Menikahi Ayah Anak Asuhku

Menikahi Ayah Anak Asuhku
Pertemuan Lulu dan Bu Ayu


__ADS_3

"Bu, ini kembaliannya." Sopir taxi yang mengantarkan Bu Ayu menyodorkan uang lembaran Rp. 20 ribu-an ke hadapan ibunda Leon. Namun, di luar prediksi wanita paruh baya itu menolak menerima uang kembaliannya.


"Ambil saja untuk Bapak. Hitung-hitung sebagai tips karena Bapak sudah anterin saya ke tempat tujuan dengan selamat," kata Bu Ayu.


Sontak perkataan bu Ayu membuat pria yang duduk di balik kemudi membulatkan mata. Tak penduga pagi-pagi begini dapat rezeki nomplok dari penumpang pertamanya. Saking tak percayanya, pria itu sampai tak dapat berkata-kata. Walaupun hanya uang sebesar Rp. 20 ribu, tetapi ia sangat bersyukur bisa mendapat uang tambahan untuk diberikan kepada istrinya di rumah.


"Terima kasih sudah mengantarkan saya dengan selamat." Lantas Bu Ayu tersenyum lalu membuka pintu mobil. Ia turun dari kendaraan roda empat tersebut dan berjalan masuk ke halaman restoran.


Di bawah teriknya sinar mentari yang masih setia menyinari bumi, bu Ayu mengayunkan kaki menuju pintu kaca yang ada di depannya. Terus melangkah, menaiki anak tangga hingga bagian teratas. Di sana ia disambut ramah oleh seorang petugas keamanan.


"Selamat pagi. Mohon maaf, Bu, restoran ini masih belum buka. Ibu bisa kembali atau menunggu di kursi yang sudah disediakan," kata pria berseragam keamanan. Ia pikir kedatangan bu Ayu ke sana untuk membeli makanan yang disediakan pihak restoran.


"Pagi, Pak. Saya ke sini bukan untuk memesan makanan, melainkan ingin bertemu dengan salah satu pelayan restoran ini. Kalau tidak salah namanya ... Aluna Humairah."


Pak Lukman, petugas keamanan yang berjaga terdiam seraya mengingat satu persatu nama pegawai restoran di mana ia bekerja saat ini. Akan tetapi, usahanya sia-sia sebab setahunya tak ada nama itu di sini.


"Mungkin Ibu salah alamat. Soalnya di sini tidak ada pegawai bernama Aluna Humairah," kata Pak Lukman.


'Apa betul aku salah alamat? Ah, tidak mungkin. Ini pasti ada kekeliuran.'


"Sebentar, Pak." Bu Ayu teringat akan lembaran kertas berisikan semua informasi tentang gadis yang ingin ditemuinya saat ini.


'Pantas saja petugas ini tak mengetahui nama gadis itu. Lah wong dia menggunakan nama panggilan selama bekerja di sini,' kata Bu Ayu dalam hati. Kemudian memasukan kembali lembaran kertas tersebut ke dalam hand bag miliknya.


"Kalau pegawai bernama Lulu, apa dia bekerja di sini? Saya ada keperluan dengan gadis itu."


"Oh, kalau Mbak Lulu, ada. Kebetulan dia baru saja masuk ke dalam. Silakan masuk, saya panggilkan dia sebentar." Pak Lukman yang hampir lima tahun bekerja di restoran itu mendorong pintu kaca di depannya, menahan sebentar lalu mempersilakan bu Ayu masuk ke ruangan ber-AC dua lantai yang masih tampak sepi pengunjung.


"Neng Zahra, bisa tolong panggilkan Neng Lulu? Di depan ada tamu, katanya ada keperluan sama Neng Lulu."


Pak Luman menggeser tubuhnya ke samping saat Zahra ingin melihat siapa orang yang ingin bertemu dengan rekan kerjanya. Dari jarak sekitar lima meter, Zahra dapat melihat wanita paruh baya duduk seorang diri di bangku dekat meja kasir.

__ADS_1


"Baiklah, nanti aku yang panggilkan Lulu." Akhirnya Zahra bersedia membantu Pak Lukma, menyampaikan bahwa ada seseorang ingin bertemu dengan Lulu.


Langkah kaki panjang milik Zahra kemudian berjalan dengan sangat cepat, memasuki dapur. Kebetulan saat itu Lulu sedang membantu asisten chef, merapikan bahan-bahan makanan yang mau diolah nanti.


"Lu, ada orang yang nyariin lo, tuh. Dia lagi nungguin lo di depan."


Lulu mendongakan kepala, menatap Zahra dengan raut penuh tanda tanya. "Siapa, Ra? Perasaan gue enggak bikin janji temu sama siapa pun hari ini."


"Ye, meneketehe. Gue enggak tau siapa dia. Pak Lukman cuma bilang minta lo keluar sekarang karena tuh orang mau ketemu sama lo."


Asisten chef, chef, serta dua orang helper menghentikan kegiatan mereka sejenak. Mereka secara hampir bersamaan menoleh ke arah Lulu, khawatir gadis itu mengalami kesusahan sampai ada seseorang datang menemuinya di restoran.


