
Dafi mematung dengan Aleena. Mereka benar benar terlalu malu untuk segera memulainya.
π΅πΆπΆπΆπ΅
Mereka di kejutkan oleh suara dering hp Dafi . Dafi buru-buru mengambil hpnya. Nama Dafa tertera di layar hpnya.
" Halo Dafa..." Dafi segera mengangkat telpon dari Dafa itu. Namun suara Dafa malah mengejutkan nya. Dafi mendadak semakin memerah mendengar suara di panggilan tersebut. Sontak Dafi melempar hpnya hingga berada di dekat Aleena.
Dafi menutup mukanya yang seperti kepiting π¦ rebus itu. Aleena yang merasa aneh mengambil hp Dafi dan mendengar telpon dari Dafa itu.
' Aa\_ahh...Ah ..ah...ah... Terus F a....aah\_hhh em\_mh...' Kini giliran Aleena yang seperti kepiting rebus mendengar itu. Ia yakin itu suara Mischa. Mischa memanggil manggil Dafa sambil mendesah . Seolah ia seperti orang yang sedang melakukan aktifitas intim dengan pasangannya.
" Itu suara Mischa dan Dafa?" tanya Aleena
Dafi yang malu segera mengambil hpnya lagi dan mengeraskan dengan memakai speaker. Ia sempat heran dengan sikap Mischa yang tiba tiba memutuskan pertunangan mereka tanpa sebab.
" Aku bukan perawan Lagi Dafi. Aku sudah di jebol orang " bisik Mischa saat Dafi bersikeras tak ingin melepasnya.
Bukan perawan?..Dafi shock.
Dafi tahu Mischa memang gadis agresif dan pintar menggodanya. Namun jika ia menganut paham hidup bebas, itu sulit di terimanya. Bukan karena kehilangan perawan nya saja. Namun ia bekas di sentuh siapa? Berapa orang?..itu yang membuatnya sampai langsung melepaskan tangan Mischa.Dan karena itu ia mau melepaskan Mischa tadi.
Membiarkan Mischa pergi di saat pernikahan mereka. Dafi tidak mengingkari , ia memang menyukai Mischa, ia bahkan tidak menolak di jodohkan dengannya.
Meski baru baru ini ia menyadari perasaan sesungguhnya pada Aleena, tapi ia juga tak menentang keputusan Papanya yang menyuruhnya menikahi Mischa. Mischa sudah banyak berusaha berubah untuk dirinya. mau memasakkan makanan khusus untuk dirinya. Ia menghargai usahanya itu. Ia rela berpisah dengan Aleena .
Namun Mischa malah melakukan semua hal itu. Meninggalkannya dan kini Dafa malah menghubungi nya saat mereka sedang berhubungan intim . Apakah benar Dafa yang sudah menjebol gawang Mischa?...Meski malu ia ingin mengetahui jawabannya.
" Ah\_hh ...Ah..ah.. .terus Dafa ..lebih keras...lebih dalam lagi ..ah ...aku benar benar bisa gila.. Dafa kau sangat hebat..!!" ucap Mischa yang sangat menikmati Hujaman demi Hujaman dari Dafa hingga mereka tidak menyadari hp Dafa yang tertindih tubuh Mischa menghubungi Dafi.
" Kau menyukai nya Baby ?...Aku akan memberikannya ..." ucap Dafa seraya menuruti permintaan Mischa.
Dari suara keduanya yakinlah Dafi kini , ternyata sebab dari semua kekacauan hari ini adalah saudara kembarnya Dafa.
" Dafa !!!!" Suara Dafi mengeluarkan keras dan geram memanggil saudara nya itu.
Dafa dan Mischa heran saat dengan samar ia mendengar suara Dafi pelan.
" Dafi?" Sesaat Dafa menghentikan aksinya meski tubuh keduanya masih bersatu. " Kau dengar suara Dafi?" tanya Dafa.
Mischa mengangguk. Kemudian ia sedikit menggeser tubuhnya karena ia merasakan sesuatu yang mengganjal ada di bawah punggungnya. Mereka begitu terkejut saat melihat hp Dafa menyala dalam keadaan terhubung ke hp Dafi .
" Ya ampun....terhubung...Dafi pula. " Kata Mischa panik. Dafa menepuk keningnya.
