
Bangun tidur Dafi sudah pergi dengan Mamanya berbelanja untuk kebutuhan membuka kembali warung yang akan di rubah menjadi restoran itu . Mereka yang sudah berpengalaman dengan usaha restoran sejak dulu itu menyiapkan stok bumbu dan bahan bahan yang akan mereka gunakan untuk dagangan mereka setelah belanja peralatan kemarin.
Mischa bangun kesiangan dan langsung menuju ke dapur. Ia heran kenapa tidak ada makanan yang tersaji di meja makan sama sekali. Hanya nasi yang sudah matang di penanak nasi. Padahal biasanya di rumahnya di Bali semua sudah di siapkan pembantu . Begitu bangun dan selesai mandi ia langsung tinggal makan.
Saat itu Cinta juga baru bangun tidur dan hendak mandi.
" Cinta .. sarapan nya mana?" tanya Mischa pada Cinta.
" Gak tau Kak... Aku juga baru bangun. Coba kakak cari di kulkas " kata Cinta seraya pergi ke kamar mandi .
Mischa membuka kulkas dan menemukan banyak stok mentah mulai dari telur ,daging , ikan dan fillet beku juga beberapa Frozen food. Bahkan sayur pun juga ada.
" Masak aku harus masak sendiri? " tanya Mischa yang ogah\_ogahan menyentuh bahan makanan yang masih beku itu. Ia tak biasa memasak sendiri . Belum lagi bau amisnya .
" Kuku kuku cantikku ini bisa patah nanti.. padahal aku menghabiskan biaya yang sangat mahal di salon... " gerutunya.
Mischa lalu menunggu Cinta selesai mandi dan berganti baju. Setelah itu ia mengajak Cinta pergi keluar untuk mencari makanan di luar. Ia enggan masak. Ia memilih membeli makanan di sebuah restoran mahal di kota itu. Mereka pergi dengan naik taksi karena mobilnya di pakai Dafi dan Kristy.
Ia dan Cinta menikmati sarapan di sana meski harus merogoh kocek yang dalam. Mischa memiliki banyak uang di rekeningnya sendiri pemberian orang tuanya. Yang juga jika ia bilang butuh uang Mamanya akan segera memberikannya pula. Richa sangat memanjakan anaknya itu.
" C i n...nanti setelah ini kita ke dealer mobil ya... Aku mau beli kendaraan buat aku sendiri. Gak enak banget gak punya kendaraan di sini..." kata Mischa.
" Iya..." Cinta cuma mengangguk. Di ajak kemanapun oleh kakak sepupunya itu mau karena kakaknya itu berjanji akan membelikannya banyak Snack.
Mischa memilih sebuah mobil mewah Alpha\*d hitam dengan mobil terbaru. Ia menunggu di sana membereskan administrasinya.
" Cash?" tanya pegawai dealer tersebut .
" Iya....tapi transfer..." Mischa membayar kontan mobil itu . Padahal mobil itu termasuk jenis mobil yang mahal , namun ia mampu membelinya langsung.
" Orang kaya..." bisik pegawai pegawai tersebut kasak kusuk dengan rekan sesama pegawainya.
Mischa tersenyum saat samar samar mendengar nya. Dan setelah semua beres ia pun pergi dengan langsung mengendarainya
.
.
.
" Ma... berhenti sebentar " kata Dafi saat melihat seseorang di pinggir jalan sedang menuntun sepeda motor nya.
" Siapa ?" tanya Kristy yang saat itu sedang mengemudi dan melihat orang yang di pandangi putranya. Seorang gadis dengan sepeda motor nya.
" Temanku Ma... sebentar..." Dafi turun dan menghampiri gadis tersebut.
" Motor kamu kenapa, Aleena ?" tanya Dafi saat melihat Aleena menuntun motor matic usang tuanya.
" Eh ...kamu Dafi .. Kena paku ini Fi... Bocor... Mau aku bawa ke bengkel ..."
" Bengkelnya jauh kan...Kamu tidak terlambat kerja?" tanya Dafi yang tau Aleena kerja jadi pelayan toko di toko furniture dan elektro.
" Mau bagaimana lagi Fi... keadaan seperti ini...aku harus menambal bal dulu..baru ke tempat kerja... "
" Sudah bilang majikan mu?" tanya Dafi.
" Sudah...Yah paling potong gaji ..tapi aku boleh membetulkan motor ku dulu katanya tadi "
" Sebentar.."
Dafi sesaat kembali ke mobil Mamanya.
" Ma... Mama pulang duluan saja...Aku mau membantu temanku dulu..." kata Dafi pada Kristy. Kristy mengangguk.
