
Mobil yang dikendarai Leon melaju tenang membelah jalanan ibu kota. Di samping pria itu ada Lulu yang tampak sedang sibuk memandangi pemandangan di luaran sana dari dalam jendela mobil. Sejak meninggalkan apartemen sang sahabat, mulut Lulu terkunci rapat, tak ada sepatah kata pun kalimat meluncur di bibirnya yang ranum.
'Kenapa Lulu diem aja. Apa gue ada buat salah sama dia?' tanya Leon dalam hati. Sesekali sepasang matanya memperhatikan gadis di sebelahnya. 'Duh, bahaya nih kalau sampe dia marah, bisa kena ceramah Mama Ayu tujuh hari tujuh malam.'
Karena tak tenang berada dalam situasi ini, Leon memberanikan diri untuk bertanya langsung kepada Lulu, daripada dia menerka-nerka apa yang menyebabkan gadis di sebelahnya terdiam dalam waktu yamg cukup lama.
"Lu, gue perhatiin dari tadi lo diem aja. Ada masalah apa? Apa ini ada hubungannya dengan urusan pekerjaan? Atau ... gue ada salah omong sampe bikin lo sakit hati. Kalau iya, gue minta maaf udah buat lo tersinggung."
Lulu menoleh ke arah Leon. Ada sorot kekhawatiran terpancar dari bola mata pria tersebut. "Enggak ada masalah apa-apa, kok. Gue cuma lagi fokus perhatiin pemandangan di luar sana ternyata cukup bagus saat dilihat di malam hari."
Bukannya merasa tenang, Leon justru semakin curiga bahwasannya Lulu tengah menyembunyikan sesuatu dari dirinya. "Jangan nutupin sesuatu dari gue, Lu. Ngomong aja kalau lo punya masalah, gue siap jadi pendengar setia."
'Gimana mau cerita, lah wong yang jadi sumber masalah adalah lo. Ya kali gue curhat tentang lo secara langsung,' kata Lulu dalam hati.
Menyunggingkan senyuman termanis kepada Leon. "Ish, lo mah enggak percayaan jadi orang. Gue udah ngomong jujur, loh."
"Yakin?" Leon masih berusaha mendesak Lulu.
Memaksakan diri untuk tersenyum lagi. "Yakin dua ratus persen. Udah, daripada sibuk ngurusin gue mending fokus ke arah jalanan di depan sana. Jangan sampe kecelakaan karena fokus lo terbagi dua."
Helaan napas kasar meluncur dari mulut Leon. Terus mendesak Lulu pun percuma karena gadis itu teguh pendirian. Akhirnya dia hanya bisa pasrah meski masih ada yang merasa mengganjal di hati.
Ketika melewati pesimpangan jalan, Leon membelokkan kendaraan roda empatnya ke arah kanan. Padahal rute menuju indekos Lulu seharusnya ke arah kiri dan hal itu membuat Lulu yang tengah menyenderkan punggung di sandaran kursi merubah posisi duduknya menjadi tegak. Pandangan mata bergerak, menatap Leon dan jalanan di luar sana secara bergantian.
__ADS_1
"Yon, lo mau bawa gue ke mana? Ini bukan rute menuju indekos gue," ucap Lulu dengan suara gemetar. Pikirannya langsung kacau. Muncul bayangan masa lalu saat Andri menyentuh tubuhnya secara paksa.
"Iya emang, ini bukan jalanan menuju indekos lo. Gue mau ajak lo ke suatu tempat sebelum nganterin lo pulang," sahut Leon tenang.
Jantung berdegup tak beraturan. Wajah berubah pucat, dan perasaan gelisah hingga keringat dingin mulai muncul ke permukaan kulit. Lulu benar-benar takut Leon akan melakukan hal sama seperti Andri dulu.
"Jangan takut, gue cuma mau ajak lo taman kota di sekitaran sini. Katanya sih di sana pemandangannya indah dan ada live music-nya juga tiap malam minggu. Gue rasa lo akan suka berada di tempat tersebut."
Refleks Lulu memukul lengan sebelah kiri Leon dengan kencang. Hampir saja dia berteriak, minta tolong karena takut dipecehkan untuk kedua kali.
"Nyebelin!" sungut Lulu seraya memalingkan wajah ke arah lain. Kedua tangan dilipat ke depan dada, bibirnya yang ranum manyun karena kesal.
