
Yoga , Kristy ,Risa dan Xavier meninggalkan rumah itu menuju ke kota Blitar. Mereka buru buru pergi sebelum Guntoro mengusir mereka seperti yang dulu pernah di lakukan pada Kristy. Mereka meninggalkan semuanya . Rumah , mobil dan seisi rumah itu. Hanya membawa beberapa pakaian dan bekal untuk perjalanan mereka. Setidaknya mereka bisa mengurangi biaya pengeluaran makan walau pun cuma sedikit.
" Ma.. Nanti kita harus hidup hemat ya... Sebelum aku punya penghasilan stabil Mama sabar dulu ya... Yang penting cukup untuk kebutuhan sehari hari. Kamu juga ya Dik...Aku juga akan menyisihkan uang untuk biaya persalinan mu kelak... Kita belajar hidup sederhana ya.."
Kristy dan Risa mengangguk. Risa begitu trenyuh melihat putra tunggalnya itu. Ia berusaha tegar dengan keadaan mereka dan bisa bersikap dewasa. Ia tidak seperti anak manja yang dulu begitu bergantung pada orang tuanya. Ia kini menjelma menjadi seorang pria dewasa yang begitu bertanggung jawab untuk keluarganya.
" Kalau masak juga jangan beli yang mahal mahal dik..Bergizi harus tapi jangan yang terlalu mahal. Dan belinya jangan berlebihan. Susu buat Xavier tetap harus ada. Nanti kita ganti merk lain yang harganya lebih miring.."
" Iya Mas.. Tenang saja..Aku dari kecil sudah biasa hidup sederhana... Aku akan mengatur anggaran kita seminim mungkin..."
" Sementara Mas tidak membelikan perhiasan perhiasan dulu ya..."
" Iya Mas...Tidak apa apa. Kalau uang kita habis , mas bisa jual perhiasan itu...Aku juga jarang memakainya.."
Risa melihat anak dan menantunya begitu kompak tersenyum lega. Menantunya ini memang tidak seperti menantu orang kebanyakan.
Penampilannya sederhana, jarang ke salon dan hanya melakukan perawatan rutin di rumah. Itupun sudah cantik. Memang dari sananya sudah cantik jadi tidak berdandan pun juga cantik.
Lain dengan dirinya yang rutin ke salon mahal untuk perawatan. Belum lagi kalau harus ke klinik kecantikan aes\_tetic , harus merogoh dompet dalam dalam.
Perhiasan yang di kenakan Kristy juga cuma cincin kawin , kalung ,gelang dan anting. Sisanya ia simpan. Beda dengan dirinya yang suka memakai berlian dengan harga Selangit. Ia dan Kristy benar benar bertolak belakang.
Yoga putranya pasti sering membelikan macam macam perhiasan mengingat dia dulu adalah wakil CEO. Uang belanja yang di berikan nya pasti juga fantastik sesuai gaji bulanan Yoga. Namun Kristy bukan tipe wanita boros yang suka dengan barang brand brand ternama dan mahal . Memang ia juga memiliki beberapa tapi tidak selalu mengikuti tren seperti seorang sosialita high\_class.
Kristy benar benar tak seperti yang ia dan suaminya bayangkan dulu. Seorang wanita matre yang gila harta.
Andai saja Mas Guntoro mau mengenal dan menerima Kristy...Dia pasti akan malu pernah mengolok Kristy seperti dulu..
Mereka turun dari taksi di sebuah stasiun kereta api.
" Kalian tunggu di sini dulu...aku antri beli tiket dulu. " kata Yoga.
" Kenapa tidak beli tiket on line saja Yog.." ucap Mamanya.
"Mobile banking ku di bekukan Papa Ma..Semua rekeningku ..punya Mama pasti juga.." jawab Yoga.
Risa kemudian mengecek hp nya , dan benar semua rekeningnya di blokir. Andai saja masih ada satu saja rekeningnya di salah satu bank ia tak akan memikirkan masalah uang sama sekali. Karena di satu rekeningnya saja jumlahnya sangat sangat banyak. Namun semua rekeningnya di beberapa bank di bekukan semua oleh suaminya. Dia benar benar tak menyisakan sedikitpun belas kasih untuk dirinya dan Yoga.
" Mas Guntoro ini benar benar ya .. Raja Tega.. " keluhnya . Ia benar benar tak habis pikir dengan suaminya itu. Tega sekali membiarkan ia hidup tanpa memiliki uang.
