
Empat tahun lalu ....
"Lu, tolong antarkan makanan ini ke meja nomor sebelas. Setelah itu, kamu balik lagi ke sini untuk mengambil orderan lain."
"Baik, Mbak."
Lulu mengangguk patuh kemudian mengambil nampan berisi dua buah beef burger serta kentang goreng lengkap dengan dua gelas minuman soda. Saat itu suasana restoran cukup ramai karena bersamaan dengan hari libur nasional yang membuat para orang tua membawa serta anak-anak mereka makan bersama di luar.
Dengan sangat hati-hati, Lulu melangkah sambil memperhatikan jalanan di depan sana. Sekeras apa pun berusaha, nyatanya tak mampu menghindarkan Lulu dari insiden yang membuat ia menjadi bahan tontonan semua orang di sekitarnya.
Seorang gadis kecil mengalami tantrum, lalu ia berlari kencang menghindari orang tuanya. Namun naas, ia justru menabrak Lulu yang saat itu sedang membawa nampan berisi pesanan salah satu pengunjung restoran.
"Astaga!" pekik Lulu saat melihat minuman soda di atas nampan tumpah mengenai pakaian salah satu pengunjung restoran yang saat itu berjalan berlawanan arah dengannya. Matanya yang bundar semakin terbelalak sempurna dengan jantung yang berdegup sangat kencang.
Pria yang tak sengaja kejatuhan minuman soda sama terkejutnya dengan Lulu, apalagi saat itu ia mengenakan kemeja putih, yang kemungkinan besar noda tumpahan tersebut akan sukar untuk dihilangkan.
"Ya Tuhan! Maaf atas kelalaian saya, Pak. Saya benar-benar tidak sengaja," kata Lulu panik. Wajahnya terlihat ketakutan sekali karena khawatir pria itu marah dan melaporkannya kepada manager restoran. Kalau sampai terjadi bisa dipastikan ia akan dipecat tanpa diberi pesangon, sedangkan ia sangat membutuhkan uang tersebut untuk dikirim ke kampung halaman.
Andri--nama pria yang ditabrak Lulu mengibas-ngibaskan kemejanya menggunakan tangan. Wajahnya yang tertunduk, perlahan mendongak ke atas demi melihat wajah orang yang telah menumpahkan minuman sialan itu ke kemejanya.
Sedetik Andri terkesiap akan kecantikan Lulu yang terlihat begitu sempurna di matanya. Walau tanpa riasan make up tebal, tetapi aura kecantikan gadis itu terpancar dengan sendirinya. Kulit kuning langsat, mata bundar, alis hitam, dan hidung mancung merupakan definisi wajah wanita Asia yang sesungguhnya.
"Kalau jalan pake mata, jangan pake dongkul! Lihat, baju temen gue kotor gara-gara lo!" Teman Andri bernama Akbar berkata dengan nada tinggi, mata melotot seakan mau copot dari tempatnya. Sementara itu, Andri masih sibuk memandangi kecantikan Lulu dari jarak yang cukup dekat.
'Cantik juga, nih, cewek. Walaupun penampilannya sederhana, enggak pinter dandan, tapi cocok gue jadiin pacar selanjutnya.' Andri bermonolong tanpa mengedipkan mata. Seringai menyebalkan tersungging di bibir pria itu.
"Lo enggak tau, berapa harga kemeja punya teman gue, hah? Gue yakin gaji lo aja enggak akan mampu menggantinya!" Lagi dan lagi Akbar berbicara kasar kepada Lulu.
Sadar akan kesalahannya, Lulu menundukan kepala sambil menahan diri untuk tidak menangis di depan umum. Mata mengembun, hidung terasa masam, dan dada pun terasa begitu sesak.
Andri menyapu keadaan sekitar. Kini ia, Akbar serta gadis pelayan restoran di depannya tengah menjadi bahan tontonan semua orang.
'Kesempatan gue unjuk gigi, nih. Ayo, Dri, gunakan kesempatan ini untuk menarik perhatiannya.'
"Udah, Bro, enggak usah ngegas. Lagi pula itu bukan mutlak kesalahan dia. Ini cuma insiden kecil, enggak perlu dibesar-besarkan," sergah Andri bijak. Kalau bukan karena ia tertarik kepada Lulu mana mungkin berkata lemah lembut di depan semua orang. Andri tipikal pria tempramental, sekali saja ia diusik maka tangan akan melayang.
"Tapi, Bro. Dia-"
Andri memberi kode kepada Akbar untuk diam. Lalu ia tersenyum manis kepada Lulu. "Lain kali lebih berhati-hati lagi, Mbak. Untuk masalah ini, saya tidak akan minta pertanggungjawabanmu. Saya anggap semuanya sudah clear."
