Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Bayi Besar Queensha


__ADS_3

Selama dirawat di rumah sakit, Queensha begitu telaten merawat Ghani. Tak sedetik pun wanita itu meninggalkan calon suaminya yang mendadak berubah menjadi bayi besar yang begitu manja sehingga membuat semua orang menggelengkan kepala akan kelakuan anak pertama dari pasangan Rayyan dan Arumi.


"Sayang, aku haus, tolong ambilkan minum dong."


"Sayang, tanganku tak sanggup memegang sendok. Bisakah kamu menyuapiku?"


"Aduh, gatal sekali. Tolong garukin dong."


Masih banyak lagi rengekan kecil yang meluncur dari bibir Ghani. Kendati demikian, Queensha sama sekali tak merasa kesal apalagi menggerutu dengan perubahan sikap sang calon suami. Ia justru merasa bahagia karena dapat melihat sisi kekanak-kanakan yang ada dalam diri pria yang begitu dicintainya.


"Sayang, perutku lapar sekali. Apa ada makanan yang bisa kumakan?" tanya Ghani.


Beberapa waktu lalu Ghani tertidur usai meminum obat yang diresepkan dokter. Namun, selang satu jam kemudian pria itu terbangun kala bunyi kemerucuk terdengar di perutnya. Oleh karena itu ia terbangun dan mencari makanan yang dapat dimakan guna mengusir rasa lapar dalam dirinya.


Queensha yang saat itu sedang bertukar pesan dengan Lulu, segera meletakkan benda pipih berukuran 6.5 inci ke atas meja nakas lalu berjalan mendekati sang calon suami.


Wanita itu duduk di tepian ranjang, tersenyum lebar di hadapan Ghani. "Ada. Tadi perawat mengantarkan makan siang untukmu. Melihatmu tertidur dengan lelap, aku tak berani membangunkanmu. Ehm, apa kamu mau makan sekarang?"


Ghani mengangguk sebagai jawaban. "Tapi suapin, ya? Tanganku masih belum sanggup memegang sendok sendiri," ucapnya dengan nada yang dibuat memelas sedemikian mungkin. Matanya menata penuh pengharapan.

__ADS_1


Dengan lemah lembut Queensha menjawab, "Iya, aku suapin." Lalu ia meraih piring yang tertutup rapat di atas nakas dan menyendokan makanan tersebut, kemudian menyodorkannya ke hadapan Ghani. "Ayo, buka dulu mulutnya."


Mengangguk cepat, tatapan mata memelas berubah menjadi binar bahagia. Ghani sangat penurut layaknya seorang anak kecil yang mematuhi apa kata sang bunda. Queensha seperti memiliki mantra khusus untuk menjinakkan sosok pria dingin dan arogan macam Ghani.


Dengan telaten Queensha menyuapi Ghani secara perlahan. Sesekali mengusut sisa makanan yang ada di pinggiran mulut Ghani menggunakan tisu. Semua gerak gerik Queensha tak luput dari pandangan calon mertuanya.


"Lihat, kita tidak salah 'kan memberi kesempatan pada Ghani untuk menikahi Queensha lagi? Andai saja saat itu kita tidak mendengar saran dari Xavier sudah pasti kita akan kehilangan permata berharga seperti Queensha. Wanita itu tidak hanya cantik, tetapi juga berhati baik dan begitu telaten menjaga putera kita."


"Jadi mulai sekarang apa pun yang terjadi pada mereka, sebaiknya kita tidak usah ikut campur lagi. Biarlah Ghani dan Queensha menyelesaikan masalah pribadi mereka. Kita sebagai orang tua hanya perlu memantau dan jika memang dibutuhkan berilah nasihat bijak, tetapi tak terkesan menggurui apalagi memprovakasi keduanya."


"Terpenting putera dan putri kita bahagia bersama pasangan masing-masing. Kamu dan aku cukup mendoakan mereka agar kebahagiaan selalu datang menyertai," sambung Arumi.


***


Sementara itu, Mia, Sarman dan Lita menerima hukuman atas kejahatan yang pernah melakukan di masa lalu. Sepasang suami istri itu dipastikan mendapat balasan setimpal karena telah memisahkan Queensha dari bayi mungil yang diberi nama Aurora Syafiatunnisa dan bukan hanya itu saja, Ghani pun menuntut mereka atas tuduhan penculikan, pemerasan dan kekerasan terhadapa anak di bawah umur. Namun, tampaknya Lita dapat sedikit lega sebab Ghani tak menjatuhkan tuntutan apa pun sebab gadis itu hanya mengikuti apa yang diperintahkan kedua orang tuanya.


