
Jerit kesakitan berasal dari Mia menggema di segala penjuru gedung terbengkalai yang lokasinya cukup jauh dari pusat kota. Makian, tangisan dan teriakan ibu tiri Queensha sangat memekakkan gendang telinga. Bukan hanya itu saja, suara Mia pun rupanya berhasil mengembalikan kesadaran satu dari dua tawanan yang tengah tertidur pulas dibalut mimpi indah.
Mata memicing, memindai lingkungan sekitarnya, mencoba untuk beradaptasi. Saat manik coklat Sarman menatap ke depan, alangkah terkejutnya ia melihat pemandangan mengerikan di depan sana.
Ghani yang kesehariannya dingin dan tak banyak bicara berubah menjadi sangat agresif. Pria itu menarik helaian rambut Mia dengan sangat erat, kemudian menghempaskannya begitu saja sampai kepala ibu tiri Queensha nyaris membentur dinding di belakang. Ia pula menampar wajah Mia tanpa henti membuat sudut bibir wanita itu robek akibat tamparan keras yang dilayangkan kepadanya.
"Ini hukuman karena kamu telah memisahkan Queensha dari bayi yang ada dalam kandungannya." Untuk kesekian kali Ghani melayangkan tamparan keras di wajah putih mulus Mia. "Akibat perbuatan jahatmu, istriku hidup menderita selama lima tahun. Dia hidup dalam kesedihan karena menduga anaknya telah meninggal dunia. Kamu ... benar-benar kejam, Mia!"
Dengan sisa tenaga yang dimiliki, Mia berkata lirih. "Anak sialan itu memang pantas menderita. Dia sudah melempar kotoran ke wajahku jadi wajar bila aku memberi pelajaran kepadanya."
"Anak haram yang dikandung Queensha merupakan aib keluarga dan memang seharusnya disingkirkan."
"Bayi itu bukan aib. Dia adalah karunia terindah yang Tuhan berikan kepada istriku. Jadi berhentilah mengatakan hal buruk tentangnya!" Ghani memandang Mia dengan tatapan tajam dan sorot mata penuh kebencian.
Sebagai seorang ayah yang telah membesarkan Aurora dengan susah payah, tentu saja Ghani tidak terima bila darah dagingnya disebut anak haram. Memang benar Aurora hadir akibat perbuatan bejad Ghani, tapi bukankah setiap bayi yang terlahir ke dunia dalam keadaan suci alias tidak bersalah? Yang bersalah itu adalah orang tuanya. Kalaupun mau membenci, bencilah ayah dan ibunya bukan justru anak tidak berdosa yang menjadi korban kemarahan orang lain.
Rambut yang ditata rapi berubah berantakan. Riasan make up di wajah perlahan luntur akibat buliran air mata jatuh membasahi pipi. Lelehan air mata berjatuhan bukan karena Mia menyesali perbuatannya kepada Queensha, tapi karena rasa perih akibat luka robek di sudut bibir terkena gamparan Ghani. Namun, mata tajam Ghani dapat melihat jelas jika saat ini Mia sedang tersenyum sinis kepadanya.
"Apa yang sudah Queensha berikan kepadamu sampai kamu begitu membelanya?" tanya Mia penasaran sebab merasa pada diri Queensha tidak ada sesuatu yang mampu memikat hati lawan jenis. "Tubuhnya, hem? Memangnya kamu bisa mencapai puncak kenikmatan bersama wanita yang sudah tidak suci lagi?"
__ADS_1
"Sadar, Ghan. Kamu itu masih muda, tampan dan mempunyai karir cemerlang sebaiknya tinggalkan Queensha dan carilah wanita lain. Aku jamin hidupku semakin bahagia setelah lepas dari wanita sialan itu."
"Tutup mulutmu, Mia!" Tangan Ghani terangkat ke atas hendak menampar Mia, tetapi suara berat seseorang menghentikan kegiatannya.
"Hentikan! Jangan pernah berani menyentuh istriku!"
