
" Papa takut.. " ucap Dafa sambil menyembunyikan mukanya sambil memeluk kakiku saat melewati zona predator.
Tepat di kanan kiri kami kandang buatan harimau . Hanya terhalang sebuah kaca sehingga para harimau itu nampak nyata begitu dekat. Mereka nampak agresif melihat kami para manusia seolah siap memangsa kami.
Dafi juga sama. Ia memeluk Kristy.
" Ini lo kaca tebal sayang .. Mereka tidak bisa menyentuh kita " Kristy memberi pengertian kepada kedua putranya.
Ia mengetuk kaca itu dan harimau nampak siap menerkam. Namun serangannya gagal. Mereka cuma bisa mencakar cakar kaca itu saja.
" Iya kan.. " kata Kristy.
Dafa dan Dafi mengangguk angguk.
" Mau jalan sendiri apa di gendong Papa?" tanyaku pada Dafa yang nampak masih enggan beranjak.
" Gendong " jawab Dafa. Aku kemudian mengangkat tubuh Dafa tapi bukan gendong di dada tapi aku menggendongnya di bahuku.
" Hahaha.." Dafa nampak ceria kembali. Ia tertawa.
" Hati hati Yog.." ucap Kristy yang takut putranya terjatuh.
" Pegangan lo ya.. " ucapku sambil memegangi tubuh Dafa dan Dafa berpegang pula di kepalaku.
" Aku juga mau Ma..." Dafi pun tak mau kalah.
" Mama tidak bisa.." kata Kristy. Dafi nampak kecewa.
" Dafa gantian sama Dafi ya.." ucapku
" Nggak mau.." ucapnya sambil menjulurkan sedikit lidahnya seperti mengejek Dafi.
" Dafi sama Om Andi saja ya.." ucap Andi seraya langsung mengangkat Dafi ke atas bahunya sama seperti Dafa.
" Hore..tinggi.. " ucapnya senang.
" Pegang kepala Om Andi Dafi..Ah bukan ..pegang rambutnya saja. Jambak kuat kuat.. " ucap Desi usil.
" Jangan dong.." ucap Andi saat Dafi mulai menarik narik rambutnya menuruti ucapan Desi sambil tertawa tawa.
" Hihihi " Desi turut tertawa sambil membantu memegang Dafi.
Aku menyentil Kristy dan menunjuk kepada Andi Desi dan Dafi yang nampak bercanda tawa dan gembira.
" Sepertinya mereka cocok " ucapku pelan .
Kristy melihat Desi sahabatnya yang bisa tersenyum lepas. Memang Desi orangnya ceria , dan supel jadi gampang akrab dengan siapa saja. Namun untuk dekat dengan lawan jenis , ia termasuk pemilih. Tapi dengan Andi terlihat sedikit beda.
__ADS_1
" Iya.. " jawab Kristy kemudian.
>>>>
Kami kemudian berlanjut berjalan ke satwa berikutnya. Namun satwa yang satu ini sangat membuatku kesal saat melihatnya. yakni seekor singa jantan
Kebetulan saat itu petugas penjaga kandang sedang bersiap memberi makan satwa liar itu di dekat pintu pagar besi .
Dan singa itu mengeluarkan suara Auman nya dengan keras dan memekikkan telinga agar singa singa lain menyingkir . Dan suara menggelegar menakutkan itu cukup menciutkan nyaliku.
ASEM ... Padahal dia di dalam kerangkeng. tapi suaranya bisa membuat aku bergidik.
Aku berdiri mematung bersama dengan Andi di depan kandang tersebut. Ya , kami terdiam sambil menatap seekor singa jantan besar yang juga menatap kami.
Tatapan dingin , tajam , tak kenal takut, beringas , siap memangsa seolah menantang kami . Dan itu sungguh membuat aku teringat pada seseorang.
" Kak Romi " ucapku bersamaan dengan Andi. Dan kamipun sama sama menoleh
" Kau juga berpikir kalau binatang itu mirip dia?" tanyaku pada Andi .
"Banget " jawab Andi sambil mengangguk .
"Tatapan tajam menusuk , liar, garang, aura membunuh dan suaranya yang seperti petir menggelegar.. tak ada beda dengan Raja Singa versi manusianya " ucap Andi
" Cocok cocok" ucapku yang sependapat dengannya
" Hahaha.. " Dan kemudian kami pun tertawa bersama sama.
\* Sementara itu Romi yang berada di Jakarta sana saat sedang enak enak makan tergigit lidahnya.
" Sepertinya ada yang sedang nge\_rasani aku " ucapnya 😓
>>>>
Kami melanjutkan mencoba wahana wahana permainan bersama. Mulai komidi putar, wahana kereta api mini, bom bom car dan lain lain.
Aku dan Kristy menemani Dafa dan Dafi mencoba permainan yang cocok untuk mereka. Sedangkan wahana yang ekstrim cuma aku, Andi dan Desi yang mencobanya. Kristy dan anak anak cuma menonton dan menunggu di bawah saja.
Saat kami naik wahana tsunami Dafa dan Dafi cuma tertawa tawa saat kami heboh berteriak.
