
Yoga akhirnya tiba di Bali bersama keluarganya. Dulu ia sering dolan ke sana saat masih kuliah bersama Romi dan juga teman teman kampusnya..Sehingga sedikit banyak ia sudah tahu tempat itu.
Bali adalah salah satu tempat wisata yang sangat indah pemandangannya. Terkenal dengan kekentalan budayanya, pantai, menyelam ,dan banyak spot spot indah lainnya. Bali bahkan juga terkenal sampai ke dunia. Panorama yang begitu indah dan adat budaya yang di lestarikan oleh warga di sana merupakan daya tarik tersendiri bagi para turis mancanegara.
" Sementara ini kita tinggal di hotel dulu. Aku akan mencari info tempat tempat strategis dan cocok untuk membuka usaha.." kata Yoga
" Yog...sepertinya kita butuh kendaraan di sini.." kata Risa.
" Iya Ma...nanti aku akan cari mobil. Tapi maaf ya ma..mobil bekas...bukan mobil baru yang harganya tinggi.." jawab Yoga yang benar benar mengatur keuangan mereka.
Memang jumlah uang hasil penjualan Kristy banyak. Tapi ia harus berusaha keras memutar uang itu. Bukan untuk hal hal yang boros.
" Iya ..tidak apa apa.." ucap Risa yang mengerti kondisi keuangan mereka. Ia tidak perlu mobil mewah karena di rumahnya dulu sudah terlalu banyak kendaraan sejenis itu cuma jadi pajangan di rumahnya dulu. Yang terpenting ia tidak jalan kaki saja..karena di sana sangat panas. Apalagi dekat pantai..
" Dik...Aku mau keliling dulu ya..kau ikut tidak?" tanya Yoga pada Kristy.
" Aku di sini dulu Mas...Rasanya tubuhku lemas...mual terus..." jawab Kristy yang gejala kehamilannya kambuh lagi. Mual mual dan pusing sepanjang hari.
" Kau istirahat saja dulu kalau begitu. Kalau Nanti makin parah...minta Mama mengantar ke dokter..."
" Iya..dan ...Mas , tolong carikan bakso pedas dan buah markisa segar...Dari tadi aku kok kebayang itu ya.." ucap Kristy.
" Ngidam ya..." tanya Yoga sambil tersenyum. Ia senang bisa merasakan itu juga akhirnya. Memiliki istri hamil yang ngidam, dulu ia tak pernah tau bagaimana kala itu Kristy merasakannya sendirian. Hamil Xavier bahkan hingga melahirkan.
" Hehe..." Kristy tersenyum manis.
" Asal tidak ngidam yang susah susah.." timpal Yoga.
" Bakso pedas nya yang jumbo ya Mas..terus Markisa nya bukan yang di penjual buah...tapi yang masak di pohon " jelas Kristy.
" Aduh Dik...barusan ngomong jangan yang susah..."
" Nanti kalau tidak di turuti...Anak Mas suka ngiler bagaimana.."
" Haduuu\_uh...."
" Ya di\_kalungin timba..." jawab Yoga sambil tertawa. Ia iseng mengerjai istrinya.
Sontak Risa dan cucu cucunya tertawa. Geli dengan candaan keduanya
" Maaaas..." Kristy mencibir dengan bibir mungilnya yang manyun.
" Iya iya sayang..."jawab Yoga kemudian sambil membawa Kristy ke dalam pelukannya.
" Oma...timba itu apa?" tanya Xavier.
" Haduh Xavier ini...Ikut tertawa ga tau artinya..." kata Dafa
" Hihi.." Xavier tersenyum dengan wajah imutnya
" Ya sudah Papa pergi dulu... "
" Ikut Pa.." kata Dafi.
" Yuk.." ajak Yoga. " Dafa jaga Mama dan Oma...kalau ada apa apa..hubungi Papa.."
" Siap Pa..." jawab Dafa cepat . Yoga pun kemudian pergi dengan Dafi.
.
.
.
Yoga pergi dari hotel itu dengan naik taksi. Tujuan pertamanya adalah mencari kendaraan dulu. Mereka menuju ke showroom jual beli kendaraan bekas.
" Dafi..."
" Ya Pa?" tanya Dafi cepat
__ADS_1
" Maaf Ya Dafi. Sejak hidup bersamaku kalian jadi sering berpindah pindah...Tak terhitung sudah berapa kali kalian pindah ke sana kemari ..."
