
Pagi hari kembali menyapa. Lulu merasa tubuhnya sudah mulai membaik memutuskan untuk pergi bekerja walau Rama telah memberinya libur selama tiga hari ke depan. Namun, gadis itu tak mau menggunakan semua jatah cutinya sebab merasa bosan terus berada di kamar tanpa melakukan apa pun. Apalagi ia terbiasa bekerja, bergerak ke sana kemari guna melayani pelanggan yang datang ke restoran guna mengisi perut mereka yang keroncongan.
Menguncir rambut model kuncir kuda, Lulu siap menghadapi hari ini dengan penuh senyuman. "Gue yakin pasti bisa!"
Gadis yang sebentar lagi menginjak usai dua puluh tujuh tahun mengafirmasi dirinya dengan kata-kata positif. Itu semua dilakukan agar kecemasan serta rasa takut pasca pertemuannya dengan Andri menghilang dalam dirinya.
"Lah, kok, lo udah rapi aja, Lu. Mau ke mana? Gue bawaain buryam buat lo, nih." Ratna mengangkat plastik ke udara, memperlihatkan apa yang ia bawa untuk teman sebelah kamarnya.
"Gue mau kerja, Na. Badan gue pegel karena kebanyakan tidur. Gue enggak biasa diam diri di kamar terus, jadi gue putusin untuk buat pergi kerja."
Lulu meraih bungkusan berisi sarapan untuknya. "Thanks, lo emang selalu ngerti keadaan gue. Bubur ini gue ambil untuk bekal sarapan di restoran." Melirik ke arah jam tangan di pergelangan tangan kiri. "Gue cabut dulu, ya. Bye, Ratna."
Lulu melengos begitu saja tanpa memberi kesempatan kepada Ratna untuk berbicara. Gadis yang diberi tanggung jawab oleh Leon untuk mengurusi Lulu selama sakit, hanya mendesaah pelan saat melihat motor kesayangan Lulu melaju, meninggalkan halaman indekos mereka.
"Moga lo betulan udah sehat, Lu. Gue enggak mau kena omel cowok lo kalau sampe dia tau gue biarin lo pergi begitu aja."
Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya Lulu tiba di tempat kerjanya. Ia memarkirkan motor kesayangan di parkiran khusus para pekerja.
"Selamat pagi, Neng Lulu." Petugas keamanan restoran menyapa Lulu yang baru saja hendak mau ke dalam restoran.
Berkata lembut disertai senyuman hangat. "Pagi, Pak. Jaga shift pagi juga, nih?"
Mengangguk cepat. "Bener, Neng. Si Husni minta tukeran shift. Katanya mau nganterin bininya periksa kandungan. Karena ini anak pertama mereka, akhirnya saya ngalah. Enggak apa, sesekali ngalah demi kebahagiaan orang lain."
Lulu bahagia mendengar berita tentang kehamilan salah satu petugas keamanan yang berjaga di tempatnya kerja. "Alhamdulillah, saya ikutan seneng dengernya. Moga ibu dan anaknya sehat sampe proses lahiran nanti."
Setelah basa basi, Lulu undur diri dari hadapan pak Lukman. Ia kembali mengayunkan kakinya menuju ruangan bagi para pekerja restoran. Namun, baru saja melangkah, ia berpapasan dengan Rama, atasannya di restoran.
"Pagi Mas Rama." Lulu berkata lembut sambil memberi senyuman manis kepada atasannya itu.
Rama terkejut melihat Lulu berdiri di hadapannya. Mata melebar dengan rahang terbuka sempurna. "Lulu? Bukannya kamu masih cuti sakit, ya? Kenapa malah berkeliaran di restoran?"
__ADS_1
"Dih, berkeliaran. Memangnya aku si Chiko yang sering berkeliaran di sekitar restoran untuk cari makanan," cibir Lulu menyamakan dirinya dengan kucing yang biasa bermain di area sekitar restoran.
"Aku bosan sekali, Mas, berada di rumah terus. Selama sakit kerjaanku cuma rebahan, makan, dan streaming doang, enggak ngerjain apa-apa. Lama kelamaan, badanku bisa melar karena terlalu lama bersantai di rumah. Jadi, daripada enggak nganggur, lebih baik pergi kerja. Di sini aku bisa mendapat hiburan gratis tanpa perlu menghabiskan kuota untuk mengusir kejenuhanku."
