
Tiba di kantor polisi, mobil Ghani segera menepi di tempat parkir, kemudian ia turun dibantu Yogi dan berjalan dengan hati-hati memasuki kantor polisi. Ketika ia baru saja sampai di koridor sayup terdengar suara seseorang membuat keributan di dalam sana.
"Lepaskan aku! Aku tidak bersalah! Aku hanya difitnah!" teriak seseorang yang suara tak begitu asing di telinga Ghani.
Saat menyadari siapakah pemilik suara itu, Ghani tersenyum miring. "Dasar bodoh! Sudah jelas-jelas bersalah masih saja membela diri."
Ghani mempercepat langkahnya dengan susah payah memasuki ruangan. Ketika sampai di ruangan, ia bertemu dengan Antonio, ayah dari perempuan yang hendak ia temui saat ini.
Dua pasang mata saling memandang dengan tatapan tajam. Terlihat jelas pancaran kebencian dari sorot mata keduanya.
"Kamu! Apa yang kamu lakukan kepada putriku?” Antonio menunjuk wajah Ghani menggunakan jari telunjuk. Rasanya ingin langsung menghajar anak itu, tapi ini ada di kantor polisi, ia tak bisa gegabah dalam bertindak. Sekali saja melakukan kesalahan, tidak menutup kemungkinan ia akan menyusul Cassandra di penjara.
Ghani menepis jari telunjuk yang mengarah kepadanya dengan kasar. Ia kembali tersenyum smirk karena berhasil membuat Antonio panik setengah mati.
“Apa yang saya lakukan? Tentu saja saya melakukan hal yang seharusnya dilakukan,” jawab Ghani dengan santai.
“Beraninya kamu memasukan putriku ke dalam bui. Memangnya apa yang sudah dilakukan putriku sampai kau berani menjebloskan putriku ke penjara?” Emosi Antonio berada di puncak saat ia tak puas dengan reaksi Ghani yang kelewat santai, tanpa rasa bersalah.
Ghani tidak menunjukan ekspresi ketakutan sedikitpun. Ia berpikir, untuk apa takut, toh semua tindakannya ini adalah benar. Orang jahat sudah sepatutnya mendapat hukuman, lagi pula ia sudah memperingatkan Cassandra sebelumnya untuk tidak mengganggu Queensha, tetapi wanita itu tetap melanggar. Jadi jika sekarang ia menjebloskan Cassandra ke penjara maka sah-sah saja, bukan?
“Kenapa tidak berani. Memangnya Anda siapa sampai saya mesti takut, hem? Anda dan saya sama-sama makhluk ciptaan Tuhan, yang diciptakan dari tanah jadi tak ada alasan bagi saya untuk takut kepadamu."
Ghani maju beberapa langkah ke depan hingga dua pria jangkung berdiri saling berhadapan. "Walaupun Anda mempunyai jabatan, kekuasaan serta dilimpahkan harta kekayaan yang melimpah ruah, tapi bagi saya Anda cuma manusia biasa sama seperti manusia lain pada umumnya." Lantas ia menepuk bahu Antonio pelan.
"Kamu pasti menyesal telah berurusan denganku," ancam Antonio.
"Saya akan lebih menyesal jika membiarkan manusia jahat seperti Cassandra masih berkeliaran di sekitarku. Wanita sinting yang berniat menculik calon istriku memang pantas mendapat hukuman."
__ADS_1
Kedua tangan Antonio mengepal hingga memperlihatkan urat-urat halus di punggung tangan. Rahang pria itu mengeras menahan amarah. Percuma saja ia menggertak bahkan mengancam Ghani sebab selamanya anak tertua dari pasangan Rayyan dan Arumi tetap teguh dengan pendirian.
Antonio mengerang frustrasi. "Aku tidak akan tinggal diam dengan apa yang terjadi hari ini. Kamu lihat saja nanti. Tunggu kejutan yang akan datang kepada keluargamu jika kamu tidak segera melepaskan Cassandra. Sebuah kejutan yang akan membuatmu berlutut di depanku!"
Ghani tidak takut sedikitpun karena dia merasa tindakannya ini adalah benar. Kelakuan Cassandra tidak bisa lagi dibiarkan begitu saja. Sudah terlalu banyak hal jahat yang dia lakukan terhadap orang-orang yang disayanginya. Apalagi Queensha, istrinya tercinta.
Ghani tersenyum sarkas. Meski Antonio lebih lebih tua darinya, jika sikap orang itu tidak sopan padanya, ia akan melawan. Sekalipun harus menghajar Antonio, ia rela asalkan berhasil menengakkan keadilan bagi istri tercinta.
"Anda yakin putri anda sebaik itu? Apa Anda benar-benar mengenal putri Anda?" Masih dengan tatapan tajam bak panglima perang yang hendak menantang musuh untuk memulai penyerangan. Tidak ada yang namanya gencatan senjata atau bahkan jalan damai.
Antonio mematung. Tatapan Ghani terlalu tajam saat ini. Melihat itu ia berpikir jika Ghani tidak akan mudah ditaklukan meski dirinya berlutut, memohon untuk mencabut laporan penangkapan pada Cassandra, tetapi pria di hadapannya ini tetap teguh pendirian.
Guna menyadarkan Antonio bahwa Cassandra bukanlah anak polis seperti anggapannya, Ghani mengeluarkan sesuatu dari dalam tas. Sebuah map berisi berkas bukti kejahatan yang dilakukan Cassandra kepada Antonio. "Semua itu adalah bukti yang dilakukan putri kesayanganmu. Jika Anda ingin mengeluarkannya sekarang, silakan. Namun, bersiaplah menghadapi saya di persidangan sebab saya pasti melawanmu hingga titik darah terakhir," ujarnya mantap, tanpa ada keraguan sedikit pun.
