
Xavier dan Alisha langsung menuju ke rumah sakit. Mereka begitu bersedih melihat keadaan Kayla yang kini sedang tertidur dengan infus terpasang di tangannya.
" Kayla..." Xavier memeluk putrinya. " Sayangku... Papa harus bagaimana padamu... " ucap Xavier pelan sambil menciumi pipi putrinya itu..
Alisha diam sambil mengusap rambut anak tirinya itu. Ia juga sama pusingnya dengan Xavier.
" Ummi..." Kayla memanggil Mimi dalam igauannya.
" Apa aku tidak bisa menjadi ibu untukmu..." ucap Alisha pelan seraya turut memeluk Kayla.
Yoga dan Kristy hanya bisa terdiam . Xavier dan Alisha begitu menyayangi Kayla , namun hati kayla terlanjur menyayangi Mimi dan mengganggap seolah tidak ada ibu lain selain dirinya.
.
.
.
.
Mimi menghubungi Kristy , ia menanyakan tentang Kayla. Ia sudah punya firasat buruk saat pergi meninggalkan Kayla begitu saja ke luar negeri.
Kristy semula ingin menutupi tapi karena Mimi memaksa Kristy akhirnya memberitahu Mimi.
" Kayla di rawat di rumah sakit...tapi tidak apa apa kok Mimi. Biar dia belajar sedikit jauh darimu... Pelan pelan dia pasti mau menerima Alisha...Kau tidak usah mengirim kabar dulu sementara ini..biar Kayla terbiasa dengan Alisha..."
Mimi terdiam dengan mata berair. Ia tak kuasa menahan air matanya. Ia memang sangat menyayangi Kayla begitupun juga Kayla. Mereka seolah memiliki ikatan batin kuat seperti ibu dan anak.
.
.
.
.
Kayla di rawat di rumah sakit beberapa hari. Seharusnya ia sudah pulang namun karena tidak mau makan ia harus menjalani rawat inap beberapa hari lagi.
Alisha senantiasa mendampingi Kayla sampai tidak mau kerja . Xavier pun begitu pulang kerja juga langsung ke rumah sakit. Yoga dan Kristy juga menemani , meski malam mereka pulang ke rumah. Alisha dan Xavier yang menginap di sana.
" Makan ya sayang..." Alisha menyuapi Kayla. Namun Kayla tidak mau buka mulut sama sekali. Baru jika Xavier yang menyuapinya , Dia mau makan walau pun cuma 1 2 sendok.
" Makan yang banyak sayang..biar cepat sembuh " kata Xavier. Kayla menggeleng.
Kayla kini cenderung diam tak banyak bicara dan mulai kelihatan kurus. Keceriaan telah hilang dari wajahnya. Ia tak mau tersenyum dan bermuram durja. Dan jika ingat Mimi , ia cuma menangis saja. Dan jika sudah seperti itu Xavier hanya bisa memeluknya erat dan mengucap satu kata.
" Maaf ..." Sering kali ucapan itu di ucapkan Xavier berulang kali jika Kayla menangis dan tak mau berhenti. " Maafkan Papa sayang..."
.
.
.
Mungkin...aku terlalu egois dengan memilih Alisha bukan Mimi...tidak memikirkan bagaimana perasaan putriku sama sekali...
.
.
.
.
Penyesalan mulai timbul di hati Xavier. Ia mau menikah sebenarnya ingin membahagiakan putrinya agar memiliki Seorang ibu agar keluarganya lengkap seperti keluarga pada umumnya. Namun yang ada Kayla justru terpuruk tak bisa menerima pilihannya.
Xavier memeluk erat putrinya yang menangis tak mau berhenti itu. Kayla yang kelelahan menangis, agarnya pun tertidur.
__ADS_1
.
.
.
.
Keesokan harinya Kayla perlahan mulai terbangun karena mendengar kasak kusuk suara Papanya dan Alisha.
" Benar??..Kau yakin ??" tanya Xavier tak percaya.
" Iya Kak..Kemarin saja aku langsung cek ke dokter kandungan...Dan benar positif " jawab Alisha . " Habis aku sudah curiga...tamu bulanannya kok tidak datang , terus aku tes hasilnya 2 garis merah...Karena belum yakin aku periksa ke dokter kandungan...dan ternyata benar...aku hamil Kak.."
" Yes !! ....aku akan punya anak lagi...Terima kasih ya sayang..." ucap Xavier bahagia sambil memeluk dan menciumi istrinya. Ia begitu senang saat mengetahui Alisha hamil anaknya .
Mendengar itu Kayla shock.
.
.
Adik ?...Aku akan punya adik?..Tidak ... ini tidak boleh..Dia akan merebut Papa ku...Setelah Ummi di ambil orang , sekarang ganti Papa?..
Aku tidak punya siapa siapa lagi...
.
.
Batin Kayla menjerit. Ia sungguh tidak sanggup membayangkan satu satunya orang yang tersisa yang paling menyayanginya akan di rebut adik bayi yang masih dalam kandungan Alisha itu.
" Kakak mau cek lagi.."
" Ayo...biar yakin..Sekarang saja..mumpung Kayla masih tidur...yuk.." Xavier mengajak pergi Alisha.
