
Di kantornya Bisma masih tak habis pikir dengan sikap Kristy dan anak anaknya. Kenapa begitu mendengar nama Yoga , mereka langsung berubah.
Apakah sejak ia tinggal pergi dulu mereka bertengkar sehingga seperti itu. Tapi kalau bertengkar harusnya mereka berekspresi marah tapi mereka cenderung menampakkan kesedihan. Bahkan sampai menangis.
Apakah Yoga menyakiti mereka saat ia tak ada? Tapi dengan karakter Yoga yang begitu ia kenali ,Yoga bukan tipe orang yang suka menyakiti anak anak dan wanita.
' Aku benar benar tak mengerti..' Bisma benar benar pusing.
.
Pada siang harinya, saat istirahat siang Bisma Romi dan Yoga makan siang bersama di kantin kantor di ruang VIP yang di khususkan untuk para petinggi di perusahaan itu dan tamu tamu rekan bisnisnya. Sebuah ruang tertutup yang luas dan mewah. Dengan furnitur istimewa dan super mahal. Beberapa set sofa saja yang di sekat . Pegawai mengantarkan makanan dan minuman sesuai permintaan mereka.
" Bagaimana pekerjaan mu disini Bisma? Apa kau suka?" tanya Romi
" Sama saja Tuan .."
" Kenapa kau masih memanggilku Tuan.. Kau bisa memanggil ku Romi saja atau Kakak seperti Yoga " kata Romi.
" Itu benar Bro.. biar bisa akrab.."ucapku pula
" Baiklah kalau begitu aku akan memanggil Kak Romi saja.. " Romi mengangguk dan tersenyum.
" Bagus.. jadi seperti saudara " Aku senang Kak Romi mau akrab dengan Bisma.
" Jadi mau lanjut atau tetap resign? " tanya Romi
" Resign Kak" Bisma tetap pada pendiriannya.
' Hebat...Bocah ini benar benar tak tergoyahkan ' batin Romi memuji keteguhan hati Bisma. Sekali tidak selamanya tetap tidak. *Keren* !
πΆπΆπΆπΆπΆπΆ
" Maaf ..aku terima telpon dulu " ucap Bisma seraya bangkit dan menjauh dari mereka. Yoga dan Romi melanjutkan makan siangnya .
" Ada apa Kris?" tanya Bisma menerima telpon dari Kristy.
" Sekolah Internasionalnya Dafa dan Dafi asrama lho... Menurutmu bagaimana?"
" Aku tidak masalah . Anak anak mau tidak tinggal di asrama?"
" Mau mau Dad.." Terdengar suara Dafa dan Dafi yang nampak senang bisa bersekolah asrama.
" Ya sudah kau daftarkan saja mereka "
" Tapi Bisma...aku tidak tega..Aku tidak pernah berjauhan dari mereka..."
" Mereka sudah SMP Kris...biar belajar mandiri. Nanti kalau mereka tidak nyaman kita pindahkan lagi sekolahnya.
" Baiklah kalau begitu "Kristy akhirnya mengalah.
Bisma menutup telponnya dan kembali bergabung denan Yoga dan Romi.
__ADS_1
" Anakmu lagi?" tanyaku
" Hehe..iya. Mau sekolah asrama tapi Mamanya tidak tega " jawab Bisma sambil tersenyum.
" Kapan kau mengundang kami ke rumahmu Bis...Bukankah Yoga sahabatmu.. Apa kau tidak ingin mengenalkan anak dan istrimu ke Yoga?" tanya Romi sambil tersenyum dengan penuh makna.
" Ah benar juga... Nanti aku tanya istriku dulu..Kapan dia bisa.. biar dia menyiapkan masakannya... Dia pintar masak lho..." ucap Bisma sambil tersenyum.
" Bule bisa masak apa?...Paling tidak cocok buat lidah orang Indo "Aku bercanda menggoda Bisma yang membanggakan istrinya
" Sekali coba kau pasti ketagihan masakannya " timpal Bisma
" Apa *iyah*? "
" Iya. gue jamin Bro.."
Yoga dan Bisma tertawa tawa. Mereka bersenda gurau dengan akrabnya.
' *Kita lihat Yog... Sampai kapan kalian bisa tertawa tawa seperti itu... Ah..Aku begitu penasaran ...bagaimana reaksi mu nanti saat melihat istrimu sudah jadi milik Bisma... masih bisa tertawa atau menangis darah*?...' batin Romi.
" Yog.. jangan lupa hari ini kau ada jadwal ketemu dengan Tuan George . Kau sponsor event pertandingan olahraga yang di adakan di sekolahnya ''Sekolah internasional X '... Aku tidak bisa menemanimu karena mengantar Tuan Besar . Kau akan di temani Kinara dan sopir nanti " Romi mengingatkan.
" Ya..." Aku menjawab dengan malas.
' Pasti ini akal\_akalan Papa saja yang ingin mendekatkan aku dengan Nara ' Mood ku langsung menurun.
.
.
.
.
.
Aku pergi dengan Kinara dan Sopir. Kinara duduk di tengah bersamaku . Namun aku mengabaikannya.