Sontak Ghani dan Mia menoleh hampir bersamaan. Di tengah keputusasaan, Mia melihat secercah harapan dari sorot mata suami pertamanya itu. Walaupun keduanya tengah disekap di sebuah gedung terbengkalai, ia merasa Sarman dapat membebaskannya dari ikatan tali yang melilit di tubuh. Ya, Mia begitu yakin jika Sarman dapat membawanya dan juga Lita pergi dari hadapan Ghani.
"Mas Sarman," kata Mia lirih. Ia tersenyum lebar saat tatapan mereka beradu pandang. Matanya berbinar bahagia karena harapannya sebentar lagi terwujud.
Cukup lama mereka berpandangan hingga gelak tawa Ghani menghentikan momentum indah tersebut. Perut terasa geli seolah ada seseorang yang menggelitiknya. Saking merasa lucu akan tingkah pasangan suami istri itu, air mata keluar dari manik coklat indah miliknya.
"Cuih, benar-benar menjijikan. Jika adegan romantis yang kulihat adalah pemeran utamanya kedua orang tuaku maka aku siap menontonnya sampai selesai. Namun, jika kalian berdua ... tentu saja aku tidak sudi. Bisa tercemas mataku karena melihat dua sampah tak berguna bermain peran di hadapanku."
"Sialan! Akan kuhabisi nyawamu detik ini juga, Ghani. Aku bersumpah akan membunuhmu dengan tanganku sendiri!" ancam Salman histeris. Tubuhnya meronta, berusaha melepaskan diri dari jeratan tali yang mengikat semua anggota badan.
Semakin kencang Ghani tertawa. "Membunuhku? Bagaimana caranya? Kamu saja terikat begini. Jangan mimpi wahai manusia jahat! Kamu, Mia serta anak perempuan kalian yang sialan itu tidak akan pernah bisa lepas dari genggaman tanganku."
Ghani yang terlanjur dendam dan sakit hati pada dua manusia biadab itu segera menarik rambut Mia dengan sangat kencang. Saking kencangnya sampai membuat Mia merasa kulit kepalanya tercabut jika tidak segera dilepaskan.
__ADS_1
"Lepaskan aku, Sialan!" Andai saja Mia tidak dalam keadaan terikat sudah dapat dipastikan ia membalas semua perbuatan Ghani kepadanya.
Alih-alih melepaskan cengkeraman tangannya di helai rambut yang hitam, Ghani malah semakin mengeratkan pegangannya.
"Sampai kapan pun aku tidak akan melepaskanmu, Mia! Tidak akan!" ujar Ghani tegas.
"Aaw! Mas Sarman, tolong aku. Ini ... sakit sekali." Mia mengiba kepada Sarman. Matanya yang jernih mulai berkaca-kaca. Rasa sakit di kepala dan sudut bibir mulai menjalar ke mana-mana.
"Mintalah sepuas hatimu karena setelah ini kamu akan membusuk di penjara selamanya."
"Bajingan! Hentikan! Sudah kukatakan jangan pernah berani menyentuhku istriku!" Sarman semakin frustasi melihat penderitaan Mia. Ingin rasanya menolong wanita yang telah memberinya satu orang anak, tapi ia tak berdaya. Tubuhnya terikat kencang hingga ia tak dapat melakukan apa pun.
'Berengsek! Bagaimana aku bisa menyelamatkan Mia kalau keadaannya begini. Aku harus mencari cara. Ya, harus!" Lantas Sarman menyapu seluruh penjuru ruangan, mencari celah untuk bisa membawa Mia dan Lita pergi dari gedung ini.
Sarman menundukan kepala, melihat apakah benda yang bisa digunakan agar dirinya terlepas dari tali yang membelit tubuh.
Sebelah bibir Sarman naik ke atas ketika semesta mengabulkan permintaannya. 'Memang keberuntungan selalu menyertaiku."
Melihat Ghani yang sedang lengah, Sarman beringsut mendekati sebuah benda tajam berada di tumpukan sampah kering di sebelahnya. Posisi tubuhnya yang diikat di tanah membuat pria itu leluasa bergerak ke mana pun yang ia suka.
__ADS_1
...***...