__ADS_1
Suara lembut pria itu sukses membuat Lulu mendongakkan kepala dengan sangat perlahan. Sedikit demi sedikit wajahnya yang cantik menghadap ke seberang.
"Bapak serius? Saya ... tidak perlu ganti rugi?" Lulu gugup begitu bertatapan dengan pemilik lesung pipi di kedua sudut bibir.
"Tentu saja, aku serius. Ehm, tapi ... ada syaratnya."
"Syaratnya apa, Pak?"
"Berikan nomor ponselmu kepadaku maka kuanggap semuanya impas."
***
Usai mendapat nomor telepon Lulu, Andri jadi sering menghubungi gadis itu. Hampir setiap hari Andri mengirimi Lulu pesan singkat walau hanya untuk sekadar menanyakan kabar gadis incarannya. Hingga suatu hari, pria itu tak lagi dapat menahan perasaannya sendiri ia mengatakan cinta dan mengaku bahwa dirinya tak dapat hidup tanpa ada Lulu di sisinya.
Bak gayung bersambut, Lulu menerima pernyataan cinta Andri sebab ia pun tertarik pada pemuda tampan yang menurutnya mempunyai sifat welas asih yang tinggi. Bagaimana tidak tertarik, Andri selalu menghujani Lulu dengan kata-kata cinta yang mampu membuat gadis itu mabuk kepayang.
"Sayang, kemarin malam Kakakku baru saja datang dari luar negeri. Dia menitipkan oleh-oleh untuk kamu, tapi aku lupa bawa. Ehm, gimana kalau kamu mampir sebentar ke rumahku? Sekalian aku kenalin dengan orang tua dan Kakak perempuanku. Katanya mereka kepingin banget ketemu kamu," ujar Andri kepada Lulu. Gadis itu duduk manis di sebelah kursi kemudi.
"Emangnya enggak apa? Maksud aku, apa keluargamu mau nerima aku yang cuma dari kalangan biasa? Ayahku pekerja bangunan, sementara Ibuku buruh perkebunan di daerah Jawa Barat sana. Kami hidup sangat sederhana sekali, Kang." Lulu insecure dengan latar belakang keluarganya. Ia tidak yakin kalau keluarga Andri yang notabene adalah keluarga berada bersedia menerima dirinya yang hanya orang miskin.
Tangan kiri yang tak memegang stir mengusap pipi Lulu dengan lembut, mencoba menenangkan kekhawatiran dalam diri sang gadis. "Tenang aja, mereka pasti nerima kamu tanpa memandang status sosialmu."
"Loh, kok sepi. Emang pada ke mana, Kang? Katanya orang tua Akang mau ketemu aku, kenapa mereka enggak ada di rumah?" tanya Lulu sambil mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan, tak ada satu tempat yang tidak luput dari pandangan.
Hawa dingin merasuk, menembus permukaan kulit. Tengkuk terasa dingin membuat Lulu mengusap bagian belakang lehernya menggunakan tangan.
"Mereka keluar sebentar, paling nanti juga pulang. Udah, kamu duduk aja dulu. Aku mau ke dapur siapin kamu minuman."
Lulu mengangguk patuh. Ia duduk di sofa menunggu kekasihnya pergi ke dapur.
Tak berselang lama, Andri keluar dari dapur dengan membawa dua gelas air putih di tangan kanan dan kirinya. Ia menaruh satu gelas tersebut ke atas meja, sedangkan gelas satu lagi masih berada di tangannya.
"Minum!" Andri sedikit memaksa Lulu, yang mana membuat gadis tersebut kaget karena tanpa basa basi sang kekasih memaksanya untuk minum, padahal ia tidak merasa haus sama sekali.
"Enggak, Kang, aku enggak haus." Lulu mendorong gelas berukuran panjang ke hadapan Andri.
"Aku bilang minum, ya minum! Jangan ngebantah!" bentak Andri.
Lulu mendengar suara lengkingan itu terlonjak kaget bahkan ia sampai memundurkan tubuh ke belakang. Jantung berdegup sangat kencang dan wajah seketika berubah pucat karena pertama kali dibentak oleh pria yang sangat ia cintai.
__ADS_1
"Tapi ... aku betulan enggak haus, Kang. Kalau Akang mau minuman punya aku, ambil aja. Aku ikhlas, kok." Terbata berkata. Lulu benar-benar takut berada di dekat Andri. Air matanya terus berlinang di pelupuk mata sembari meremas telapak tangan.
Akan tetapi, Andri tak tinggal diam. Ia justru menekan kedua pipi Lulu dengan kencang lalu tangan sebelahnya hendak mencekokkan minuman tersebut ke mulut seksi Lulu.
Lulu berusaha memberontak. Kepala menggeleng ke kanan dan kiri dengan bibir terus terbungkam rapat. Kakinya yang dibalut sepatu kets menjejak tak tentu arah, berusaha sekuat tenaga untuk bisa bebas dari cengkeraman Andri.