" Tidak apa apa Pa...Yang penting kita tetap bersama...Aku senang...Meski kita sedang mengalami masa sulit begini.. kita tetap berkumpul seperti ini ...Aku dan Dafa juga sepakat...kalau bisa kerja sambilan..kami akan bekerja untuk membantu Papa dan Mama..." ucap Dafi.
Yoga begitu tersentuh dengan ucapan anak tirinya itu. Mereka memang masih SMP tapi pemikirannya dewasa sekali.
" Anak Papa sudah gede ya..Bisa mikir kayak orang dewasa..."
" Kami kan cowok Pa...Apalagi kami sudah besar..."
" Cie...Anak Papa sudah besar..."
" Pa..Nanti sekalian belikan sepeda ya..Jadi kalau sekolah kami bisa pergi sendiri. Aku bisa boncengan dengan Dafa..."
" Iya..." Yoga benar benar kagum pada anaknya itu. Mereka benar benar tidak ingin merepotkan kedua orang tuanya. Mereka mengerti kondisi Mamanya yang hamil, Papanya yang bingung mencari pekerjaan dan juga Omanya yang pasti bakal sibuk membantu momong Xavier kecil yang super aktif itu jika Mamanya teler.
" Kamu bisa naik sepeda motor Kak?"tanya Yoga.
" Bisa.."
" Nanti Papa belikan sepeda motor saja buat kalian. Sementara satu dulu ya untuk berdua.Kalau sudah ada uang lagi Papa belikan satu lagi.." Yoga tidak tega jika kedua anaknya harus menginjak pedal setiap hari. Di bawah terik panas matahari.
" Apa uangnya cukup Pa.." tanya Dafi.yang tidak mau membebani orang tuanya.
" Cukup...Tapi kalian harus hati hati mengendarainya. Kalian kan belum punya SIM.."
" Iya Pa..Terima kasih.." ucap Dafi sambil tersenyum. Yoga pun tersenyum sambil menyentuh kepala anaknya itu dan mengusapnya.
Dafa dan Dafi memang masih SMP tapi postur mereka yang tinggi sudah seperti anak SMA. Mereka lebih cocok membawa sepeda motor . Memang sedikit beresiko tapi itu bisa sedikit mengurangi rasa lelah kedua anaknya jika harus pulang pergi ke sekolah sendiri.
.
.
Yoga membeli sebuah mobil bekas minibus kelas menengah . Kondisi mobil, tahun pembuatan semua sudah di cek.
" Tidak..Sementara pakai nama pemilik sebelumnya saja " kata Yoga. Jika namanya terlacak oleh Romi tentu posisinya bakal di ketahui oleh Papanya lagi.
Pun sama halnya dengan motor untuk Dafi. Ia membelikan sepeda motor matic second...Ia juga tidak membalik nama pemilik motor itu.
" Gapapa kan motor matic cewek Kak? Bukan motor cowok seperti itu.." ucap Yoga sambil menunjuk ke sebuah motor sport Ninja yang juga di pajang di show room itu.
" Sama saja Pa..Mau motor cewek atau cowok..Fungsinya sama..Beda tampilan saja.." jawab Dafi.
" Bagus.."
" Papa kan sudah punya banyak motor sport seperti itu di rumah Surabaya..." ucap Dafi yang ingat di rumah lama mereka dulu yang dekat kampus Yoga , banyak motor sport seperti itu di garasinya. Bahkan yang harganya jauh di atas motor yang dipajang di show room itu.
" Hehe...Sekarang paling semuanya nganggur di sana...Tapi kapan kapan kalau punya lagi aku mau meng\_gonceng Mamamu ah...Sejak menikah belum pernah aku mengajaknya naik di boncengan motorku..Padahal dulu sewaktu kuliah sudah sering bonceng\_in teman kampus.."
Dafi melirik tak senang mendengar cerita Papanya
" Ya ampun Dafi...kalau begini kamu persis seperti Mamamu pas lagi cemburu.."canda Yoga
" Papa sih...pakai ngomongin teman kampus segala.." ucap Dafi sewot yang mengira Yoga pasti punya banyak teman cewek. Ia nampak kesal dengan bibir sedikit di manyun kan.
" Sama persis...cepat sekali cemburu. Padahal teman kampus yang ku maksud itu Bisma..."
" Ih ...Papa ini..." Dafi geregetan ternyata ia sedang dikerjai Yoga.
