Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Kritis


__ADS_3

Di ruang operasi, Ghani berusaha keras memfokuskan diri pada pasien perempuan yang terbaring tak sadarkan diri di atas meja operasi. Tangan kanan sedari tadi memegang klem arteri bengkok yang bermanfaat untuk menghentikan perdarahan pembuluh darah kecil dan menggenggam jaringan lainnya tanpa harus merusaknya. Namun, pikiran pria itu berkelana ke mana-mana tak fokus pada obyek di depan mata.


'Kenapa operasi kali ini rasanya lama banget. Apa karena fokus gue terbagi jadi kesannya berbeda?' kata Ghani dalam hati. Operasi baru berjalan kurang lebih satu jam, tetapi rasanya seperti satu abad. Ingin rasanya menyelesaikan pekerjaan di sini lalu berlari menuju loker dan mengirim pesan pada Leon, menanyakan apakah sahabatnya itu mengantarkan Queensha dengan selamat sampai apartemen.


Seorang perawat wanita, bukan merupakan tim medis yang membantu Ghani melakukan tindakan operasi berjalan mendekati Erna lalu membisikan sesuatu di telinga rekan kerjanya itu. Di waktu bersamaan dua wanita itu melirik ke arah Ghani kemudian salah satu dari mereka mengangguk pelan petanda mengerti.


"Ya sudah, kamu boleh kembali bekerja. Biar aku yang sampaikan pada Dokter Ghani."


Erna membisikan informasi yang dia dapatkan dari Novi kepada Dokter Gede dan berita tersebut sukses membuat pria berasal dari Pulau Dewata sontak membulatkan mata.


"Kamus serius? Pastikan dulu kebenarannya sebelum saya sampaikan berita ini pada Dokter Ghani," berkata lirih bagai desau angin di musim kemarau.


"Serius, Dok. Dokter Leon sendiri yang meminta tolong pada Novi secara langsung. Apa Dokter bisa menyampaikan berita ini kepada Dokter Ghani?"


Menghela napas berat membayangkan bagaimana ekspresi kekhawatiran Ghani saat mendapati berita buruk tentang istri tercinta.


"Bisa. Fokuslah pada pekerjaanmu, biar saya yang sampaikan."


Benar saja, mata Ghani langsung melotot ketika Gede memberitahu perihal kecelakaan menimpa istri tercinta. Dia menjadi kalang kabut bahkan saking cemasnya hampir saja menjatuhkan klem di tangan kanan.


"Dokter Firman, tolong gantikan tugas saya untuk menjahit luka pasien. Setelah semuanya beres bisa langsung pindahkan pasien ke ruang perawatan. Jangan lupa observasi keadaan pasien setiap satu sampai dua jam sekali."

__ADS_1


Tanpa membuang waktu, Ghani melesak begitu saja dari hadapan semua orang. Melepas seragam ruang perasi, penutup kepala, sarung tangan beserta masker yang menutupi hidung dan mulutnya selama menjalankan tindakan operasi ke tempat yang telah disediakan. Lalu pria itu mencuci tangan sampai bersih kemudian berlari kencang menyusuri lorong rumah sakit.


"Enggak, kamu enggak boleh pergi dari sisiku, Sha. Kamu dan anak-anak harus bertahan." Ghani semakin mempercepat langkahnya menuju IGD rumah sakit peninggalan sang nenek.


Melihat Leon dan Lulu duduk saling berpelukan di depan pintu ruang IGD yang tertutup rapat, amarah memuncak hingga membuat kedua tangan Ghani mengepal sempurna. Rahang mengeras dan sorot mata tajam bagai seekor binatang buas.


"Leon!" Ghani berseru kencang hingga membuat sang empunya nama berjengkit kaget dibuatnya. Lantas Leon bangkit berdiri dan hendak menyampaikan kronologi kejadian yang menimpa Queensha sebelum istri dari sahabatnya dilarikan ke rumah sakit.


"Ghan, gue-"


Pukulan keras mendarat di perut Leon, sontak dokter tampan pemilik lesung pipi membeliakkan kedua mata. Pun demikian dengan Lulu, gadis itu bahkan menjerit histeris melihat kekasih tercinta tersungkur di lantai rumah sakit.


