
Kristy hanya bisa menangis meringkuk di luar kamar Yoga. Ia tak tahu lagi bagaimana keadaan Yoga di dalam. Ia terisak tanpa dapat melakukan apapun .
" Mas Yoga... "
Andi menghampirinya. Dan berusaha menghiburnya.
" Yoga pasti selamat Kristy... Dia pasti akan berjuang untuk bisa hidup bersama kalian.. Dia pasti ingin melihat anak kandungnya..Kita berdoa saja untuk keselamatan Yoga.. " kata Andi.
" Semoga " Andi pun tak kuasa menahan kesedihannya.Matanya nampak berkaca kaca. Namun ia menahan air matanya agar tidak jatuh.
" Yoga masih sangat muda..dan dia kuat.. dia pasti bisa bertahan.."
Andi mengingat dengan baik. Yoga adalah sosok teman yang baik. Dia selalu ceria dan juga selalu menebar senyum. Tegas dan bertanggung jawab dalam pekerjaannya walau kadang juga membuatnya kesal. Suka bercanda dan dia bukan figur orang yang sombong seperti orang tuanya. Ia sering membantunya .Tak pernah pelit dan perhitungan. Bahkan dia terlalu royal sebagai bos. Setiap ia berhasil membantunya , hadiah selalu di berikan nya. Dan itu bukan hadiah kecil. Masalah ekonomi keluarganya pun Yoga tak keberatan membantunya.
Yoga juga sosok yang penyayang dan perhatian . Dia selalu menomor satukan keluarga. Ia begitu menyayangi Dafa dan Dafi meski mereka cuma anak tirinya . Keluarga mereka nampak bahagia dan sempurna sebelum kedatangan Papa Yoga.
Rasanya seperti mimpi Yoga akan pergi secepat ini...Andi benar benar tak bisa mempercayainya.
Ia jadi ingat ucapan orang orang ,'Orang baik berumur pendek ' . Tuhan tak memberi mereka umur panjang agar tidak banyak melakukan dosa. Sedang orang jahat banyak yang berumur panjang. Tuhan memberi mereka kesempatan panjang untuk menyadari kesalahannya dan bertaubat atas dosa dosa yang dilakukannya.
Mungkin itu betul...
.
.
.
.
Kristy termenung di temani Dafa Dafi Desi dan Andi di kamarnya di rumah sakit . Hari sudah menjelang malam dan sudah seharian ini Kristy tidak mau makan dan minum sehingga ia mendapat infus lagi. Dan kali ini di tangan kirinya. Tangan kanannya tidak bisa di pasang infus lagi karena luka setelah di cabut paksa Romi.
Ia terdiam dan masih menyimpan beribu penyesalan di hatinya. Ia juga tak mau bicara. Ia hanya diam memikirkan nasib Yoga yang tidak di ketahui bagaimana keadaannya.
" Kak Romi.. " Andi berucap kala melihat Romi tiba tiba ada di sana.
" Bagaimana keadaan Mas Yoga?" tanya Kristy cepat.
Romi mendekat ke tempat tidur dimana Kristy berada. Ia tak menjawab pertanyaan Kristy dan malah meletakkan sesuatu di sana.
"Ini... "
" Itu paspor mu dan anak anakmu. Kau harus cepat pergi dari sini " kata Romi.
Mendengar itu Kristy mulai terisak lagi .Ia tahu itu artinya sesuatu yang buruk terjadi pada Yoga.
" Mas Yoga... tidak..." Kristy tak kuasa membendung air matanya lagi.
__ADS_1
" Kak... " Andi ragu hendak bertanya.
" Antar kan dia ke Bandara , Andi.. Cepat! " kata Romi.
Seorang suster datang dan langsung melepas infus Kristy yang masih terisak.
" Apa Papa meninggal ?" tanya Dafa pada Romi. Romi tak menjawab.
" Katakan Om . Apa yang terjadi pada Papa ku " kata Dafi pula.
" Lupakan Yoga... Anggap kalian tak pernah bertemu dan mengenalnya sama sekali " kata Romi
" Kalian harus cepat pergi sebelum orang itu kemari. Cepat bawa mereka pergi Andi " kata Romi pula.
" Iya Kak. Des..ayo bantu Kristy. Cepat.." Andi tahu. Ia harus segera membawa mereka pergi kalau tak ingin Kristy dan anak anaknya celaka. Apalagi jika Yoga benar meninggal , nyawa mereka terancam. Guntoro bukan orang yang akan memaafkan begitu saja apalagi untuk orang yang menghilangkan nyawa anak tunggalnya.
Desi memapah Kristy yang masih menangis tersedu sedu dan Andy membawa Dafa dan Dafi. Mereka segera naik mobil menuju ke bandara.
" Cepat Kris " kata Andi yang nampak buru buru mengantarkan Kristy menuju ke pesawat yang akan mereka tumpangi.
" Kalau Mas Yoga sudah meninggal untuk apa lagi aku hidup.. " ucap Kristy
" Pikirkan anak anakmu Kris..Pikirkan Dafa Dafi dan juga bayi itu... Kau harus menyelamatkan mereka. Dia anak Yoga...satu satunya yang tersisa dari Yoga..." kata Andi.
