
Sesampainya di Yogja kami naik taksi mampir ke rumah orang tua Raka. Mereka menyambut kami dengan senyum tak seperti saat kemari dulu.
" Silahkan masuk " ucap Jaka menyambut kami.
" Senangnya cucu Oma Opa datang lagi.." ucap Nora senang sambil memeluk kedua cucunya.
" Kami mau ke berkunjung ke makam Mas Raka Ma.." ucap Kristy sesudah mencium tangan Jaka dan Nora.
Aku juga ikut bersalaman dengan mereka. Sebenarnya malas sih bertandang ke rumah mereka. Tapi tetap harus berhubungan baik dengan mereka karena Dafa dan Dafi adalah cucu mereka.
" Kalian ke sana sama Dea saja. Dia juga mau kirim doa ke kakaknya . Kalau kami kami sudah ke sana tadi pagi " kata Nora.
" Iya Ma.." Jawab Kristy
" Dafa dan Dafi di sini saja ya. Nanti kalian sekalian menginap disini " kata Jaka.
" Mereka ikut kami " sahutku cepat. " Dan nanti kami menginap di hotel "
Jaka dan Nora terdiam. Sebenarnya mereka ingin temu kangen dan melepas rindu pada kedua cucunya. Namun mereka tak bisa melawan Yoga.
" Maaf ya Ma Pa.. " ucap Kristy tak enak pada kedua mertuanya. Kedua mertuanya terdiam.
" Ah itu Dea sudah datang... " Nora segera beralih dan menyambut kedatangan putrinya yang baru datang dengan suami dan anaknya.
" Kak Kristy.." ucap seorang wanita cantik berkulit sawo matang bersama seorang pria dan baby sitter yang menggendong seorang bayi kecil.
" Dea.." ucap Kristy sambil memeluk adik iparnya. Sudah cukup lama mereka tidak bertemu.
" Ini suamiku Yoga.. dan itu Dea adik mas Raka dan suaminya Daren " Kristy mengenalkan mereka sesudah berpelukan dengan Dea.
" Halo Kak.." Daren bersalaman dengan Yoga. Yoga menjabat tangannya dan tersenyum.
" Kamu sudah melahirkan dek?" tanya Kristy
" Iya Kak.. ini putriku.. Mimi.. usianya 1 bulan " jawab Dea.
Dafa dan Dafi nampak senang melihat bayi kecil di gendongan baby sitter Dea. Keduanya menyentuh pipi adik sepupu mereka .
" Adik Mimi.." panggil keduanya
" Kris.. ayo kita berangkat sekarang. Selak malam " ucapku saat melirik jam sudah pukul 16.00
" Iya "
" Mau kemana Kak.. biar ku antar " Kata Daren.
" Mau kirim Doa ke Mas Raka.."
__ADS_1
" Ya sudah.. sekalian saja. Aku juga belum ke sana " kata Daren.
" Dafa, Dafi ..ayo.." Aku memanggil keduanya.
Sebenarnya aku bukan ingin bersikap dingin pada mereka. Tapi aku cuma tidak ingin Kristy dan anak anaknya terlalu akrab dengan keluarga Raka. Mengingat sikap dan kata kata kedua orang tua Raka dulu , aku takut jika mereka akan memberi pengaruh pada kedua putraku.
Keduanya lalu segera menghampiriku. Aku mengajak keduanya mengikuti Daren yang menuju ke mobilnya. Dan Kristy juga. Kemudian kami segera pergi ke pemakaman Raka.
15 menit kemudian kami sampai di Lokasi pemakaman. Tiba tiba saja ada perasaan gundah di hatiku. Terlebih saat mengingat sosok terakhir Raka di kecelakaan itu. Bayangan dirinya saat tertabrak, terseret dan terhimpit dengan tubuh hancur dan darah bercucuran membuatku ragu saat hendak melangkah ke pusara nya.
Mendadak aku seperti kehilangan keberanian. Seolah kejadian itu baru terjadi kemarin. Dan bayangan mengerikan itu mulai memenuhi kepalaku. Mengingatkan saat saat awal kematiannya , teror hantu mengerikan berlumuran darah yang mendatangiku di setiap malam ku. Menunjukkan sosok mengerikannya yang berlumuran darah meminta tolong padaku.
' Kakiku tak mau melangkah ke sana.. Aku..Aku masih takut .. Tidak..Aku tak bisa ..Aku tak mampu bertemu Raka .." batinku menjerit pilu.
" Yog.. ?" Kristy heran denganku. Aku tak berkutik dari tempatku berpijak.
Daren yang sudah sampai duluan melambai pada kami. Menunjukkan sebuah makam . Makam Raka yang tinggal beberapa langkah saja dari kami.
" Kau duluan saja Kris.. kakiku kram" Jawabku berusaha tenang menutupi ketakutan ku.
Kristy kemudian melangkah menyusul Daren.
Aku seperti patung beku. Menatap dari kejauhan pusara Raka. Kristy dan Daren yang berjongkok membersihkan makam dan membacakan doa untuknya.
" Papa kenapa ?" tanya Dafa yang melihatku mematung di sana.