"Berengsek! Perempuan sialan! Aku bilang minum, minum! Apa susahnya menegak minuman ini, hah. Hanya air minum biasa yang kutambahkan sedikit obat per*ngs*ng agar kamu semakin liar saat kita bercinta nanti." Andri tersenyum smirk. Otaknya sudah dipenuhi adegan demi adegan yang akan ia lalui bersama Lulu.
Meminta Lulu datang ke rumah dengan dalih memberikan oleh-oleh dari kakak perempuannya hanyalah tipuan belaka. Kakaknya Andri dan kedua orang tuanya sama sekali tidak tahu kalau putera mereka sedang menjalin kasih dengan wanita dari kalangan biasa.
"Tidak, kumohon jangan lakukan itu. Aku perempuan baik-baik, Kang." Memohon di sela isak tangisnya. Air mata Lulu semakin deras mengalir di pelupuk mata. Menyesal karena dengan mudahnya percaya dengan ucapan Andri.
"Apa katamu? Jangan lakukan itu? Enak aja! Aku susah payah bawa kamu ke sini lalu setelah kamu ada di rumah orang tuaku, membiarkanmu lepas begitu saja. Sinting kamu, hah! Asal kamu tau, kesempatan ini sudah kutunggu selama enam bulan lamanya. Aku mesti berpura-pura baik demi memikat hatimu. Dan itu membuatku jadi orang gila karena harus memakai topeng selama ini."
"Lantas setelah menunggu selama enam bulan, kamu minta aku melepaskanku? No way! Tidak semudah itu, Lu. Aku akan melepaskanmu setelah kudapatkan apa yang selama ini kuinginkan."
Lalu Andri menarik helaian rambut Lulu hingga kepala gadis itu mendongak ke atas, kemudian ia menampar wajah Lulu dengan sangat kencang hingga menyisakan bekas lima jari di pipi gadis itu. Lulu syok, tidak menduga akan diperlakukan kasar oleh kekasihnya sendiri.
Tanpa membuang waktu terlalu lama, Andri segera mencekoki Lulu dengan minuman yang ia bawa dari dapur. Karena sudah dipenuhi hawa napsu, ia segera menuntaskan keinginannya untuk menjamah Lulu. Menikmati tubuh molek itu sampai ia merasa puas.
Meletakkan kedua tangan di atas kepala, Andri mencium paksa bibir, leher, dan memberi kiss mark di sana. Ia pula menarik kaos yang dipakai Lulu sampai ke atas, memperlihatkan dua bongkahan kenyal yang masih terbungkus kacamata berenda. Meremaasnya kencang seperti tengah memegang squish.
Tenaga Andri yang kuat tak sebanding dengan tenaga Lulu hingga gadis itu hanya bisa pasrah. Terlebih mentalnya cukup terguncang mendapat kekerasan dari seseorang yang begitu sangat berarti dalam hidupnya.
Lulu terbaring pasrah, membiarkan Andri menjamah setiap inti tubuhnya yang mulus tanpa cela. Namun, saat bayangan wajah orang tuanya muncul di pelupuk mata, ia tersadar dan berusaha untuk mempertahankan kesucian yang dijaganya selama ini.
"Enggak akan pernah aku biarin Akang memperk*saku!" teriak Lulu dengan derai air mata membasahi pipi.
Seakan mendapat kekuatan saat membayangkan wajah ayah dan ibunya, Lulu mengarahkan sebelah kakinya menuju inti tubuh Andri. Dalam satu kali tendangan, inti tubuh pria itu berhasil Lulu kuasai.
Raungan kencang menggelegar di telinga Lulu. Andri menjerit kesakitan saat merasakan inti tubuhnya kesakitan. Ia ambruk ke lantai, seraya memegangi inti tubuhnya. Wajah memerah, menahan rasa sakit yang teramat sangat menyiksa.
"Perempuan sialan! Dasar Jal*ng. Beraninya lo nyakiti dia!" ujar Andri kasar. Ia bahkan menggunakan bahasa gaul yang biasa digunakannya sehari-hari.
"Lu, kembali! Gue akan buat perhitungan sama lo!" teriak Andri sambil berlari mengejar Lulu. Namun, akibat perbuatan Lulu, ia tak bisa berlari kencang. Berkali-kali tersungkur ke lantai, merasakan rasa nyeri di area sekitar pangkal paha. "Sialan!"
Teriakan, seruan dan makian tak Lulu hiraukan. Gadis itu terus saja berlari dan berlari tanpa memedulikan penampilannya yang berantakan.
"Aku harus pergi dari sini juga!" gumam Lulu dengan mata mengembun.
__ADS_1
...***...