Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Cincin Warisan


__ADS_3

"Queensha, saya tahu kesalahanku di masa lalu sulit untuk dimaafkan. Saya terima dengan lapang dada jika seandainya kamu membenciku seumur hidup. Namun, izinkan saya mempertanggung jawabkan perbuatanku di masa lalu. Izinkan saya menikahimu dan mari bersama membangun rumah tangga harmonis yang akan membawa kita menuju syurga-Nya."


Ghani menangkup wajah Queensha, memandang lekat iris coklat sang wanita. "Sha, setidaknya tolong pikirkan masa depan Aurora. Dia masih membutuhkan kasih sayang kita sebagai orang tuanya. Jika dia dewasa dan bertanya kenapa Papa dan Mamanya tidak bersama, lalu apa yang mau kita jelaskan kepadanya?"


"Apa kamu tega mengubur semua impian Aurora? Impian untuk mempunyai adik bayi kembar dan hidup bahagia bersama Papa, Mama serta adik-adiknya? Demi Tuhan, Sha, saya tidak sanggup bila harus melihat Rora hidup menderita akibat keegoisan kita berdua. Saya lebih memilih pergi me-"


"Sst. Jangan bicara yang tidak-tidak, Mas. Kamu tidak akan pergi ke mana-mana, selamanya kamu tetap berada di sisi Aurora. Kamu, aku, kita berdua membesarkan Aurora sampai dia tumbuh menjadi anak pintar, sholehah dan berguna bagi banyak orang."


Pria bermata sipit menyentuh tangan Queensha yang berada di depan bibirnya. "Sha, katakan padaku apakah ini artinya kamu ... bersedia menerima lamaranku? Kamu mau memperbaiki hubungan yang pernah kandas di antara kita berdua?"


Tersenyum, mata bening dengan iris coklat menjawab, "Iya, Mas. Aku bersedia menerima lamaranmu. Walaupun keraguan masih menyelimuti diri, tapi aku coba untuk meyakinkan hatiku sendiri jika kamu memang pantas menerima kesempatan kedua."


"Lagi pula, semua yang terjadi kepada kita sudah merupakan takdir dari Sang Maha Pencipta. Jika seandainya malam itu kamu tidak merenggut kesucianku mungkin selamanya aku hidup dalam kesepian, tak ada satu orang pun menjadi tempat keluh kesah bagiku. Kehadiran Aurora menjadi penyemangat bagiku untuk menghadapi kejamnya dunia yang fana ini."

__ADS_1


"Mas Ghani, terima kasih karena kamu telah menitipkan Aurora di perutku. Selama sembilan bulan dia menjadi teman setiaku, menemaniku ke mana pun aku pergi dan menjadi pelipur lara di saat aku merasa dunia ini terasa begitu tak adil kepadaku. Sekali lagi, terima kasih ... Koko Ghani." Queensha tersipu malu kala mengucap kalimat tersebut. Wajahnya memerah bagai buah tomat segar. Ada perasaan asing yang sulit untuk diucapkan, tetapi hanya mampu ia rasakan sendiri.


Merengkuh jemari lembut dalam tautan tangan kokohnya, dada dokter tampan itu kembang kempis menahan ledakan gejolak. Dua mata saling menatap dengan tatapan penuh cinta.


"Aku mencintaimu, My Queen," gumam Ghani membelai pipi mulus tanpa ada cela sedikit pun.


Ghani hendak memeluk tubuh Queensha. Akan tetapi, dia teringat sesuatu yang harus diberikannya kepada calon mantan istrinya itu.


Tangan kokoh Ghani mengeluarkan kotak kecil dari saku celana. Kedua alis Queensha mengernyit kala melihat kotak kecil berwarna coklat tua dalam genggaman tangan sang lelaki. Dalam hati bertanya kotak apakah itu? Kenapa Ghani lebih memilih mengeluarkan kotak itu daripada memeluk tubuhnya? Sebegitu pentingkah kotak itu sehingga Ghani menunda pelukan mereka?


"Sha, ini adalah cincin warisan turun menurun pemberian mendiang Nenek Mei Ling. Cincin ini diberikan oleh istri kedua mendiang Kakekku kepada Bunda sebagai tanda bahwa keluarga Wijaya Kusuma mengakui jika Bundaku adalah calon menantu di keluarga itu."


"Semalam saya melihat kotak cincin ini di dalam lemari. Entah kenapa hatiku tergerak dengan sendirinya untuk membawa benda ini. Rupanya Tuhan telah memberi tanda bahwa cincin ini akan segera jatuh kepada pemiliknya. Dan orang itu adalah kamu, Sha. Kamu pemilik cincin ini selanjutnya."

__ADS_1


"Queensha Azura Gunawan, maukah kamu menikah denganku lagi? Maukah kamu menjadi istri dan ibu bagi Aurora, putri kita?" Ghani berlutut di hadapan Queensha seraya menyodorkan sebuah kotak berisi cincin berlian warisan milik mendiang sang nenek.


Lamaran sederhana yang Ghani buat khusus untuk Queensha, menjadikannya pusat tontonan semua orang. Para pengunjung yang berada di tempat wisata berbondong-bondong menghampiri orang tua Aurora. Mereka berdiri menyaksikan momen sakral yang sangat jarang terjadi di dunia nyata.


Melihat mama dan papanya menjadi pusat perhatian semua, Aurora menghentikan kegiatannya menangkap kupu-kupu yang hinggap di atas bunga. Melangkah dengan penasaran mendekati kerumunan orang banyak.


Sementara itu, Queensha masih membeku di tempat. Lidah wanita itu terasa kelu, tak sanggup berkata. Tidak menduga jika dirinya akan dilamar oleh seseorang yang pernah dulu ia benci karena telah menghancurkan masa depannya.


Melihat tak ada respon dari Queensha, Ghani kembali berkata, "Queensha, will you merry me? Be my wife and be a mother for our daughter!" kata Ghani menggunakan Bahasa Inggris.


Queensha tidak kuasa menahan tangis. Ia terisak, menumpahkan kebahagiaan yang membuncah di dada. Masih belum percaya jika Ghani rela mengesampingkan egonya untuk melamar dirinya di depan semua orang.


Masih dalam keadaan terisak, Queensha menganggukan kepala petanda bahwa dia bersedia menerima lamaran Ghani. Sontak semua orang yang hadir memberi tepuk tangan meriah kala melihat Ghani melingkarkan cincin warisan itu di jari manis Queensha. Cincin warisan yang dulu pernah Arumi pakai gini telah tersemat di jemari lentik ibu kandung Aurora.

__ADS_1


"I love you, My Queen." Ghani mendaratkan ciuman di kening Queensha. Lalu memeluk tubuh wanita itu dengan perasaan yang sulit untuk diungkapkan.


...***...


__ADS_2