Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Karma Kecil untuk Puji


__ADS_3

"Queensha sialan!"


Itulah kata umpatan yang keluar dari mulut Puji tatkala dirinya keluar dari ruangan yang berada di lantai atas. Dengan wajah merah padam Puji menuju ruangan karyawan untuk mengambil barang-barang yang ada di loker. Bisa gadis itu rasakan tatapan para karyawan lain yang curi-curi pandang ke arahnya. Kabar pemecatannya sudah pasti telah sampai ke telinga karyawan lain, dan bisa dipastikan menjadi berita panas di kalangan para karyawan.


Sial! Sial! Sial!


Entah sudah berapa kali Puji mengumpat dalam hati. Tapi yang jelas, hal itu sama sekali tak berhasil membuatnya sedikit pun merasa lega. Puji tetap kesal karena sudah dipecat secara tidak terhormat, padahal sekali lagi dia katakan, apa yang terjadi kemarin tidak mutlak kesalahannya. Queensha juga turun adil sehingga terciptalah insiden mengenasan yang membuat dia harus dipecat dari tempatnya bekerja sekarang.


Dengan kesal dan sedikit serampangan Puji memasukkan barang-barangnya ke kardus bekas yang tadi dia ambil dari gudang. Cukup banyak barang yang harus gadis itu bawa karena selama bekerja di restoran itu, Puji memang suka sekali meninggalkan barangnya di loker agar lebih praktis daripada di bawa pulang. Mulai dari printilan-printilan kecil, sampai baju dan sepatu. Karena lebih banyak menghabiskan waktu di restoran, Puji sudah menganggap tempat itu tak ubahnya rumah kedua, tak jarang setiap membeli barang secara online selalu menjadikan restoran tempatnya bekerja sebagai alamat tujuan.


Sebelum benar-benar meninggalkan ruangan karyawan, Puji menatap lekat loker yang bertuliskan namanya. Mengelus benda itu sesaat dengan sedih sebelum menarik napas dalam dan berjalan pergi dari sana. Berusaha meyakinkan diri jika apa yang terjadi hari ini bukan apa-apa.


“Mbak,” panggil salah satu rekan kerjanya dengan nada ragu-ragu saat melihat Puji telah bersiap pergi. “Apa yang terjadi?” tanyanya seraya berjalan menghampiri Puji yang diikuti oleh beberapa karyawan yang lain.


Melihat tingkah munafik para rekan kerjanya, Puji tak bisa menahan diri untuk tak berdecak pelan. Bisa-bisanya mereka masih bersikap sok baik, padahal mereka juga turun adil dalam pemecatannya.


“Apa, apa. Jangan sok merasa enggak tau, deh! Ini,' kan yang kalian mau?” sembur Puji dengan nada tinggi.


“Maksud Mbak Puji ap—“


“Aku dipecat secara tidak terhormat. Puas kalian!” sahut Puji kesal. “Dasar tukang mengadu!”


Beruntung restoran masih sepi hingga keributan yang terjadi tak membuat mereka menjadi pusat perhatian. Jika tidak mungkin ini kali kedua dirinya merusak reputasi restoran yang telah dirintis selama puluhan tahun oleh mantan bosnya.

__ADS_1


“Kami hanya menjawab pertanyaan Pak Rama, Mbak. Sama sekali tak berniat mengadu. Tolong jangan salah paham kepada kami," sahut salah satu dari anak buah Puji.


“Dengan mengatakan kalau aku suka marah-marah dan sering menyalahgunakan jabatan? Wah, baik sekali kalian!” sarkas Puji.


Muak dengan sikap sok lugu dari para rekan kerjanya, tanpa mau repot-repot berpamitan Puji kembali melangkahkan kaki. Tak ingin di sana lebih lama lagi hanya untuk jadi bahan gunjingan. Dipecat secara tidak hormat sudah memalukan, jadi Puji tak akan membiarkan para rekan kerjanya mengolok-olok dia.


Peduli setan dengan Queensha. Sampai kapan pun Puji tidak akan pernah sudi untuk meminta maaf kepada wanita sialan itu. Lagi pula permintaan maafnya tidak akan mengubah apa pun. Dia tetap dipecat oleh sang bos.


Sialnya di depan pintu masuk restoran, Puji tanpa sengaja bertemu Lulu yang sepertinya baru saja datang. Seolah bisa menebak apa yang sudah terjadi, Lulu tersenyum lebar melihat Puji tampak kesusahan membawa barang-barangnya.


“Butuh bantuan tidak, Mbak?” tanya gadis itu basi-basi hanya untuk meledek Puji.


Diledek seperti barusan membuat emosi Puji semakin meledak-ledak. Lulu saat ini pasti sedang di atas awan karena telah berhasil menyingkirkannya dari tempat mereka bekerja. Jika dibandingkan dengan karyawan lain, gadis itu memang yang paling dekat dengan Queensha sehingga pemecatannya kali ini bisa dikatakan sebagai kabar gembira bagi mereka berdua.