" Waaaaa... " teriak ku heboh saat permainan ekstrim itu di mulai.
Putaran kuat dan kencang itu memberikan keseruan tersendiri yang membuat perutku terasa geli yang teramat sangat dan mual. Rasanya seperti di aduk aduk dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Begitu turun aku merasa pusing dan langsung muntah muntah.
" Ah gitu aja mabuk.. cemen cemen... " ejek Desi . Ia dan Andi tampak biasa saja setelah mencoba wahana itu. Mereka menertawakan ku.
" Ternyata kau juga punya kelemahan Yog.." kata Andi.
" hihihi.." Mereka menertawakan ku.
__ADS_1
Ah. terserah deh.. Suka suka mereka saja
>>>>
Sesudah puas bersenang senang di taman hiburan itu kami menuju ke hotel tempat yang di boking oleh Andi tadi.
Aku sudah makan ,mandi dan berganti baju untuk pergi ke tempat meeting bersama Andi di ballroom hotel tersebut.
" Kau nanti tidur saja duluan sama anak anak Kris.. Aku paling malam banget baliknya. Biasanya habis meeting mereka ajak minum minum di bar " aku memberitahu Kristy.
" Jam berapa?" tanya Kristy
" Aku tidak tahu Kris..Ku usahakan secepatnya ya... Aku pergi dulu ya" ucapku seraya mencium pipi Kristy dan Anak anak. Kemudian sesudah itu aku segera pergi ke ruang pertemuan. Dan tentunya bersama dengan Andi.
" Dafa Dafi kalian gosok gigi dulu, cuci tangan dan kaki lalu tidur ya.." ucap Kristy pada anak anaknya.
" Iya ma.." Kedua anak itu segera melakukan perintah ibunya. Dan sesudah itu mereka bersiap siap tidur. Kristy membacakan sebuah cerita dari buku dongeng sebagai penghantar tidur mereka.
Tak lama kemudian Dafa dan Dafi sudah terlelap ke alam mimpi indah mereka.
Kristy tersenyum dan kemudian mengambil mantel hitam panjangnya. Dan melangkah keluar kamar. Tak lupa ia mengunci kamarnya. Dan kemudian berjalan turun menuju ke ball room hotel tempat pertemuan Yoga dengan rekan bisnisnya. Sebenarnya dia penasaran , apa yang dilakukan Yoga sampai ia harus pulang larut malam seperti katanya tadi.
Perlahan ia membuka pintu ruang pertemuan itu dan mengintipnya sedikit.
Saat itu ia melihat Yoga sedang melakukan presentasi di depan banyak orang yang berpakaian rapi seperti orang kantoran pada umumnya.
Andi menyiapkan berkas berkasnya dan memunculkannya di layar proyeksi yang di tonton oleh banyak orang yang terdiri sebagian pria dan sebagian wanita.
Yoga nampak tenang menjelaskan progam yang di tampilkan Andi itu. Ia tidak kelihatan gugup sama sekali.
' Gagah , ganteng , hebat dan keren ' ia memuji muji dan mengagumi suaminya sendiri dalam hati. Ia pun tersenyum manis pada Yoga yang tidak mengetahui keberadaannya karena sibuk dengan pekerjaannya.
Kristy kembali ke kamar dan kemudian melepas mantelnya. Ia berganti dengan piyama manis setelan celana sepaha dan atasan lengan pendek. Kemudian iapun merebahkan diri di ranjang dan tidur.
Tengah malam Kristy terbangun. Ia meraba raba sebelah ranjangnya yang gelap karena lampunya sudah ia padamkan sebelum tidur tadi , ia mencari cari sosok Yoga yang beberapa hari ini selalu tidur disisinya dan memeluknya. Namun ia kecewa ternyata Yoga tak ada di sana.
" Masih belum pulang juga?" ucapnya bertanya tanya. Ia melirik jam dinding yang menunjukkan sudah pukul 1 dini hari.
Rasa was\_was dan curiga mulai menyelubungi hatinya. Kenapa belum pulang, Apa Yoga sedang asik bersama salah satu klien wanita di sana tadi?
Membayangkan itu membuat hatinya tidak tenang. Hingga akhirnya dia nekat bangun, menyambar mantelnya dan pergi mencari Yoga.
Ia mencari ke ballroom tadi. Namun ternyata di sana sudah sepi dan lampu juga sudah di padamkan.
Kristy teringat ucapan Yoga tadi kalau sehabis meeting mereka biasa ke bar untuk minum minum bersama.
Kristy langsung mencari cari lokasi bar itu dengan bertanya pada resepsionis di lobi room. Mereka menunjukkan arah arah bar itu padanya.
Dan benar , ia melihat dari kejauhan sosok suaminya ada di sana bersama Andi, beberapa pria dan juga beberapa wanita pula sedang ngobrol dan minum minum bersama. Mereka nampak asik bersenda gurau dengan akrabnya.
__ADS_1
' Pantes tidak mau cepat balik ....ternyata bersama wanita. .' batinnya dengan perasaan kesal melangkah menuju ke tempat Yoga.