Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Berbaikan


__ADS_3

Ghani tidak menyangka mendapat kejutan yang membahagiakan. Wanita cantik yang sedang berdiri di depan pintu adalah Queensha yang beberapa hari ini tidak ia sapa. Ghani sengaja melakukan silent treatment supaya Queensha menyadari kesalahannya, bahkan jika memang istrinya masih bersikeras untuk membebaskan Lita, ia sudah bersiap dengan jurus yang lain, yaitu pergi dari rumah untuk sementara waktu. 


"Koko sayang, aku bawakan makan siang kesukaan kamu. Lihat ini ada bakwan jagung dan pangsit kuah kesukaanmu." Queensha segera meletakkan rantang makanan di atas meja kerja Ghani. 


Perempuan itu segera meraih tangan Ghani lalu menciumnya perlahan-lahan. "A ku minta maaf atas semua yang terjadi, Mas. Kamu benar, tidak seharusnya aku membahas masalah itu dan tidak seharusnya juga aku mencampuri urusan hukum yang sudah berjalan. Jadi sekali lagi aku minta maaf karena udah bikin kamu nggak nyaman." Raut penyesalan jelas tergambar di wajah ayunya.


"Iya, Sayang. Aku udah maafin kamu, kok, jauh sebelum kamu minta maaf. Aku tahu kamu memang orangnya baik, hatimu lembut dan tidak tidak tegaan, tapi untuk urusan Aurora aku tidak bisa main-main. Begini caraku melindungi keluargaku, jadi aku harap kamu ngerti, ya."


Queensha menganggukkan kepalanya. Dia selalu suka Ghani yang dewasa dan bisa memahami sikapnya yang terkadang kekanak-kanakan. 


Ghani mendaratkan ciuman lembut di kening istrinya. Mereka pun akhirnya berpelukan erat. "Terima kasih, Mas. Kamu selalu ngertiin aku, dan segala sikap absurd aku yang sering menjengkelkan ini."


Ghani tersenyum lalu menjawab ,"memang kamu sering menjengkelkan kok. Untung sayang, aku sudah kebal tuh."


"Tuh kan kalau aku minta maaf, malah diledekin. Ih, kamu juga gitu, Mas, nyebelin!"


"Hehe, makan bareng yuk!"


Queensha segera membuka kotak makanan yang ia bawa dari rumah. Saat-saat seperti inilah yang ia tunggu. Ketika mereka mampu menyelesaikan persoalan dengan dewasa, lalu berbaikan, suasana romantisme tercipta lagi.


"Sini aku suapin."


Queesha memilih menyuapi Ghani dan dengan senang hati Ghani pun menerimanya. Mereka berbaikan dan kembali merasakan suasana romantis yang menyenangkan. 


Saat keduanya sedang saling mengurai rasa, tiba-tiba Leon datang membawa hasil laporan pemeriksaan seorang pasien tumor yang akan dioperasi besok pagi. 


"Bro, sorry gue nggak ketuk pintu dulu. Gue pikir nggak ada Queesha," kata Leon sedikit canggung. "Halo apa kabar, Sha?" Leon menyapa dengan ramah.

__ADS_1


"Hai Mas Leon, kabarku baik. Ayo silakan masuk. Aku udah kelar, kok, makannya."


Leon melangkah masuk ke dalam ruangan. Kalau bukan karena berkas itu penting mana mau dia mengganggu kebersamaan sepasang pengantin baru itu.


"Cie cie ada Bapak-Bapak disuapin, kalian bikin iri aja, sih. Emangnya habis ngapain?" tanya Leon sembari memainkan alisnya. 


Ghani sedang mengambil tisu di meja lalu, mengelap bibirnya yang masih tersisa sedikit saos. Setelah meminum air putih di hadapannya, Ghani tersenyum.


"Lo ini gangguin aja, Yon. Udah masuk ruangan orang nggak ketuk pintu, nanya yang nggak senonoh lagi." Ghani mendengkus kesal karena kegiatannya harus dihentikan oleh kedatangan Leon.


"Loh, aku nanya wajar, habis ngapain? Maksudnya habis suap-suapan, 'kan?" Leon tertawa lepas. Queensha mau tak mau juga ikut tertawa mendengar perkataan Leon.


"Kedatanganku ke sini hanya ingin mengantarkan makanan saja dan makanan yang kumasak pun sudah habis, jadi aku mau undur diri dari hadapan kalian berdua." Merasa tidak enak, Queensha segera berpamitan.