***
Leon memarkirkan mobilnya di bahu jalan. Dia turun terlebih dulu, kemudian membukakan pintu mobil untuk Lulu.
Menggeleng kepala lemah dan berkata dengan lirih. "Lo selalu tau cara buat bahagian gue. Tante Ayu pasti bangga punya anak seperti lo."
Duduk bersebelahan di kursi taman terbuat dari kayu. Leon dan Lulu begitu asyik memperhatikan segerombolan anak kecil tengah berlarian ke sana kemari. Mereka terlihat sangat senang dapat bermain bersama anak sebayanya.
Cukup lama terdiam, Leon memulai percakapan di antara mereka. Namun, sebelum membuka suara, pria itu lebih dulu menarik napas dalam, mencoba mengumpulkan keberanian dalam dada.
"Lu, sebenernya gue ngajak lo ke sini bukan tanpa alasan. Gue ... gue ...." Suara bariton Leon tercekat di tenggorokan saat dua netra beradu pandang. Mata indah Lulu berhasil membuyarkan konsentrasinya. Susunan kata yang dipersiapkan menghilang bersamaan dengan embusan angin malam, menerbangkan helaian rambutnya yang hitam.
__ADS_1
"Gue kenapa? Lo mau ngomong apaan sih sebenernya." Lulu menunjukan ekspresi wajah kesal karena sedari tadi Leon tak kunjung menyelesaikan ucapannya.
'Bodoh! Kenapa lidah gue mendadak kelu. Padahal tadi mulut gue lancar jaya, masih bisa ngomong tanpa kendala apa pun.'
Tak mendapat respon apa pun, Lulu semakin dibuat jengkel oleh kelakuan Leon. Tidak tahan, akhirnya gadis itu bangkit berdiri dan hendak meninggalkan Leon begitu saja. Namun, tangan kekar Leon mencekal lengannya.
"Tunggu! Lo mau ke mana? Urusan kita belum selesai."
"Gue mau pergi. Mau ngapain lama-lama di sini kalau cuma dengerin omongan lo yang enggak jelas. Mendingan gue pulang, rebahan di kasur sambil nonton kelanjutan dracin Hidden Love, itu lebih seru ketimbang berduaan dengan cowok gaje macam lo!" sungut Lulu berapi-api.
Sebelah tangan Leon yang nganggur menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Jangan gitu dong, Lu. Gue ngeluarin banyak effort untuk bisa ajak lo ke sini."
"Kalau emang gitu, ngomong yang jelas. Maksud lo ngajakin gue ke sini untuk apa? Gue enggak mau buang waktu hanya untuk hal enggak penting!" tandas Lulu dengan napas tersengal. Kesabarannya sudah habis, dia tak lagi dapat menahan diri untuk tidak memarahi Leon di tempat umum.
"Oke, gue ngomong sekarang. Tapi please, lo duduk dulu biar ngobrolnya enak."
"Buruan ngomong sebelum gue tinggal pergi," kata Lulu sinis.
"Gini Lu, gue ngajak lo ke sini karena kepingin ngomong sesuatu kalau gue ... gue ... cinta sama lo. Gue kepingin hubungan kita bukan cuma sebatas temen. Gue ingin ngerubah status pertemanan kita jadi sepasang kekasih."
"Kita emang baru aja saling kenal, tapi gue begitu yakin kalau lo tercipta cuma buat gue seorang. Untuk itulah gue beraniin diri untuk bilang ke lo kalau gue, Leon Radeyyan Hamiz jatuh cinta pada seorang gadis cantik, imut, dan menggemaskan bernama Aluna Humairah. Gue mau lo jadi kekasih, istri, dan calon ibu bagi anak-anak gue. Apa ... lo mau terima pernyataan cinta gue?" Mata Leon mengerjap penuh pengharapan. Debaran jantung pria itu semakin lama semakin meningkat bahkan rasanya dia merasakan organ pentingnya mau meledak detik itu juga. Dia menunggu jawaban Lulu dengan harap-harap cemas.
Sementara itu, Lulu termangu di tempat. Pernyataan cinta Leon sukses membuat dunianya terasa berhenti berputar.
__ADS_1
Leon mencintainya? Pria itu benar-benar jatuh cinta kepadanya? Sungguh, Lulu seperti sedang bermimpi di siang bolong saat mendengar untaian kata cinta meluncur dari mulut pria tampan yang wajahnya mirip dengan salah satu aktor asal negeri tirai bambu, Johnny Huang.
...***...