Padahal sedari kecil Risa adalah anak orang kaya yang yang tinggal di Belanda. Ia dan Rasyid adiknya masih keturunan keluarga bangsawan di sana. Dan sesudah kedua orang tuanya meninggal , Mereka memutuskan kembali ke Indonesia tempat asal Mama mereka dan tinggal dengan neneknya di Jakarta.
Setelah itu ia bertemu Guntoro dan menikah dengan pengusaha super kaya dan sukses itu. Sementara adiknya memilih belajar di pondok kala itu. Dan akhirnya sampai sekarang menjadi pengajar di Pondok Jombang , tempat Abah Kinara.
Berbagai kisah manis pernah dilaluinya dengan Guntoro hingga mereka memiliki Yoga. Putra semata wayang mereka. Dan ini akhirnya...Mereka pergi dari rumah dan Guntoro menutup semua akses kemewahan darinya. Bahkan membiarkan mereka tanpa memiliki uang sama sekali.
" Ini tiketnya.." ucap Yoga setelah antri cukup lama.
" Tiket kelas ekonomi Yog? Bukan Kabin atau setidaknya kelas eksekutif..." ucap Risa saat membaca tulisan yang tertera di tiketnya.
" Kita harus berhemat Ma...Tidak apa apa kok..Masih ada AC nya...dan duduknya berhadapan... Aku pesan 4 tempat duduk..Jadi nanti Xavier juga bisa duduk sendiri.." Yoga nampak santai menjawabnya.
" Nanti kalau Mama kurang nyaman aku bisa duduk sambil memangku Xavier..Jadi Mama bisa memakai 2 kursinya.." kata Kristy pula.
" Masalahnya bukan itu Kris...tapi kan campur orang banyak..."
" Untung tidak ada penumpang yang berdiri Ma.. Karena kereta ini kereta jarak jauh..." Tambah Kristy.
" Hah.. Berdiri ?"
" Kalau kereta jarak dekat ada penumpang berdiri juga di tengah tengah.."
" Ya Ampun..." Risa benar benar tidak bisa membayangkannya. Dirinya yang biasanya naik transportasi selalu VIP yang privasi dan penuh dengan kenyamanan dan tidak bercampur dengan orang asing kini harus mulai menjalani hidup bak rakyat jelata. Hidup serba hemat, naik transportasi pun yang murah dan berjubel dengan orang orang yang pastinya juga dari kelas menengah ke bawah.
Dan seperti dugaannya, Kereta penuh dan begitu banyak penumpang lainnya. Mereka memang duduk di bangkunya masing masing tapi suara mereka ngobrol, bercanda tawa, terdengar riuh dan begitu mengusik Yoga dan Risa yang baru kali itu naik kereta api kelas ekonomi.
Yoga masih bisa bersabar , mengingat keadaannya kini yang lemah finansial nya. Ia harus bersabar dengan keadaan. Sebagai lelaki ia pantang berkeluh kesah.
" Xavier sama Papa ya.. Di perut Mama ada adik bayi ...jadi Xavier di pangkuan Papa saja..Biar Oma bisa istirahat. Soalnya besok baru sampai di Blitar..."
__ADS_1
" Ke rumah nenek..tempat Kak Dafa dan kak Dafi?" tanya Xavier.
" Iya..kita pindah rumah ke sana..Supaya kamu bisa main sama Kakak kakak.."
" Hore..Main sama kakak.."
" Jadi Xavier harus pintar ya...Jadi anak yang patuh dan baik..."
" Ok Dad.." Xavier mengangguk dan menjawab Iya. Ia masih sering memakai bahasa inggris walau kadang bercampur dengan bahasa Indonesia..
Risa terdiam. Besok baru sampai..?... Berarti harus bertahan di kereta yang seperti pasar malam ini.....MMM 😓
Kehidupan rakyat jelata yang memilukan.... Padahal kalau sama Mas Guntoro , naik pesawat pribadi juga cuma sebentar..
Tapi ini semalam...Oh ..tidak...😣
' Ho\_ek...' Kristy pun menambah ujiannya. Ia muntah muntah sebentar sebentar karena kehamilannya...
Ya Ampun...rasanya seperti di neraka..
