
Ribuan mawar putih mendominasi pernikahan kedua Queensha dan Ghani. Mengusung konsep gold and white, ballroom hotel tersebut disulap sedemikian rupa sehingga terkesan mewah. Warna emas identik dengan kemewahan, sedangkan warna putih adalah lambang kesucian dan sakral, jika dipadukan maka terlihat mewah dan elegan. Belum lagi backdrop berwarna putih dengan furniture dan hiasan warna senada semakin menambah kesan mewah, membuat semua mata takjub dibuatnya.
Queensha terlihat sangat cantik dengan gaun pengantin warna putih. Gaun sutra dengan model A Line sangat cocok digunakan oleh mempelai wanita. Model gaun ini memiliki huruf seperti A yang fit di bagian atas lalu melebar di bagian pinggang ke bawah. Bentuk ini akan membuat pinggang terlihat lebih ramping dan kaki akan tampak lebih jenjang. Karena bagian pinggul Queensha lebih besar dibanding wanita pada umumnya sehingga model gaun ini begitu pas dikenakan nyonya muda keluarga Wijaya Kusuma.
Kecantikan Queensha bertambah kali lipat dengan perhiasan di tubuhnya. Mulai dari cincin, kalung, dan anting bertaburkan berlian berharga ratusan juta rupiah dan itu semua pemberian Arumi sebagai kado pernikahan sang menantu kesayangan.
Sepanjang acara, senyum mengembang di sudut bibir kedua mempelai. Ada perasaan haru bersemayam di hati keduanya karena tak menduga jika saat ini mereka telah resmi menyandang status suami istri untuk kedua kali.
"Kamu lelah, Mas? Ayo, kubantu duduk di kursi." Queensha hendak menuntun Ghani duduk di pelaminan. Melihat suaminya berdiri terus menyalami para tamu undangan membuat ia tidak tega. Kaki Ghani masih sakit sehingga ia belum boleh banyak berdiri terlalu lama.
Ghani melirik ke samping, kemudian memberi senyuman manis untuk istrinya tercinta. "Hmm, tapi tak masalah, aku masih kuat berdiri."
"Tapi bukannya dokter bilang kamu harus banyak beristirahat? Jika berdiri terus kapan kamu akan sembuh."
"Sudah, jangan mencemaskan keadaanku. Selama aku tidak mengeluh maka itu artinya kakiku dalam keadaan baik-baik saja," sambung Ghani. Pria itu mengelus pipi sebelah Queensha dengan lembut. "Sebaiknya sekarang kita nikmati saja pesta pernikahan ini, yang hanya terjadi sekali seumur hidup. Aku tidak mau suasana pesta ini berantakan karena masalah sepele."
Queensha mengangguk patuh, menyetujui saran suaminya. Maka ia dan Ghani kembali terlibat percakapan ringan, membahas rencana masa depan mereka beserta masa depan Aurora.
Ratusan tamu undangan hadir dalam momen sakral penyatuan dua insan manusia yang disatukan Tuhan. Gelak canda dan tawa menghiasi resepsi pernikahan yang diperkirakan menghabiskan kocek sekitar mencapai 1 milyar rupiah. Yah, 1 milyar rupiah. Bukankah itu merupakan nominal yang cukup besar hanya sekadar mengadakan resepsi pernikahan?
Namun, bagi Arumi nominal tersebut bukan apa-apa jika dibandingkan dengan kebahagiaan yang kelak diregup oleh anak pertama dan cucu perempuannya, Aurora. Ia rela mengeluarkan uang banyak demi kebahagiaan putera tertuanya itu.
"Selamat ya, Rum, akhirnya kamu punya menantu perempuan. Semoga kali ini anak pertamamu tidak melakukan kesalahan yang sama, menjatuhkan talak kepada wanita yang telah memberinya seorang putri." Rini mencium pipi kanan dan kiri, kemudian memeluk tubuh sahabat sekaligus besannya, Arumi.
Masih dalam posisi saling berpelukan, Arumi menjawab, "Terima kasih atas doa yang kamu panjatkan. Semoga Tuhan menjabah ucapanmu sehingga pernikahan Ghani harmonis sampai maut memisahkan."
__ADS_1
Pelukan terurai, kedua wanita yang rambutnya sudah mulai memutih memandang haru pada pasangan suami istri yang tengah berbahagia. Arumi mengusap sudut matanya yang berair. Pemandangan di depan sana begitu indah sehingga membuat mata wanita itu berkaca-kaca.
Aurora yang duduk di sebelah sang nenek berkata, "Kenapa Nenek menangis? Apa mata Nenek kelilipan? Mau aku bantu meniupnya?" Gadis kecil yang kini duduk di kelas 0 besar tampak mencemaskan keadaan Arumi. Matanya yang bulat mengerjap beberapa kali.
Arumi mengelus rambut hitam Aurora. "Nenek tidak apa-apa, Sayang. Mata nenek tidak kelilipan, kok. Nenek cuma merasa bahagia karena dapat melihat Papa dan Mamamu menikah lagi."
Aurora yang masih belum mengerti masalah orang dewasa, menatap dengan polosnya kepada Arumi. "Memang orang bahagia bisa menangis, Nek? Bukannya orang yang sedih saja baru boleh menangis?"
"Tentu saja bisa, dong. Mau orang itu bahagia ataupun sedih, manusia ciptaan Tuhan akan menangis dengan sendirinya. Akan tetapi, yang membedakan adalah alasan di balik tangisan itu sendiri, bagaimana. Apakah dia menangis karena bahagia atau menangis karena bersedih."
