
Dafi mengantar Aleena dengan mobilnya. Hari itu memang sudah cukup larut. Restorannya tutup sedikit lebih molor dari jam tutupnya karena masih banyak pembeli.
" Rumah kamu mana? " tanya Dafi.
" Antar ke rumah sakit saja Fi...RS X ..."
" Ha ?... Siapa yang sakit?" tanya Dafi heran.
" Kak Bobby "
" Loh..Bobby sakit apa ?"
" Kecelakaan kerja ...Kakak kan kerja bangunan... Waktu itu dia terpeleset dan jatuh.. "
" Bagaimana keadaannya? " Dafi ingin tahu keadaan sahabat mereka sejak kecil itu.
" Masih di rawat sih..Tapi belum sembuh. Dia harus operasi..tapi Progam berobat gratisnya cuma bisa menanggung biaya kamar dan pengobatan..untuk operasi harus biaya sendiri. "
Dafi terdiam. Ia tahu, Bobby dan Aleena anak yatim piatu. Mereka hidup menumpang di rumah Nenek nya. Dan mungkin , setelah neneknya meninggal mereka cuma tinggal berdua.
" Berapa biaya nya?" tanya Dafi. Ia ingin sedikit membantu pengobatan sahabatnya itu.
" T...tidak usah Fi.. Aku juga sedang mengumpulkan uang ini... Tunangan mu memberi aku gaji besar...jadi bisa ku kumpulkan sedikit demi sedikit.." kata Aleena yang tidak ingin merepotkan Dafi.
" Tidak apa apa..."
" Tidak. Pokoknya tidak !...Aku tidak ingin mempunyai hutang padamu...Pokoknya tidak usah Dafi..." Aleena bersikeras menolaknya.
Dafi akhirnya terdiam. Ia tak mungkin memaksa Aleena.
.
.
Mereka akhirnya sampai di rumah sakit. Dafi ikut masuk karena ingin menjenguk teman lamanya itu.
Ia begitu prihatin saat melihat keadaan sahabatnya Bobby itu. Kakinya patah dan di gips besar. Selain itu kepalanya juga di perban. Ia di rawat di kamar dengan begitu banyak pasien pula
" Yang harus di operasi kakinya ? " tanya Dafi.
" Sebenarnya bukan hanya kaki nya...Karena sejak kecelakaan ia belum sadar juga....Kata dokter.. Ia mungkin gegar otak.." terang Aleena dengan bibir bergetar dan menahan tangisnya.
" Astaga..." Dafi kemudian membawa Aleena ke dalam pelukannya. Gadis lemah itu memikul semua beban berat itu tanpa bisa mengatakannya pada siapapun.
Ia sungguh takjub dengan ketegaran hati gadis itu menghadapi ujian berat itu sendiri. Dengan tetap ceria , tetap menebar senyum dan juga tetap semangat menjalani hidup beratnya tanpa berkeluh kesah sama sekali.
.
Aleena...kamu sangat hebat...Kamu gadis yang tangguh...
Tiada seorangpun yang bakal mengira...Kehidupan yang kau jalani sebenarnya seberat ini...
Kau tampak rapuh dan lemah di luar...namun sebenarnya kau orang yang sangat tegar
.
Dafi diam diam mengagumi gadis manis itu. Ia benar benar bersimpati padanya. Ia sungguh tidak akan diam melihat itu. Ia pasti akan membantunya...Meski tanpa sepengetahuan Aleena...
" Tidak usah mengantarku...Lorong rumah sakit itu menyeramkan kalau malam...Banyak hantunya..." kata Dafi.
" A...apa iya?" tanya Aleena nampak ketakutan sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.
Dafi begitu geli melihatnya . Ia ingin sedikit usil padanya.
" Ia beneran...tuh di belakang kamu ada pocong.."
"A\_aaaaaa... " Aleena yang takut beneran langsung memeluk Dafi dengan erat sambil memejamkan matanya.
Nafasnya tampak terengah\_engah dengan detak jantung yang berdetak kencang..Ia benar benar panik dan ketakutan. Ia memeluk Dafi dengan tangan yang gemetaran.
Dafi yang semula cuma ingin iseng jadi terkena batunya. Pelukan Aleena, cengkeraman tangannya yang memeluknya kuat kuat itu malah memberikan serangan balik padanya. Ia mematung dengan debaran kencang yang bergemuruh di dadanya.
.
Oh..tidak... Ini tidak boleh terjadi...Ini tidak seperti yang ku rencanakan...
Aku ...aku ..aku tidak boleh seperti ini...Aku tidak boleh mempermainkan wanita..