"Apa semuanya baik-baik aja?" tanya chef restoran menatap dengan tatapan yang sulit diartikan.


Lulu tersenyum canggung. Semua orang pasti berpikir jika dirinya terlilit hutang sampai ada orang datang menemuinya di restoran.


"Kalian tenang aja, gue bisa mengatasinya sendiri. Ya udah, gue ke depan dulu kalau gitu, biar urusannya cepat selesai. Makasih, Ra, udah mau nyampein pesannya Pak Lukman ke gue."


"Hmm, sama-sama. Ya udah, gue tinggal duluan. Bye, semua!"


Aluna atau yang biasa dipanggil Lulu menemukan perempuan yang dimaksud Zahra dan pak Lukman menunggu di meja, tepat di dekat meja kasir. Sepertinya wanita paruh baya itu terlalu sibuk dengan gawainya sampai tak menyadari kehadiran Lulu di dekatnya.


"Permisi, Bu."


Suara lembut terdengar, membuat bu Ayu mendongakkan kepala sambil terus memegang ponsel di kedua tangan. Ia terkesiap beberapa saat kala kedua netranya beradu pandang dengan Lulu. Rupanya wajah Lulu lebih cantik dibandingkan dengan yang difoto.


'Ternyata lebih cantik aslinya daripada di foto. Pantas saja Leon begitu tergila-gila kepadanya.' Bu Ayu bermonolong.


Bu Ayu melirik papan nama yang dipasang di dada. Dari situ ia tahu bahwa gadis yang ada di hadapannya adalah Lulu. Gadis yang ingin ia temui.


"Silakan duduk biar ngobrolnya enak."

__ADS_1


Isi kepalanya dipenuhi banyak pertanyaan, tetapi Lulu tetap menuruti apa yang dikatakan bu Ayu kepadanya.


"Maaf sebelumnya jika kedatangan saya ke sini mengganggu pekerjaanmu. Saya terpaksa menemuimu karena ada beberapa hal yang ingin diluruskan. Ini mengenai Leon, putera saya."


Mata Lulu membulat saat nama Leon disebut. "Jadi ... Ibu adalah Mamanya Mas Leon?"


Mengangguk cepat. "Benar. Nama saya Ayu Maharani. Kamu bisa panggil saya Bu Ayu ataupun Bu Rani, kedua nama itu sama saja."


"Begini Nak Lulu. Saya ... mau tanya apa hubunganmu dengan Leon, anak saya? Apa ... kalian berpacaran?" tanya Bu Ayu, membuat Lulu terkejut untuk kedua kali.


Belum selesai keterkejutannya akibat kedatangan bu Ayu yang secara tiba-tiba, kini Lulu dikejutkan akan pertanyaan konyol ditujukan kepadanya.


"Saya dan Mas Leon pacaran? Kenapa Ibu bisa berpikiran demikian? Saya dan Mas Leon cuma teman biasa. Kebetulan sahabatnya Mas Leon adalah suami dari sahabat saya, Queensha." Lulu mencoba menjelaskan hubungannya dengan Leon secara detail. Jangan sampai bu Ayu berpikiran yang macam-macam.


"Iya, kamu dan Leon pacaran. Apa dugaan saya salah?" Bu Ayu balik bertanya. Belum merasa puas dengan jawaban Lulu. Kendati gadis itu telah mengatakan bahwa dia dan Leon hanyalah teman biasa.


Kepala menggeleng, tak percaya jika kedekatannya dengan Leon menimbulkan masalah bagi dirinya.


"Tentu saja salah sebab saya dan Mas Leon tidak pacaran. Kami memang saling kenal, tapi hanya sebatas tau nama dan wajah saja. Selebihnya tidak," sahut Lulu.


Bu Ayu menyodorkan telepon genggam ke hadapan Lulu. Sebuah foto terpampang di layar gawai tersebut.


"Kalau kalian cuma teman, lalu ini apa? Bisa Nak Lulu jelaskan pada saya, siapa gadis yang tengah berduaan dengan putera bungsu saya?"


Tangan Lulu gemetar memegang telepon genggam di depannya. Ia sangat terkejut dengan penampakan yang ada di depan mata. Sepasang mata bundar membola, tatapan mata tak percaya menatap benda berukuran 6.5 inci tersebut.


"Gadis yang bersama Mas Leon memang benar saya. Saat itu saya pergi bersama Mas Leon karena disuruh Dokter Ghani dan Queensha. Jika bukan karena mareka mana mau saya pergi berduaan dengan putera Anda," sahut Lulu tergagap. Ia seperti penjahat yang tertangkap basah tengah melakukan tindakan krimal.


Benar-benar sial.


"Loh, kenapa tidak mau. Memangnya ada apa dengan anak saya? Apa dia kurang menarik sampai kamu tidak sudi pergi berduaan dengannya?" Skak Bu Ayu, membuat Lulu tak berkutik sedikit pun. Lidah terasa kelu dan mulut terkunci rapat. Lulu kehabisan kata-kata, tak dapat menjawab pertanyaan bu Ayu.

__ADS_1


'Mati aku! Kenapa bisa keceplosan begini, sih!' jerit Lulu dalam hati.


...***...


__ADS_2