" Tidak apa apa... Cuma sebentar saja " jawab Xavier.
Kemudian mereka pun segera pergi. Kayla membuka matanya dan berbalik. Ia melihat sosok Papanya pergi dengan menggandeng tangan Alisha.
.
.
Aku tidak punya siapa siapa lagi...Ummi di rebut...Papaku juga di ambil...
.
.
Kayla perlahan turun dari tempat tidur dan menangis.
" Tidak ada yang menyayangiku...sekarang aku tidak punya siapa siapa..." tangisnya mulai berjatuhan.
Ia dengan pikiran lugunya hanya bisa berpikir seperti itu. Ia perlahan melangkah keluar kamar sambil menyeret tiang infusnya. Ia berjalan ke luar rumah sakit.
Kebetulan sopir Xavier melihat sosoknya yang menangis itu.
" Loh ...Non Kayla...Kok sendiri? Mau kemana Non?...Kenapa menangis ? " tanya Sopirnya heran .
" Aku mau ke tempat Mama....antarkan aku kesana sekarang.."jawab Kayla dalam tangisannya.
Sopir Xavier yang sudah hapal dengan kebiasaan Kayla yang selalu di turuti kemauannya itu pun segera menurutinya. Ia mengantarkan Kayla.
ia tahu yang di panggil Mama cuma satu yaitu Mikaila yang sudah meninggal.
__ADS_1
Sopirnya yang mengira Kayla cuma kangen Mamanya dan ingin mengunjungi makamnya sebentar segera mengantarnya.
" Tiang infusnya tidak bisa masuk mobil Non..Ditinggal saja. Sementara infusnya di stop dulu ya..." Kata Sopirnya yang kemudian mengambil kantong infus itu dan memberikannya pada Kayla setelah ia memutar knop stop di selangnya sehingga sementara infusnya tak berjalan.
Mereka lalu menuju ke pemakaman Mika . Sopirnya menemani Kayla yang kemudian menangis dan duduk di samping pusara nya dengan mengucap isi hatinya.
" Mama ...Papa jahat...Papa tidak sayang lagi padaku..Ummi juga...Saif juga... Mereka semua pergi meninggalkanku...Sekarang tidak ada yang menyayangiku lagi..." Sopir itu begitu sedih melihat Kayla menumpahkan emosi jiwanya dalam tangisannya itu. Ia sebagai seorang Ayah bisa merasakan apa yang kini di rasakan Kayla, Ayahnya menikah lagi, Umminya pergi..Itu sebuah pukulan berat untuk anak kecil 10 tahun seperti Kayla.
" Sabar Non...Yang kuat...yang sabar.." Dia pun juga coba menghiburnya.
" Mama juga jahat...Kenapa Mama cepat sekali pergi meninggalkanku...Sekarang aku sendiri ..aku tidak punya siapa siapa lagi.. Aku tidak mau sendiri Ma...Aku ikut Mama saja...Bawa aku pergi sama Mama..."
' DUAR...' Tiba tiba terdengar suara guntur keras. Dan itu cukup menyentakkan mereka. Memang cuaca sudah mendung sekali seperti akan turun hujan..
" Istighfar Non...Tidak boleh bilang seperti itu.. Mama Non pergi karena di panggil Tuhan , Non harus sabar...tidak boleh ngomong begitu...Kita kembali yuk Non.." ajak sopirnya itu. Ia tidak ingin terlalu lama di sana karena ucapan Kayla membuatnya takut. Apalagi di cuaca seperti itu.
" Ayo Non...sudah mau turun hujannya.."
" Aku mau Mama...Aku mau sama Mama..." ucap Kayla tidak mau pergi .
Bahkan saat hujan mulai turun Kayla tetap tidak mau pergi. Sopirnya sempat meninggalkannya sebentar dan kemudian kembali dengan membawa sebuah payung . Namun Kayla benar benar tidak mau pergi. Ia memegang erat batu nisan Ibunya saat sopirnya itu setengah memaksanya untuk membawanya pergi.
" Aku nggak mau...Aku mau di sini saja sama Mama.."
Sopirnya yang kehabisan akal , ia sambil memayungi Kayla kemudian segera menghubungi Xavier.
" Dimana ? " tanya Xavier keras. Ia begitu kebingungan mencari Kayla yang tiba tiba menghilang.
" Hah ?..Di pemakaman??"
' DEG ' Batin Alisha begitu tertohok mendengar kata Xavier itu.
" Aku akan segera kesana " kata Xavier seraya menutup telpinnya.
" Kak?..."
" Kayla di makam Mika..."
" Kok bisa?..Hujan hujan begini..." kata Alisha tak habis pikir.
" Aku akan kesana..Kau tidak usah ikut...di sini saja.." kata Xavier buru buru pergi. Ia begitu kacau saat sopirnya memberitahu tentang Kayla yang tidak mau pulang . Terlebih dalam cuaca hujan seperti itu.
.
.
Kayla .....Aku harus bagaimana?...
Mika...Putri kita kenapa bisa sekeras kepala ini...
Katakan padaku Mika...aku harus bagaimana...
.
.
__ADS_1
Xavier memanggil taksi dan segera menuju ke pemakaman Mika.