
Hari ini, Queensha meminta Lulu untuk menemaninya ke butik yang direkomendasi Zahira karena Triplet, sebutan tiga kembar bersaudara sepakat mengenakan seragam batik untuk perayaan wedding anniversary mertu tersayang. Walaupun pada kenyataannya Lulu kebanyakan bermain dengan Aurora dan meninggalkan Queensha berdiskusi bersama perancang busana yang menghabiskan waktu dua jam, tetapi setidaknya ada seseorang yang menemani nyonya muda keluarga Wijaya Kusuma saat tengah berbelanja di mall dan itu membuat Ghani tidak khawatir akan keselamatan istri serta anak kesayangannya.
"Lu, thanks sudah menemani dan menjaga Rora selama aku sibuk memilih kain batik untuk wedding anniversary mertuaku. Pekerjaanku sedikit terbantu karena kehadiranmu di sisiku," kata Queensha sebelum Lulu masuk ke dalam rumah. Saat ini mereka berada di depan pintu gerbang indekos Lulu.
Lulu tersenyum hangat. "Enggak perlu ngucapin terima kasih, Sha. Kebetulan aja gue lagi senggang dan bosan banget di kamar jadi bisa nemenin lo ke mall. Udah, enggak perlu sungkan segala ke gue. Kita sahabat dan sahabat akan selalu ada di saat dibutuhkan."
"Ya udah, gue masuk duluan. Lo hati-hati di jalan. Kalau butuh bantuan atau apa pun itu, jangan sungkan hubungin gue." Usai mengucap kalimat tersebut, Lulu dan Queensha berpelukan dan keduanya berpisah, melanjutkan aktivitas masing-masing.
Kini, Lulu tengah membereskan isi kamarnya yang begitu berantakan sambil mendengarkan musik galau, padahal dirinya sama sekali tidak memiliki perasaan itu.
“Boro-boro galau, punya pacar aja kagak,” kekehnya mengkritik diri sendiri saat otaknya memikirkan betapa anehnya dia saat ini.
“Huft ... besok, di restoran ada event dari beberapa sekolah Taman Kanak-Kanak, pasti capek banget. Mana pastinya pulang malam, jadi pengen bolos deh.” Sembari melipat pakaian yang ditumpuk di atas kasur, Lulu bergumam pada diri sendiri.
“Ah, enggak enak banget jadi wanita jomlo. Kalau tidur, enggak ada yang ucapin ‘selamat mimpi indah’, pas bangun juga enggak ada yang kirim pesan ‘good morning’ apalagi ngajak video call. Nasib jadi wanita SUKI ya begini. Susah untuk dimiliki, hehe!” Dengan kepala yang menggeleng-geleng, Lulu kembali berkata geli.
Lagu yang tengah dinyanyikan saat puncak dengan nada tinggi pun berhenti, membuat gadis yang saat ini ingin berdiri pun urung dan memilih tuk mengambil ponselnya tengah mengeluarkan dering telepon masuk.
Sebuah panggilan dari Ibu Tercinta, dengan segera Lulu mengangkatnya dan melemparkan sapaan begitu ceria. “Ada apa, Bu?” Lulu bertanya saat tidak ada tanggapan signifikan dari sang ibu.
“Kamu lagi di mana, Nak?” tanya beliau dari seberang sana dengan nada terdengar ragu dan bimbang.
Sebelah alis Lulu terangkat. Di dalam benaknya saat ini, begitu kebingungan sebab dia tidak pernah mendengarkan ibunya yang terdengar gelisah.
'Pasti ada masalah,' batin Lulu.
Kemudian, Lulu berdehem beberapa kali dan menjawab, “Lulu di kamar, Bu. Biasalah, kamar anak gadis kayak kandang kebo.”
Bu Isni terkekeh geli mendengar jawaban anaknya. “Kamu ini ada-ada saja, Lu. Ehm ... ibu telepon kamu sore-sore begini karena mau bertanya sesuatu, Nak.”