Mengingat Queensha, Puji semakin kesal karena berpikir jika gara-gara istri Ghani itulah dirinya kehilangan pekerjaan. “Minggir!”


“Enggak usah meledek!”


“Ish, ish. Masih saja galak. Sudah dipecat seharusnya bersikap baik, dong, sama aku,” sahut Lulu kemudian. Gadis itu memang mengucapkannya dengan nada kalem, tetapi jelas syarat akan sindiran. Belum lagi ekspresi meremehkan yang saat ini Lulu layangkan.


“Makanya Mbak Puji, jadi orang itu yang dewasa dikit. Jangan mentang-mentang punya jabatan lebih tinggi dari yang lain jadi semena-mena. Jadi banyak yang diam-diam menyumpahi di belakan, 'kan? Jadi sekarang ngerasain sendiri yang namanya karma."


“Tahu apa lo soal karma?”

__ADS_1


“Loh, jelas tahu. Ini buktinya aku sekarang sedang melihat seseorang mendapatkan karma karena kelakuannya sendiri. Jangan tanya siapa. Karena Mbak Puji pasti jauh lebih mengenalnya dibanding yang lain.”


Mbak, Mbak, Mbak! Sebutan yang biasa Puji dapatkan dari para rekan kerjanya di restoran pun jadi terdengar menyebalkan di telinga gadis itu jika diucapkan oleh Lulu!


“Lagian Mbak Puji juga sih, tidak bisa memisahkan urusan pribadi dan pekerjaan. Jadi dipecatkan sekarang? Coba saja kemarin bisa menahan diri, Mbak Puji sekarang pasti masih bisa dengan nyaman bersikap semena-mena kepada karyawan lain.” Seolah semua kalimat manis yang syarat akan sindiran yang telah dia ucapkan sejak tadi belum cukup, Lulu kembali melanjutkan. “Tapi mau bagaimana lagi, ya, Mbak Puji? Namanya juga sudah terlanjur benci, Queensha datang ke sini untuk makan bersama keluarga saja bisa kelihatan menyebalkan di mata lo!" Kali ini Lulu merubah kata-kata kamu menjadi lo. Lidahnya tak biasa mengucap kalimat tersebut.


'Sialan!'


Kesal, Puji meletakkan kardus berisi barang-barangnya yang dia bawa ke salah satu meja yang tak jauh dari tempatnya berdiri hanya untuk kembali berjalan menghampiri Lulu.


“Terus lo mau apa sekarang? Lo mau menyuruh gue minta maaf sama sahabat lo itu?” Puji melemparkan tatapan tajam yang dibalas hal sama oleh Lulu tanpa merasa takut sedikit pun. “Jangan mimpi!”


“Ah, enggak perlu repot-repot, Mbak. Ngelihat lo dipecat secara enggak hormat sekarang saja sudah lebih dari cukup, kok. Tenang saja, enggak usah khawatir gue nanti akan mengunggahnya di semua akun media sosial gue agar biar semua orang tahu. Siapa tahu lo bisa viral di jagat maya."


Puji mengumpat. Kali ini ditujukan untuk dirinya sendiri. Salahnya memang meladeni Lulu alih-alih langsung pergi dari restoran tersebut. 'Gue enggak betah lama-lama di sini. Mending sekarang get out daripada ngeladenin perempuan sinting dan barbar macam si Lulu sialan!'


Jadi setelah merasa tak ada gunanya berdebat dengan sahabat Queensha itu, Puji kembali mengambil kardus berisi barang-barangnya yang tadi dia letakkan di meja. Bersiap pergi sebelum dia ketularan gila.


Merasa berhasil memenangkan perdebatan, Lulu tersenyum lebar. Dengan melipat kedua tangan di depan dada, gadis itu mempersilakan Puji pekerja. "Hati-hati di jalan. Kalau jatuh, langsung bangun sendiri, ya? Soalnya gue enggak mau bantuin perempuan lemes seperti lo."


Rahang Puji mengeras. Dia mencengkeram pinggiran kardus dengan sangat erat. “Enggak usah senang dulu," kata Puji mengingatkan sebelum gadis itu benar-benar pergi dari restoran. “Bentar lagi lo juga akan dibuang sama Queensha jika sudah enggak dibutuhkan. Lo pikir dia dekat dengan lo karena ingin jadi sahabat lo? Enggak! Dia hanya butuh orang tolol untuk dibodohi dan dengan senang hati menjadi kacungnya!”


“Minggir!"

__ADS_1


Karena terlalu cepat menyimpulkan kemenangan, Lulu jadi lengah hingga tak siap ketika Puji menabrak bahu kanannya dengan kencang hingga membuatnya kehilangan keseimbangan. Lulu menutup matanya erat, berusaha mengantisipasi rasa sakit yang akan dia dapat. Akan tetapi, bukannya rasa sakit yang gadis itu rasakan melainkan tangan kekar seseorang menahan kedua lengannya dengan erat. Menahan tubuh Lulu agar tidak jatuh.


...***...


__ADS_2