
" Yoga... " Risa langsung memeluk putranya begitu ia sampai di ruang rawat Yoga. " Mama senang sekali kau sudah sadar "
Yoga terdiam. Ia tampak biasa saja melihat kedatangan kedua orang tuanya yang memeluknya bergantian . Bahkan wajahnya nampak dongkol.
" Kau kenapa Yog ?" tanya Guntoro yang heran dengan sikap putra nya. Karena baru kali ini mereka mendapat sambutan tak menyenangkan dari putranya.
" Bisa ya Papa tanya kenapa ..." ucap Yoga dingin .
" Memangnya kenapa ?" tanya Guntoro balik.
" Papa memisahkan aku dan Kristy tidak merasa bersalah sama sekali ya.."
" Lagi lagi wanita itu.."
" Dia itu istriku. Aku sudah menikah dengannya sah secara agama dan hukum walaupun tanpa resepsi . Kenapa kalian tidak bisa sedikitpun menghargai pilihanku . Aku sudah bahagia bersama nya dan anak anak .. kenapa Papa dan Mama malah mengusirnya.. Dan kalian tidak merasa bersalah sedikitpun.. "
Yoga mengetahui semuanya dari cerita Romi. Ia bilang saat dirinya pergi , Papanya mengusir Kristy dan menyuruhnya meninggalkan semua pemberian Yoga karena itu semua berasal dari uang Ayahnya. Bahkan sampai cincin kawinnya pun di tinggalkan oleh Kristy.
" Alah...Lupakan wanita tak penting itu... Kau sudah cukup bersenang senang dengannya bukan.. Bukankah sampah itu habis manis harus di buang?" ucap Guntoro.
Yoga langsung naik pitam mendengar Papanya merendahkan istrinya. Ia benar benar tidak rela .
Ia yang masih kesal berpisah dengan Kristy gara gara Papanya sekarang malah di tambah kesal lagi dengan sikap ketus Papanya yang menyamakan Kristy dengan sampah .
Bagai luka terbuka yang di siram dengan air garam.. Belum sembuh sakit hatinya di tambah sakit lagi . Emosinya pun tersulut.
Ia pun memberanikan diri melawan Papanya dan membalas ucapan Papanya dengan kasar.
"Sampah ?... apa Papa tidak bisa berkaca.. siapa manusia sampah di sini.. "
Ucapan Yoga itu membuahkan tamparan keras di wajahnya dari Guntoro.
" Papa! Jangan menyakiti Yoga...Yoga baru saja sadar .." Kata Risa cepat yang hafal betul dengan kebiasaan suaminya.
Ia pasti akan menghajar Yoga lagi untuk melampiaskan amarahnya . Ia takkan peduli meski itu anaknya sendiri.
" Anak tidak tahu di untung.. Sudah di beri hidup enak berani menentang orang tua yang banting tulang menghidupi mu " ucap Guntoro kesal.
" Kalau aku bisa memilih orang tuaku..aku tidak akan memilih kalian menjadi orang tuaku.. Orang tua yang selalu sibuk dengan kerjaannya , mengabaikan anaknya , sibuk menumpuk harta padahal kalian sudah punya semuanya. Harta kalian sudah berlimpah , dimakan tujuh turunan pun tidak akan habis . Tapi kalian masih juga gila harta .... Ulang tahun anaknya saja di lupakan bahkan anak sendiri hampir mati kalian tidak pernah ada di sini menunggu dan menjenguknya . Apa kalian pantas di sebut orang tua ?!"
Guntoro yang emosi mendengar ucapan Yoga itu mengangkat krah baju Yoga dan mengangkat tubuhnya.
" Jangan Tuan Besar ..." Romi hendak mencegahnya namun tak keburu. Guntoro sudah menghempaskan Yoga dengan keras ke lantai. Bahkan tiang penyangga infusnya ikut terjatuh.
" Anak kurang ajar!!" ucap Guntoro keras seraya hendak memukul Yoga lagi.
__ADS_1
" Jangan Pa..." Risa segera menghalangi Guntoro yang akan menghajar Yoga lagi.
Romi pun turut memegang kuat kuat tubuh Guntoro agar tidak menghajar Yoga . Sebab jika di biarkan Yoga pasti akan menjadi bulan bulanan Guntoro tanpa peduli ia masih sakit.
" Beraninya melawan orang tua yang mati matian membesarkan dan menjaga mu "
" Menjaga ku..Hahaha.. Papa bukan menjaga ku...tapi mengekang ku.. Memaksakan kehendak mu... "
" Diam Yoga.." Romi menyuruh Yoga untuk menutup mulut agar kemarahan Guntoro tidak kian menjadi jadi.
" Bocah ini...semakin di biarkan semakin berani.."Guntoro kian geram. "Ayo sini kau Anak tidak tahu diri ..Lawan Aku..."
" Huh...Sayangnya saat ini aku tidak bisa Pa.." Yoga menjawab dengan nada meremehkan.
Yoga berusaha bangkit . Ia kemudian menyeret kedua kakinya untuk menuju ke tempat tidurnya lagi .Dan pemandangan itu begitu mengejutkan Risa dan Guntoro.
" Yog..kakimu kenapa ?" tanya Mamanya yang begitu shock melihat anaknya seperti itu.