Zavier yang duduk di antara ibu dan keponakan ketiganya membenarkan anak rambut yang menempel di wajah, menutup wajah bundar dengan pipi chubby lalu kembali berkata, "Kelak setelah kamu dewasa akan mengerti maksud ucapan Uncle apa. Untuk sekarang, kamu fokus saja belajar dan jangan memikirkan urusan orang dewasa. Mengerti?"
"Mengerti, Uncle!" Suara gadis kecil itu terdengar nyaring. Ia tak lagi banyak bertanya karena jawaban Zavier cukup membuatnya merasa puas.
Rini memperhatikan betapa sabarnya Zavier saat memberi penjelasan kepada Aurora. Keponakannya itu menjawab semua pertanyaan si kecil dengan singkat, padat dan jelas sehingga gadis kecil penyuka boneka Teddy Bear tak lagi banyak bertanya.
Menghela napas panjang. Entah untuk keberapa kali Zavier mendengar pertanyaan sama dari orang berbeda. Selama menghadiri momen sakral pernikahan Ghani, banyak tamu undangan mendadak menjadi wartawan, menanyakan kapan dirinya akan menikah bahkan sebagian dari mereka secara terang-terangan menawarkan diri untuk menjadi mak comlang agar anak kedua dari pasangan Arumi dan Rayyan segera menyusul kakak dan adik kembarnya.
"Kapan-kapan, Aunty. Untuk sekarang aku masih ingin fokus dengan pekerjaanku," sahut Zavier sekedarnya. Sangat malas membahas soal tentang jodoh.
Rini berdecak kesal mendengarnya. "Jangan terlalu fokus bekerja, nanti kamu keburu jadi bujang lapuk. Lagi pula, usiamu sudah matang untuk berumah tangga. Karirmu sebagai dosen sangat bagus, dari segi finansial pun sudah mencukupi lantas apa lagi yang kamu tunggu? Semakin lama, usiamu semakin bertambah jangan sampai terlalu sibuk kerja kamu sampai melupakan kewajibanmu memberi menantu dan cucu untuk kedua orang tuamu."
"Apa yang dikatakan Aunty-mu benar, Vier. Selagi usiamu masih kepala tiga, segeralah menikah agar sahabat Uncle dapat segera menimang cucu dari kamu. Benar begitu, Ray?" tanya Rio seraya melirik kepada Rayyan.
"Hmm, aku sudah sering memintanya menikah. Namun, jawabannya tetap sama, dia masih belum kepikiran untuk berumah tangga."
__ADS_1
"Mulai sekarang kamu sudah mulai memikirkannya, Vier. Memangnya selama bekerja menjadi dosen, tidak ada satu wanita pun yang menarik perhatianmu di kampus?" tanya Rini penasaran sebab selama ini belum mendengar jika Zavier menjalin kasih dengan seseorang.
"Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku, Aunty jadi tak ada waktu untuk memperhatikan lawan jenis." Zavier gusar lama-lama membahas soal yang sama.
"Ehm, apa mau aunty kenalkan dengan putri dari teman kuliahku? Kebetulan putri teman aunty sampai sekarang pun belum menikah, padahal usianya tak jauh berbeda dengan Zahira. Dia cantik, baik dan keibuan, sangat cocok menjadi menantu sahabatku ini."
Arumi tersenyum lebar. "Terima kasih atas tawarannya, tapi aku sih tergantung Zavier saja karena kelak dia yang akan menjalaninya."
Rini manggut-manggut saja, tidak mau memaksakan kehendaknya. "Ya sudah, kalau kalian berubah pikiran, hubungi saja aku. Nanti aku bantu kalian."
Suara pembawa acara atau yang lebih dikenal dengan sebutan Master of Ceremony menggema melalui pengeras suara. Pria berpakaian rapi meminta para jomlowan dan jomlowati maju ke depan sebab kini saatnya sesi pelemparan bunga. Tampak Shakeela tengah memaksa sang kakak untuk maju ke depan, berbaur dengan Leon, Rama, Lulu serta para tamu undangan lain yang telah lebih dulu menunggu.
"Tapi kakak tidak mau, Dek. Kakak malas jika harus berebutan dengan yang lain."
"Iih, Kakak. Sudah, sana jalan siapa tau Kakak mendapat buket bunga yang dilemparkan Kak Queensha." Shakeela masih memaksa kakak keduanya itu untuk maju ke depan.
"Tapi, Dek-"
"Hanya berdiri saja apa susahnya! Adikmu tidak memintamu membuatkan sushi ataupun ramen, dia cuma minta kamu maju doang begitu saja tidak mau." Rayyan yang sedari tadi diam akhirnya membuka suara. Tak sampai hati melihat Shakeela memelas, meminta Zavier maju ke depan.
"Iya, Vier, turuti saja permintaan adikmu. Sudah, sana maju tidak ada salahnya mencoba. Siapa tahu kamu betulan mendapat buket bunga tersebut," timpal Arumi. Walaupun rasanya mustahil, tetapi tidak ada salahnya mencoba. Kalaupun memang tak dapat, setidaknya Zavier telah turuf memeriahkan pesta pernikahan Ghani, anak pertamanya.
Jika sudah didesak sang bunda, Zavier tak lagi dapat menolaknya. Lantas ia bangkit dari kursi dan melangkah maju mendekati pelaminan.
"Gara-gara adek durhakim, gue mesti berdiri di sini. Awas aja kalau sampai gue diledek Kakak Pertama dan Shaka, enggak gue kasih uang jajan juga tuh si Shakeela," gerutu Zavier. Kendati demikian, ia tetap menuruti permintaan adik bungsunya.
__ADS_1
...***...