Rama menggelengkan kepala. "Dasar keras kepala. Kamu istirahat di rumah karena sedang sakit jadi wajar kerjaamu cuma makan dan tidur doang. Lagi pula, selama ini kamu sudah bekerja keras, melayani pelanggan dengan baik dan saat kamu jatuh sakit ini kesempatan baik bagimu untuk istirahat tanpa mikirin soal pekerjaan. Eh, kamu malah pergi kerja sebelum jatah cutimu habis."
"Lulu, Lulu ... di mana-mana, orang akan bahagia dikasih jatah cuti. Lah kamu malah enggak betah di rumah dan ingin cepat-cepat masuk kerja, aneh banget, sih, kamu."
Lulu hanya cengegesan. Sama sekali tak tersinggung dengan ucapan atasannya itu sebab apa yang dibicarakan Rama adalah kenyataan jika dia tidak suka berdiam diri di rumah tanpa melakukan kegiatan apa pun.
"Mas Rama, aku masuk duluan. Mau bantuin temen-temen bersih-bersih. Enggak enak takut jadi bahan omongab yang lain," kata Lulu. Ia melangkah meninggalkan Rama. Namun, ia teringat akan sesuatu.
"Oh ya, hampir lupa. Aku mau ucapin makasih karena Mas Rama enggak mempersulitku mengambil cuti kerja. Kalau di luaran sana, mesti ada surat sakit dari dokter untuk memastikan kalau aku betulan sakit. Tapi Mas Rama dengan berbaik hati ngasih cuti begitu aja ke aku tanpa minta ini dan itu. Mas Rama emang atasan yang baik dan aku beruntung punya atasan seperti kamu."
"Kamu terlalu memujiku, Lu. Aku bersikap begitu karena merasa kalau kamu memang butuh waktu untuk istirahat sebab selama ini terlalu sibuk bekerja. Hari-harimu selalu diisin dengan bekerja, bekerja, dan bekerja. Karena hal itulah aku kasih kamu kemudahan. Hitung-hitung kasih apresiasi atas loyalitasmu terhadap restoran," jawab Rama.
"Big Boss juga enggak mempermasalahkan soal kamu yang sakit tanpa kasih surat keterangan dokter. Hanya saja, di kemudian hari kalau kamu sakit lagi wajib serahin surat dari dokter."
Lulu mengacungkan ibu jari ke udara. "Siap, next time aku minta surat dokter kalau sakit lagi. Sekali lagi, makasih banyak, ya, Mas."
Pagi ini, Leon menyempatkan diri berolahraga terlebih dulu sebelum berangkat ke rumah sakit. Terlalu sibuk bekerja membuat jadwal olahraganya berantakan hingga ia tak tahu kapan terakhir berolahraga.
"Den Leon, ini jus yang Aden minta." Asisten rumah tangga Bu Ayu menaruh gelas jus tersebut di atas meja bundar terbuat dari kaca.
Leon tak langsung menyesap minumannya sebab saat ini sedang berlari kecil di atas treadmill yang diletakkan di teras belakang rumah. Masih tersisa waktu lima menit lagi sampai ia menyelesaikan kegiatannya.
Duduk di kursi santai. Menyesap jus buah yang sebelumnya ia pesan pada asisten rumah tangga. "Ehm, kira-kira kabar Lulu gimana, ya? Apa dia udah mulai bisa aktivitas atau belum?"
"Daripada penasaran, mending gue hubungin Ratna aja, deh, buat nanyain kondisi Lulu saat ini. Kalau gue hubungin Lulu, takutnya ganggu dia yang lagi istirahat."
Leon mencari kontak Ratna, lalu menghubungi gadis itu. "Halo, Na, sorry ganggu. Aku cuma mau tanya soal Lulu. Kabarnya dia bagaimana, apa sudah mendingan?"
__ADS_1
Ratna menaruh gawainya di telinga. Mengalitnya di bahu sementara ia sibuk menuangkan kecap manis ke atas nasi goreng buatannya. "Memangnya Lulu tidak cerita ke kamu kalau hari ini sudah mulai pergi bekerja. Pagi tadi dia pergi ke restoran mengendarai motor miliknya. Wajahnya memang masih terlihat pucat, tapi tidak separuh dua hari lalu."