Detik itu juga. Hanya suara jam dinding yang mendominasi ruangan. Para polisi yang berjaga tidak berniat ikut campur, selama suasana bisa dikondisikan mereka hanya perlu melaksanakan tugas dengan baik.
Keringat dingin membanjiri pelipis Antonio ketika ia hendak membuka berkas di tangannya saat ini. Kepercayaannya terhadap sang putri terpecah antara harus menerima fakta jika Cassandra benar melakukan semua ini atau ia tetap pada pendiriannya untuk membela putrinya yang saat ini terkurung di balik jeruji besi.
Seolah tahu arti ekspresi yang ditunjukkan Antonio saat ini. "Bagaimana, apa sekarang Anda percaya jika putrimu itu tidaklah sepolos yang kamu kira? Saya tidak mungkin bermulut besar jika tak mempunyai bukti valid untuk ditunjukan kepadamu. Saya berbicara sesuai fakta yang ada."
"Saya tahu kamu hanya dendam terhadap Cassandra. Saya adalah papanya, paling tahu seperti apa dia. Dia tidak mungkin melakukan perbuatan tercela. Bisa saja bukti ini hanyalah rekayasa agar putriku mendekam selamanya di balik jeruji besi." Napas Antonio mulai memburu, dadanya pun kembang kempis menahan ledakan amarah dalam diri.
Antonio akan menyangkalnya, sekalipun Cassandra bersalah, ia tetap menganggap putrinya tak bersalah. Namun, Ghani juga tak ingin tinggal diam begitu saja, ia bahkan tak ragu memberitahu betapa menjijikannya Cassandra saat masih kuliah di Jepang dulu.
Wanita cantik yang berprofesi sebagai dokter -di mana seharusnya menjadi contoh baik untuk orang lain dengan titel dokter dalam balutan jas putih bersih itu ternyata hanya sebuah pajangan sempurna dari luar saja. Siapa yang akan menyangka jika dokter cantik itu tak ubahnya bak para penjaja tubuh di jalanan yang telah menghabiskan malam di ranjang panas dengan lelaki asing dan bahkan rela membayar orang lain agar ia dapat tidur dengan Ghani.
"Anda terkejut?" tanya Ghani dengan nada tenangnya.
__ADS_1
Sementara itu, raut wajah Antonio pucat pasi mengetahui fakta mengejutkan ini. Apa yang telah terjadi pada putrinya? Tepatnya, apa yang telah dilakukan putrinya? Ia mulai bimbang akan perasaannya sendiri. Namun, kebenciannya pada Ghani juga tak bisa ia hilangkan begitu saja.
"Ingat baik-baik Pak Antonio. Jika Anda berani mengancam saya, selain bukti kejahatan putri anda maka saya juga masih memiliki bukti lain yang akan lebih memberatkan Cassandra. Tak hanya Cassandra, keluarga Anda juga akan lebih menderita nantinya. Tentang …." Ghani menghentikan ucapannya, berpikir sejenak sebelum ia mendekatkan wajahnya ke telinga Antonio dan berbisik.
"Tentang kelakuan Cassandra yang tidur dengan banyak lelaki. Saya akan menyebarkan foto syur putrimi saat berhubungan intim dengan lelaki asing," ujarnya.
"Apa? Kurang ajar!" Tatapan Antonio benar-benar marah. Ia bahkan berniat melayangkan pukulan keras ke wajah Ghani jika tidak segera dicekal oleh Yogi.
"Anda tahu jika foto itu menyebar, nama baik Anda adalah taruhannya."
Ghani menjauhkan tubuhnya dan berjalan tanpa mengatakan apapun lagi menuju ke sel tempat Cassandra ditahan.
"Brengsek kamu Ghani!" raung Antonio sesaat setelah cekalan tangan Yogi terlepas dari pergelangan tangannya.
***
"Apa? Jadi dalang di balik penculikanku adalah Cassandra? Tega sekali dia melakukan itu kepadaku!" pekik Queensha saat ia dan sang suami duduk di tepian ranjang. Antara marah, kesal dan benci muncul dalam waktu bersamaan.
Queensha baru mengetahui jika Cassandra adalah pelaku utama dari segala penderitaan yang dialaminya selama ini. Karena wanita itu, hidup Queensha menderita.
Diusir dari keluarga karena dianggap aib yang begitu memalukan karena hamil di luar nikah. Emosi yang seketika meluap saat Queensha teringat akan masa-masa kelam menyakitkan itu membuatnya tak kuasa menahan tangis. Saat itu benar-benar sangat berat untuknya. Keluarga yang seharusnya menjadi rumah bersandar dan berlindung justru menolaknya. Dan ternyata, selama ini dia hidup menderita akibat ulah Cassandra.
Queenshaa tak mengatakan apa pun. Ia hanya menangis dan Ghani yang tak tega melihat istrinya menangis merengkuh tubuh sang istri ke dalam pelukan. Mengelus rambutnya dengan lembut mencoba menenangkan Queensha.
"Sudah, jangan menangis lagi. Mulai sekarang aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu dan membuatmu menderita. Aku janji, Sayang."
Queenshaa tidak merespon. Ia masih menangis dalam pelukan Ghani. Ia luapkan segala kesedihan di dada bidang pria yang kini berstatuskan sebagai suaminya.
__ADS_1
Sementara itu, Ghani semakin mengeratkan pelukannya. Ia berjanji pada dirinya sendiri akan menyingkirkan siapa pun yang berani menyakiti maupun melukai Queensha.
...***...