
Xavier dan Shaka pun keluar ke sebuah tempat lapang di dekat sebuah bangunan tua. Genk Xavier bersiap siap berhadapan Shaka yang seorang diri. Mika , Shila dan seorang seorang lagi teman resepsionisnya berdiri sedikit menjauh.
Xavier sudah bersiap siap bertarung dengan Shaka.
" Ayo bos...semangat...habisi dia.." dukung anak buahnya.
" Xavier ...jangan bodoh...kau bukan lawannya " kata Mika mengingatkan. Ucapan Mika justru membuat kian kesal.
.
.
C i h ....meremehkan ku ?.....membela selingkuhan mu ya ... Lihat saja nanti...ku hajar dia di depan mu...
.
.
" Xavier...xavier...xavier..." Anak buahnya menyemangati Xavier.
Dan akhirnya di mulailah duel mereka . Xavier maju menyerang Shaka. Shaka dengan sigap dan lincah menghindari setiap serangan nya. Ia tampak sudah biasa berkelahi karena ia bisa bergerak cepat .Kuda kudanya pun juga kuat . Tampak sekali jika ia sangat terlatih. Namun Xavier yang tubuhnya lebih tinggi dan lebih besar dari Shaka juga sangatlah kuat, ia sejak kecil juga sudah di bekali berbagai macam tehnik beladiri oleh Yoga. Bahkan di Australia dulu ia mengikuti banyak klub beladiri, mulai karate hingga taekwondo.
Pukulan demi pukulan , tendangan mereka saling beradu, hantaman mereka pun sama sama kuat. Namun mereka bisa menahan sakit meski banyak pukulan dan tendangan mengenai tubuh mereka.
.
.
Bocah ini bagus juga...dia kuat ..Ternyata anak orang kaya ini punya kemampuan juga...pantas dia jadi ketua genk sekolahnya...
Orang tuanya pasti membekali dia ilmu beladiri...
.
.
Xavier dan Shaka sama sama terjatuh karena terkena serangan masing masing. Shaka berhasil menyarangkan tinjunya ke muka Xavier sedang Xavier menyarangkan serangan lututnya ke perut Shaka.
" Lumayan juga.." ucap Xavier sambil menghapus darah yang keluar di sudut bibirnya yang terluka karena pukulan Shaka.
Shaka tersenyum simpul sambil menahan nyeri di perutnya . Serangan Xavier yang kuat itu membuatnya kesakitan meskipun tak berdarah, tapi nyerinya terasa sampai ke dada.
" Sudah , hentikan Xavier...Kau bukan lawannya .Dia itu mantan atlit juara beladiri kelas
b a n t a m...Apa kau mau mati konyol.." ucap Mika. Ia sebenarnya cuma tak ingin Xavier terluka lebih parah, ia tidak bermaksud membela Shaka.
.
.
Oh...mantan juara ...pantas dia kuat... Tapi dia tetap bukan lawan ku
.
.
Shaka tidak besar kepala meski Mika membuka jati diri nya. Ia bukan orang sombong seperti Xavier. Ia hanya ingin menyadarkan pada bocah sok itu, bahwa di atas langit masih ada langit. Kenapa harus belagu hanya karena berlindung di balik kekuasaan dan kekayaan orang tua dan pamannya.
Dan lagi ia juga kesal pada Xavier setelah mendengar cerita Mika tadi , ia sampai menangis di cemooh oleh Romi bos nya gara gara hamil anak Xavier yang tidak bertanggung jawab itu bahkan Mika sampai ingin menggugurkan kandungannya.
__ADS_1
Tadinya ia dan kedua teman resepsionisnya itu cuma ingin menghibur dan menguatkan Mika tapi tau tau Xavier datang dengan marah karena cemburu dan menuduhnya merebut Mika.
" Kalau gue jadi atlit gue juga pasti bakal jadi juara dunia.." kata Xavier seraya bersiap siap menyerang lagi.
Shaka juga bangkit. Ia menahan nyeri di perut dan dadanya dan bersiap melawan Xavier. Mereka saling menyerang dengan cepat. Mengadu kekuatan dan kemampuan beladiri mereka. Banyak pukulan dan serangan mengenai tubuh mereka namun mereka sama sama mengabaikan rasa sakit di tubuh mereka dengan terus menyerang.
Xavier terkena pukulan keras di mata kirinya sehingga pandangannya kabur dan ia merasa pusing. Shaka tak menyia\_nyiakan kesempatan itu. Ia menerjang Xavier hingga Xavier jatuh terjengkang ke tanah dan Shaka memukulinya.
" Xavier..." Mika begitu mencemaskan Xavier.
" Bos..." Anak buahnya langsung bergerak ingin menolong Xavier yang menjadi bulan bulanan Shaka.
Namun sebelum teman teman Xavier datang menolong dua orang pria berjas hitam tiba lebih dulu dan langsung menarik Shaka dan membawanya menjauh dari Shaka. Juga beberapa pria dengan pakaian sama segera menolong Xavier.
Shaka tak bisa berkutik saat 2 pria kekar itu mencekal nya dengan kuat. Ia pun akhirnya tersenyum simpul pada Xavier yang sudah kalah darinya dan di bantu bangun oleh para pria berjas hitam yang ia yakini pasti para body guard Xavier.
