Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Keputusan Ghani


__ADS_3

Semenjak kepergian Queensha, Arumi yang sudah sadar hanya bisa menangis dan Rayyan tidak bisa menghentikannya. Arumi sedari tadi menangis tersedu meratapi kesedihan yang tidak bisa ditahan sama sekali.


“Babe, sudah dong. Jangan nangis terus, aku jadi bingung harus gimana kalau kamu nangis terus,” bujuk sang suami kepada istrinya.


Arumi tidak lantas berhenti menangis sehingga Rayyan kembali didera bingung.


“Honey, aku enggak mau mereka berpisah. Aku enggak rela. Suruh Ghani susul Queensha. Suruh Queensha pulang. Aku yakin kalau Ghani yang meminta, pasti Queensha mau pulang. Suruh Ghani susul Queensha, Babe!” rengek sang istri membuat Rayyan tak kuasa menolaknya.


“Iya, aku akan telepon Ghani sebentar. Kamu tunggu di sini ya,” bujuk Rayyan. Arumi mengangguk dan menaruh harapan besar kepada sang suami agar Ghani mau menuruti mereka. "Tina, tolong ambilkan HP saya di kamar."


Tak berselang lama, Tina membawa gawai milik sang majikan dan Rayyan bergegas menghubungi Ghani.


“Assalamu a'laikum. Iya, Ayah, gimana?” tanya Ghani saat mendengar suara sang ayah.


“Bisa kamu pulang sekarang?” tanya sang ayah yang merupakan sebuah perintah juga untuk sang putra.


“Aku–”


“Pulang sekarang juga!” Terdengar nada tegas dari suara ayahnya yang membuat Ghani terdiam, jika mendengar sang ayah yang seperti ini pasti dia sudah mendengar masalah yang terjadi pada mereka dari Queensha.


Menghela napas kasar dan menjawab, “Baiklah, aku akan pulang sekarang,” ucap Ghani. Panggilan itu kemudian terputus. Ghani mengusap wajahnya kasar dan menatap ponselnya yang kini telah mati.


Sebelumnya Rayyan juga menghubungi Zahira, meminta putrinya itu untuk menggantikan Ghani sementara waktu untuk menjaga Aurora yang sedang dirawat di rumah sakit. Ia tidak mau ambil resiko dengan menitipkan cucu tersayang hanya kepada perawat saja.


"Halo, Yah, ada apa?" tanya Zahira lembut. Putri ketiganya itu baru saja selesai shift dan hendak bersiap pulang ke rumah.

__ADS_1


"Ra, tolong kamu gantikan Ghani menemani Rora di rumah sakit. Ayah ada perlu sama Kakak Pertamamu." Rayyan mulai menceritakan tujuannya menghubungi putri tercinta.


Kedua alis Zahira tertaut satu sama lain. "Baik. Kebetulan sekali aku baru saja selesai shift dan rencananya emang mau besuk Rora ditemani Mayumi dan Allan."


"Oke, terima kasih. Salam untuk kedua cucu Ayah."


Zahira merasa bingung karena tiba-tiba sang ayah menghubunginya dan menyuruhnya untuk datang menggantikan Ghani.


Ghani baru saja akan pergi saat Zahira masuk ke dalam ruangannya. Ghani yang tengah bersiap-siap pulang mendapatkan pertanyaan dari Zahira perihal sang ayah yang menyuruhnya untuk menggantikannya di sini.


“Apa ada masalah, Kak?” tanya Zahira pada Ghani.


Ghani menggeleng cepat. “Enggak ada. Ya sudah, aku titip Rora sebentar." Ghani mencium puncak kepala adik kembarnya itu kemudian meninggalkan Zahira yang menatapnya tajam.


“Aku yakin Ayah suruh aku ke sini pasti karena ada masalah di rumah. Kak ... Kak .... Kamu tuh udah membangunkan Singa Jantan yang tengah tertidur nyenyak. Semoga aja kamu enggak kena damprat Ayah karena kesalahanmu itu," ucap Zahira menatap punggung Ghani yang baru saja menghilang di sebalik pintu ruangan tersebut.


Tidak sampai satu jam, Ghani telah sampai di rumah. Rayyan langsung memintanya untuk duduk bersama dengannya juga dengan sang ibu.


“Apa alasan kamu menjatuhkan talak sama Queensha?” tanya Rayyan dengan nada yang marah. Ghani hanya diam mendapatkan pertanyaan interogasi dari ayahnya tersebut.


Wajah Rayyan merah padam, dadanya pun kembang kempis. Mengingat istri tercinta terus menerus menangis membuat amarah dalam diri pria itu meledak bagai lava panas yang siap meluluhlantakan yang ada di sekitarnya.


Rayyan dan Arumi menunggu, tapi anaknya itu masih saja bungkam seakan tidak ingin memberi alasan apa pun.


“Ghani, bilang sama Bunda, kenapa kamu menceraikan Queensha?” tanya Arumi lagi, meskipun dia sendiri juga tidak yakin dengan pertanyaannya itu. Ditatapnya sang putra yang masih saja bungkam. “Ini cuma bercanda, 'kan? Kalian enggak beneran mau pisah?” tanya Arumi lagi. Kali ini berharap jika Ghani menganggukkan kepalanya. Akan tetapi, Ghani menghela napas berat seakan apa yang dia lakukan itu sudah mewakili jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan ayah dan ibunya.