" Hahaha..." Yoga tertawa terbahak bahak. Dafi benar benar lucu dan menggemaskan sama seperti Mamanya. Ibu dan anak yang sama sama punya ekspresi lucu dan menggemaskan saat di goda. Benar benar buah tidak jauh jauh dari pohonnya.
.
.
Yoga kembali ke hotel setelah membeli bakso pesanan Kristy. Mereka semua makan bersama.
" Jangan banyak banyak sambalnya Dik..nanti perutmu sakit bagaimana.." kata Kristy yang menambah sambal di mangkuk Baksonya.
__ADS_1
" Kan ini yang minta bayi nya Mas.." sangkal Kristy.
" Tapi kan sudah 3 sendok...pedas banget itu.."
" Iya Kris..Jangan banyak banyak.." Risa juga mengingatkan. Akhirnya Kristy menurut pada Suami dan mertuanya.
" Oh iya Mas...Ngidam Ku yang satu lagi mana?...Tadi aku ingin buah markisa masak yang langsung dari pohonnya..."
.
Ya Ampun...aku lupa...Tadi terlalu fokus cari tempat tinggal dan mencari tempat usaha..Juga cari motor dan mobil...
Waduh...gimana ini...marah gak ya kalau ngomong jujur.
.
.
" Tadi Mas cari keliling gak ketemu Dik..Maaf ya..." kata Yoga beralasan.
Kristy langsung menghentikan makannya. Matanya berkaca kaca dengan bibir yang manyun. Kemudian ia segera bangkit dan masuk ke kamarnya.
.
Waduh...gimana nih dia marah...
.
" Yog..."
" Tadi lupa Ma.. " ucap Yoga pelan pada Mamanya.
Risa menepuk dahinya. Ia mengerti bagaimana rasanya saat ngidam namun tidak di turuti. Karena ia juga pernah mengalaminya. Mood ibu hamil itu memang gampang sekali berubah. Juga kadang berubah jadi terlalu peka. Gampang nangis, gampang marah.
" Cepat susul istrimu..."
Yoga buru buru masuk ke kamarnya. Ia melihat Kristy yang menangis tersedu sedu karena keinginannya tidak di turuti.
.
Ya ampun...cuma gara gara markisa ...nangisnya kayak nonton drama melow sad ending...
.
Yoga benar benar tak habis pikir. Sebuah hal kecil dan sepele bisa membuat ibu hamil satu itu nangis bombay.
" Maaf ya sayang..Aku tadi sebenarnya lupa... Habis ..banyak yang kupikirkan...Tapi aku janji , besok akan mencarikannya sampai dapat.." Yoga ikut berbaring di sisi Kristy sambil memeluknya. Ia membelai lembut kepala istrinya yang sedang menangis tersedu sedu itu.
" Benar?"tanya Kristy
" Iyaa...janji sayang..."
" Ingat ya Mas...Buah markisa masak di pohonnya.."
" Iya..."
" Yang warna nya merah.."
" Iya..."
" Terus kalau memetik jangan sampai ketahuan yang punya.."
" Iyaa..Hah?...Lho Dik itu sama saja mencuri kan..."
" Di Bali ini kan terkenal adat membawa pergi wanita yang dicintainya sebelum menikah... Markisa nya juga ya Mas...Bawa pergi satu tanpa di ketahui pemiliknya pohonnya..."
.
Oh My God....Balas dendam ya Dik...Ngidam mu kok sulit benar .. Kalau gini demi menuruti ngidam mu Suami mu bakal di gebukin orang sekampung...😓😓😓
.
.
.
Keesokan harinya..Yoga di temani Dafi berkeliling mencari Markisa seperti yang di idamkan istrinya dengan naik sepeda motornya.
" Ada Pa...Itu ...Tapi...Ada penjaganya..." kata Dafi menunjuk ke sebuah pohon Markisa di depan rumah orang yang berbuah lebat dan menggantung . Banyak yang ranum dan berwarna merah. Namum ada seekor anjing di sana. Dan dari ke\_nampakan nya. Anjing itu sangat tidak bersahabat.
" Ini bukan cuma bakal di gebukin orang sekampung...tapi juga terancam di gigit oleh makhluk tukang menggonggong yang nampak galak itu.."
.
Ya ampun Dek...Ngidam mu membahayakan nyawaku...😰😰😰😰
Dasar anjing...🐶 ngapain sih lo pakai jaga pohon markisa itu...
__ADS_1
.
Umpat Yoga dalam hati