Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Edisi Honeymoon (Kamu, Aku, Menjadi Kita)


__ADS_3

Harap bijak dalam membaca. Adegan dilakukan pasangan suami istri!


Queensha bingung harus menjawab apa. Lidah terasa kelu dan bibir seakan terkunci rapat. Kalau boleh jujur sebetulnya dia belum siap menjalankan tugasnya sebagai seorang istri karena bayangan saat Ghani menyatukan tubuh mereka dulu masih membekas hingga sekarang. Namun, untuk menolak pun rasanya tak bisa sebab ini sudah menjadi kewajibannya melayani suami.


Queensha pernah menolak permintaan Ghani saat malam pertama pasca resepsi pernikahan lalu apakah sekarang ia pun harus melakukan penolakan yang sama untuk kedua kali? Menolak melayani suami di atas ranjang bukankah merupakan suatu dosa bagi seorang istri?


Queensha pernah melakukan dosa besar di masa lalu, berhubungan intim dengan lawan jenis tanpa ada ikatan pernikahan yang sah dan mengandung seorang bayi hasil perbuatan pria yang kini menjadi suaminya. Lantas sekarang haruskah ia menambah timbangan dosa untuk di akhirat nanti? Tidak, Queensha sudah banyak berbuat dosa dan dia tak mau menambah dosanya lagi dengan cara menolak permintaan Ghani.


Suasana di kamar hotel terasa dingin sekaligus panas diwaktu yang sama. Jantungnya berdegup sangat kencang, rasanya Queensha bisa mendengar detak jantungnya sendiri saking kencangnya.


Kegelisahan di hati Queensha tak dapat hilang begitu saja dan Ghani dapat maklum akan hal itu. Ini bukanlah perkara mudah bagi Queensha karena keegoisannya dulu hingga membuat wanita itu trauma. Namun, kejadian di masa lalu bukan murni salahannya sebab hasrat bejat itu dicetus oleh perbuatan Cassandra yang ingin memiliki dirinya seutuhnya.


'Ya Tuhan, Ghani. Apa yang udah lo lakukan? Lihat, sekarang lo bahkan membuat Queensha semakin ketakutan. Lo selama ini bisa menahan hasrat tersebut jadi seharusnya bukan perkara sulit bagi lo untuk menahannya lagi,' batin Ghani dalam hati. Dia sempat menyesali diri karena tak dapat menjaga lisan, membuat malam indah mereka menjadi berantakan.


Sebagai lelaki normal, bagaimana Ghani bisa tahan jika istrinya saat ini terlihat begitu cantik dan menggoda. Tubuh sintal dan padat Queensha bak sebuah candu yang seketika langsung memabukkan hanya dengan melihatnya saja. Apalagi aroma tubuh Queensha yang benar-benar harum membuat pria itu tak lagi dapat menahan jiwa kelelakiannya. Ya, Ghani ingin sekali bercinta, menjamah dan memadu kasih dengan satu-satunya wanita yang ia cintai di dunia ini.


"Aku mau ke kamar mandi dulu sebentar." Queensha melepaskan diri dari cengkeraman tangan Ghani. Wanita itu berlari sekencang mungkin sampai tanpa sengaja nyaris menabrak kaki kursi yang posisinya sedikit bergeser ke kiri.


"Shiit!" umpat Ghani kasar saat melihat Queensha kabur seolah dirinya adalah bintang buas yang harus dihindari secepat mungkin. "Bodoh! Kenapa lo enggak sabaran, sih, Ghani?" Pria itu menyugar rambutnya menggunakan telapak tangan dengan sangat frustasi.


Di kamar mandi, Queensha mematut dirinya di depan cermin, memperhatikan wajah lekat-lekat. Ada ketakutan tergambar di sana saat bayangan masa lalu kala Ghani menyetubuhinya dengan brutal. Kenangan itu seperti menjadi cambuk menyakitkan di ulu hatinya.


Akan tetapi, sekarang Queensha sudah berdamai dengan masa lalu. Dia juga sudah mau menerima Ghani sebagai suaminya lalu apa yang harus dia khawatirkan lagi sekarang? Terlebih dia melihat Ghani jauh tampak berbeda dari saat mereka pertama kali menikah dulu. Ghani yang sekarang begitu memanjakan, mendambanya bak seorang ratu.


"Kamu bisa, Sha! Kamu harus bisa! Jangan membuat dosa untuk kedua kali karena menolak melayani suamimu." Queensha meyakinkan dirinya sendiri, memberi kekuatan bahwa dia dapat menyingkirkan rasa trauma itu.


