Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Rahasia Ghani


__ADS_3

Gerbang tinggi dan megah terbuka secara otomatis ketika mobil milik Ghani memasuki pelataran rumah peninggalan sang nenek. Security yang berjaga malam itu menunduk hormat menyambut kedatangan putera dari majikannya.


Saat Ghani hendak memarkirkan mobil, ia melihat ada satu unit mobil warna putih terparkir di garasi dan pria itu sangat yakin jika kendaraan roda empat tersebut milik saudara kembarnya, Zavier.


"Selamat malam, Den Ghani dan Mbak Queensha," sapat Ijah sopan.


"Hmm," sahut Ghani singkat. "Di mana Ayah dan Bunda? Apa mereka ada di rumah?" tanyanya memastikan jika kedua orang tuanya tidak pergi ke mana-mana.


Menggeleng kepala lemah. "Bu Arumi dan Pak Rayyan ada di ruang makan, kebetulan mereka sedang makan malam bersama Den Zavier."


Ghani berdecih mendengar nama adik kembarnya yang sejak dulu terkenal sering gonta ganti pacar. "Ternyata dia masih ingat jalan pulang, kirain udah lupa."


Queensha yang berdiri di sebelah Ghani terkekeh. "Tentu saja masih ingat, Mas. Kedua orang tuanya, 'kan ada di sini pastilah dia pulang ke rumah untuk menjenguk Ayah dan Bunda. Aneh-aneh saja perkataanmu ini."


"Ya sudah, aku dan Queensha masuk dulu ke dalam."


"Silakan, Den." Ijah menundukan kepala, mempersilakan Ghani dan Queensha masuk ke dalam rumah.


Saat tiba di ruang tamu, Ghani melihat kedua orang tuanya serta Zavier sedang berbincang hangat, sesekali terdengar suara tawa bersumber dari sang bunda. Hati terasa bahagia karena dapat terus melihat senyuman manis dari bibir bunda tercinta.


Semenjak mengetahui masa lalu Arumi yang menyakitkan, Ghani bertekad untuk membahagiakan wanita yang telah melahirkannya ke dunia. Namun, masihkah senyuman itu ada tatkala ia menceritakan kejadian lima tahun lalu kepada Arumi dan Rayyan? Entahlah, ia tak tahu. Terpenting saat ini ia memberitahukan rahasia yang tersimpan selama ini kepada ayah dan bundanya.


Berdehem guna menginterupsi percapakan semua orang. Lalu ketiga orang dewasa menoleh ke sumber suara.


"Queensha? Ya Tuhan, mimpi apa bunda semalam bisa melihatmu lagi di sini, Nak. Sini, gabung bersama kami!" Tangan Arumi melambai ke udara, memberi kode kepada Queensha untuk duduk bersama mereka dan menyantap hidangan di atas meja.


Malam ini Tina dan Ijah memasak makanan lezat dalam porsi yang cukup banyak sehingga Arumi mengajak mantan menantu yang sebentar lagi menjadi menantunya untuk makan malam bersama.

__ADS_1


Wanita yang berdiri bersebelahan dengan Ghani berdegup beberapa saat. "Ehm, i-itu ...."


Queensha terlihat gamang antara menuruti permintaan Arumi atau tetap berada di sebelah Ghani. "Mas, bagaimana menurutmu? Haruskah aku bergabung dengan kedua orang tuamu atau menunggu mereka di ruang keluarga sampai selesai makan malam?" gumamnya resah sendiri meminta pendapat sang kekasih.


"Sebaiknya kamu turuti permintaan Bunda, kita makan malam bersama setelah itu baru memberitahu mereka sekaligus meminta doa restu untuk pernikahan kita yang kedua," jawab Ghani memutuskan. Tidak ada salahnya jika Queensha duduk bersama sambil menikmati hidangan lezat di atas meja makan.


"Namun, bagaimana jika Ayahmu marah padaku? Statusku sudah bukan lagi istrimu, beliau pasti tak senang jika ada orang asing berkeliaran di rumah peninggalan Nenekmu."


"Kalau sampai itu terjadi, aku yang bertanggung jawab. Sudah, cepat ke sana jangan biarkan Bundaku kecewa."


Menarik napas panjang, menyapa kedua mantan calon mertua serta adik iparnya. Setelah itu ia beserta keluarga dari pihak Ghani makan malam bersama menikmati hidangan yang telah disediakan.