Kening Lulu berkali-kali lipat semakin mengerut dalam mendengar perkataan itu. Setelah menyadarkan diri, dia pun berceletuk, “Kenapa, Bu? Tumben sekali bertanya lebih dulu? Langsung ngomong saja, Bu, 'kan, biasanya juga begitu. Langsung ngomong tanpa minta izin terlebih dulu."
Sejenak, Lulu tidak mendengar apapun kecuali suara bisikan yang sepertinya adalah suara sang ayah tengah berbincang sengit dengan ibu. Telinga Lulu begitu tajam, mampu mendengar suara pertikaian mereka walaupun amat lirih.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, barulah bu Isni kembali berkata, “Kamu sudah ada pacar, Nak? Jangan kelamaan sendiri ya, Nak, soalnya ibu dan bapak sudah ingin mengantarkan kamu ke pelaminan.”
'Ternyata ini yang mau diomongin Ibu ke gue. Pantesan aja tadi sempat denger suara Ayah yang marah-marah ke Ibu. Rupanya pertanyaan inilah yang menyulut perselisihan di antara mereka berdua,' kata Lulu di dalam hati.
Lantas, Lulu pun kembali menjawab, “Kok tumben itu tanya gitu?”
“Nak, usia kamu sudah memasuki fase dewasa yang cocok untuk berumah tangga. Sampai kapan kamu akan melajang? Sendirian lama-lama pun enggak baik, Lu. Untuk psikis, biologis, dan juga pandangan orang terhadap dirimu sendiri. Semakin tua, susah mendapatkan pasangan, Nak. Apalagi kamu di kota besar, pergaulan kian bebas. ibu dan bapak khawatir sekali kamu terjerumus pergaulan bebas. Jika ada suami, kami bisa tenang setiap malam.” Ibu mencerocos, memberitahukan kekhawatiran yang lebih dinilai sebagai penuntutan berujung pernikahan.
“Lulu bisa jaga diri dengan baik. Lagian, selama ini Lulu baik-baik saja di sini tanpa adanya lelaki,” kata Lulu dengan cepat sebelum ibunya berpikir lain.
“Tapi, Nak. Ibaratkan sebuah buah yang sudah matang, lama kelamaan akan membusuk jika enggak dipetik,” sahut ibunya tak mau kalah dari seberang telepon sana.
Lulu menghela napas panjang. Dia tahu, walaupun nada suara yang dikeluarkan ibunya biasa saja tapi wanita yang sudah melahirkannya itu tengah kesal sekali dan melampiaskan kepada ayahnya.
“Lulu, sebaiknya kamu pulang saja ke kampung. Kamu itu wanita dan tidak perlu bekerja. Bapak dan Ibu masih sanggup membiayaimu walau meski bekerja dari pagi sampai malam hari daripada kamu jadi perawat tua. Atau kalau mau, kamu nikah dengan Juragan Sudrajat--orang terkaya di kampung kita. Ibu yakin, juragan akan memperlakukan kamu dengan baik. Dia pasti dapat berlaku adil dengan keempat istrinya." Sebelum Lulu menjawab, ibunya kembali menyahuti.
“Ibu! Jangan bicara begitu!” Kini, dapat Lulu dengar suara bentakan ayahnya yang begitu geram mendengar celetukan sang istri.
Kemudian, panggilan dimatikan sepihak. Dia berasumsi jika kedua pasangan itu sedang dilanda pertengkaran.
Segera Lulu mengambil ponsel dan membuka salah satu aplikasi pengirim pesan. Dia mengetik serangkaian kalimat yang akan dikirimkan kepada sang ibu.
[Bu, sebagai wanita, aku tentu punya harga diri dan akal sehat. Gadis perawan mana yang mau menikah dengan pria tua bangka dan mata keranjang seperti Juragan Sudrajat? Jika itu ada, maka bukan aku salah satunya, Bu! Cinta memang datang karena terbiasa, tetapi cinta aku tidak akan pernah hadir jika menikah dengan dia! Ibu ... aku bukannya mau membangkang permintaan atau perintah ibu, sama sekali tidak. Tapi tolong, mintalah sesuatu yang mampu aku kabulkan, Bu. Jika sudah ada jodohnya, pasti aku akan menikah tanpa ibu minta. Tapi sayangnya, Tuhan masih memerintahkan aku untuk mencintai diri sendiri, Bu. Semoga Ibu dapat mengerti keadaanku sekarang.]