" Lepas...!! " ucap Xavier setelah ia bisa berdiri kembali dan menepis tangan para pria berjas itu.
Ia menatap Shaka yang seolah tersenyum meledek kekalahannya.
" C i h...ini belum selesai ayo duel lagi..." tantang Xavier.
" Sudah cukup ! " ucap Romi yang tiba tiba sudah ada di sana . Ia mendapat laporan dari anak buahnya yang mengikuti dan mengawasi Xavier jika Xavier berkelahi dengan Shaka yang ia kenal betul latar belakangnya adalah mantan juara beladiri. Ia langsung bergegas ke sana karena tidak ingin Xavier celaka.
Romi menghampiri Xavier dan melihat keadaannya. Keponakannya itu tampak banyak luka. Kemudian ia menghampiri Shaka yang di cekal oleh anak buahnya.
" Apa nyawamu sudah rangkap berani menyentuh keturunan Pratama...Tau dirilah kau itu siapa ..." ucap Romi dengan tatapan tajam , sinis dan penuh kemarahan . Ia begitu kesal ada orang yang berani melukai keponakannya itu....Terlebih dia adalah karyawannya.
Shaka terdiam. Ia jauh lebih terintimidasi oleh Romi yang sudah ia kenal bagaimana sepak terjangnya itu. Background nya dan juga lobi lobi nya yang super luas. Ia bisa saja kehilangan pekerjaan dan juga sulit mendapat pekerjaan baru di manapun .
" Ini bukan salah Shaka tapi Xavier...dia duluan yang menantang Shaka " Mika pun membela Shaka karena Xavier memang yang memulai keributan.
" Beraninya membela selingkuhan mu .." kata Xavier kesal pada Mika. Ia benar benar tidak rela Mika justru membela Shaka ketimbang dirinya. Padahal ia sudah bonyok karena Shaka.
" Besok kau menghadap aku di kantor.." kata Romi pada Shaka. " Dan kau Mika, kau ikut aku sekarang...bersama Xavier "
" Nggak!! " Shaka dan Mika menolak bersamaan. Mika sudah tidak ingin terlibat lagi dengan Xavier , dan Shaka juga keberatan Mika di bawa paksa Romi.
__ADS_1
" Kalian ini...." Xavier geregetan dengan keduanya yang nampak sehati itu.
" Kalau mau bicara besok , bicara bersama. Kalian tidak boleh membawa Mika " kata Shaka yang mencemaskan Mika . Ia takut jika mereka melakukan sesuatu yang buruk pada Mika.
Romi menghela nafas panjang. " Baiklah...Besok kalian datang ke ruangan ku..." kata Romi kemudian.
" Maaf , aku tidak bisa. Besok aku masuk kerja." kata Mika yang harus mulai masuk kerja di tempat kerja baru nya.
" Sepulang kerja saja..."kata Romi kemudian. Shaka akhirnya mengangguk.
Romi kemudian mengajak pergi Xavier.
" Mika..." Xavier memanggil Mika yang tampak buang muka darinya.
Betapa sakit hati Xavier mendapat perlakuan ketus dari wanita yang di rindukannya itu.Hingga akhirnya ia menurut saja saat Romi mengajaknya pulang.
" Mika...lupakan saja bocah itu..Kau dan dia sulit bersama. Mereka orang yang sewenang\_wenang dan sombong karena kaya. Kau cuma akan sengsara bila bersama bocah tak bertanggung jawab itu. " Mika diam dan menunduk
" Juga jangan gugurkan kandungan mu ..Kasihan bayi kamu...Daripada kau dengan bocah itu lebih baik kau denganku..Menikah saja denganku , kita besarkan anak mu bersama sama. Aku tak masalah menerima kalian..." ucap Shaka kemudian.
Mika ternganga juga kedua teman resepsionis nya. Shaka terang terangan mengungkapkan perasaannya bahkan ia juga mau menerima diri dan anaknya. Sungguh laki laki yang sangat langka. Mau menerima wanita bekas orang dan bahkan juga bayi orang lain.
.
.
.
.
...----------------...
.
.
" Kenapa sih Om datang membantu ku...Aku jadi tampak seperti laki laki lemah di depan wanita ku.." keluh Xavier saat ia duduk semobil dengan Romi.
" Kalau aku tak membantu mu...kau bisa mati di tangan Shaka...Dia bukan tandingan mu...Kau itu pemula sedang dia Pro...Jam terbang dia jauh di atas mu..." kata Romi. Xavier akhirnya diam.
" Jangan pecat dia..." kata Xavier kemudian.
" Kenapa?"
" Jangan membuat ku lebih malu lagi...Semua orang bakal bilang aku cuma bocah yang berlindung di bawah ketiak pamannya " terang Xavier.
Romi tersenyum . Ia mengerti maksud Xavier. Xavier tidak ingin di cap buruk seperti itu.
__ADS_1
" Konyol " ucap Romi kemudian sambil tertawa. " Anak Yoga satu ini...benar benar deh..." Ucap Romi sambil mengacak acak rambut keponakannya itu.