memeluk tubuh Yoga yang sedang berada dalam kondisi koma itu.
" Semua gara gara aku...semua salahku.. kalau saja aku tidak ingin menggugurkan anak kita kau pasti tidak akan sampai seperti ini..."
Namun Yoga tak bergeming. Tak ada satu reaksi pun yang terlihat dari tubuhnya.
" Mas...Bangun.. aku tidak akan menggugurkan anakmu . tapi kumohon bangun Mas...sadarlah Mas . Aku tidak sanggup kehilanganmu... "
" Bukankah Mas Yoga ingin bersama anak mas.. dia sudah di sini Mas.. jadi cepat bangun..."
Yoga tetap memejamkan mata. Seolah ia tak mendengar ucapan Kristy sama sekali.
Kristy menggenggam erat tangan Yoga sambil terus terisak. Air mata nya seolah tak mau berhenti. Terus mengalir membasahi pipinya. Mengiringi deru kesedihan hatinya. Beribu ribu penyesalan hinggap dihatinya.
.
.
" Mau apa wanita ini di sini ?" Guntoro yang baru sampai di ruang itu sangat murka saat melihat Kristy ada di sana.
Romi dan Andi bingung harus berucap apa.
" Keluarkan wanita pembawa sial ini dari sini..!! " Ucap Guntoro keras memerintahkan orang untuk mengusir Kristy
Kristy pun berkeras , ia tidak mau pergi dari sana.
" Biarkan aku di sini... Aku ingin bersama suamiku.." Kristy tak mau pergi dan berpegangan dengan kuat di besi tempat tidur Yoga saat anak buahnya membawa paksa Kristy.
" Dasar wanita miskin tidak tahu diri.. Semua ini gara gara kau. Kau yang mencelakakan Yoga bukan..Gara gara kau anakku jadi begini.."Guntoro yang kesal mulai memaki Kristy. Ia malah menyalahkan Kristy.
Kristy tak menjawab . Ia cuma menangis sambil memeluk Yoga. ia benar benar tak ingin pergi meninggalkan Yoga lagi.
" Apa kau masih belum puas membalaskan dendam mu.. Suamimu mati karena Yoga. Kau masih belum puas melihat keadaan Yoga seperti ini.. Apa kau ingin Yoga menyusul suamimu..Pergi kau wanita iblis! " ucap Guntoro seraya menarik paksa Kristy dan dengan kasar mendorongnya menjauh dari Yoga.
Romi dengan cepat menangkap tubuhnya. Dan untung saja berhasil. Kalau tidak kandungan lemah Kristy bisa dalam bahaya.
' Memang benar benar ya... Anak sudah hampir mati masih mau membunuh cucunya pula... ' Romi geregetan dengan sikap Ayah angkatnya itu.
__ADS_1
Seharusnya sebenci\_bencinya pada orang tak perlu menganiayanya. Apalagi Kristy wanita lemah dan sedang hamil cucunya pula.
" Darah.. " Risa begitu ngeri saat melihat darah mengalir keluar dari sambungan penghubung infus Kristy yang terlepas di lantai. infusnya tersangkut dan membuat sambungannya terlepas sehingga darah mengalir balik dari tangan Kristy keluar tubuhnya.
" Dokter ..tolong wanita itu..."kata Andi. Dokter jaga di sana bermaksud hendak memberikan pertolongan pada Kristy namun Guntoro dengan cepat melarangnya.
" Tidak usah di bantu. Biarkan saja dia mati "
Dokter itupun ragu , ia tak berani menolong Kristy . Karena ia tahu siapa sosok Guntoro itu. Jika ia menentangnya , ia bisa mendapat masalah besar . Ia hanya diam melihat darah mengalir dari sambungan infus tangan Kristy .
Kristy pun juga nampak tak peduli dengan hidupnya lagi. Ia seolah pasrah jika memang harus berakhir di sana seperti keinginan Guntoro.
' Manusia iblis sialan ini.. ' Romi begitu geram dengan sikap Guntoro itu. Dan dengan cepat ia menolong Kristy sebelum ia kehilangan banyak darah.
" tahan " ucap Romi sebelum ia sedikit menekan jemari tangan Kristy ,melepas plester dan mencabut jarum infus yang masih menempel itu dengan paksa. Kemudian ia mengambil sapu tangan dan mengikatkannya ke tangan Kristy untuk menghentikan pendarahannya.
' Kalau saja kau tahu dia mengandung cucumu kau pasti akan menyesal..' batin Romi geram pada Guntoro.
Tiba tiba saja terdengar bunyi dari alat defi\_brilator Yoga dan di monitor menampilkan satu garis merah lurus. Semua orang begitu terkejut mendengarnya.
'Tidak...tidak...Denyut jantung Mas Yoga berhenti....' Kristy berusaha cepat untuk bangun dan mendekat ke Yoga. Juga Dokter jaga itu. Ia dengan cepat berusaha menolong Yoga.
" Tolong panggil tim Dokter..."Dokter itu nampak panik karena pasien VVIP ini bukan anak orang sembarangan. Riwayatnya bisa tamat jika tak bisa menolong Anak tunggal konglomerat itu. Andi segera memanggil tim dokter khusus yang menangani Yoga.
" Semua keluar ... biar Tim dokter kami saja yang di dalam "
Semua orang keluar dari ruangan itu . Dan hanya tim dokter yang berusaha menyelamatkan Yoga saja yang tersisa.
Guntoro , Risa dan Romi melihat mereka dari luar lewat jendela kaca. Sedang Kristy sudah terusir keluar ruang dan tak bisa masuk karena di hadang oleh anak buah Guntoro.
Risa menangis terisak sambil menyaksikan perjuangan mereka untuk menyelamatkan putra semata wayangnya.
' Kumohon Yoga... jangan mati.. ' Romi pun. tak kuasa menahan kesedihannya. Ia sangat berharap Yoga bisa selamat.
' Anak dan istrimu masih membutuhkanmu.. tanpa kau aku tidak tahu lagi apa yang akan dilakukan oleh orang tuamu pada mereka..' pinta Romi dalam hatinya.
' Tuhan , tolong selamatkan Yoga...' Romi setulus hati berdoa untuk orang yang sudah di anggapnya sebagai adik itu.
" Romi..."
' Apa lagi..' batin Romi saat mendengar Guntoro memanggil namanya. Ia tak menjawab cuma menoleh.
" Kalau Yoga sampai mati.. penjarakan wanita itu.." ucap Guntoro.
Romi ternganga. Ia benar benar tak percaya mendengarnya. Bukan kata kata doa untuk Yoga yang di ucapkan malah ingin menyengsarakan Kristy lagi.
" Ah tidak.. penjara itu masih terlalu ringan...Kalau anakku sampai mati..Kuburkan wanita itu hidup hidup bersama anak anaknya dengan Yoga.."
__ADS_1
Romi benar benar tercengang mendengarnya. Orang tua macam apa dia ini. Anaknya sudah sekarat dia masih ingin berbuat jahat. Kapan manusia ini akan bertaubat.. menyadari kesalahannya. Bukannya sadar malah ingin menyiksa orang lain untuk melampiaskan amarahnya.