Ia melihat putranya yang kemudian menuntun motor teman wanitanya itu di ikuti gadis itu. Dafi mau membantu temannya, ia tersenyum senang dengan kebaikan hati putranya itu . Mau menolong temannya. Namun ia bisa menangkap sesuatu yang lain pada putranya itu. Terlebih saat mereka tertawa bersama.
Naluri seorang itu begitu tajam. Ia bisa melihat dari pancaran mata keduanya kalau di antara mereka ada sesuatu yang janggal. Kristy yakin itu bukan rasa seperti teman biasa. Dari cara keduanya bertatapan , mereka seperti saling menyukai.
__ADS_1
.
.
*Tuh kan Mas Yoga.... Aku tidak setuju jodoh jodoh\_an seperti ini..
Bukan aku tidak suka Mischa ..Mischa itu anak yang baik ..
Tapi alangkah baiknya jika kita membiarkan anak kita mencari jodohnya sendiri ..
Andai kau melihat ini Mas Yoga ... putra mu dengan anak gadis lain .. Kau pasti juga tidak akan menjodohkan nya*...
.
.
Kristy sebenarnya tidak begitu suka dengan perjodohan karena itu seperti memaksakan anak anak mereka pada pilihan orang tuanya. Apalagi dia sudah pernah merasakan kepahitan saat Yoga di jodohkan dengan wanita lain...Ia heran kenapa Yoga malah menjodohkan anak mereka dengan putra putri sahabatnya. Ia lebih mendukung kebebasan anak dalam menentukan siapa pendamping hidupnya kelak.
.
.
Kristy melajukan mobilnya meninggalkan putranya dengan gadis yang tidak di kenalnya itu. Yang ia tahu , Dafi tampak menyukainya. Itu saja...
.
.
.
Pemandangan itu juga di lihat oleh Mischa yang kebetulan lewat situ karena hendak pulang ke rumah barunya.
' Sepertinya....dia bukan lawan yang mudah .' batinnya kesal.
" Gadis desa sialan....mau jadi P E L A K O R kamu? " ucapnya geram sambil mengepalkan tangannya saat melihat Dafi dan Aleena mendorong motor itu menuju ke bengkel dengan saling bercanda tawa.
.
.
.
Dafi sampai di rumah diantarkan Aleena dengan sepeda motor nya yang sudah selesai di perbaiki.
" Makasih ya.." kata Dafi.
" Aku yang makasih Fi.." kata Aleena.
" Gak Fi...mau langsung ke toko.."
" Oke..hati hati ya...kapan kapan mampir ke sini...Aku akan mentraktir mu kalau restoran ku sudah buka.."
" Sip...makasih Fi..." Sesudah itu Aleena tancap gas dan pergi.
" Hem...enak ya...Pergi pagi pagi buta cuman buat ketemu selingkuhan ya.." ucap Mischa seraya menghampiri Dafi.
" Apaan sih ?" tanya Dafi tak senang. " Kalau gak tau jangan asal ngomong ya..."
" Ingat kamu sudah punya tunangan..." kata Mischa.
" Siapa juga yang lupa?" sahut Dafi . " Dia cuma temanku.. "
" C i h ... Teman tapi mesra ??" timpal Mischa
" Bisa gak sih kamu gak gini.. Belum juga jadi istri sudah posesif dan cemburuan...Apa kau tidak bisa percaya sedikitpun padaku ?" tanya Dafi.
" Posesif?? Cemburuan ??"tanya Mischa balik.
Saat itu Kristy tiba. Ia baru dari rumah dan hendak ke depan. Ia sesaat melihat keduanya yang nampak sedang bertengkar.
" Bicara di dalam...Apa kalian tidak malu ribut di luar.. Ini desa..banyak orang melihat kalian.." kata Kristy mengingatkan keduanya.
Dafi yang malu di bilang seperti itu segera masuk ke dalam rumah. Mischa mengikutinya. Dafi tahu, di desa itu cepat sekali gosip menyebar . Dari mulut ke mulut dan akhirnya seluruh warga desa akan mengetahuinya. Dan ia tak menginginkan hal itu.
" Aku melihatmu tadi..dengan gadis itu..Kalian tampak mesra.."
" Aku cuma membantunya...Aku tidak ada hubungan apa apa dengannya.. Aku tidak pergi pagi pagi menemuinya..Aku mengantar Mama belanja..Besok restoran kami akan mulai di buka .." jelas Dafi. " Tadi aku tak sengaja melihat dia di jalan... lalu aku membantunya. Itu saja.."
__ADS_1
Mischa terdiam . Ia menatap Dafi yang nampak jujur dengan kata katanya. Hingga akhirnya ia pun mengalah. Tak mau ribut lagi dengannya.