__ADS_1


“Nak. Coba pikirkan lagi. Bukankah Queensha sudah mengaku bersalah, sudah menyesali apa yang dia lakukan? Kenapa kamu dengan mudah menjatuhkan talak kepada Queensha. Emang kamu enggak memikirkan Rora. Pikirkan masa depan kalian. Bunda pikir masalah kemarin sudah bisa kalian selesaikan tanpa ada kata cerai. Tapi ternyata ...." Tatap sang bunda, juga dengan Rayyan yang sudah tidak sabar ingin mendengar jawaban Ghani.


“Kamu sudah dewasa, seharusnya bisa berpikir dengan baik dan juga bijak dengan keputusan yang diambil. Meskipun Queensha melakukan kesalahan dengan tidak melibatkan kamu, tapi dia sudah menyelamatkan Rora. Coba kamu pikir lagi, apa yang akan terjadi andai Queensha tidak ada waktu itu?" Rayyan berbicara membenarkan ucapan istrinya.


“Aku hanya tidak mau dia membawa dampak yang buruk untuk putriku,” jawab Ghani akhirnya membuat tatapan nyalang dilayangkan oleh kedua orang tuanya tersebut.


“Dampak buruk? Siapa? Queensha?” tanya sang ibu yang menatap Ghani dengan tidak percaya, pun dengan sang ayah. Tidak habis pikir dengan apa yang dikatakan sang putra kini. “Abaikan dengan ibu tirinya. Apa selama ini kamu enggak lihat bagaimana Queensha mengurus Rora? Dia sangat menyayangi Rora dengan tulus bahkan memperlakukan bunda dan Ayahmu dengan baik lantas kenapa kamu justru menceraikan wanita sebaik itu. Kurang apa coba dia, Nak."


Terdengar helaan napas berat berasal dari Ghani. Rasanya sulit membela diri jika Arumi sudah begitu sayang kepada Queensha. “Aku tahu dia sayang dengan Rora, tapi aku tidak suka dengan caranya. Jika bukan karena Queensha, Rora pasti baik-baik saja sekarang ini. Bunda tahu 'kan akibat insiden kemarin siang, Rora mengalami trauma. Setiap bertemu wanita asing, dia akan ketakutan. Menggigil dan menjerit histeris. Aku enggak tega melihat penderitaan putriku, Bun."


“Tapi itu bukan alasan buat kamu meceraikan Queensha. Kamu enggak bisa segampang itu membuat istrimu pergi dari sini, Ghani. Masih ada banyak cara untuk kamu bisa menegur istrimu tanpa menjatuhkan talak kepadanya! sembur Rayyan menatap tajam sang putra. “Apa dengan menceraikan wanita itu semua masalah selesai? Yakin tidak menimbulkan masalah baru dalam hidupmu?” Sungguh dia tidak suka dengan tindakan Ghani yang tanpa berpikir panjang terlebih dahulu.


“Yang dikatakan Ayahmu benar. Tolong bawa Queensha kembali ke rumah ini, kamu harus minta maaf sama dia. Tolong pikirkan lagi perasaan Rora kalau tidak ada Queensha di sini. Dia pasti akan sangat sedih kalau enggak ada ibunya,” mohon sang bunda. Akan tetapi, Ghani masih tetap dengan keputusannya.


“Maaf, Bunda. Dia bukan ibu dari anakku. Keputusan aku sudah bulat. Aku enggak akan menyusul dia apa lagi meminta maaf sama dia,” ujar Ghani keras kepala membuat Arumi menjadi semakin sedih.


Menatap nanar pada sosok lelaki dewasa di depannya. Ada perasaan kecewa tersirat jelas di sorot mata indah Arumi. “Ghani ... Bunda kecewa sama kamu. Bunda pikir kamu akan lebih baik lagi kalau bersama dengan Queensha, tapi ternyata kamu egois. Tidak memikirkan perasaan Rora, apalagi bunda."


“Maaf, Bunda. Aku cuma enggak mau sesuatu terjadi lebih dari ini.” Ghani memutuskan untuk pergi dari sana sebelum dia tidak tahan dan lebih merasa bersalah lagi melihat sang ibu yang menangis dan memohon seperti itu.


"Ghani, kembali! Ayah belum selesai bicara denganmu!" seru Rayyan meninggikan suara. "Muhammad Ghani Hanan, ayah bilang kembali!" Akan tetapi, Ghani tetap bergeming. Putera tertuanya itu berlalu tanpa menoleh sedikit pun ke arah kedua orang tuanya.


Mengepalkan telapak tangan kemudian memukul meja dengan kencang. "Dasar keras kepala!" ujarnya dengan dada kembang kempis. Sementara Arumi terduduk lemas di sofa.


Ghani memutuskan untuk tetap bercerai dengan Queensha setelah kepulangan Aurora nanti dari rumah sakit. Dia akan mengurus surat perceraiannya ke pengadilan agama agar bisa terlepas dari jerat perempuan yang dianggapnya sebagai pembawa sial. Meskipun Aurora tidak akan setuju, toh lama kelamaan dia akan terbiasa tanpa Queensha. Kasih sayang yang dia berikan dan juga kakek neneknya, akan membuat gadis kecil itu perlahan melupakan Queensha.

__ADS_1


"Aku enggak akan biarkan kamu kembali ke rumah ini lagi, Sha. Enggak akan pernah!" geram Ghani sambil berjalan menuju mobilnya yang terparkir di garasi. Namun, hati pria itu terasa sakit kala mengucap kalimat tersebut.


...***...


__ADS_2