Leon yang sedang menyesap jus apel terpaksa berhenti karena sakit terkejut akan informasi yang disampaikan Ratna kepadanya. "Jadi Lulu sekarang tak ada di kamarnya? Dia pergi bekerja. Iya?"
"Benar. Aku mau melarang, tapi dia sudah keburu kabur. Akhirnya aku cuma diam, membiarkan dia pergi bekerja. Sorry, aku tidak bisa mencegah Lulu untuk tidak bekerja. Akan terjadi perselisihan antara aku dan dia kalau ikur campur dalam urusan pribadinya."
Menarik satu napas teramat berat, dapat mengerti kenapa Ratna tak berani menghentikan Lulu. Gadis itu terkadang keras kepala, apa yang disampaikan tidak benar-benar diserap oleh kedua telinganya. Masuk telinga kanan maka terpental di telinga yang sama hingga yang ada hanya capek karena energi terbuang untuk suatu hal yang sia-sia.
"Tidak masalah. Mungkin Lulu memang bosan berada di kamar terus. Ya sudah, kalau begitu aku tutup dulu teleponnya. Terima kasih sudah merawat Lulu selama dia sakit." Leon menekan tombol hijau, mengakhiri percakapan mereka.
"Sebaiknya gue mampir ke restoran sebentar sebelum pergi ke rumah sakit untuk mastiin kalau Lulu baik-baik aja. Kalaupun masih sakit, gue bisa beliin obat untuk dia." Kemudian Leon bangkit berdiri sambil membawa gelas kosong ke dapur.
"Bik, Mama ke mana? Tumben jam segini tidak kelihatan di mana-mana," kata Leon saat tiba di dapur. Di sana tak menemukan mama tercinta. Padahal biasanya Bu Ayu akan menyibukan diri di dapur. Entah membuat kue, mencoba resep masakan yang baru didapat dari Youtube. Pokoknya ada saja yang dikerjakan wanita paruh baya itu di dapur.
"Ibu tadi bilang katanya mau pergi keluar, tapi bibik tidak tau pergi ke mana sebab Ibu tak cerita apa-apa, Den. Tapi melihat penampilannya, tampaknya Ibu mau bertemu orang penting buktinya dandan rapi seperti mau kondangan."
Pikiran Leon bersarang berjuta pertanyaan. Otaknya bekerja keras mencaritahu apa yang dilakukan sang mama di luaran sana. Tidak biasanya bu Ayu pergi sesaat setelah pak Imran pergi ke kampus.
"Oh begitu. Mungkin mau ketemu teman lama. Bik, ini gelas kotornya aku taruh di westafel, nanti tolong dicuciin. Aku mau ke kamar dulu, mandi, dan setelah itu pergi ke rumah sakit."
"Iya, Den, taruh aja di situ. Nanti bibik cuciin sekalian sama piring dan panci di sana."
Leon berjalan meninggalkan dapur. Ia naik ke lantai dua sambil bersenandung, menyanyikan lagi pop yang dipopulerkan oleh runner up ajang pencarian bakat di RCTI.
"Mesti wangi, ganteng, biar enggak malu-maluin saat ketemu Lulu." Tanpa sadar Leon tersenyum, membayangkan wajah Lulu yang tiba-tiba muncul di pelupuk mata.
Sementara itu, bu Ayu sedang berada di dalam taxi yang akan mengantarkannya ke suatu tempat. Ia bertekad untuk menemui seseorang dan membahas suatu hal penting dengan orang itu.
"Pokoknya hari ini semuanya harus beres. Jangan sampai ada yang mengganggu pikirianku. Aku tidak mau mati penasaran sebelum bertemu dengannya."
Menepuk pundak sang sopir. "Pak, bisa naikin kecepatannya? Saya lagi buru-buru banget, nih."
__ADS_1
Pria yang duduk di balik kemudi berkata, "Bisa, Bu. Ibu duduk tenang di belakang, akan saya antarkan Anda ke tempat tujuan dengan selamat."
...***...