" Kamu darimana tadi... Bukannya kamu masih tidur saat aku pergi tadi.."
" Aku pergi mencari sarapan...Di rumah tidak makanan..."
" Bukannya di kulkas ada banyak bahan makanan?"
" Aku tidak bisa masak " jawab Mischa cepat.
Dafi menghela nafas panjang. Ia tahu Mischa dari kecil memang hidup enak. Ia hidup dalam keadaan serba punya. Tentu ia tak pernah memasak. Di rumahnya saja pembantunya ada begitu banyak.
" Sini.." Dafi meraih tangan Mischa dan mengajaknya menuju ke dapur. Ia mengambil celemek untuk dirinya dan Mischa.
" Dafi...aku tidak bisa masak..."
" Kamu harus belajar... Aku tidak mau punya istri tidak bisa masak...Mau di kasih makan apa anak anak kita nanti ?"
Mischa bengong dengan muka malu malunya saat Dafi menyebut kata 'anak kita'.
.
.
*Anak?.......Anakku dan Dafi...hihi...Pasti mereka lucu lucu...Kalau menurun dari Dafi ....dia akan sangat tampan sekali..😍*
.
.
Mischa berkhayal membayangkan anak mereka.
' C T I K '
Dafi menjentikkan jarinya membuyarkan lamunan Mischa.
" Aku akan mengajarimu memasak... Perhatikan dengan baik...Kamu harus bisa memasak...Aku tidak mau kalau kamu cuma bergantung dengan Mama ku.. Ingat Mama ku bukan pembantu...Dia tidak boleh memasak kalau ada menantunya di sini..."
Mischa mengangguk angguk. Ia begitu senang mendengar ucapan Dafi itu. Ia memperhatikan Dafi yang mengajarinya memasak. Mulai masakan simpel seperti membuat Ayam lapis telur dan sayur sup. Juga membuat tumisan sayur.
" Bagaimana ?" tanya Dafi saat Mischa mencicipi masakan yang di buatnya.
" Enak Fi..." jawab Mischa. Meski cuma masakan sederhana, tapi masakan Dafi memang lezat.
Dafi tersenyum. " Kau bisa mulai belajar membuatnya besok...aku menantikan hasil masakan mu.." kata Dafi sambil tersenyum.
Rasanya senang sekali ia mendapat perlakuan manis itu dari Dafi.
" Kamu pintar masak Dafi...Tapi aku juga punya keahlian hebat..."
" Apa?" tanya Dafi
" Kamu pintar memanjakan lidahku... Tapi aku pintar memanjakan mu... " Kata Mischa seraya mendekati Dafi dan duduk di meja di depan Dafi.
Dafi membuka matanya lebar lebar saat Mischa memasang pose seksi menggodanya. Malah ia sedikit membuka bajunya sehingga terlihatlah belahan dada nya yang putih , seksi dan montok itu. Ia tersenyum menggoda dengan tatapan tajamnya sambil menarikan jari lentiknya seperti menyuruh Dafi mendekat.
Dafi seorang pria normal . Melihat itu hasratnya pun mulai timbul. Reflek , tubuhnya bangkit dan mulai mendekati Mischa. Ia mendekati Mischa yang kemudian menyandarkan kedua tangannya di leher Dafi dan memberikan sentuhan sentuhan kecil yang membuat Dafi semakin ingin menyentuh gadis molek di depan matanya itu.
" Dafi sayang... Aku ingin merasakan sentuhan bibir manis mu itu..." Mischa berbisik pelan di telinga Dafi dengan sedikit menyentuhkan bibirnya di telinga Dafi.
Dafi tak bisa lagi menguasai dirinya. Ucapan dan sentuhan kecil itu kian menaikkan hasratnya , hingga ia kemudian segera melahap bibir ranum Mischa itu dengan segera. Mengecupnya lembut, menyatukan kedua bibir mereka dan sekali kali menyesap bergantian bibir atas dan bawahnya. Ia menciumnya dengan penuh nafsu.
.
.
*Ah...sial... Bibir Mischa seperti candu..Aku tidak ingin berhenti menciumnya...Aku ingin terus menciumnya*...
.
.
Pikiran pikiran kotor Dafi mulai menutupi logikanya.. Bayangan saat tubuh keduanya menyatu , berbagi rasa, berbagi hasrat dan saling memuaskan....Semua kian tak terkendali... Ia hanya ingin menuntaskan saja hasrat birahinya .. Terlebih saat ia merasakan miliknya sudah bangun sempurna...Ia hanya ingin menyalurkan semuanya saat ini juga..
__ADS_1