Setelah menimbang dengan matang, Queensha keluar dari kamar mandi setelah sebelumnya membasuh wajah dengan air dingin. "Sebaiknya aku kembali sekarang. Kasihan Mas Ghani. Dia pasti merasa bersalah karena dikira aku kabur akibat teringat perbuatannya di masa lalu." Dengan langkah canggung, ia mendekat ke arah ranjang dan menatap Ghani yang tengah menatap langit-langit kamar hotel.


Queensha menarik napas panjang. Berdehem sebagai isyarat bahwa dia sudah kembali.


Ghani melirik sekilas ke arah Queensha, memberi senyuman kepada istrinya itu. "Kamu tidak perlu memaksakan diri kalau memang belum siap, Sayang. Aku bisa menunggu sampai kamu benar-benar siap," ujar Ghani. Ia tetap berusaha bersikap biasa mungkin agar Queensha tak merasa bersalah.

__ADS_1


"Aku tahu. Namun, sepertinya aku tetap harus melayanimu. Ini sudah menjadi kewajibanku sebagai istri, karena kamu memintanya rasanya tak adil bagimu jika aku menolak lagi untuk kedua kali," jawab Queensha.


Sontak Ghani bangkit dari pembaringan, menatap Queensha tak percaya. "Kamu serius? Aku tidak akan memaksamu kalau memang belum siap."


Queensha mengangguk pelan. Jemari tangan memilin ujung piyamanya, gugup. Wajahnya pucat seolah baru saja melihat hantu.


Ekspresi wajah Queensha tertangkap sepasang mata Ghani. Dia memang ingin bercinta dengan Queensha, tetapi melihat istrinya ketakutan setengah mati mana bisa tega.


Menghela napas kasar. "Aku masih belum yakin sama jawaban kamu. Jangan hanya karena kawajibanmu sebagai istri, kamu mengabaikan perasaanmu sendiri. Aku tidak mau menyakitimu, Sayang. Lebih baik puasa daripada membuatmu trauma seumur hidup."


'Tuhan, kebaikan apa yang kuperbuat di masa lalu sampai berjodohkan pria penyabar dan perhatian seperti Mas Ghani. Bodoh jika aku terus menolak keinginan suamiku.' Queensha pandangi wajah Ghani dengan lekat, menatap iris coklat itu dalam-dalam.


Dengan lirih berkata, "Aku memang masih trauma, tetapi kuyakin, kamu dapat memperlakukanku dengan baik. Kamu pasti bisa lembut saat kita bercinta nanti." Queensha menggigit bibirnya usai mengucap kalimat terakhir. Ada perasaan malu tatkala kalimat terakhir terucap dari bibirnya.


Ghani tersenyum kala melihat raut keseriusan terpancar di wajah Queensha. Dia merengkuh Queensha ke dalam pelukan, mencoba menenangkan istrinya karena saat wanita itu sedikit bergetar.


"Maafkan aku, Sayang. Aku tidak bermaksud ingin menyakitimu." Ghani berkata dengan sangat lembut.


"Kata siapa belum bisa? Kamu sudah melakukan tugas dan kewajibanmu sebagai istri dan ibu yang baik bagi Rora, kok. Sudah, daripada berbedat sebaiknya kita tidur sekarang. Kamu pasti lelah seharian berkeliling pulau ini?"


Tiba-tiba Queensha melepas diri dari pelukan Ghani. Dia menatap Ghani dengan tatapan penuh keheranan. "Loh, kita tidak jadi bercinta? Bukannya tadi Mas Ghani mau aku melayanimu di ranjang?"


Ghani terkekeh, merasa gemas akan sikap istrinya. Menyapukan dua hidung mereka sambil terus menatap istrinya dengan tatapan penuh cinta. "Aku memang sangat ingin bercinta denganmu, tetapi kalau belum siap tak apa, aku bisa menahannya sampai-"


Perkataan Ghani mengambang di udara. Tanpa diduga Queensha berinisatif mencium bibirnya terlebih dulu.


"Aku siap, Mas. Ayo, kita bercinta sekarang!" ajak Queensha, nada suaranya dibuat seseksi mungkin.


"Sayang? Kamu … yakin?" Tubuh Ghani panas dingin. Mendengar suara sang istri membangkitkan jiwa kelelakian yang selama ini susah payah dia tahan. Belum lagi melihat tatapan sendu istrinya semakin membuat dia tak lagi dapat menahan diri untuk menerkam santapan empuk di depannya.