"Ntar dulu, Sayang. Aku masih kangen. Udah abaikan saja, Leon. Ada apa, Leon?" Ghani menarik tangan Queesha supaya mendekat.


"Oke thanks banget lo udah kasih berkas-berkas ini, sebelum gue suruh. Emang dari tadi sebetulnya gue mau minta cuman gue lupa karena harus ngerjain yang lain. Once again, thanks, Leon."


"Tuh Queensha, suamimu ya begitu, sudah sering pikun kalau di rumah sakit, padahal usianya baru kepala tiga. Entah apa yang jadi pikirannya, sedikit-sedikit lupa, sedikit-sedikit nanya. Nanya kok sedikit-sedikit."


Queensha tertawa mendengar candaan Leon, sementara Ghani menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kalian ini udah lama nikah, tapi masih mesra aja, bikin iri tahu." Kalimat Leon disambut dengan cibiran Ghani.


"Makanya dari awal bilang kalau iri, nggak usah nanya macem-macem. Lo mau sampai kapan, sih, jadi jomblo? Nikah dong biar bisa merasakan percikan-percikan api kayak kita berdua. Ya, nggak sayang?" Ghani menoleh ke arah istrinya yang sudah mengganggukan kepalanya. 


"Udah-udah, sepertinya gue salah kamar, nih. Urusan pekerjaan kenapa jadi beralih topik ke urusan personal. Gue balik dulu, deh, karena masih ada yang harus dikerjain." Leon hendak keluar ruangan, tapi Ghani mencegahnya.

__ADS_1


"Eeeh mau ke mana jomlo akut? Baru dibully dikit langsung minggat, ntar dulu sini dulu." Ghani melambaikan tangan.


"Beneran Leon, gue erius mau nanya lo mau sampai kapan mau jadi jomlo? Yang sama cewek kemarin itu nggak jadi?"


"Yang mana? Dokter Kartika? Dia udah mau tunangan bulan depan, puas lo?" Leon menjawab dengan ketus membuat Ghani dan Queensha tergelak.


"Bukan puas, sih, sebetulnya, tapi kasihan." Suara tawa Ghani pecah tak terbendung lagi. Amat sangat bahagia melihat sahabatnya mengalami kesusahan.


Semenjak menikah, sikap Ghani perlahan-lahan berubah. Dia menjadi lebih sering tertawa, membalas sapaan para pekerja rumah sakit yang kebetulan berpapasan dengannya.


"Mas, kamu jangan ngeledekin dia, terus, nanti nangis, loh." Queensha tak bisa menahan diri untuk tidak ikut tertawa. Perutnya terasa geli seperti digelitik tangan tak kasat mata.


"Loh iya, masih mending kalau cuma nangis doang, biasanya juga sambil ngompol." Ruangan Ghani seketika riuh oleh tawa mereka bertiga. Jadilah Leon bulan-bulanan dan bahan bulian antara Ghani dan Queensha.


"Eh, tapi serius, Leon, kamu emang beneran udah enggak menjalin hubungan sama siapa pun? Maksudku lagi benar-benar kosong?" tanya Queensha dengan raut wajah serius setelah tawanya reda.


"Ini lagi nanya, kamu nanya suamimu aja, udah puas dia bully aku. Ya jelas aku tidak sedang menjalin hubungan sekarang. Bukan tidak laku, ya, tapi memang itu pilihan. Tahu sendiri, 'kan, kerjaanku di sini sibuk banget."


"Alah itu cuman alasan doang, bilang aja emang nggak laku meskipun udah banting harga." Lagi, Ghani membully Leon hingga akhirnya pria yang menjabat sebagai kepala bangsal menyerah. Sampai kapan pun berdebat dengan Ghani, hanya mendapat kekalahan saja.


"Iya juga, sih, kalau dipikir-pikir. Yah gini, deh, nasib jomlo selalu saja di-bully di mana-mana." Leon mendesaah pasrah, biarlah dirinya menjadi bahan candaan pasangan suami istri di hadapannya ini. Hitung-hitung ibadah, begitu pikir Leon.


"Kalau emang kamu serius lagi nggak menjalin hubungan sama siapa pun, mau nggak aku kenalin sama temen aku? Dia itu cantik, smart, masih muda tapi dewasa sikapnya, dan masih single." Queensha mencoba mempromosikan salah satu teman terbaiknya. Siapa tahu usahanya berhasil.


Ghani melirik ke arah Queensha karena dia tidak tahu siapa yang dimaksud istrinya. Apakah Lulu? Ghani sedang berpikir keras, sementara Leon menoleh ke arah Queensha juga menatapnya dengan pandangan tak percaya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2