Aku tak berkata apapun . Hanya mataku yang nampak berkaca kaca menahan air mataku yang hampir jatuh.
' Apa?... Apa anak ini melihat hantu Papa mereka? '
'' Iya Papa di sana.." jawab Dafa juga.
Orang bilang, anak kecil bisa melihat hantu atau sosok halus penjaga mereka. Benarkah kedua bocah lugu ini bisa melihat sosok Papa mereka.
' Oh tidak..keduanya melihat Raka? hantu Raka?... Apa dia akan menakut nakuti aku lagi.. Dia kan menghantui aku lagi? ...Apa dia akan menuntut balas padaku ..' Aku langsung berpikir yang tidak tidak. Aku paranoid sendiri.
" Papa tersenyum.." ucap Dafi
' Apa..'
" Ayo Pa... kita ke sana. Papa tersenyum pada kita " ucap Dafa sambil menyentuh tanganku.
' Sungguh kah itu..' Aku menatap Kristy dan Daren yang masih berdoa untuk Raka. Tak ada sosok Raka di sana. Apa kedua bocah ini cuma berhalusinasi atau memang benar mereka melihat sosok Raka ?
Dafa dan Dafi memegang tanganku. Dan menuntunku melangkah ke makam Raka. Dan entah mengapa aku bisa mempunyai keberanian untuk berada di sana. Menatap pusaranya. Tempat terakhir peristirahatannya.
' Raka Kurnia ' Nama itu terukir di batu nisannya. Bersama dengan tanggal hari meninggalnya.
Aku terpaku dengan rasa yang bercampur aduk di hatiku. Rasa bersalah dan beribu ribu penyesalan ada di hatiku. Seperti di hadapkan pada kesalahan yang kulakukan dulu dimana aku sempat lari karena keegoisanku. Andai bisa ku ucapkan , aku ingin berteriak dengan sekuat ku dan mengucapkan penyesalan dan permintaan maaf ku.
__ADS_1
Aku tidak ada keinginan membunuhnya, itu karena kecelakaan . Dan meskipun itu karena kecerobohan ku tapi semua yang terjadi itu karena takdir. Takdir dari Tuhan . Dan kita manusia tiada daya sama sekali melawan kehendaknya.
' Maafkan aku Raka..Maaf ' ucapku dalam hati dengan kesungguhan hatiku.
Aku kemudian berdoa untuknya. membacakan doa doa yang baik untuknya.
' Aku menerima takdir ini... Aku mengakui kesalahan dan kebodohan ku ...Aku menyesali perbuatan ku.. Dan aku akan menerima amanat mu... kau menitipkan Kristy padaku.. Kau memilih aku untuk menjaganya dan anak anakmu.. Aku berjanji padamu Raka..Aku akan menjadi suami dan Ayah yang baik untuk mereka... Menjaga dan mendidik mereka .. Seumur hidupku .. untuk mereka ' Aku menyentuh batu nisan Raka dan menaburkan bunga di pusaranya seusai berdoa.
' Semoga kau tenang dan damai di sana Raka. Semoga Tuhan mengampuni semua dosa dosa dan memberikan tempat terbaik untukmu di surga...'
Sesudah itu kami semua pergi meninggalkan tempat peristirahatan Raka dan kembali ke tempat keluarga Raka.
" Mama mama... " panggil Dafa.
" Apa sayang..?"
" Tadi aku melihat Papa Raka di sana.." kata Dafa. Kristy dan Daren menoleh pada Dafa
" Iya.. Aku juga.." kata Dafi pula
" ..." Kristy ternganga.
" Kata orang terkadang anak kecil yang masih suci memang bisa melihat hal yang kasat mata Kak.." Ucap Daren sambil menyetir mobilnya.
" Benarkah?"
" Seperti apa sosoknya.." tanyaku penasaran
" Papa ganteng pakai baju putih.. Dia tersenyum ke aku dan Dafi.. " ucap Dafa.
" Papa Raka tadi juga menyentuh kepala Papa" kata Dafi
" Aku?" tanyaku heran . Dan tiba tiba saja bulu kudukku berdiri.
" Dia tersenyum ke Papa Yoga " ucap keduanya.
Kami semuanya bengong. Aku , Daren dan , Kristy .
" Mungkin itu a\_mong nya Kak Raka... Dia senang melihat Kak Yoga dan Kak Kristy bahagia.." Kata Daren sambil tersenyum.
Aku dan Kristy saling berpandangan. Ya..
mungkin saja itu benar. Raka sudah mengikhlaskan Kristy untukku. Dan dia senang dengan keluarga kami. Semoga saja begitu.
Aku meraih tangan Kristy dan kemudian menggenggamnya.
' Ya..Kristy dan anak anaknya adalah tanggung jawabku. Aku tidak boleh sekedar marah dan mendiamkannya. Bagaimana jadinya seorang istri itu tergantung suaminya. Mungkin masih butuh waktu untuk berproses...Bersabar dengan kekeras\_kepalaan nya tapi aku bisa mengubah Kristy.. Aku akan merubahnya perlahan... '
Aku akan menjadikan rumah tanggaku ini rumah tangga yang indah...
__ADS_1