"Mas Leon, kamu baik-baik aja, Mas?" Lulu meletekakkan lututnya di atas lantai kemudian memeriksa keadaan Leon. Terlihat jelas betapa dia mencemaskan kekasihnya itu. Apalagi saat Leon terbatuk usai mendapat pukulan keras di perut, wajah Lulu semakin panik dibuatnya.


"Seharusnya aku enggak ajak Queensha pergi makan bakso di kedai biasa kami nongkrong. Andai saja kami enggak ketemu mungkin kejadiaan naas ini enggak menimpa Queensha. Queensha enggak akan terluka dan ketiga keponakanku baik-baik aja." Mata Lulu terpejam lalu butiran kristal meleleh di antara kedua pipi. Sekalipun Leon mengatakan bahwa ini adalah musibah dari Tuhan, tetap saja dia merasa dirinyalah yang patut dipersalahkan.


"Maksudmu, apa? Jangan berbelit-belit, katakan dengan jelas!" bentak Ghani dengan nada tinggi. Dia frustrasi sekali hingga tanpa sadar berbicara lantang di depan seorang perempuan.


"Lu, jangan!" Leon menggeleng kepala lemah. Dia tak ingin Lulu menjadi sasaran empuk Ghani selanjutnya. Biarlah dia menjadi pelampiasan kekesalan sahabatnya itu.


Berkata lirih, menjawab perkataan Leon. "Dokter Ghani harus tau yang sebenarnya karena bagaimanapun dia adalah suaminya Queensha." Lantas Lulu menceritakan semuanya kepada Ghani tanpa ada yang terlewatkan.

__ADS_1


"Bajingan! Jadi karena lelaki sialan itu Queensha mengalami pendarahan. Gue enggak bisa tinggal diam, gue mesti kasih dia pelajaran!" Tangan mengepal di atas pangkuan, memukul paha sebelah kanan dengan kencang.


"Yogi, kamu datang ke rumah sakit sekarang. Bawa juga dua anak buahmu yang bertugas menjaga Queensha, aku mau beri mereka pelajaran karena lalai menjalankan tugas dengan baik." Tanpa memberi kesempatan pada Yogi berbicara, Ghani segera mematikan sambungan telepon secara sepihak.


Leon mengambil duduk di sebelah Ghani dan menundukan kepalanya. "Ghan, maafin gue dan Lulu karena enggak bisa jagain Queensha dengan baik. Kalau lo mau lampiaskan kemarahan lo, lampiasin aja ke gue, jangan ke Lulu. Keadaan dia sama-sama lemah, enggak bisa ngelawan Andri."


Ghani menoleh sekilas kemudian menatap pintu ruang IGD yang tertutup rapat. "Sebetulnya gue kepingin nonjok muka lo yang menjengkelkan itu sampe babak belur, tapi kalau gue lakuin itu lalu gimana dengan Tante Ayu? Beliau pasti sangat sedih ngelihat anak bungsunya kesakitan. Beliau akan marah ke gue karena udah menganiaya anak kesayangannya."


"Selain itu, apa untungnya gue ngehajar lo, heh? Mending gue simpen energi yang ada buat ngehajar Andri, dia pantas mendapat ganjaran atas perbuatannya ke Queensha."


Ghani bangkit berdiri saat melihat dokter Nizam keluar dari ruang IGD. "Dokter Nizam, gimana keadaan istri saya? Apa dia dan kandungannya baik-baik aja?"


Dokter Nizam memandangi dengan serius. "Keadaan Bu Queensha kritis, dia banyak mengeluarkan darah. Kita butuh donor darah secepatnya, tapi stock darah di rumah sakit ini dan beberapa bank darah kosong."


"Golongan darah pasien apa? Biar aku bantu carikan," kata Lulu ikut berdiri.


"Golongan darah pasien AB. Apa-"


"Coba periksa golongan darah saya, Dokter Nizam. Siapa tau cocok dengan pasien," sergah Leon cepat.


Mata Ghani membeliak mendengar Leon menawarkan diri menjadi pendonor Queensha. Padahal baru saja dia menghajar Leon, tetapi kenapa sahabatnya justru berniat menolong istrinya yang tengah kritis.

__ADS_1


...***...


__ADS_2