Tapi saat ia menatap mata kedua putra kembarnya , ia tak tega . Ia tak sampai hati jika sesuatu yang buruk menimpa kedua putranya juga.
" Mama jangan khawatir..Aku akan menjaga adik. " kata Dafa.
" Aku tak akan membiarkan orang jahat itu menyakiti Mama dan adik . Aku akan cepat tumbuh menjadi besar agar mereka tidak bisa menyakiti Mama lagi " Kata Dafi pula.
Kristy pun memeluk kedua putranya .
' Ya ...Aku harus kuat . Demi anak anakku semuanya . Aku tidak akan membiarkan manusia jahat itu menyakiti kami lagi . Mas Yoga...aku akan menjaga dan membesarkan anak anak kita "
Kristy akhirnya bangkit . Ia tidak boleh lemah lagi. Ia memang kehilangan Yoga , tapi anak anaknya yang masih kecil kecil ini juga masih sangat membutuhkannya. Dan tak mungkin ia meninggalkan mereka sendiri.
Saat ini ia memang harus pergi sejauh jauhnya karena Guntoro pasti akan mencarinya. Untuk membalas dendam kepadanya atas kematian Yoga. Dan jika ia masih di sana , Anak anaknya pasti juga akan menjadi sasaran amukan kekejaman Guntoro.
Kristy dan anak anaknya memasuki pesawat yang entah akan membawa mereka pergi ke mana. Kristy tak mau tahu tujuan pesawat itu.Tapi tujuannya cuma satu. Pergi sejauh jauhnya dari Guntoro.
.
.
.
__ADS_1
Kristy dan anak anaknya turun dari pesawat dan mendapati tempat yang sangat asing bagi mereka. Banyak wajah wajah asing yang tak mereka kenal berlalu lalang . Wajah wajah bule dengan bahasa asing pula.
Kristy duduk di kursi lounge bandara bersama anak anaknya.
Rasanya baru sesaat mereka berada di Indonesia dan tahu tahu mereka sudah berada di negara asing yang entah dimana itu.
Air matanya mengalir kembali saat ia mengingat Yoga... Benarkah Yoga telah pergi selamanya...Meninggalkannya dan tak akan pernah kembali lagi. Ia hanya bisa menangis mengingat kisah pedih yang di alaminya.
" Kristy ?" panggil seseorang yang mengenalinya.
Kristy menengadah dan melihat sosok orang yang memanggilnya. Suaranya sudah tak asing lagi di telinganya . Ia sudah sering mendengarnya dulu.
Ia menatap ke seorang pria familiar yang berdiri di depannya dengan senyuman manisnya.
Rambut cepak nya sudah mulai memanjang dan di\_sibakkan ke belakang , masih tetap hitam legam, hanya warna kulitnya yang mengalami banyak perubahan. Dulu warnanya sawo matang dan kini jadi putih dan cerah. Hidung mancung , alis tebal , sorot mata teduh dan senyum manis ramahnya tetap sama. Ya...dia adalah BISMA.
" Bisma..." ucap Kristy .
Bagaimana mungkin Bisma ada di sini. Di depan matanya. Bukankah Bisma bekerja di luar negeri .Bisma dulu bilang dia kerja di australia...
'Tunggu...'Kristy mengambil paspor dan tiket pesawatnya tadi. Ia mengecek tujuan pesawatnya. Dan di sana benar tertulis destinasi tujuannya memang Australia.
" Papa... "
' DEG '
Ucapan panggilan yang terlontar begitu saja dari mulut Dafa dan Dafi yang biasa memanggil Bisma ' papa ' terdengar begitu menyakitkan karena itu membuat ia teringat pada Yoga kembali.
" Kristy kau kenapa.." tanya Bisma seraya mendekati Kristy yang tiba tiba terisak.
" Kris ?" tanya Bisma heran.
Dafa dan Dafi saling berpandangan. Mereka mulai menyadari kesalahan mereka. Sepertinya panggilan Papa membuat Mama mereka menangis karena mengingatkannya pada Papa mereka Yoga.
" Kita tidak boleh menyebut Papa lagi.." kata Dafa berbisik pada Dafi.
" Iya... kita tidak boleh menyebut Apapun tentang Papa karena itu membuat Mama sedih.."kata Dafi pula.
Keduanya melihat mama mereka terisak .Bisma menunduk dan membelai Kristy dan berusaha menenangkan Kristy.
Ia tidak tahu apa yang terjadi pada Kristy dan sepertinya Kristy mengalami kesulitan hidup yang besar dalam pernikahannya . Ia hanya tak menyangka saja saat Romi menyuruhnya ke bandara untuk menjemput seseorang , ternyata orang yang di maksud itu adalah Kristy.
Sebuah keberuntungan ia bisa bertemu Kristy kembali. Walau ia cukup sedih karena mendengar kabar dari adiknya , Kristy sudah menikah dengan orang lain saat ia sedang merantau mencari kelayakan ekonomi. Ia patah hati .
__ADS_1
Tapi melihat Kristy ada di sini..di depannya dengan air mata , ia tahu kehidupan pernikahan Kristy dengan suaminya pasti bermasalah.