Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Bertemu Kembali


__ADS_3

"Mama!" pekik si kecil saat melihat sosok wanita yang selama ini sangat ia rindukan. "Yeah, Rora ketemu Mama di sini. Hore!" Aurora segera turun dari kursi, berlari kecil kemudian memeluk Queensha dengan erat. Jemari mungil itu melingkar di pinggang sang mama. Ia sangat bahagia karena dapat bertemu kembali dengan mama tercinta.


Di saat Aurora begitu bahagia bertemu Queensha, ketegangan justru mengambang di udara saat dua pasang mata indah menatap ke arahnya. Queensha menatap dengan tatapan cemburu pada mantan suami dan wanita asing yang pernah dilihatnya di rumah sakit, sedangkan Cassandra menatap penuh tanda tanya sebab hingga detik ini belum mengetahui kabar bahwa lelaki yang ia cintai telah menikahi wanita lain.


"Mama, Rora kangen. Kenapa Mama enggak pernah pulang?" Bocah kecil itu mendongakan kepala demi melihat wajah Queensha. Bola matanya mengerjap dan berkaca-kaca.


Menghela napas panjang kemudian mengembuskan perlahan. Mencoba bersikap tenang walau gemuruh di dada saling bertabuhan seperti sedang berparade ria.


Queensha berlutut, menyejajarkan tinggi tubuhnya dengan Aurora. "Hai, Sayang!" Tersenyum manis kepada sosok kecil di hadapannya. "Maafin mama, ya? Mama sibuk kerja jadi enggak bisa pulang ke rumah. Meskipun begitu, mama tetap sayang sama kamu." Wanita itu memeluk tubuh Aurora.


Queensha bisa saja berpura-pura tidak melihat Ghani dan meminta rekan kerjanya mengantarkan pesanan ke meja nomor sepuluh, tapi apakah dia tega membiarkan Aurora duduk termenung dengan wajah murung sementara dia tahu apa yang menyebabkan gadis kecil itu tak lagi seceria dulu? Tidak, Queensha tidak akan pernah tega membiarkan anak sambungnya itu sedih. Kalau bisa, dia ingin selalu membuat Aurora tersenyum bahagia setiap hari.


"Kenapa Mama kerja? Kenapa bukan Papa aja yang kerja jadi Mama bisa temani Rora bermain dan menggambar. Rora ingin seperti teman-teman yang ditemani Mamanya." Aurora terisak.


Queensha mengelus rambut hitam Aurora. Ketika tanpa sengaja bertatapan dengan Ghani, wanita itu buru-buru mengalihkan pandangan ke arah lain. Rasa sakit itu masih ada dan sepertinya sukar untuk disembuhkan.


"Mama enggak bisa jelaskan ke Rora sekarang. Namun, satu hal yang perlu Rora ingat kalau mama akan selalu menyayangimu meski kita tak lagi bersama." Queensha mencium puncak kepala Aurora dengan penuh cinta. Menikmati kebersamaan mereka yang berlangsung selama beberapa menit.


Sekujur tubuh terasa terbakar api yang membara. Melihat bagaimana sikap Aurora terhadap Queensha membuat emosi Cassandra meledak detik itu juga.

__ADS_1


'Hanya baby sitter saja kok bisa sedekat ini dengan anak majikannya? Gue yakin banget ada something wrong antara Ghani dan perempuan miskin ini. Gue kudu tanya langsung sama Ghani daripada mati penasaran.'


Menghunus tatapan tajam. Mulut terbuka bersiap mengajukan beberapa pertanyaan kepada Ghani. Akan tetapi, suara bariton seorang pria menghentikan aksinya.


"Queensha, siapa mereka? Apa mereka adalah keluargamu?" Rama berdiri di belakang tubuh mungil Aurora. Rupanya sejak tadi ia memperhatikan Queensha dari kejauhan. Merasa ada hal aneh terjadi di depan sana, ia bergegas menghampiri salah satu pegawai yang sukses membuat jantungnya berdegup kencang setiap kali berada di dekatnya.


"Mereka ... ehm ...."


Tiga pasang mata. Dua pria dan satu wanita memperhatikan wanita berseragam abu-abu di depan sana. Menanti apa yang akan dikatakan oleh Queensha.