" Ketahuan sudah..." ucap Dafa seraya mengambil hpnya dari tangan Mischa.
__ADS_1
" Jadi kau biang kekacauan ini ya ." tanya Dafi kesal .
" Sori Fi...Semua terjadi di luar rencana ..." kata Dafa yang tidak punya pilihan lain selain mengakui karena ia sudah ketahuan.
" Sejak kapan kau jadi pe\_nikung ? " tanya Dafi " Bukankah waktu itu kau bilang tidak apa apa ..Kau sudah merelakan dia...kenapa malah tiba tiba menikung saudaramu sendiri...Padahal kalau kau bicara baik baik , aku pasti mengalah.." kata Dafi datar menahan emosi jiwanya.
" Aku tidak punya keinginan merebut Mischa darimu...Kalau bukan gara gara dia salah mengira aku itu kamu dan kelepasan kontrol sampai bercinta dengannya , aku juga tidak akan pernah merebut dia darimu....Tapi karena semua sudah terjadi... ya sudah,. relakan dia untukku.."
" Kau ini benar benar keterlaluan , kalau dia mengira kau itu aku , apa kau tidak bisa bilang padanya kau kembaran ku..."
" Aku sudah bilang ..aku kelepasan kontrol .."
" Itu bukan kelepasan..tapi kau memanfaatkan kesempatan. ...Aku sungguh tidak menyangka kau bisa se\_picik itu Dafa ."
" Dafa sayang ..lanjut gak ni .. Punya kamu tidur tuh kalau tidak digerakkan.." kata Mischa mengingatkan kalau mereka kini sedang bercinta
" Iya...oke..sebentar Baby..." kata Dafa pada Dafi. " Pokoknya semua terlanjur terjadi. Sekarang dia milikku... kau cari saja yang lain , Dafi. Atau kembali saja pada cinta pertamamu si Aleena itu. Aku mau lanjut bercinta ...kau mau mendengarnya?? Aku bisa nyalakan terus panggilan ini untukmu Fi kalau kau masih belum rela melepaskan Mischa .. Yang jelas Mischa sekarang milikku " kata Dafa seraya melempar hp itu ke ranjang tak jauh dari mereka. Dan kemudian Dafa melanjutkan aksi bercocok tanam nya itu lagi.
Dafi mematikan panggilan tersebut.Tentu ia tidak mau mendengarnya.
Dafi nampak kesal dengan sikap kembarannya yang seolah tanpa perasaan itu.
" Dafi..."
" Aku tahu kau sekarang pasti sedang sakit hati dengan sikap mereka... tapi bisakah tidak memikirkan mereka lagi...Bukankah kau punya aku sekarang..Mungkin aku tak sepintar Mischa menggoda mu, tapi aku ingin membahagiakan mu juga.." kata Aleena.
" Kau benar Aleena....Aku tidak menyesal berpisah dengan Mischa...yang ku sesali kenapa kembaran ku bisa berbuat seperti itu...Dia saudaraku dan kami besar bersama. ..Tidak seharusnya dia begitu padaku..."
" Sabar Fi... mungkin ini jalan Nya agar kita bisa bersama.... sekarang bisakah kita memikirkan kita saja ..paling tidak untuk saat ini...kita suami istri sekarang ..":
" I ..iya..." Dafi mulai gugup. Ia mengerti maksud Aleena.
Dengan tangan gemetar ia kemudian mendekati Aleena dan membuka satu persatu kancing baju Aleena. Demikian pula Aleena..Ia pun juga membuka kancing jas Dafi. Juga kemeja nya. Sesaat mereka saling berpandangan , nampak kegugupan di mata mereka saat bagian atas tubuh mereka mulai terbuka. Dada sintal Aleena nampak menyembul indah meski masih tertutup oleh bra nya..
Dafi mulai mendekatkan wajahnya pada Aleena dan mencium bibirnya. Mengecupnya perlahan sebagai awal percintaan mereka.. Sembari itu tangannya perlahan merambat ke punggung Aleena untuk melepaskan pengait bra nya. Bukit indah yang menggantung sempurna dengan ukuran sedang itu membuat Dafi menelan air ludahnya. Ia begitu ingin menyentuhnya.
Semuanya terjadi mengalir begitu saja . Kedua orang yang sama sama awam itu melakukan semua menurut naluri mereka saja. Hingga kini Aleena sudah terbaring dibawah tubuh Dafi dengan tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuh keduanya .
