Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Target Pertama


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua jam lamanya, akhirnya Ghani tiba di Makasar. Pria itu memutuskan langsung ke hotel guna mengistirahatkan sejenak tubuhnya sebelum melakukan penyergapan kepada orang-orang jahat yang telah menyakiti calon istri dan putri kandungnya. Diantar Yogi, Ghani tiba di hotel bintang lima yang berada di pusat kota Makasar.


"Dokter Ghani, selepas menjalankan ibadah subuh, kita bergegas menuju rumah kontrakan Bu Mia. Dari informasi yang didapat biasanya Sarman dan Mia akan meninggalkan rumah tepat pukul enam pagi untuk berkeliling kampung, berolahraga seraya mencari sarapan, sedangkan Lita tetap tinggal di rumah menunggu orang tuanya membawakan makanan."


"Akan sulit melakukan penyergapan apabila Mia dan Sarman tidak berada di rumah. Terlalu beresiko bagi kita semua, Dok. Oleh karena itu, saya dan tim memutuskan untuk menyergap mereka sebelum mentari menampakkan sinarnya ke seluruh insan manusia di bumi ini," tutur Yogi menyampaikan rencananya yang telah disusun rapi bersama rekannya.


Ghani mengangguk setuju dengan rencana Yogi. "Ya, kamu atur saja bagaimana baiknya. Aku akan menuruti apa katamu."


Pria berwajah oriental dan bermata sipit merebahkan tubuh di atas ranjang. Ia meraih telepon genggam dari atas nakas. Niat hati menghubungi Queensha dan memberitahu bahwa ia telah tiba di tujuan dengan selamat. Akan tetapi, waktu sudah menunjukan pukul setengah dua dini hari dan di jam segitu dapat dipastikan jika Queensha telah pergi ke alam mimpi.


"Sebaiknya gue menghubungi Queensha besok pagi saja, setelah semua urusan selesai. Kalau sekarang dia pasti sudah tidur," gumam Ghani lirih. Lalu meletakkan kembali telepon genggamnya ke atas nakas. Rasa kantuk mulai menguasai diri. Perlahan, matanya terpejam dan tak lama kemudian menyusul Queensha yang telah lebih dulu pergi ke alam mimpi.


Keesokan harinya, Ghani telah menunggu Yogi di lobi hotel. Sesuai rencana, mereka akan pergi ke rumah kontrakan Mia secara sembunyi-sembunyi. Mereka akan membawa Mia, Sarman dan Lita ke sebuah tempat rahasia sebelum memasukan ketiga orang jahat itu ke penjara.


"Kamu yakin rencana kita akan berhasil? Tidak akan ada polisi yang tahu jika aku bermain sebentar dengan mereka sebelum menjebloskannya ke penjara?" tanya Ghani memastikan kembali jika perbuatannya nanti tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.


Yogi yang berjalan di sebelah Ghani menjawab dengan yakin. "Dokter Ghani tenang saja, saya bisa pastikan jika aksi balas dendam Anda dapat berjalan dengan baik tanpa diketahui oleh siapa pun. Kalaupun terendus oleh pihak kepolisian, biarlah itu menjadi urusan saya," ujarnya tegas. Tak terlihat keraguan sedikit pun di sorot mata Yogi.

__ADS_1


Makin bersemangatlah Ghani dibuatnya. Dalam hati bersumpah akan membalas setiap setetes air mata yang keluar dari sepasang mata Queensha.


Sepanjang perjalanan, Yogi beberapa kali melirik kaca spion di sebelahnya untuk memastikan tidak ada anak buah Sarman yang membututi. Jangan sampai anak buah Sarman memberitahu bosnya jika saat ini ibu tiri dan adik tiri Queensha tengah dalam pengawasan Ghani.


"Kenapa berhenti di sini? Memangnya rumah yang dihuni Mia berada di sekitar sini?" tanya Ghani memicingkan mata ketika melihat Yogi menghentikan mobil di bahu jalanan sepi yang mengarah ke rumah kontrakan Mia.


"Masih lima puluh meter dari sini, Dok. Kita sengaja berhenti agar target tidak curiga jika sedang dimata-matai," sahut anak buah Yogi.