"Mereka adalah mantan majikan saya, Pak. Saya tidak menduga akan bertemu mereka di sini. Maaf jika sikap saya membuat kegaduhan di restoran ini." Queensha berkata tegar seraya mengepalkan sebelah tangannya di samping badan.


Queensha memaksakan diri tersenyum kaku di depan Rama. "Benar, Pak. Saya sudah menganggapnya seperti putri kandung sendiri."


Rama semakin dibuat kagum akan sosok wanita di sebelahnya. "Tidak heran sih kalau kamu bisa akrab dengan anak kecil. Soalnya kamu itu lemah lembut dan punya hati baik hingga anak-anak langsung merasa nyaman berada di dekatmu. Kamu memang istri idaman para kaum Adam, Sha." Pria itu mengusap ujung hidungnya yang tidak terasa gatal.


'Istri idaman? Omong kosong! Jika memang istri idaman, dia tidak mungkin melakukan satu kesalahan yang membuat putrinya celaka!' kata Ghani menahan rasa tidak nyaman ketika melihat sorot mata kagum tersirat dari bola mata Rama.


"Nah, sekarang kalian lanjutkan saja. Saya permisi dulu, masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan." Rama mengulum senyum di bibir. "Kalau sudah selesai, kembali bekerja ya, Sha. Bantu teman-temanmu yang lain."

__ADS_1


Dengan percaya diri Rama menyempatkan diri untuk berpamitan sekaligus say hello pada Aurora. "Nona Cantik, senang bertemu denganmu." Tangan kekar itu menoel ujung hidung Aurora.


Ghani menarik Aurora. Cepat mengusap ujung hidung putri tercinta. Sengaja memperlihatkan ketidaksukaannya pada Rama. "Jangan sembarangan menyentuh anak orang! Dasar tidak punya sopan santun!" kesalnya melirik benci.


Alih-alih marah, Rama justru tertawa. "Maafkan saya, Pak, karena tidak dapat menahan diri untuk tidak menyentuh putri Anda. Nona cantik ini sangat menggemaskan hingga saya ingin sekali menyentuhnya. Sekali lagi, mohon maafkan saya."


Setelah kepergian Rama, kecanggungan kembali menyapa semua orang. Cassandra dan Queensha saling lirik satu sama lain. Merasa dirinya telah mengganggu ketenangan salah satu pelanggannya, Queensha memilih pergi meninggalkan mantan suami serta anak sambungnya.


"Semua pesanan sudah lengkap. Kalau tidak ada yang ingin dipesan lagi, saya permisi. Selamat siang dan selamat menikmati." Sedikit menunduk kemudian mengayunkan kaki jenjangnya yang dibalut sepatu pentofel hitam. Derap langkah wanita itu semakin lama semakin samar terdengar.


"Papa kenapa Mama pergi lagi? Rora 'kan masih kangen Mama." Gadis kecil itu menatap kepergian Queensha dengan nanar. Bahkan bola matanya mulai berkaca-kaca lagi.


Ghani tidak menjawab. Pria itu mendudukan Aurora di kursi sebelumnya. "Nanti kita temuin Mama lagi, ya? Untuk sekarang Rora makan dulu. Bukannya tadi bilang lapar dan ingin makan burger? Nah, selagi makanannya hangat kita makan dulu, yuk," bujuknya dengan harapan sang putri menuruti permintaannya.


Pasrah. Aurora membuka mulutnya saat Ghani menyodorkan potongan beef burger ke depan wajah.


'Bertahun-tahun enggak ketemu, rupanya banyak cerita yang gue enggak ketahui tentang Ghani. Kalau begini, gue mesti cari tahu apa yang terjadi selama pisah dengan Ghani.' Cassandra membulatkan tekad akan mencari informasi mengenai Ghani dan apa hubungannya dengan Queensha, perempuan yang diduga mempunyai hubungan spesial dengan pria idamannya.


'Kalau emang mereka punya hubungan khusus, gue harus memisahkan mereka. Gue enggak akan biarkan ada perempuan satu pun yang singgah di hati Ghani. Gue akan melakukan cara apa pun demi mendapatkan Ghani termasuk melakukan hal licik yang pernah gue lakukan dulu. Meskipun cara tersebut gagal, tapi gue enggak bakalan kapok demi mendapatkan apa yang diinginkan.'

__ADS_1


...***...


__ADS_2