
Kristy akhirnya diperbolehkan pulang setelah 1 minggu di rawat . Namun ia masih harus tetap rutin memeriksakan diri dan bayinya. Mengecek bekas luka operasi sesar nya dan juga kondisi kesehatan Xavier.
Bisma sengaja mengambil cuti hari ini khusus untuk memboyong Kristy dari Rumah sakit ke rumah baru mereka. Ia sudah menyiapkan tempat tinggal baru yang lebih luas untuk mereka. Semua barang barang Kristy sudah di pindahkan oleh Bisma. Tinggal membawa Kristy dan anak anaknya saja.
"Hati hati Kris.. " Bisma membantu Kristy turun dari ranjang Rumah sakit . Kemudian ia menggendong Xavier. Sedang Kristy dan Dafa Dafi membantu membawakan barang bawaan Kristy. Hanya beberapa baju ganti dan beberapa peralatan kebutuhan bayi yang sudah di masukkan kedalam tas.
Mereka kemudian masuk lift menuju ke basemen dan menuju ke mobil Bisma.
Dafa duduk di samping tempat kemudi dan Dafi di tengah menemani Kristy dan Xavier. Bisma yang sudah siap di kemudi kemudian segera melajukan mobil ke rumah baru mereka.
" Bis.. ini rumah siapa?" tanya Kristy heran saat mereka sampai ke sebuah rumah yang asing di mata mereka.
Sebuah rumah simpel namun memiliki pemandangan sebuah taman kecil yang indah dengan sekat batu bata merah. Bunga kuning yang entah jenis bunga apa bermekaran dengan cantik. Memiliki dua pintu di depan , satu di samping kiri dan satu di samping kanan.
Pintu depan yang lengkap dengan teras dan sebuah tempat duduk dan pintu samping kiri tepat di depan garasi mobil. Dan di tengahnya, ruang tamu dengan tiga jendela kaca yang bisa langsung melihat keluar dan menikmati pemandangan indah dari taman bunganya. Simpel minimalis dan terlihat nyaman.
" Ini rumah baru kita Kris.. dekat dengan sekolah si Kembar jadi kau bisa antar jemput ke sekolah dengan mudah "
Kristy ternganga.
" Rumah kita juga dekat dengan supermarket dan taman lho Kris.. jadi kalau kalian mau berbelanja bisa sambil jalan jalan dan bermain di taman"
" Ya Ampun Bisma.. kenapa kau sampai repot repot seperti ini.." ucap Kristy yang tak enak Bisma melakukan semua itu untuknya .
Ia sudah begitu banyak berhutang budi pada Bisma. Mulai dari biaya hidup mereka , biaya sekolah Dafa dan Dafi , dan juga biaya operasi Kristy. Sudah tak terhitung betapa banyak uang yang di keluarkan Bisma untuk mereka. Ia benar benar merasa tidak enak menjadi parasit di kehidupan Bisma.
" Jangan khawatir Kris..Aku cuma menyewanya kok. Aku tidak membeli rumah ini. Harga rumah di sini seharga tanah satu desa di kampung ku " ucap Bisma sambil tertawa tawa.
" Meski sewa kan juga tetap mahal Bis... Kau total saja semua yang sudah kau keluarkan untuk kami. Nanti kalau aku sudah bisa kerja aku akan mengembalikan nya sedikit demi sedikit" kata Kristy.
" Sudah.. tidak usah di kembalikan.."
" Tidak bisa begitu dong Bis... aku kan terhitung pinjam ke kamu.."
__ADS_1
" Kalau kau kembalikan aku minta bunga tinggi lho.." canda Bisma.
" Seberapa tinggi?" tanya Kristy.
"Sebesar dan setinggi ini.." jawab Bisma sambil menyentuh tangan Kristy dan kepalanya. Sebesar tangan Kristy dan setinggi kepalanya. Seukuran dirinya.
" M..maksudmu apa Bis ?" tanya Kristy dengan wajah yang nampak memerah karena tahu maksud Bisma.
Bisma tak menjawab cuma tersenyum.
' Ini gila... Apa Bisma masih menyukaiku?... Apa dia beneran masih punya rasa padaku...janda beranak 3 ini...benar benar tidak masuk di akal " batin Kristy bertanya tanya.
.
.