Pesan panjang itu langsung kirimkan kepada sang ibu dan juga ke nomor ayahnya. Kemudian, Lulu mematikan data internet supaya tidak tahu balasan.
“Akhh! Jodoh cepatlah datang! Calon makmum lo ini sedang di ambang jurang!" teriak Lulu kencang. Lalu ia menggulingkan badannya di atas kasur. Tampak ia sangat frustasi karena sang ibu memaksa dirinya untuk segera menikah.
***
“Masak apa, Sayang?”
Sebuah tangan memeluk tubuh Queensha dari belakang yang tengah mengiris mentimun di atas kitchen set. Kepalanya menoleh ke samping membuat bibirnya menyentuh permukaan pipi sang suami yang tengah bermanja.
__ADS_1
Melihat Ghani hadir membuat inner child di dalam diri Queensha meronta-ronta. Dia pun melepaskan tangannya dari pisau juga pelukan pria itu.
“Koko Ghani, sayang, aku mau dimasakin burger, dong.” Dengan memasang wajah memelas dan nada suara amat manja, Queensha menceletuk secara tiba-tiba.
Wajah Ghani berubah menjadi terkejut. Dia tidak menyangka dengan respon Queensha. “Ha? Sayang, kamu kenapa?”
“Ahh, Sayang! Enggak jadi, deh. Aku maunya makan pizza aja. Sayang, beliin langsung dong dari Italia.” Senyuman lebar Queensha mengembang dengan mata berbinar-binar. Dia amat ngiler saat membayangkan tengah menyantap makanan khas Negeri Menara Pizza tersebut.
“Hah? Apa?” Kini, mulut Ghani menganga. Tangannya bahkan kini menggorek isi telinganya sendiri karena takut salah dengar. “Sayang, coba katakan sekali lagi kamu mau apa?”
Kedua tangan Queensha bergelayut manja di leher Ghani dengan bibir mengerucut ke depan. “Kokku sayang, Papanya Aurora ... Mama lagi mau pizza, nih. Pilihannya hanya dua, beli langsung ke Italia atau kamu buatkan sendiri dari adonan yang tengah kusiapkan. Pilih mana, hm?”
Kedua mata Ghani membelalak mendengarnya. Dia merasakan perubahan di dalam diri Queensha yang begitu pemalu, kini ... berubah menjadi agresif. Benar-benar sangat aneh.
"Mas, kok, diam aja, sih. Apa kamu tidak mau mengabulkan permintaanku?" tanya Queensha dengan sedikit kecewa.
Ghani gelagapan mendegar pertanyaang sang istri. "B-bukan begitu, Sayang. Hanya saja-"
Queensha melepaskan tangannya dari lengan Ghani dan berjalan menjauh dari suaminya itu. Wajah ditekuk dengan bibir mengerucut ke depan.
"Ya sudah, kalau kamu tidak mau mengabulkannya, tidak masalah. Biar aku buat saja sendiri. Namun, ... jangan harap aku memberimu jatah malam ini."
Wajah Ghani langsung berubah pasi mendapat ancaman istrinya. Bagaimana mungkin dia bisa tidur nyenyak kalau tidak bercinta terlebih dulu. Bisa uring-uringan dia kalau sehari saja tidak mendapat pelayanan dari sang istri tercinta.
Ghani merangkul pundak Queensha, lalu memasang wajah semanis mungkin. Jangan sampai puasa malam ini.
"Baiklah, aku coba buatkan pizza untukmu. Kamu duduk saja di sana sambil memberi instruksi kepadaku. Oke?"
Wajah Queensha yang semula murung berubah berseri. Dia tersenyum lebar hingga memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi.
Dengan berani, Queensha mendekatkan wajah mereka dan memberikan satu kecupan hangat. “Xie xie, Gege Ghani. Nanti malam kuberi kamu servis terbaik yang belum pernah kuberikan."
...***...
__ADS_1