Aku sudah memutuskan untuk menikah dengan Mischa...Kenapa aku masih saja berdebar dengan Aleena..
Tidak...jangan begini...Ku mohon...
.
__ADS_1
Suara hatinya menyerukan kesadaran , namun tubuhnya sebaliknya. Gerakan tubuhnya lebih jujur melawan isi hatinya.
Ia menatap Aleena dan kini juga te\_ngadah menatapnya. Aleena masih mencengkeram kuat tubuh Dafi. Aleena menatapnya dengan pandangan teduh
Dafi perlahan sedikit menunduk karena tubuh Aleena lebih pendek...hanya setinggi dadanya. Kemudian menengadahkan wajah Aleena dan mendaratkan bibirnya di bibir indah Aleena yang begitu menggodanya. Aleena malah memberikan respon manis .Ia membalas ciuman lembut Dafi yang mengecupnya perlahan seolah tanpa nafsu itu. Ia memperlakukan Aleena dengan sangat lembut seolah Aleena itu sangat berharga bagi Dafi. Ciuman lembut tidak penuh nafsu namun sarat dengan makna yang begitu mendalam.
Di lorong koridor gelap rumah sakit itu Dafi kini benar benar menyadari perasaannya.
.
Aku menyukai Aleena...Aku mencintai gadis ini...Bukan Mischa....tapi Aleena....
.
.
...----------------...
.
.
.
Keesokan harinya, Dafi terbangun di kursi besi panjang yang biasanya di gunakan untuk kursi tunggu pendamping pasien. Ia tertidur di sana dengan posisi duduk karena Aleena tidur di pangkuannya.
Dafi tersenyum saat melihat sosok cantik itu ada di pangkuannya. Ia kemudian mengusap dan membelai lembut kepala nya.
Ia ingat dengan jelas yang terjadi semalam ,ia mencium lembut Aleena dan Aleena pun membalasnya. Tanpa perlu di ungkapkan dengan kata kata lagi perasaan mereka saling bersambut.
Dan semalam seusai ciuman itu Dafi tidak jadi pulang karena saat berjalan sendiri hendak pulang , ia benar benar melihat makhluk astral yang tadi ia jadikan guyonan.
Ia melihat sesosok putih tinggi menyerupai Pocong ada di ujung lorong yang akan dilaluinya.
" Asem...niat bercanda malah muncul beneran " umpatnya seraya berlari kembali menuju ke kamar tempat Bobby di rawat inap.
" Loh..ko kembali ? " tanya Aleena heran dengan wajah yang masih kemerahan tersipu malu karena usai berciuman dengan Dafi.
" Di cegat setan..." jawab Dafi.
" Hah?"
" Dia gak bolehin aku pulang...Dia mau aku menemanimu di sini..."
" Apa sih Fi ? " tanya Aleena bingung.
Aleena pun akhirnya tersenyum . Ia menunduk malu saat Dafi meraih tangannya dan menggenggamnya erat.
" Jadi menginap di sini ? " Tanya Aleena sambil tersenyum senang.
" Iya... "
" Kalau begitu kita tidur di kursi panjang itu saja " kata Aleena sambil menunjuk tunggu di dekat lorong tak jauh dari tempat inap kakaknya.
" Oke.."
" Sini..." kata Dafi sambil menepuk pahanya. Ia ingin Aleena tidur dengan bersandar di pahanya. Aleena menurut.
" Aku akan menjelaskannya pada Mischa nanti... "
" Ha? " Aleena tak mengerti.
" Aku akan memutuskan pertunangan ku dengannya... " Aleena tersenyum. Dafi ternyata sungguh sungguh memilihnya. Meski tak ada pernyataan cinta sama sekali dari Dafi namun itu sudah menjelaskan semua tentang hatinya. Dafi memilih dirinya.
" Maaf...Lambat menyadarinya..." Kata Dafi sambil mengecup lembut kening Aleena.
" Maaf menjadi orang ketiga di hubungan kalian..." kata Aleena pula. Dafi tersenyum.
" Tidak ada yang perlu di salahkan...kita hanya baru menyadari perasaan kita...Untung saja itu tepat sebelum pernikahan.. Setelah ini, kita bersama ya... Dan aku ingin kita cepat menikah saja nanti setelah aku membereskan pertunangan ku dengan Mischa...Kau mau kan, Aleena ?"
" Iya.." jawab Aleena dengan penuh haru. Dafi mengusap air matanya dan mengecup nya kembali.
" Kali ini ...aku tidak akan bimbang lagi...Aleena ..aku ingin kau menjadi pendamping hidupku..."