***


Acara makan malam telah selesai. Arumi mengajak Queensha duduk di sofa seraya bercengkrama dengan mantan menantunya itu. Sementara Rayyan sedang berdiskusi terkait materi seminar yang Zavier ikuti selama tiga hari di Surabaya, sedangkan Ghani memilih ke kamar menyambil hasil DNA milik Queensha dan Aurora.


Queensha tersenyum melihat ibu dari lelaki yang ia sayangi. Kasih sayang Arumi begitu tulus meski ia hanya menantu di keluarga itu. "Aku tidak ke mana-mana, hanya sibuk bekerja di restoran. Maaf jika selama hampir tiga bulan ini tidak memberi kabar kepadamu."


"Tidak masalah. Lain kali jangan lupa kasih kabar agar bunda tidak mencemaskanmu, mengerti?"


Queensha tersenyum hangat merespon ucapan Arumi. Mulai detik ini ia berjanji akan lebih sering mengirim pesan kepada calon mantan ibu mertuanya.


Rayyan menepuk pundak anak keduanya pelan. "Terapkan ilmu yang kamu miliki selama mengikuti seminar, jangan sampai semua itu terbang begitu saja. Sampaikan pula kepada mahasiswamu di kampus agar menjadi amal jariyahmu selama berada di dunia," pesannya kepada Zavier.


"Pasti, Yah. Aku berencana menyelipkan sedikit ilmu yang kudapat selama ikut seminar kemarin saat mulai mengajar lagi."


"Ehm, bagus. Ayah senang mendengarnya."

__ADS_1


Tak berselang lama, Ghani tiba di ruang keluarga. Di sana sudah ada ayah, bunda, adik serta calon istrinya yang sedang asyik bercengkrama satu sama lain.


"Ayah, Bunda, ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian. Dan untuk kamu, Zavier, boleh tetap di sini atau menunggu di kamarmu, silakan. Aku tak masalah jika kamu mengetahui apa yang ingin kusampaikan kepada Ayah dan Bunda."


"Gue tunggu di sini aja, Kak. Tapi janji enggak akan bersuara sebelum diminta berpendapat." Ghani mengangguk setuju. Kelak ia memang membutuhkan bantuan adik kembarnya itu saat merasa tersudutkan.


Arumi dan Rayyan mengernyitkan alis. "Kamu ingin bicara apa, Ghani?" tanya keduanya hampir bersamaan.


"Nanti kalian akan tahu."


Setelah semua orang berkumpul, duduk di tempat masing-masing barulah Ghani memulai obrolan mereka. Queensha yang duduk di sebelah Ghani ikutan tegang karena masalah yang akan disampaikan ayah biologis dari sang putri menyangkut dirinya.


"Ayah, Bunda, kalian pasti tahu bahwa aku telah menjatuhkan talak kepada Queensha. Aku kecewa kepadanya karena dia tak mampu menjaga Aurora dengan baik sehingga putriku diculik oleh ibu tiri dan adik tirinya."


"Selama kami berpisah, aku tersadar jika ternyata diriku tidak sanggup bila harus berpisah dengan Queensha. Begitu pun dengan Aurora. Kami berdua sudah ketergantungan dengan Queensha."


"Setelah mempertimbangkan dengan mata, akhirnya aku memutuskan untuk rujuk dengan Queensha dan mulai merajut kembali pernikahan yang kandas di tengah jalan. Aku ... berencana menikahi Queensha untuk kedua kali."


"Kali ini aku menikahinya bukan karena paksaan Rora maupun siapa pun. Aku mau menikahi Queensha karena diriku mencintainya." Melirik ke samping seraya memberi senyuman kepada Queensha.


Wajah Arumi berubah semringah mendengar Ghani yang akan menikahi Queensha untuk kedua kali. Dengan begitu ia tak perlu beradaptasi lagi dengan menantu perempuannya jika orang itu adalah Queensha.


Mengulum senyuman di sudut bibir. Hati Arumi berbunga-bunga, dalam hati berniat membagikan makanan ke seluruh tenaga medis, pegawai di rumah sakit termasuk security serta OB sebagai wujud ucapan terima kasihnya kepada Tuhan karena sudah mengabulkan doanya.


Akan tetapi, senyuman itu pudar kala mendengar suara berat Ghani menggema di segala penjuru ruangan.


"Namun, sebelum menikahi Queensha lagi, aku ingin memberitahu sebuah rahasia besar yang selama ini kusimpan rapat dari semua orang. Rahasia tentang ...."

__ADS_1


...***...


__ADS_2