" Memangnya Mama mau tau ?" tanya Yoga
"Bukankah kalian tak peduli tentang apapun yang terjadi padaku.. Kalian tak punya waktu sedikitpun untukku...Bahkan aku matipun kalian pasti masih sibuk mencari uang.."
Ucapan Yoga itu begitu menyesakkan dada keduanya. Mereka seperti di tampar keras oleh ucapan Yoga itu. Terutama Risa.. Nalurinya sebagai seorang ibu menjerit. Ia sungguh bersedih dengan apa yang menimpa putranya.
Sejak kecil dia sering menitipkan Yoga pada pembantunya . Ia tak bisa mengajak Yoga ikut bersama mereka karena Yoga harus bersekolah.
Dari dulu Yoga diam tak banyak protes karena itu ia pikir Yoga tak keberatan tapi ternyata Yoga memendam semua nya. Dan kini saat Yoga menumpahkan semuanya . Hatinya begitu sedih. Ternyata selama ini Yoga menahan semua kesakitan dan kekecewaan yang dirasakannya.
"Yoga..." Risa berlari menghampiri putranya . Ia menangis sambil memeluk Yoga erat erat . Beribu penyesalan menumpuk di hatinya. Kenapa ia sering mengabaikan putra semata wayangnya itu.
" Kaki Yoga kenapa Romi ?" tanya Guntoro pada Romi.
' Sekarang baru mau tahu... terlambat sekali Tuan Besar.. Anakmu sudah sakit hati dan kecewa pada kalian.. '
" Lebih baik Tuan Besar tanyakan langsung pada Dokternya saja " jawab Romi.
Guntoro langsung pergi meninggalkan ruang rawat Yoga di ikuti oleh Romi. Sedang di dalam Risa memeluk putranya yang juga ikut menumpahkan kesedihannya di pelukan Mamanya.
.
.
.
Yoga yang sudah tenang kembali berbaring di tempat tidurnya di temani Risa.
" Maafkan Mama ya Yog... Habis bisnis di butik Mama berkembang pesat . Banyak orderan dari pejabat pejabat kelas atas . Mama jadi terlalu sibuk sampai melupakanmu..." ucap Risa.
" ..."
__ADS_1
Yoga yang masih kesal diam saja. Ia tahu Mamanya itu memang sangat menyayanginya. Tapi ia masih kesal karena selama 9 bulan ia koma kedua orang tuanya sama sekali tak menjenguknya.
Itu sudah menunjukkan kalau dia lebih peduli pada bisnisnya daripada anaknya. Dan itu yang sangat mengecewakan hatinya.
Selama ini ia masih bisa merasa fine fine saja saat ia sama sama sibuk mengurus perusahaan di Surabaya.
Padahal ia dan Kristy dulu juga sama sama sibuk di pekerjaannya. Tapi waktu untuk bersama keluarga selalu ada. Kenapa orang tuanya tidak bisa seperti itu.
" Makanya Mama menyuruhmu cepat menikah agar ada yang mengurus mu. Juga sekaligus meneruskan garis keturunan kita "
" Aku sudah menikah "
" Tapi kan Mama tidak tahu... kau juga tidak bilang.."
" Karena kalau aku bilang Mama dan Papa tidak akan setuju. Kalian pasti akan menentangnya seperti ini.." sahut Yoga.
" Habis...wanita itu janda Yog.. dan dia punya 2 anak..dan latar belakangnya bukan orang mampu... dan lagi ia pernah berselisih dengan Papamu.. "
Yoga terdiam...
" Kami akan mencarikan pengganti yang baik untukmu...agar keturunan kita tidak berhenti sampai di sini..."
" Kalau bukan Kristy aku tidak mau.. Dan lagi Mama sudah membuang calon cucu Mama waktu itu... "
" Ha..?!"
" Saat Mama dan Papa mengusir Kristy , waktu itu dia sedang hamil.."
" Astaga.." Risa ternganga.
" Aku ini sulit punya anak Ma ..Aku hampir putus asa.. Kukira aku mandul.. Aku berobat selama setahun lebih agar aku bisa punya keturunan.. Tapi begitu istriku hamil Mama dan Papa malah mengusirnya...Kalian mengusir anakku.."
" Ya Tuhan... " Risa tak sanggup berkata kata. Cucu yang selama ini ia idamkan malah ia sia siakan . Ia malah mencampakkannya sendiri.
" Andai saja Mama tahu... Mama tak akan melakukannya Yog. Kau tahu kan Mama sangat ingin menimang cucu . Dari dulu Mama mengidamkan nya . makanya Mama selalu ingin menjodohkan mu.." ucap Risa penuh penyesalan
" Apa Mama mau menerima cucu dari Kristy.. dia bukan wanita kelas atas..dan dia janda.." tanya Yoga yang penasaran dengan Pendapat Mama nya tentang Kristy.
" Dia kan cucu Mama...Darah daging mu.. anak kandungmu Yog... Tentu Mama akan menerimanya.." Risa mengucap nya dengan senyum.
Betapa lega hati Yoga mendengar ucapan Mamanya . Ternyata mamanya tak sejahat yang ia kira. Ia masih punya sedikit hati nurani. Masih mau mengakui keturunannya. Itu artinya ia bisa menerima Kristy.
Dan itu membuat hatinya yang tadinya sekeras es batu ..kini perlahan mulai mencair . Ia bisa memaafkan Mamanya....
" Tapi kalau Papamu...Mama tidak tahu.." ucap Risa dengan wajah sedih.
__ADS_1