Batin Risa menjerit. Ia cuma tiduran di bangku itu sambil menutup tubuhnya dengan selimut. Ia juga menutup kepalanya pula. Ia benar benar tak tahan berada di tempat itu lama lama.
YOGA dengan sabarnya mengurus Kristy dan Xavier. Ia sebenarnya juga tak tahan , namun ia menahan semua ketidaknyamanan itu. Ini baru hari pertama perjuangannya lepas dari Papanya.
Suasana mulai hening menjelang tengah malam ketika semua orang mulai tertidur. Dan lampu mulai di padamkan. Hanya cahaya temaram dari beberapa lampu kecil yang menerangi gerbong itu.
Yoga masih tidak bisa tidur juga. Ia duduk dengan memangku Xavier. Capek, kaku, dan juga banyak ketidaknyamanan di rasakan nya. Namun saat melihat wajah tidur Kristy dan Xavier , semua rasa itu di mulai menghilang.
\**Hidup bersama kalian..melihat kalian setiap hari..semua sakit ini langsung terobati...Istriku ..dan anak anakku..Mama... Kalian semua orang orang yana aku cintai*...
*Sabar dulu dengan keadaan ini ya... Aku akan berjuang agar kalian semua bisa hidup nyaman dan tercukupi*\*...
Yoga perlahan mengecup lembut kening Kristy dan Xavier. Kemudian juga menyentuh perut Kristy . Anak kandung keduanya ini akan melengkapi kebahagiaan mereka kelak. Bersama Dafa dan Dafi. Keluarga bahagia mereka akan aman sekali.
' Ting '
Sebuah pesan masuk ke hpnya dan ternyata dari Romi, kakaknya.
' Aku ke Blitar Kak..Kami mudik ke jawa😉' jawab Yoga
' Maaf ya semua rekening mu dan Tante Risa terpaksa aku blok. Perintah Papa mu..'
' Tak apa apa Kak...'
' Kalau butuh uang aku pernah memberikan ATM ku pada Kristy sewaktu dia mau berangkat Australia dulu. Aku mengisi banyak di sana dulu tiap bulan. Walau tidak pernah di ambil Kristy. Kau pakai itu dulu...Kristy tau no pin nya...Nanti akan aku isi lagi '
' Tidak usah Kak. Itu uang Papa..Aku tidak mau menggunakannya. Itu artinya sama saja aku masih bergantung pada Papa..Aku tetap hidup dalam bayang bayang nya. Aku tidak mau..."
' Jangan menolak Yog. Kau tak bisa hidup tanpa punya uang. Anak dan istrimu butuh makan..'
' Aku akan bekerja keras untuk menghidupi mereka dengan hasil keringatku sendiri. Aku tidak butuh bantuan dari Kakak.Terutama jika uang itu dari Papa. Tidak. Terima kasih!! ' Yoga keras kepala. Tak mau di bantu.
' Kau mau kerja apa?...Di kota pelosok seperti itu kau cuma bisa dapat pekerjaan kasar dengan gaji yang sangat kecil....Kau itu mantan CEO..juga Wakil CEO...Kau tidak bisa kerja kasar..dari kecil kau tak pernah melakukan pekerjaan rendah...'
' Aku juga pernah jadi salesman Kak....' sangkal Yoga.
' Gaji salesman tak akan cukup untuk biaya makan kalian satu bulan..Kau punya tanggung jawab Kristy , Mama dan ketiga anak mu..'
' Empat kak..'
' Hah?!'
' Kristy hamil lagi..anakku sebentar lagi 4...'
' Oh My God..Kau mau kasih makan apa mereka semua..makan batu?' tanya Romi ikut pusing memikirkan adiknya yang keras kepala itu.
' pokoknya aku akan berusaha..Entah bagaimana nanti...yang penting..Aku kerja sendiri..Bukan dari uang Papa. Titik '
' Woo\_oi anak macan..jangan keras kepala!!'
__ADS_1
' Pokoknya TIDAK!!! '
Yoga malas sekali berdebat dengan Kakaknya itu. Dan keputusannya sudah bulat. Ia putus hubungan dengan Pratama , ia juga tidak akan menggunakan uang dari Papanya lagi.
.
.