"Waaaaah... rumah baru " Dafa dan Dafi nampak terkagum kagum. Kemudian mereka segera memasuki nya. Bisma dan Kristy mengekor di belakang sambil menggendong Xavier mengikuti Dafa dan Dafi yang sudah masuk duluan.
" Ini kamar Dafa dan yang itu kamar Dafi.. kalian tidur sendiri sendiri ya...kamar kalian sama tapi bersebelahan "
Sedang Dafi justru melihat ke ruang bayi yang sepintas ia lihat ada boneka panda di sana. Ia lebih tertarik ke sana.
" Ma ..ini baby box Xavier.." ucapnya senang melihat box bayi Xavier . " Aku bisa main sama Xavier dan tiduran di sini.. " tambahnya sambil naik ke tempat tidur di dekat box bayi Xavier.
Bisma dan Kristy tersenyum.
" Ini kamarmu dan Xavier Kris.." jelas Bisma.
Kristy begitu terkesima. Kamarnya dan Xavier sangat bagus. Nuansa putih dan abu abu. Sangat cocok untuk Xavier.
" Suka?"
" Banget Bis.. " jawab Kristy sambil tersenyum. Bisma pun tersenyum. Ia senang Kristy menyukai kamar yang ia persiapkan untuk mereka.
Ia membaringkan Xavier di tempat tidur bayi. Dafi menemaninya dan mengajak Xavier berinteraksi dengannya. Kebetulan Xavier bangun dan sudah minum asi sehingga ia tidak rewel. Dafi mengajaknya bicara meski Xavier cuma berkedip kedip sambil menggerakkan tangannya.
__ADS_1
" Xavier adikku yang lucu..."ucap Dafi gemas melihat baby boy mungil dan imut itu.
.
.
"Kalau kamarku di sana.. Mau lihat?" tanya Bisma . Kristy mengangguk dan mengikuti Bisma yang berjalan menuju ke ruangan lain menunjukkan kamarnya.
" Ya Ampun bagus banget Bis.. rumah ini dari luar sederhana tapi dalamnya luar biasa. wah banget Bis..." ucap Kristy terkagum kagum melihat keindahan kamar Bisma.
" Rumah ini kalau di lihat dari depan memang kecil tapi sebenarnya luas dan memanjang ke belakang. Di luar itu masih ada tanah lapang tamannya lo Kris. jadi kau bisa menjemur pakaian, kalau ingin bercocok tanam juga bisa menanam di pot . Anak anak juga bisa bermain sepuasnya... aman karena di kelilingi pagar tembok..."
" Aku kehabisan kata Bis.. pasti banyak sekali uang yang kau keluarkan untuk semua ini.." kata Kristy tak habis pikir.
"Hehehe.." Bisma cuma tersenyum.
' Itu semua dari Tuan Romi Kris.. Dia selalu mengirim banyak uang untuk kalian. Tidak sedikit.. bahkan terlampau banyak...' batin Bisma..
.
.
.
Sementara itu di belahan bumi yang nun jauh di sana. Yoga sedang di terapi oleh Dokter Fisioterapi yang di datangkan oleh Romi.
Guntoro duduk di sofa rumah sakit sambil menatap ke layar laptopnya. Mengerjakan pekerjaannya dengan Romi. Sedang Risa mendampingi Yoga di sisinya.
" Coba anda gerakkan pelan kaki anda Tuan.." kata Dokter itu. Yoga pun menurutinya . Ia berusaha menggerakkan kakinya. Terasa sedikit tertarik otot kakinya namun masih belum kuat di gerakkan.
" Kita coba lagi ya... Gerakkan jari kaki anda.."
Dengan sekuat tenaga Yoga terus berusaha. Ia pantang menyerah walau sulit. Ia punya satu tekad yang menjadi penyemangat nya. Yaitu anaknya. Ia harus segera sembuh dan menemukan anaknya kembali.
" Ya...bagus.." ucap Dokter itu saat jari kaki Yoga bisa digerakkan nya.
Risa menyentuh punggung putranya dan merengkuh bahunya. Ia tersenyum melihat usaha anak nya itu. Ia benar benar berharap Yoga bisa cepat pulih kembali.
Guntoro yang sesaat menyaksikan itu tersenyum. Masih ada harapan untuk Yoga pulih kembali. Ia bersyukur anaknya tidak cacat. Meski Yoga yang masih marah padanya dan mendiamkannya . Yang penting anaknya masih hidup . Urusan lain ia tidak mau memikirkannya.
__ADS_1