"Lantas, bagaimana kalian membawa ketiga orang itu jika kita berhenti di sini?" Ghani masih belum mengerti rencana yang disusun rapi oleh Yogi. Semalam Yogi hanya memberitahunya secara garis besar saja sehingga ia masih bingung dengan rencana orang kepercayaannya itu.


"Nanti, ketiga orang suruhan saya mendatangi rumah kontrakan target. Masing-masing orang bertanggung jawab terhadap target. Setelah target berada dalam genggaman, saya dan Agus mendekati rumah kontarakan tersebut menggunakan mobil. Setelah itu, barulah kita membawa mereka ke tempat yang telah ditentukan."


Deni, anak buah Yogi akan lebih dulu menjalankan tugas yang diberikan oleh sang bos. Ia turun dari mobil, kemudian berjalan santai menyusuri jalanan sepi perkampungan. Sesekali tersenyum sambil menyapa warga yang tanpa sengaja berpapasan dengannya. Jika orang awan melihat, mereka tak menduga di balik senyuman itu menyimpan sebuah rencana jahat untuk menculik seseorang.


"Permisi!" seru Deni seraya mengetuk daun pintu. Nada suara pria itu dinaikan satu oktaf dengan tujuan agar sang empunya rumah mendengar suaranya.


Mia yang saat itu sedang bersiap olahraga pagi bersama mantan suami yang kini resmi menjadi suaminya menoleh ke sumber suara. Mengernyitkan kening ketika melihat jam dinding menunjukan pukul lima lebih tiga puluh menit.

__ADS_1


"Orang bodoh mana yang bertamu pagi-pagi buta. Aku yakin orang di luar sana tidak hanya bodoh, tetapi juga dungu. Jika tidak mana mungkin dia datang ke rumah orang di saat matahari belum menampakan sinarnya secara sempurna." Kendati demikian, Mia tetap membukakan pintu untuk mengetahui siapakah orang yang tertamu.


"Kamu siapa? Dan mau apa datang bertamu ke rumah orang? Memangnya kamu tidak pernah diajarkan kedua orang tuamu sopan santun sampai kamu bertamu ke rumah orang di saat seperti ini?" sembur Mia dengan berkacak pinggang. Kesal dan marah karena pagi harinya diganggu oleh orang asing.


"Ehm, kamu tak perlu mengetahui siapa aku. Tujuanku datang ke sini karena ingin mengajakmu pergi, ada orang yang mau bertemu denganmu," sahut Deni seraya maju satu langkah ke depan.


Mia melangkah mundur kala Deni mendekat ke arahnya. "S-siapa? K-kamu ... jangan coba macam-macam kepadaku. Aku bisa berteriak dan meminta tolong kepada semua orang. Dan di saat itulah kamu menjadi bulan-bulanan semua orang."


Deni tersenyum smirk dan berkata, "Silakan saja. Kamu pikir aku takut, hem?"


Mia merasa sinyal berbahaya di sekitar segera menutup daun pintu, tapi rupanya sepatu hitam milik Deni telah lebih dulu terulur ke depan, mengganjal pintu tersebut agar tidak tertutup rapat.


"Sialan! Minggir kamu!" hardik Mia berusaha keras menyingkirkan kaki Deni. Tangan wanita itu mencoba menarik daun pintu tersebut. Akan tetapi, usahanya sia-sia. Tenaga Mia kalah kuat dari Deni.


Tanpa pikir panjang, Mia membuka mulut dan berteriak, "Mas Sarman, tolong! Ada-"


Belum selesai Mia berbicara, Deni telah lebih dulu menusukan jarum infus ke leher ibu tiri Queensha ketika wanita itu sedang lengah. Sayup terdengar derap langkah empat orang masuk ke dalam rumah. Mereka berbisik lirih sebelum Mia jatuh pingsan di tangan Deni.

__ADS_1


"Bersiaplah di posisi masing-masing! Ingat, jangan sampai gagal!" ujar Deni melalui earphone wireless. Usai mengucap kalimat tersebut, Deni segera membopong tubuh Mia ke dalam mobil. Ia menanti keempat rekan kerjanya yang lain menjalankan tugas masing-masing.


...***...


__ADS_2