" Yog.. mengenai gaun pernikahan kita...Aku sudah memilih beberapa...kau lihatlah dan pilih yang cocok untuk kita.." Nara mencoba ngobrol denganku dan menunjukkan beberapa gambar pakaian pengantin padaku.
" Kau pilih saja sesukamu.." aku ogah\_ogahan melihat nya. Tak tertarik sama sekali.
" Pilih salah satu.." Nara nampak memaksa.
Akhirnya tanpa melihat aku asal tunjuk saja. Dan Nara terdiam .Sepertinya ia sudah senang. Aku mengacuhkannya dan lebih memilih menatap layar laptop memandangi pekerjaanku dari pada melihat wajahnya.
" Itu bukan gaun pengantin berhijab.." ucap Nara tampak kecewa.
Aku ter\_tohok. ucapan kecewanya terdengar begitu sedih di telingaku.
" Kau kan bisa memilih sendiri yang cocok untukmu. Kenapa minta pendapat ku... " Aku menutupinya dengan sikap ketus walau sebenarnya merasa bersalah padanya.
Terlebih saat ia mengusap matanya. Sepertinya ia menangis. Aku sebenarnya kasihan padanya , bukan tidak berhati tapi aku ingin membuat ia sadar kalau pilihannya menikah denganku itu salah. Karena aku sama sekali tidak mencintainya. Dia yang bodoh saja ngeyel memilih ku.
__ADS_1
' Makanya cepat mundur kalau tidak ingin terluka..'
Tega tidak tega aku tetap harus bersikap tegas padanya. Kalau aku melunak dia pasti melonjak.
Aku sama sekali tidak ingin memberinya harapan. Bersama denganku itu tidak mungkin....
.
.
Kami sampai di sekolah Internasional X. Kami di sambut baik oleh kru dan Kepala Sekolahnya.
" Besok karyawan ku akan mengantarkan Produk kami untuk semua atlit juga dana untuk event ini.." ucapku
" Terima kasih banyak Tuan Yoga.." ucap kepala Sekolah tersebut.
Kepala Sekolah itu mengajak kami berkeliling sebentar ditemani beberapa guru.. Mereka menunjukkan beberapa ruang kelas yang di huni beberapa calon atlit berbakat.
Kebetulan produk terbaru perusahaan Yoga adalah air mineral dan minuman ion sehingga cocok untuk mendukung event olahraga para calon atlit. Kucuran dana dan produk dari perusahaan Yoga menjadi salah satu sponsor penyumbang terbesar yang mendukung acara itu.
.
.
Mereka melewati sebuah kelas dimana saat itu Dafa dan Dafi baru saja di perkenalkan sebagai murid baru oleh Guru kelasnya.
" Kalian duduk di bangku dekat jendela itu ya.." kata Gurunya.
" Baik Bu.." Dafa dan Dafi kemudian segera menuju ke bangku tersebut. Dan saat keduanya menoleh ke luar jendela , mereka begitu terkejut melihat Yoga yang lewat bersama rombongan Guru guru.
" Pa... Papa.. ???"
Dafa dan Dafi yang shock benar benar tak percaya melihat sosok yang semuanya sangat mirip dengan Papa mereka yang sudah meninggal. Wajahnya, perawakannya, tinggi tubuhnya , rambutnya, semuanya sama persis seperti Yoga . Tanpa beda sama sekali.
Mereka sampai mengucek mata mereka berkali kali. Apa itu mimpi...Papa mereka yang sudah meninggal hidup lagi...
" Dafa Dafi. duduk di bangku kalian..." Kata Gurunya.
Dafa dan Dafi masih mematung di tempat berpijaknya dengan mata berkaca kaca. Keduanya yang begitu menyayangi Yoga masih tak percaya kalau sosok yang barusan lewat itu Papa mereka.
" Dafa Dafi !!! " suara keras Gurunya yang keras menyadarkan mereka kembali. " Duduk!!!!"
Dengan enggan Keduanya kemudian duduk. Dengan air mata yang jatuh bercucuran di wajah mereka.
" Mereka menangis.."
" Kenapa?"
Teman teman sekelasnya dan Gurunya benar benar heran dengan keduanya. Kenapa mereka tiba tiba menangis. Padahal tidak ada yang menyentuh mereka sama sekali. Teman teman di kelas mereka juga ramah menyapa mereka.
Dafa menghapus air matanya. Kemudian ia berdiri. Dafi pun demikian. Sesaat keduanya saling melihat dan kemudian melangkah keluar dari kelas itu meninggalkan tas dan bukunya.
Tanpa kata mereka sehati ingin memastikan sosok yang mereka lihat tadi. Itu benar Papanya yang sudah meninggal atau bukan. Mereka yakin ia belum pergi jauh.
' **Papa masih hidup**???..... '
__ADS_1
" Dafa Dafi kalian mau kemana...? " tanya Gurunya. ia benar benar heran dengan sikap keduanya. Ia bahkan sampai mengikuti mereka. Namun karena lari keduanya sangat cepat ia ketinggalan jauh.