Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Rahasia yang Akan Terungkap


__ADS_3

"Kamu dengar, 'kan, apa kata Dokter Elsa? Harus banyak istirahat, minum vitamin, dan tidak boleh terlalu lelah. Untuk urusan Rora, biar aku minta Mbak Ijah saja yang antar jemput kalau misalkan aku sibuk bekerja dan tidak sempat mengantar maupun menjemputnya. Kalaupun memang terpaksa kamu yang turun tangan, kamu harus ditemani Bik Anah dan Mang Aceng. Aku tidak akan pernah izinkan kamu pergi sendirian. Mengerti?"


Tubuh Queensha bergetar bersamaan dengan kekehan pelan berasal dari ibu satu orang anak. Ia terlihat gemas melihat sikap Ghani yang begitu posesif kepadanya. "Iih, kamu tuh gemesin banget, sih, Mas. Coba, deh, ngaca, lihat bagaimana muka kamu saat sedang ngomel. Terlihat begitu menggemaskan hingga membuatku ingin mencubit ujung hidungmu yang mancung ini."


"Sayang, aku serius. Kamu mendengarkan apa kataku barusan, 'kan?" Ghani kesal karena seakan-akan Queensha menyepelekan ucapannya. Padahal ia bersungguh-sungguh dengan perkataannya barusan.


Masih menyisakan kekehan pelan, Queensha menjawab, "Iya, Mas, aku mengerti. Semua nasihatmu akan selalu kuingat sampai kapan pun. Sudah, jangan pasang wajah cemberut, nanti gantengnya hilang, loh."


Agar suaminya tidak merajuk, Queensha melingkarkan tangan di lengan Ghani. Ia bergelayut manja di lengan kekar itu seperti anak kecil yang baru saja diberi hadiah oleh orang tuanya.


"Kamu tunggu di sini sebentar. Aku akan serahkan resep ini ke apoteker dulu." Ghani berjalan dengan membawa resep dokter menuju counter apotek yang ada di lantai tiga, khusus poli obstetri dan ginekologi atau biasa disingkat dengan istilah obgyn.


Setelah menunggu selama lima menit, akhirnya Ghani mendapat apa yang diresepkan dokter Elsa untuk Queensha. Dengan menenteng plastik putih ia mengayunkan kaki mendekati kursi yang diduduki oleh istrinya tadi.


"Mas, kalau kita mampir sebentar ke rumah Bunda dan Ayah, bagaimana? Aku ingin membagikan kabar gembira ini untuk mereka. Bunda pasti senang mengetahui sebentar lagi punya cucu kembar tiga dari kita," saran Queensha. Ia mau keluarga dari pihak suaminya tahu bahwa keluarga Wijaya Kusuma akan kedatangan anggota baru yang diperkirakan lahir dalam enam bulan ke depan sebab kemungkinan besar Queensha akan melahirkan caesar karena keadaan yang tak memungkinkan untuk melahirkan secara normal.


"Boleh. Sekalian saja kita menginap di sana. Nanti aku minta Mbak Ijah jemput Rora dan mengantarkannya ke rumah Bunda."


Tiba di lobby rumah sakit, pasangan pengantin baru itu tak sengaja berpapasan dengan Leon yang baru saja melangkah mendekati pintu lift. Ketiga pasang mata saling menatap satu sama lain.


"Hai, Bro. Katanya lo cuti, tapi kenapa masih berkeliaran di rumah sakit. Mirip jailangkung yang datang tak diundang, pergi tak diantar." Gurauan Leon menjadi sambutan pertama bagi pasangan suami istri itu.


Ghani memutar bola mata dengan malas. Ia sangat bosan karena Tuhan selalu mempertemukannya dengan Leon. Entah saat sedang bekerja maupun sedang cuti, ia selalu bertemu sahabat sejatinya itu. "Bacot, lo! Ini rumah sakit punya mendiang Nenek gue, jadi terserah guelah mau ke sini ataupun enggak, bukan urusan lo."


"Dih, ngegas." Lantas Leon melirik Queensha. Berbeda saat berbicara dengan Ghani menggunakan bahasa gaul anak metropolitan, ia justru berkata lemah lembut dan sopan santun kepada Queensha. "Halo, Sha, lama tak berjumpa. Gimana kabar kamu, sehat?"

__ADS_1


"Alhamdulillah, sehat Mas. Ehm, omong-omong, pengalaman nge-date pertama dengan Lulu, bagaimana? Lancar?" celetuk Queensha yang mana pertanyaan ini membuat Leon teringat akan kejadian beberapa waktu lalu.


"Soal itu ... aku .... Sha, gimana kalau kita duduk sebentar di coffee shop di sana? Ada yang mau aku ceritakan soal Lulu ke kamu. Itu pun kalau kamu tidak ada acara," pinta Leon pada akhirnya. Melihat ada kesempatan, ia gunakan peluang tersebut dengan sebaik-baiknya.


Queensha mendongakan kepala ke arah Ghani. Karena tinggi badan mereka tak sama membuat ia harus mendongak demi melihat wajah suami tercinta.