Aleena justru kian terharu mendengarnya. Ia sampai menangis saking tak percayanya. Semua itu bagai mimpi baginya yang sejak kecil menyukai Dafi. Cuma Dafi seorang. Tiada yang lain. Ia tak pernah mengalihkan hatinya sedikitpun . Dari Cinta monyet di masa kecil menjadi cinta sesungguhnya saat dewasa.
.
...----------------...
__ADS_1
.
Dafi memindahkan Bobby ke ruang VIP agar. Aleena nyaman menungguinya. Ia mengurus semua biaya nya. Tak lupa ia juga menyewa perawat khusus untuk menjaga Bobby.
Dafi juga menghubungi Romi untuk mencarikan dokter terbaik untuk kakak Aleena itu.
"Oke Dafi...Aku akan mencarikan Dokter dan Rumah sakit terbaik untuk menangani temanmu itu..Sementara biar di sana dulu.. Nanti kalau sudah dapat tempat dan Dokternya, biar ku suruh orang ku merujuk nya..."
" Lalu biayanya..."
"Serahkan semua padaku Dafi.." kata Romi pada keponakannya itu.
Dafi tersenyum " Terima kasih Om Romi.."
" Oke.."
" Adikku nakal tidak Om di sana? '
" Xavier?... Ketua genk itu.."
" Ketua genk? " tanya Dafi..
" Ah..tidak ..Lupakan kata kataku tadi...Xavier baik baik saja..." ucap Romi sambil tertawa dan sesaat kemudian ia menutup telponnya.
Dafi merasa aneh mendengar kata kata Om nya. Namun karena saat ini Fokusnya masih pada perawatan Bobby dan Aleena , iapun mengabaikannya.
" Kita cari sarapan dulu...Setelah itu ke rumah. Kita temui Mischa dan keluargaku.." kata Dafi. Aleena mengangguk.
Mereka kemudian bergandengan tangan dan melangkah bersama meninggalkan rumah sakit itu.
.
.
.
...----------------...
.
.
Mischa terbangun di tempat tidur Dafi . Ia bangun kesiangan namun ia kecewa tak mendapati Dafi ada di sana.
.
Dari semalam Dafi tak pulang ??... Apa yang di lakukan nya dengan gadis desa sialan itu...
Ku pikir dia sudah menyerah...ternyata malah bertingkah...
Awas kau Aleena sialan... Aku akan membalas mu nanti...
.
.
Mischa menyambar piyamanya untuk menutupi lingerie seksi yang di kenakan nya. Ia kembali ke kamarnya sendiri karena ia harus buru buru bangun dan mengurus restorannya.
" Dafi? " tanyanya heran saat mendapati Dafi tengah tertidur lelap di kamarnya.
.
Ya ampun ...bodohnya kekasihku ini...Jadi dari semalam dia menungguku di sini?...
Oh my God... Cute nya....😚😚 Dia salah dengar...Aku bilang tidur di kamarnya...dia malah tidur di kamarku...Gimana sih...kita jadi tidur sendiri sendiri saking bodohnya...😅
Ya sudah kalau begitu....Jadi sarapan pagi saja. ....Selamat makan....😍😍😍
.
Mischa mengunci kamarnya dan kemudian mendatangi Dafi yang sedang tertidur itu dengan penuh cinta.
" Say\_yyaang.... Aku datang.."
Mischa langsung duduk di atas tubuh nya. Dan spontan sosok Dafi itu langsung terbangun. Ia begitu kaget saat melihat Mischa di atas tubuhnya. Dan dengan cepat menciumnya pula.
Mau tidak mau ia membalas ciuman ganas dari Mischa. Matanya langsung melotot melihat dress transparan yang di kenakan Mischa..terlebih dengan lingerie yang cuma seutas tali tipis itu.
Sontak Si adik juniornya langsung tegak melihat pemandangan yang begitu merangsangnya itu.
.
Oh My God...😱😱😱
.
Mischa tersenyum nakal saat merasakan si adik junior itu mengeras tepat di bawah dudukannya. Ia bahkan menggoyang erotis menyentuhkan miliknya di atas batang keras yang masih tertutup itu.
" Jangan salahkan aku...Kau yang menggodaku..."
" Tidak akan sayang...Ayo Lakukan... Aku menginginkanmu..." ucap Mischa dengan wajah nakal menggodanya.
Sosok Dafi itu menelan ludahnya. Nafsu nya yang sudah ke ubun\_ubun itu menguasai akal sehatnya. Hingga akhirnya dengan cepat ia bangkit dan membalik posisi nya. Mischa berada di bawah kungkungan tubuhnya. Dan tanpa basa basi iapun segera memulai aksinya.
__ADS_1