Anggukan kepala Queensha menjawab pertanyaannya. Entah Ghani harus senang atau merasa bersalah saat ini. Namun, dari dalam lubuk hati yang terdalam, ada kelegaan dan kegembiraan yang meluap-luap.

__ADS_1


Jantung Ghani berdegup dengan sangat cepat seolah mau meledak detik itu juga. Wajah cantik terkena pantulan sinar rembulan membuat Queensha terlihat begitu menawan malam ini.


"Aku … akan pelan-pelan saat melakukan penyatuan, Sayang. Tapi kalau kamu merasa aku terlalu kasar, jangan sungkan untuk berbicara kepadaku," ujar Ghani. Kali ini dia akan melakukannya dengan lembut dan penuh perasaan.


Meraih wajah Queensha, menatap lekat seraya mengamati setiap inci wajah sang istri yang malam ini begitu cantik meski tanpa polesan riasan. Kulit wajah yang halus dan kenyal membuat Ghani serasa ingin menggigitnya. Rambut yang lembut dan harum tak pernah membuat dia bosan untuk menghirup aromanya setiap detik.


Bulu mata yang lentik dan di balik kelopak mata yang setengah tertutup itu, ada sepasang manik berkilau yang membuat Ghani tak bisa berpaling darinya. Sorot mata yang selalu menatapnya penuh dengan cinta dan kerinduan. Dia ingin memiliki Queensha malam ini.


"Bagaimana kamu bisa begitu cantik, Sayang?" Suara Ghani terdengar berat dan rendah. Ia semakin mendekatkan wajahnya dan megecup lembut kening istrinya. Segenap perasaan yang membuncah akan meluap malam ini.


Cukup lama mereka saling berdiam seperti ini. Tampaknya, Ghani ingin menenangkan Queenshaa terlebih dahulu sebelum dia melanjutkan hal lain. Tidak perlu tergesa-gesa, dia hanya ingin melewati malam ini tanpa keraguan, kegugupan, dan ketakutan sedikit pun dari pihak Queensha.


Dirasa Queensha sudah mulai tenang. Ghani menatap kembali wajah istrinya dan kini mulai mengecup bibir ranum wanita itu. Manis, itulah yang dirasakan. Queensha juga terlihat merespons perlakuan Ghani dengan baik.


Benar, biarkan mengalir seperti ini. Bukan seperti dulu yang terkesan brutal dan penuh intimidasi. Malam ini, Ghani ingin mengukir kenangan yang lebih indah di malam pertama mereka sejak ia mengikrarkan janji suci dengan Queensha di depan penghulu. Disaksikan oleh banyak orang yang ikut mendoakan keberlangsungan kehidupan dua insan suami-istri ini.


Ghani menggendong tubuh Queensha ala bridal style. Tak sulit bagi pria itu membawa istrinya mendekati pembaringan karena dia sering melakukan olahraga fisik, tiga hari sekali dalam seminggu.


Duduk berhadapan di atas kasur, saling menatap satu sama lain. Ghani mengusap ubun-ubun rambut Queensha dan merafalkan doa, memohon kepada Tuhan demi kebahagiaan rumah tangganya. Setelah itu mencium bibir sang istri dengan penuh perasaan.


"Queensha Azura Gunawan, mulai malam ini kamu milikku seutuhnya." Lantas, Ghani segera melakukan apa yang seharusnya dia lakukan. Mengikuti insting dan membiarkan semuanya mengalir apa adanya.


Dua kulit saling bersentuhan, bergesek seirama erangan dan desahaan manja yang meluncur dari bibir pasangan suami istri itu. Walaupun trauma itu masih Queensha rasakan, tetapi kelembutan setiap sentuhan yang diberikan Ghani, membuat wanita itu perlahan mulai melupakan kenangan buruk enam tahun lalu.


"Mas, aku sudah tidak tahan," ucap Queensha di tengah gempuran suaminya. Entah sudah berapa kali mencapai puncak kenikmatan, tetapi Ghani belum menunjukan tanda-tanda kalau pria itu akan klim*ks.


Dalam posisi berada di belakang Queensha, Ghani berkata, "Tunggu sebentar, Sayang. Akan aku tuntasnya semuanya segera." Lantas dia semakin meningkatkan tempo permainannya sampai pada titik di mana dia tak lagi dapat menahan diri untuk mengeluarkan sesuatu dari dalam dirinya.


"Aah!" teriak Ghani dengan suara kencang. Dia semakin memperdalam inti tubuhnya ke dalam rahim sang istri, berharap banyak bibit unggul yang bersemayam di perut Queensha.


...***...

__ADS_1


__ADS_2