Aleena bisa merasakan saat batang keras dan panjang itu menempel di tubuhnya. Ia sudah rela dan pasrah menjadi milik Dafi , suaminya kini.
Dafi perlahan bangkit dan menyentuh inti tubuh Aleena yang sudah basah karena pemanasan mereka. Sama halnya dengan miliknya. Dafi kemudian membuka kedua paha Aleena dan mulai mengarahkan miliknya untuk mencari tempat penyatuan mereka. Perlahan ia mendorong pelan miliknya untuk masuk ke rongga yang begitu sempit dan belum pernah terjamah itu. Namun begitu sulit dimasuki karena terlalu sempit. Aleena bahkan nampak memicingkan matanya saat mendapat tekanan yang menyakitkan itu. Ia menahan sakitnya saat Dafi memaksakan miliknya masuk.
__ADS_1
" Aa\_ahhh..."
" Maaf kalau sedikit sakit ya Aleena...tapi memang harus begini..." kata Dafi. Aleena mengangguk sambil menutup mulutnya. Dafi terus berusaha . Ia melakukanya pelan dan selembut mungkin. Ia tidak ingin Aleena kesakitan.
" Dafi..." Aleena menyebut nama suaminya itu saat ia merasakan sakit benda milik suaminya mulai merangsek masuk. Air matanya mulai berjatuhan saat Dafi terus mendorong nya. " Argh !!"
Dafi kemudian mencium Aleena kembali agar ia bisa lebih rileks sementara ia terus berusaha kian dalam masuk.
.
.
Ini baru separuh tapi dia sudah menangis kesakitan ..bagaimana ini...apa di lanjutkan nanti saja?
.
.
Dafi mulai ragu melihat ekspresi kesakitan. Aleena.
.
.
Lanjut atau tidak...??
.
.
" Stop dulu Dafi..." kata Aleena yang tidak kuat menahan sakitnya. Perih dan sakit.
.
.
Ya sudah...nanti saja...kasihan dia...
.
.
Dafi bangkit dan menarik kepemilikannya .Ia menuruti Aleena. Ia tidak mau memaksakan keinginannya untuk cepat buru buru memiliki Aleena karena tidak ingin menyakitinya.
Dafi mengambil tisu untuk mengusap darah yang menempel di miliknya dan milik Aleena . Terlihat ada sedikit robekan yang mengeluarkan darah di sana.
.
Ini darah perawan? ...Sudah pasti sakit lah...rongga sekecil itu dimasuki benda sebesar dan sepanjang ini...... Tapi kan katanya sakitnya cuma di awal saja... Setelah terbiasa nanti...Katanya sih kalau gak besar gak puas ..apa itu betul ?? Dafi sangsi.
.
" Sudah rileks? " tanya Dafi setelah beberapa saat kemudian. Aleena mengangguk. " Boleh lanjut lagi?" tanya Dafi lagi.
Aleena mengangguk. Ia memang harus melewati ini. Ini cuma tahap awal saja. Toh jika ia sudah berhasil melewati ini , ia tidak akan kesakitan lagi nanti. Dafi yang mendapat lampu hijau segera memposisikan miliknya lagi yang masih tegak sempurna sejak tadi. .
" Sedikit cepat ya Fi...biar tidak terlalu sakit. ..kalau pelan malah terasa nyeri.."
" Oke..." Dafi kemudian mulai mendorong miliknya lagi. Setelah sebagian berhasil , ia sedikit kasar memaksakan miliknya melakukan gerakan maju dan mundur dengan lebih cepat. Dengan dorongan kuat ia menghentakkan nya dengan keras sehingga ia kian dalam memasuki nya.
Aleena menutup mulutnya dan menahan suara kesakitan nya. Dengan nafas yang masih memburu , Dafi yang berhasil menenggelamkan miliknya dengan sempurna itu mulai menggerakkan nya . awalnya pelan namun kian cepat. Berulang kali , hingga akhirnya mereka bisa mulai menikmatinya.
Menikmati moment dalam ikatan suci mereka yang penuh makna. Begitu manis dan menyenangkan. Rasanya benar benar memiliki kesan yang mendalam . Bukan moment penuh nafsu seperti yang terjadi antara Dafa dan Mischa.
__ADS_1