Sesampainya di stasiun Blitar , Bibinya menjemput mereka dengan mobil yang dulu di belikan Yoga. Ia juga bisa menyetir sendiri. Rasti nama ibu Kristy , ia tersenyum ramah pada besannya itu . Ia tak keberatan sama sekali mereka tinggal menumpang di rumahnya. Bahkan ia sudah membuat ruang sekat baru di ruang tamu luasnya untuk tempat tidur Risa. Agar ia nyaman punya kamar sendiri meskipun hanya sederhana.
Risa dan Rasti berpelukan. Mereka sama sama bersikap ramah .
" Selamat datang di gubuk sederhana Kami...Nyonya Risa..."
" Panggil Risa saja...Kita kan besan bukan orang lain..." ucap Risa ramah sambil tersenyum pula.
" Oma.." Dafa dan Dafi langsung mencium tangan Risa nenek mereka dari pihak Papanya seperti yang di ceritakan Rasti .
" Ya ampun ..cucu cucu tampanku...kalian ganteng sekali.." ucap Risa senang dengan kehadiran si Kembar.
Dafa dan Dafi kemudian bersalaman dan mencium tangan Yoga dan Kristy.
Anak anak yang sopan santun...tau menghormati orang tua...Yoga dan Kristy pintar mendidik anak...batin Risa
" Jadi Mama dan Papa juga Oma dan Xavier mulai hari ini tinggal di sini...?" tanya Dafa senang.
" Iya dong...Papa akan mengawasi kalian dengan ketat...Biar kalian tidak pacaran melulu.."
" Aku tidak pacaran Pa..cuma berteman..." ucap Dafi sambil tersenyum
" Xavier ...Ayo main sama kakak..Aku kangen sekali main sama Adik gemes ini.." ucap Dafa senang. Dafi juga tersenyum pada adik kesayangannya itu.
" Sebentar lagi kalian juga punya Adik lagi lho...sebagai kakak..harus pinter jaga adik dan bantu Mama " kata Yoga.
" Tentu Pa..."Jawab Dafa.
" Adik cewek pa cowok Ma..."tanya Dafi sambil mengelus perut Mamanya.
" Cewek " jawab Yoga cepat.
" Mas..?" tanya Kristy heran
" Saingan Tampan Papa sudah banyak..Yang ini...adik kalian harus cewek biar Mama juga ada saingan cantiknya.."
" Ya ampun Mas...." Kristy pun tertawa geli.
Risa ,Rasti ,Dafa dan Dafi pun ikut tertawa. Juga Xavier. Ia hanya ikutan tertawa walau tak tahu sebabnya. Ia hanya bahagia berkumpul dan tertawa bersama seluruh keluarganya.
.
.
Masalah baru mulai muncul saat Kristy, Risa , Rasti dan Yoga berkumpul membicarakan pekerjaan yang akan di kerjakan Yoga
" Kalau di tempat seperti ini mayoritas petani ..Bekerja di sawah.." kata Rasti
" Tidak boleh. Yoga tidak pernah bekerja di sawah. Ia tak punya pengalaman di bidang itu. Lagian di sawah itu banyak hewan berbahaya nya..kalau ada ular gimana..? Yoga juga tidak pernah kena panas..kulitnya bisa hitam nanti..." ucap Risa yang tidak rela anaknya menjadi petani.
" Kalau jual makanan keliling bagaimana.. Banyak juga yang berdagang dengan membawa gerobak di belakang motornya..bisa jual bakso, es atau jajanan anak anak..." usul Rasti lagi.
" Itu juga tidak boleh.. Masak mantan CEO jadi pedagang jajanan keliling.. Aduh..kepanasan , kehujanan... dapat uang juga pasti cuma sedikit..belum lagi malu nya..." tolak Risa lagi.
Yoga dan Kristy cuma bisa mendesah sambil melihat perdebatan kedua orang tua mereka.
" Kalau peternakan?... Kan tidak panas ..kerjanya di tempat teduh.."
" Itu juga masih tidak boleh..Masak anak setampan Yoga di suruh memberi makan hewan ternak..bukankah itu artinya dia harus mencari rumput, terus memberi makan dan memandikan hewan..membersihkan kotoran hewan..menjijikkan. putraku tidak bisa melakukan hal seperti itu..."
Sekali lagi Yoga dan Kristy mendesah .
" Terus harus kerja apa?" tanya Rasti pada Risa besannya..
" Hem...ituuuu....." Risa masih berpikir. Ia mencari carikan pekerjaan yang cocok untuk anaknya.
__ADS_1