"Mas, bagaimana? Apa kamu keberatan kalau kita duduk sebentar? Kelihatannya Mas Leon mau bicara penting, tuh," ucap Queensha lirih.


Tanpa diduga, Ghani mengangguk, petanda ia memberi izin kepada istrinya untuk menerima ajakan Leon.


***


"Sha, kamu mau pesan apa? Kopi atau-"


"Bini gue lagi bunting, enggak baik minum kopi. Lo mau ngeracunin bini dan anak-anak gue dengan minuman itu, hah?" bentak Ghani acuh tak acuh.


"Maaf, kami belum sempat memberitahu. Aku dan Mas Ghani pun baru tahu kemarin sore. Itulah kenapa sekarang kami ada di rumah sakit karena ingin memastikan apakah aku betulan hamil atau tidak," kata Queensha coba menengahi. "Mas Leon, tolong pesankan aku jus alpukat saja. Gula dan susunya setengah saja, aku tak mau terkena diabetes karena kebanyakan konsumsi yang manis-manis."


Leon kembali tersadar. Ia kembali ke mode semula. "Oh ya sudah, tunggu sebentar. Aku pesankan dulu."


Pria tampan yang masih dibalut snelli putih hendak bangkit dari kursi, tetapi suara Ghani menginterupsi kegiatan pria itu.


"Yon, pesenin gue kopi biasa, ya?"


Bak api yang menyambar bensin, Leon segera menyahut tanpa basa basi. "Ogah. Lo pesen sendiri, gue mah mau ngelayanin Queensha dan calon keponakan baru gue aja. Males gue berurusan sama lo."

__ADS_1


"Sialan. Awas lo, gue balas ntar!" ancam Ghani tidak terima jika hanya istrinya saja yang dilayani Leon sedangkan dirinya tidak. Itu terasa tidak adil bagi Ghani.


Queensha tertawa melihat sikap Ghani dan Leon yang terkesan kekanak-kanakan. Namun, ia cukup terhibur akan kelakukan kedua pria tersebut.


Setelah semua orang duduk kembali di kursi dengan minuman dan camilan ringan di atas meja, ketiga orang dewasa itu mulai menikmati hidangan yang tersedia di depan mata. Queensha dengan jus alpukat less sugar dan less ice, Ghani dengan ice cappuccino-nya sedangkan Leon dengan mocha latte kesukaannya. Mereka begitu fokus menyesap minuman milik masing-masing.


"Oh ya, Sha, aku mau tanya sesuatu sama kamu soal Lulu. Sehabis aku dan dia makan malam, kita memutuskan untuk pulang ke rumah, tapi pas keluar restoran tiba-tiba aja tubuh Lulu gemetar hebat. Bukan cuma itu aja, wajahnya pun sangat pucar mirip mayat dan telapak tangannya juga dingin sedingin es. Sebetulnya dia itu kenapa? Kenapa tiba-tiba berubah dalam hitungan detik? Apa dia trauma akan sesuatu?"


Pertanyaan Leon sontak membuat Queensha menghentikan sedotannya terhadap minuman dingin yang tengah ia nikmati. Ia terdiam beberapa saat sebelum akhirnya Ghani menyentuh punggung tangan sang istri.


"Sayang, kalau kamu tahu sesuatu, katakan pada Leon. Biar bagaimanapun dia berhak tahu apa yang menimpa Lulu sebab mungkin saja kencan buta mereka berlanjut ke step selanjutnya."


Leon mengeram. Ingin sekali memukul kepala Ghani karena berani berkata yang bukan-bukan. Akan tetapi, ia tak dapat melakukannya sekadang sebab khawatir Queensha menangis saat melihat pria yang dicintainya ditindas oleh dirinya.


"Memangnya, apa yang kalian lihat saat keluar restoran?"


"Saat itu tanpa sengaja Lulu melihat sosok pria asing yang baru saja turun dari mobil. Posisi tubuh pria itu membelakangi kami, tapi entah kenapa tubuh Lulu memberikan reaksi tak terduga. Aku ... jadi penasaran kenapa bisa Lulu berubah seketika."


Queensha menatap satu per satu dua pria tampan yang ada di dekatnya. Lalu menarik napas dalam kemudian mengembuskan perlahan. "Aku akan cerita ke kalian berdua. Namun, kalian janji tidak akan membocorkan rahasia ini kepada siapa pun sebab rahasia ini menurutku merupakan sebuah aib yang tak sepatutnya disebar luaskan ke orang lain.


Leon yang penasaran langsung mengangguk setuju. Pun begitu dengan Ghani.


"Katakan, apa yang kamu tau tentang Lulu, Sha?" kata Leon tidak sabaran.


Sementara itu, Ghani membuka lebar telinganya dan menatap seksama wajah wanita yang tengah mengandung calon anaknya.

__ADS_1


Queensha membuka mulut dan berkata, "Ini semua berawal dari ...."


...***...


__ADS_2