"Aargh, sial! Gara-gara anak pembawa sial, hidupku menderita. Andai saja dulu aku tak menikahi si tua bangka itu sudah pasti hidupku tidak akan menyedihkan seperti sekarang ini."


Mia menyentuh wajahnya menggunakan telapak tangan. Rasa sakit yang pernah ia rasakan perlahan muncul ke permukaan. Tajamnya ujung pisau saat menggores permukaan wajahnya yang lembut, cucuran darah segar yang jatuh membasahi tanah dan jerit kesakitan tatkala anak buah Yogi mulai menekan ujung pisau tersebut ke wajahnya masih membekas dalam benak wanita itu. Rasa benci dan dendam yang mendarah daging membuat wanita itu semakin membenci Queensha dan ia bahkan berjanji akan membalas perbuatan Yogi jika diberi kebebasan suatu hari nanti.

__ADS_1


"Kalian telah membuat wajahku cacat. Gara-gara mereka pula suamimu jadi pincang dan dia kehilangan kemampuan untuk menggenggam apa pun menggunakan tangan kanannya. Semua itu karena kamu, Queensha! Kamu bukan hanya merupakan aib bagi keluarga, tetapi juga pembawa sial!" raung Mia dengan napas tersengal.


Entah mengapa Mia amat sangat membenci putri dari mendiang suami keduanya yang telah lama meninggal dunia padahal selama ini Queensha selalu bersikap sopan santun dan mematuhi apa yang dikatakan Mia. Namun, ternyata itu saja tidak cukup membuat hatinya luluh dan mau menerima Queensha seperti anak kandungnya sendiri.


"Aku ... membenci kalian semua!" jerit Mia tanpa bisa dikendalikan. Ia terus meraung dan memaki tanpa henti. Setelah apa yang terjadi kepadanya, tampaknya ia tidak sadar bahwa yang menimpanya saat ini merupakan buah dari perbuatannya di masa lalu.


Andai saja dulu Mia memperlakukan Queensha dengan baik mungkin Tuhan tidak akan menghukumnya. Bukankah hukum tabur tuai itu nyata di muka bumi ini? Oleh sebab itu, sebaiknya kita selalu menjaga diri untuk tidak menyakiti orang lain jika tak mau menuai dari apa yang pernah ditanam di masa lalu.


Merasa terganggu suara bising bersumber dari Mia, salah satu dari teman satu sel tahanan ibu tiri Queensha yang saat itu tengah menikmati tidur siangnya segera bangkit dan mendekati Mia dengan dada kembang kempis. Rahang wanita itu pun mengeras dengan pundak bergerak turun dan naik. Ia kesal karena kehadiran Mia di sana membuat hidupnya tidak tenang.


"Hei, Jal*ng! Tidak bisakah kamu kecilkan volume suaramu? Apa kamu tidak sadar jika suara lolonganmu itu sangat mengganggu pendengaranku?" bentak Ani. Wajah wanita itu memerah, menahan ledakan amarah yang terus bergemuruh di dalam dada.


Mia yang tidak terima dirinya disebut jal*ng, menoleh lalu menghunus tatapan tajam kepada Ani. Dagu wanita itu terangkat ke atas dan berkacak pinggang di depan sang lawan. "Apa pedulimu, Jalaang! Mau aku berteriak, berbisik ataupun menjerit sekalipun bukan urusanmu!"


Ani yang sudah teramat geram akan sikap Mia yang seolah tak menghormatinya sebagai senior di sel tahanan tersebut murka. Lantas dia menjambak rambut Mia dengan kencang hingga ibu kandung Lita merasa helaian rambut itu terlepas dari kulit kepala. Belum hilang rasa sakit akan penyiksaan yang Ghani lakukan kini Mia merasakan kembali bagaimana eratnya cengkeraman tangan orang lain mengenai mahkota indah yang selama ini menjadi kebanggannya.


"Wanita sialan! Berani-beraninya kamu menghinaku! Rasakan ini!" Ani terus mencengkeram rambut Mia dengan kencang. Selain menjambak, ia pula menghina dan mencaci maki wanita itu hingga semua orang yang ada di dalam sel tahanan menjadikan mereka bahan tontonan. Bahkan tak jarang dari mereka bersorak sorai dan memberi semangat kepada Ani untuk terus menyiksa Mia.


***

__ADS_1


__ADS_2